Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETELAH PUNCAK
Usia 8 minggu 2 hari.
Dua hari lalu adalah puncak. Puncak mual, puncak hCG, puncak tangis karena muntah jam 2.30 pagi. Hari ini, grafik itu mulai turun. Tidak turun drastis seperti roller coaster, tapi turun pelan seperti jalan menurun yang halus. 1% hari ini, 2% besok.
Di dalam rahim, Sia sudah 20 milimeter. 2 sentimeter. Sebesar buah stroberi kecil. Jika kemarin ia baru resmi jadi janin, hari ini ia mulai terlihat seperti janin sungguhan. Kepalanya masih besar, hampir setengah dari panjang tubuhnya, tapi itu normal. Di dalam kepalanya, sel-sel sarafnya hari ini membuat sambungan dengan kecepatan 100.000 sambungan per menit. Otaknya bertambah berat 30% dalam dua hari ini saja.
Tangannya yang kemarin baru bisa tekuk siku, hari ini sudah bisa tekuk pergelangan. Ia bisa memutar pergelangan tangannya. Kakinya bisa menendang, tapi tendangannya masih terlalu lemah untuk dirasakan Alya. Tendangan itu baru akan terasa 10 minggu lagi. Di wajahnya, ujung hidungnya mulai mancung sedikit. Daun telinganya yang kemarin baru lipatan, hari ini sudah berbentuk seperti telinga kecil. Dan di dalam mulutnya, rahangnya sudah punya 20 tunas gigi susu, lengkap.
Jantungnya 150 kali per menit hari ini. Stabil. Kuat. Sudah tidak naik lagi. Ini adalah ritme kerjanya sampai lahir nanti: 140-150.
Sia hari ini tidak lagi meminjam banyak. Ia sudah punya plasenta yang mulai bekerja. Plasenta yang dua minggu lalu masih kecil, hari ini sudah sebesar koin 500 perak dan mulai mengambil alih produksi hormon dari kantung kuning telur. Karena itu, tubuh Alya pelan-pelan mendapat kembali sebagian energinya.
Pukul 05.30 pagi, Alya terbangun bukan karena mual.
Ia terbangun karena... tidak mual.
Ia duduk di tepi ranjang, menunggu. Biasanya dalam 5 menit setelah bangun, rasa air liur berlebih dan begah itu datang. Hari ini tidak.
Ia menunggu 10 menit. Tidak datang.
"Fa," panggilnya pelan.
Rafael langsung bangun. "Mual?"
Alya menggeleng, dengan wajah bingung. "Enggak. Kok enggak mual ya? Apakah Sia baik-baik saja?"
Rafael yang juga bingung, langsung mengambil buku catatan. Ia membaca catatan dokter: _Setelah puncak 8 minggu, hCG turun pelan, mual akan berkurang pelan, tidak hilang langsung._
"Ini bukan berarti Sia tidak baik," kata Rafael, menggenggam tangan Alya. "Ini berarti plasentanya sudah mulai kerja. Sia sudah tidak perlu pinjam semua hormon dari kamu. Dia sudah punya pabriknya sendiri. Makanya kamu tidak mual sepagi biasanya."
Alya masih cemas. Trauma 2 minggu mual membuatnya takut kalau tidak mual berarti ada yang salah. Itu perasaan yang banyak dirasakan ibu hamil minggu ke-8.
"Kalau kamu cemas, kita cek pakai doppler kecil yang kemarin dipinjamkan dokter? Cuma dengar detaknya 10 detik aja, biar tenang?" tawar Rafael.
Alya mengangguk cepat.
Rafael mengambil doppler saku kecil yang dipinjamkan klinik. Dioleskan gel sedikit di perut bawah Alya yang masih rata.
Satu detik, dua detik...
_Dug-dug-dug-dug._
148 kali per menit. Kuat. Jelas.
Alya langsung menangis lega. "Ada. Masih ada."
"Masih ada, masih kencang. Cuma pabriknya sudah pindah. Makanya Ibu dikasih libur mual pagi ini."
Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam 14 hari, Alya bisa menggosok gigi dengan sikat gigi dewasa normal, bukan sikat anak. Pasta gigi stroberi susu masih dipakai, tapi ia sudah bisa berdiri lebih lama di depan wastafel tanpa muntah.
Dan untuk pertama kalinya, ia bisa mencium aroma nasi hangat yang dimasak Rafael, tanpa menutup hidung.
"Nasi anget bau nya enak lagi," kata Alya, duduk di meja makan, bukan di lantai.
Rafael hampir menangis mendengarnya. "Mau coba makan nasi anget 3 suap?"
Alya mencoba. Satu suap nasi hangat dengan sop bening. Tidak mual. Dua suap. Masih aman. Tiga suap. Tetap aman.
Kemenangan besar.
Pukul 10.00, grup TEAM SIA mendapat laporan yang berbeda dari biasanya.
*Alya: Team Sia, laporan pagi: tidak mual pas bangun tidur pertama kali setelah 14 hari. Sudah bisa makan nasi anget 3 suap. Detak Sia 148 barusan cek doppler. Sia baik.*
Dalam 3 menit, balasan masuk:
*Mama: Ya Allah Alhamdulillah. Berarti puncak sudah lewat. Nenek bilang dulu setelah 8 minggu memang begitu. Pelan-pelan enak.*
*Tante Rina: Alhamdulillah. Tante nangis baca laporan tidak mual. Akhirnya.*
*Papa: Fa, belikan Alya buah naga merah ya. Katanya bagus buat plasenta.*
Semua orang lega, seolah mereka juga ikut mual selama 14 hari.
Siang itu, Alya melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan selama 2 minggu: membuka laptop dan mengerjakan revisi daftar pustaka skripsinya selama 45 menit. Tidak pusing. Tidak mual. Hanya lelah sedikit.
Ia menutup laptop setelah 45 menit, karena masih lelah, tapi 45 menit itu adalah rekor.
"Fa, aku bisa buka laptop lagi," katanya bangga.
Rafael mengacungkan dua jempol. "Sia kasih izin 45 menit. Besok mungkin 1 jam."
Pukul 16.00, mereka pergi ke klinik bukan untuk USG, tapi hanya untuk konsultasi dan cek darah rutin minggu ke-8. Dokter bilang USG libur seminggu, tapi cek darah dan tensi tetap jalan.
Tensi Alya: 110/70. Normal. Berat badan: naik 0,5 kg dari sebelum hamil. Normal. Darah: Hb 12,1. Bagus.
Dokter tersenyum melihat hasil. "Plasenta sudah ambil alih dengan baik. Makanya mual pagi tadi hilang. Ini tanda bagus. Minggu depan, pas 9 minggu, kita USG lagi. Saat itu Sia sudah 2,5 cm, sudah bisa lihat gerakan tangan dan kakinya yang mulai aktif."
Di perjalanan pulang, Alya meminta sesuatu yang tidak pernah ia minta selama hamil: es krim vanilla kecil.
"Boleh enggak ya?" tanya Alya ragu.
Rafael langsung belok ke minimarket. "Boleh. Satu cup kecil. Makan pelan-pelan. Kalau mual, stop."
Alya makan es krim vanilla itu di mobil, 4 suap kecil. Tidak mual. Malah enak. Dinginnya membantu.
"Enak," katanya, dengan mata berbinar seperti anak kecil.
Malamnya, ritual menulis dilakukan di dua tempat lagi: kalender besar dan buku pink.
Mama yang video call lagi, ikut menulis di buku pink lewat video: ia dyiktekan ke Alya.
Rafael menulis di kalender:
*30 Okt 2026 - 8 minggu 2 hari / 8w2d - 20 mm / 2 cm - Sia - FHR 148-150 bpm - Resmi 2 cm sebesar stroberi, sambungan saraf otak 100k per menit, pergelangan tangan bisa putar, kaki bisa tendang (belum terasa), 20 tunas gigi susu lengkap, daun telinga berbentuk. Plasenta ambil alih, hCG mulai turun pelan. Gejala Ibu: PAGI PERTAMA TANPA MUAL setelah 14 hari! Bisa makan nasi hangat 3 suap, bisa gosok gigi sikat dewasa, bisa buka laptop 45 menit, minta es krim vanilla 4 suap (berhasil). Cek doppler pagi: detak kuat 148. Cek darah: semua normal. Tensi 110/70. Puncak sudah lewat.*
Alya menulis di buku pink, di bawah tulisan Mama kemarin:
_Sia, hari ini Ibu tidak mual pas bangun. Pertama kalinya. Ibu sempat takut kamu kenapa-kenapa, tapi Ayah cek detakmu dan kamu masih ada 148 kali. Kencang. Hari ini Ibu bisa makan nasi hangat lagi. Ibu bisa buka laptop 45 menit. Ibu bisa makan es krim vanilla 4 suap. Semua karena kamu sudah punya plasenta sendiri, kamu sudah tidak perlu pinjam semua dari Ibu. Terima kasih ya sudah kasih Ibu libur mual pagi ini. Ibu pakai liburnya buat revisi skripsi sedikit. Besok kita coba lagi ya._
Pukul 22.00, Alya berbaring di pangkuan Rafael, dengan perut yang masih rata tapi kini terasa sedikit lebih berisi karena nasi hangat dan es krim vanilla.
"Fa," bisiknya.
"Ya?"
"Hari ini aku merasa jadi Alya lagi, bukan cuma jadi rumahnya Sia. Aku bisa makan nasi hangat, aku bisa buka laptop. Rasanya senang."
Rafael mengusap rambutnya. "Kamu memang Alya. Dari awal kamu Alya yang lagi jadi rumahnya Sia. Bukan cuma rumahnya Sia. Kamu tetap Alya. Dan Alya hari ini hebat, sudah lewati puncak."
Alya memejamkan mata, mengelus perutnya.
"Selamat malam, Sia yang sudah 2 sentimeter," bisiknya, "terima kasih sudah bikinin plasenta sendiri hari ini, jadi Ibu bisa libur mual. Ibu bisa makan nasi hangat dan es krim vanilla. Ibu suka. Tidur yang nyenyak ya, yang sudah bisa putar pergelangan tangan. Besok Ibu akan coba makan nasi hangat lagi 5 suap."
Di atas meja nakas, ada cup es krim vanilla kosong yang sudah dicuci bersih, di samping buku pink dan kalender.
Di dalam perut Alya, seorang janin sebesar stroberi kecil dengan pergelangan tangan yang baru bisa berputar hari ini dan 20 tunas gigi susu yang lengkap, berdetak 150 kali per menit dengan bantuan plasenta barunya yang sudah mulai bekerja, tanpa tahu bahwa hari ini, untuk pertama kalinya, ia memberi ibunya hadiah berupa satu pagi tanpa mual, 3 suap nasi hangat, dan 4 suap es krim vanilla.
Bersambung...