Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.
Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.
Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.
Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.
Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.
Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 8
Siang ini terasa sedikit panas dari hari-hari sebelumnya. Terlihat banyak sekali orang yang rela mengantri di mobil van yang menjual es krim.
"Berhenti dulu," ucap Dave. Ia membonceng Emma.
Emma pun menghentikan skuter di pinggir jalan. "Ada apa ?" tanyanya.
"Aku mau beli es krim," jawab Dave sambil turun dari skuter. "Kamu mau ?" tanyanya.
"Tidak," kata Emma dengan menggeleng.
"Tidak usah malu kalau mau," goda Dave. "Aku beliin, tenang aja, aku orang kaya," lanjutnya.
Emma memalingkan wajah dengan tak habis pikir. Pria ini sekarang sangat menyebalkan.
Dave bergegas menyeberang jalan dan berbaur dengan antrian. Sementara Emma, setelah memarkirkan skuter dibahu jalan, ia berjalan ke halte bus untuk meneduh dari sinar matahari. Ia duduk dikursi panjang halte.
Pengantaran pizza mereka berdua untuk gelombang yang pertama telah selesai. Lima belas kotak pizza berhasil diterima oleh pelanggan, walaupun harus ada drama yang membuat beberapa pengantaran sedikit terlambat.
Kini Dave dan Emma ingin kembali ke toko pizza untuk ambil pengantaran gelombang kedua. Jam satu siang, lima belas kotak pizza harus sudah mulai diantarkan. Mereka masih ada waktu sekitar empat puluh lima menit.
Dave berjalan kembali sambil membawa dua buah es krim cone di kedua tangannya setelah rela mengantri sekitar delapan menit.
"Ini buatmu," Dave membeli dua es krim cone rasa coklat. Salah satunya ia berikan ke Emma.
"Terima kasih," jawab singkat Emma sambil menerima es krim.
Dave duduk di sampingnya. Segera ia nikmati kesegaran dan dinginya es krim. "Siang ini, rasanya panas sekali," ucapnya.
"Iya," jawab Emma sambil menikmati es krim ditangannya.
"Gimana segar kan rasanya ?" tanya Dave.
"Lumayan," jawab singkat Emma.
"Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kamu bekerja bersama pamanku ?"
"Lama," kata Emma. "Sepertinya lebih dari satu tahun," lanjutnya.
"Kamu tidak bosan kerja disana ?"
"Memangnya kenapa ?" Emma memalingkan wajahnya ke Dave.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu alasanmu bekerja lama di toko pamanku," jawab Dave. "Menurutku kerja sampai satu tahun di pengantaran pizza, pasti lama-kelamaan akan bosan. Kamu juga kan masih muda, kenapa tidak cari tempat kerja lain ?" lanjutnya.
Emma memilih tidak menanggapinya dan ingin mengubah fokus obrolan. Ia sesaat menatap celana panjang hitam dan sepatu pantofel mengkilap yang dipakai Dave. "Kenapa kamu mau bekerja di pengantaran pizza ?. Inikan pekerjaan lapangan yang harus rela panas-panasan, berhadapan dengan debu, dan pasti sangat melelahkan," ucapnya.
"Aku terpaksa," jawab singkat Dave yang membuat Emma kembali memalingkan wajah kepadanya.
"Terpaksa ?"
"Sebenarnya ini bukan keinginan Paman Hudson," jawab Dave. "Ayahku yang menginginkannya. Karena menurutnya, aku terlalu arogan di kantor. Padahal aku melakukan apa yang telah menjadi tanggung jawabku," jelasnya.
"Memangnya apa yang kamu lakukan dikantor, hingga ayahmu memintamu bekerja di Pak Hudson ?" Emma semakin penasaran.
"Aku memecat orang yang aku anggap tidak becus bekerja. Mereka tidak bisa memenuhi target perusahaan. Dari pada jadi beban, aku pecat aja mereka."
"Memang pantas kamu dianggap arogan," sahut Emma.
"Pantas ? Apa maksudmu ?" Dave tampak heran.
"Kamu sangat arogan, bisa seenaknya memecat orang," jawab Emma. "Seharusnya kamu lebih bijak. Kenapa kamu tidak memberikan kesempatan mereka untuk memperbaiki ?" lanjutnya.
"Memang itu caraku," jawab Dave tak merasa bersalah. "Aku yang memberi gaji ke mereka dan mereka harus membalasnya dengan bekerja sesuai tuntutanku. Kalau memang tidak mampu, ya sudah keluar," lanjutnya.
Emma menggeleng, seakan ia heran pada pemikiran Dave. "Kamu bisa seenaknya itu karena kamu merasa diatas. Apa kamu pernah jadi mereka. Jadi seorang bawahan ?" ucapnya.
"Aku tidak mau," jawab Dave. "Aku sudah ditakdirkan untuk diatas," lanjutnya.
"Itulah yang salah darimu," jawab Emma yang membuat Dave seketika bingung dengan maksudnya. "Kamu terlalu sombong dan tidak mau mengerti orang lain. Padahal semua yang kamu dapatkan ada bantuan dari orang-orang yang telah bersedia bekerja denganmu," jelasnya.
Dave tak mau menjawab perkataan Emma. Ia memilih diam sambil menghabiskan es krim ditangannya yang mulai meleleh. Walaupun perkataan perempuan itu sempat menyadarkannya, tapi belum terlalu kuat untuk menancap di lubuk hatinya. Ia masih tetap kukuh pada pendiriannya, kalau setiap tindakannya selalu benar.
Suasana pun hening. Tak ada obrolan. Mereka fokus menikmati es krim. Sesekali juga menatap jalanan di hadapan mereka. Beberapa mobil tampak melaju di jalan itu.
"Kenapa kamu tidak menanggapi perkataan ku ?" tanya Emma yang lebih dulu selesai menikmati es krim.
"Memangnya kenapa ?" jawab Dave. Es krimnya tampak hampir habis.
"Sudahlah tidak usah dibahas," Emma berdiri dan menuju skuter. "Lebih baik sekarang kita segera kembali ke toko," lanjutnya sambil menyalakan skuter.
Setelah es krim habis, Dave menyusul Emma. Ia duduk di belakang. Tidak lama kemudian, Emma melajukan skuter kembali ke toko pizza.
...----------------...
Ditengah perjalanan, Dave kembali memikirkan perkataan Emma di halte. Entah kenapa perkataan perempuan itu mengganjal dipikirannya.
"Menurutmu sikapku yang benar harus gimana ?" tanya Dave.
"Soal apa ?" jawab Emma bingung karena sejak awal perjalanan, Dave tidak mengajaknya mengobrol.
"Soal obrolan kita terakhir di halte tadi," jelas Dave. "Katamu sikapku salah. Lalu menurutmu sikapku yang benar harus bagaimana ?" lanjutnya.
Lampu lalu lintas perempatan menyala merah. Perlahan Emma mengerem dan skuter berhenti tepat saat roda depan hampir menyentuh garis marka.
"Kamu harus bersikap sebaliknya," kata Emma.
"Maksudnya ?" Dave tampak bingung.
"Kalau kamu bingung artinya kamu belum mengenali dirimu," kata Emma.
"Bukan...Aku bingung karena kamu terlalu bertele-tele. Kenapa tidak jawab langsung ke intinya ?"
"Intinya kamu harus menghilangkan sikap angkuh dan sombongmu. Cobalah mengenali dirimu." jawab Emma.
Tidak lama kemudian, lampu lalu lintas menyala hijau. Emma segera menarik gas motor dan sekuter pun melaju kembali.
mengenali diri ? Batin Dave.
Pria itu terdiam. Ia tampak memikirkan apa maksud perkataan Emma.
"Kamu pahamkan maksudku ?" tanya Emma, setelah menyadari pria yang memboncengnya belum menanggapi perkataan terakhirnya.
"Aku sedang memahaminya," kata Dave. "Sekarang aku balik, apa kamu sudah mengenali dirimu ? Apa semua sikapmu sudah benar ?" lanjutnya.
Mendengar perkataan Dave, Emma seakan tak mampu untuk menanggapi langsung. Pikiran tentang ayahnya yang tega membuat dirinya dan adiknya menderita tiba-tiba datang ke otaknya. Hal itu membuat dirinya sangat benci pada pria yang telah membesarkannya.
Emma sangat tahu kalau membenci seorang ayah itu sangat berdosa dan sebuah sikap yang sangat salah. Kalau ia menerima ayahnya kembali ke keluarga, ia takut pria itu akan membawa penderitaan lain nantinya. Ia hanya menginginkan adik-adiknya bahagia, jangan seperti hidupnya yang harus rela bekerja keras dan merasakan penderitaan yang dihasilkan ayahnya.
"Emma, awasss !!," teriak Dave.
Seketika membangunkan Emma dari lamunan. Ia tak sadar kalau skuter berjalan semakin ke tengah jalan. Hampir saja beberapa detik tadi tertabrak truk, untungnya Dave segera berteriak.
Emma pun segera menghindari insiden itu. Ia kembali melajukan Skuter di lajur yang benar.
"Maaf, maaf," kata Emma. Jantungnya masih berdegup kencang.
"Kamu melamun ya ?" tanya Dave. "Tadi itu sangat bahaya, hampir saja kita celaka, "lanjutnya.
Emma tak menjawabnya. Ia memilih mengabaikannya dan terus menancap gas menuju toko.