Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Part 15
"Aku tahu itu, tapi aku juga tidak bisa membiarkan Farel begitu saja dengan kondisinya yang seperti ini. Setidaknya aku harus menemaninya sampai ada yang menjaganya," jawab Amanda lirih sembari menatap ke arah Farel yang masih setia dengan pejaman matanya.
"Iya, aku mengerti." Setelah Cio menjawab itu, keduanya kembali terdiam seolah candaan mereka setiap harinya kala bertemu itu menghilang hanya karena kejadian sepele tadi. Sampai saat yang ditunggu tersadar, terlihat dari cara Farel menggerakkan tangannya begitupun dengan matanya yang terbuka secara perlahan, lalu menatap sekitarnya dengan sorot mata bertanya.
"Farel, kamu sudah sadar?" Amanda bertanya lega sembari mendirikan tubuhnya, tanpa mengetahui bagaimana Cio terdiam sembari menatap tak suka dengan apa yang dilakukannya, terlebih lagi saat Amanda begitu tulus merengkuh tangan Farel.
"Aku di mana?" Farel bertanya tak suka sembari berusaha membangunkan tubuhnya.
"Kamu ada di rumah sakit, tadi kamu pingsan di kantin. Kamu ingat kan?" Amanda menjawab seadanya sembari tersenyum lega bisa melihat Farel baik-baik saja.
"Iya." Setidaknya hanya itu yang bisa Farel jawab. Entahlah, rasanya Farel masih belum bisa menerima kehadiran Amanda, meskipun gadis itu yang menemaninya. Sampai saat matanya jatuh pada sosok lelaki bernama Cio, seorang lelaki yang menghina dan bahkan ingin menantangnya.
"Kenapa dia juga ada di sini?" Farel bertanya sengit sembari menunjuk ke arah Cio dengan dagunya. Sedangkan Cio yang melihat itu hanya menaikkan salah satu alisnya, menatap Farel penuh ketenangan meski hatinya merasa sangat geram dengan keangkuhan lelaki itu.
"Eh Cio hanya menemaniku untuk menjagamu sampai ada yang datang menjengukmu." Amanda menjawab gelisah dengan sesekali melirik ke arah Cio yang sepertinya tidak suka dengan nada bicara Farel yang sedikit menyebalkan.
"Itu tidak perlu," jawab Farel kesal sembari menatap tak suka ke arah Cio yang tersenyum sinis, merasa tak percaya dengan apa yang baru Farel katakan.
"Tapi Farel ...." Amanda mencoba mendinginkan hawa panas di antara mereka, namun sebelum Amanda mencobanya, Farel justru memotong ucapannya.
"Begitupun dengan kamu, Amanda. Seharusnya kamu juga tidak ada di sini, kehadiranmu itu justru membuatku semakin muak melihatmu," potong Farel angkuh, dan itu cukup membuat Amanda terkejut mendengar ucapannya, terlihat dari bibirnya yang mengangah tak percaya.
"A-apa ...?" Amanda menjawab tak percaya, atau mungkin cuma itu yang bisa Amanda katakan, sangking syoknya ia dengan ucapan Farel yang begitu menyakitkan.
"Apa kamu bilang?" Cio berujar kesal sembari menghampiri Farel di ranjangnya, namun sebelum sampai di sana, tangan Amanda menghentikannya dengan cara merengkuh lengannya kuat-kuat.
"Apa kamu itu tidak punya malu, Amanda? Apa sikapku selama ini belum cukup membuatmu mengerti bila aku tidak suka denganmu?" Farel bertanya sinis namun Amanda justru terdiam dengan semakin mengeratkan rengkuhan tangannya pada lengan Cio.
"Apa kamu begitu tergila-gila denganku, sampai kamu bisa bersikap begitu murahan di hadapanku? Padahal aku selalu menolak perhatianmu, tapi kamu malah semakin menjadi-jadi. Apa sebagai wanita, kamu tidak punya harga diri?" Farel melanjutkan ucapannya, membuat Cio geram namun juga khawatir dengan perasaan Amanda. Dan sekarang, Cio justru melihat bagaimana Amanda meneteskan air matanya di balik tundukkan wajahnya.
"Farel," panggil Amanda sembari menghapus air matanya lalu menatap ke arah temannya itu dengan tatapan tulusnya.
"Apa selama ini kamu berpikir bila aku mencintaimu?" Amanda bertanya tenang, namun Farel justru terdiam, merasa heran dengan kalimat yang baru Amanda ucapkan.
"Mungkin benar, bila aku menyukaimu, tapi itu hanya sebatas teman. Perhatianku ke kamu selama ini, itu hanya karena kamu dulu pernah baik padaku. Kamu yang selalu melindungiku dari anak-anak nakal yang sering menghina derajat orang tuaku yang jauh berbeda dengan derajat orang tuamu." Amanda berujar tenang membuat kedua lelaki yang berada di sekitarnya itu bungkam, menatap tak percaya ke arah Amanda yang terlihat jauh berbeda.
"Apa kamu lupa bila kamu yang selalu ada untuk melindungiku? Ya, mungkin kamu lupa, tapi hanya karena alasan itu lah aku memberimu perhatian, apalagi orang tuamu sudah sangat baik dengan keluargaku. Jadi sangat disayangkan, bila kamu justru memiliki tingkat kepercayaan diri yang terlalu tinggi, karena pada kenyataannya aku hanya ingin membalas budi, tidak lebih." Amanda menyunggingkan senyum ramahnya dan hal itu tidak dapat Farel maupun Cio percaya.
"Apa katamu?" Farel menjawab tak percaya, merasa tak terima dengan apa yang sedari tadi Amanda katakan. Gadis itu mengatakan bila ia adalah lelaki yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, bagaimana mungkin? Sedangkan Amanda memberinya perhatian seolah dia menyukainya. Tapi kenapa, pengakuan gadis itu justru berbanding sebaliknya. Apa selama ini dirinya sudah salah sangka, pikir Farel mulai resah.
"Percayalah, Farel. Kamu tidak setampan dan sesempurna itu untuk bisa aku cintai, aku hanya menganggapmu sebatas teman selama ini. Kalau begitu, aku dan Cio pergi dulu ya?" pamit Amanda tenang dengan senyum penuh artinya, lalu menggandeng lengan Cio begitu saja agar ikut dengannya keluar dari sana. Meninggalkan Farel yang terdiam, merasa tak percaya bila perhatian Amanda selama ini hanya karena ingin balas budi, bukan menyukai apalagi mencintainya. Rasanya, Farel benar-benar tidak bisa berpikir dengan semua kenyataan yang baru menimpanya, merasa bodoh karena sudah besar kepala dan beranggapan bila Amanda selama ini menyukainya.
"Bagaimana mungkin aku sebodoh ini? Amanda tidak mencintaiku seperti apa yang Vanessa katakan dulu? Kenapa aku begitu gegabah menganggap perhatian Amanda itu karena dia menyukaiku, sampai aku menjauhinya agar Vanessa tidak salah paham dan mau menerimaku." Farel bergumam lelah, merasa tidak percaya bila dirinya begitu yakin bila teman baiknya sejak kecil itu menyukainya.
"Bagaimana aku akan menghadapi Amanda mulai hari ini?" Farel benar-benar merasa frustrasi sekaligus malu dengan Amanda yang selalu baik dengannya tapi selalu ia rendahkan harga dirinya.