Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Langkah Pertama Mendekati Clara
Arthur Sterling memasuki ruang kuliah tepat lima menit sebelum dosen datang.
Ruangan itu berada di lantai tiga gedung fakultas ekonomi City University of New York. Deretan kursi memenuhi ruangan, sementara suara percakapan mahasiswa bercampur dengan bunyi laptop yang dinyalakan dan lembaran kertas yang dibolak-balik.
Bagi sebagian besar mahasiswa, pagi itu hanyalah awal dari hari perkuliahan biasa.
Bagi Arthur, tempat itu merupakan potongan masa lalu yang selama puluhan tahun hanya bisa ia kunjungi melalui ingatan.
Ia berhenti sejenak di dekat pintu.
Meja-meja kayu yang mulai usang. Papan tulis putih dengan bekas tinta yang sulit dihapus. Pendingin ruangan yang mengeluarkan bunyi dengung pelan.
Semuanya sama.
Bahkan bau kopi yang berasal dari gelas kertas di tangan seorang mahasiswa di barisan depan terasa begitu akrab.
Arthur menarik napas perlahan.
Dahulu, ia duduk di ruangan ini dengan pikiran yang dipenuhi kecemasan. Ia selalu menghitung uang sewa, biaya kuliah, dan jumlah jam kerja yang harus ia ambil untuk bertahan hidup.
Ia belajar bukan karena menikmati ilmu ekonomi, melainkan karena percaya bahwa gelar yang baik akan memberinya pekerjaan yang lebih baik.
Kemudian, ia menghabiskan puluhan tahun membuktikan bahwa dunia tidak sesederhana teori yang tertulis di buku pelajaran.
Kini, ia kembali ke tempat yang sama dengan pengetahuan yang bahkan tidak mungkin dimiliki oleh dosen yang mengajar mereka.
Arthur berjalan menuju barisan tengah dan duduk di kursi dekat jendela.
"Hei, Sterling!"
Sebuah suara laki-laki menyapanya dari belakang.
Arthur menoleh.
Seorang pemuda berambut pirang gelap dengan jaket universitas duduk sambil menyeringai. Namanya Daniel Brooks, teman sekelas Arthur yang cukup sering menghabiskan waktu bersamanya dalam kehidupan pertama.
Daniel bukan orang jahat. Ia hanya terlalu suka bercanda dan terkadang tidak menyadari bahwa perkataannya bisa melukai orang lain.
"Kau kelihatan berbeda hari ini," ujar Daniel.
Arthur mengangkat alis. "Berbeda bagaimana?"
"Entahlah. Biasanya kau datang dengan wajah seperti orang yang baru saja menerima surat tagihan. Sekarang kau malah terlihat seperti pemilik gedung ini."
Arthur tertawa kecil.
"Kalau aku benar-benar pemilik gedung ini, kau akan menjadi orang pertama yang kuusir."
Daniel terdiam sesaat, kemudian tertawa keras.
"Bagus. Setidaknya kau masih punya selera humor."
Arthur kembali memandang ke depan.
Dalam kehidupan pertamanya, Daniel pernah mengajaknya mendirikan usaha kecil setelah mereka lulus. Arthur menolak karena menganggap peluang itu terlalu berisiko. Beberapa tahun kemudian, Daniel membangun perusahaan perangkat lunak bersama orang lain dan berhasil menjualnya dengan keuntungan besar.
Mereka kehilangan kontak setelah itu.
Arthur baru mengetahui bahwa Daniel meninggal dalam kecelakaan mobil ketika dirinya berusia enam puluh tahun.
Kenangan tersebut membuat senyum Arthur perlahan memudar.
Kali ini, ia tidak akan membiarkan hubungan yang berharga hilang hanya karena kesibukan dan ambisinya sendiri.
"Daniel."
"Hm?"
"Setelah kuliah, kau punya waktu?"
Daniel menoleh dengan ekspresi curiga.
"Kenapa? Kau mau meminjam uang?"
"Kalau aku meminjam uang darimu, aku harus mengembalikannya."
"Benar juga."
"Aku ingin membicarakan sebuah ide bisnis."
Daniel mengedipkan mata.
Kemudian ia tertawa.
"Kau serius?"
"Sangat serius."
Daniel memperhatikan wajah Arthur selama beberapa detik. Setelah menyadari bahwa temannya tidak sedang bercanda, ekspresinya berubah menjadi lebih tertarik.
"Baiklah. Aku penasaran ide gila apa yang muncul di kepalamu."
Sebelum Arthur sempat menjawab, pintu ruang kuliah terbuka.
Profesor William Harris memasuki ruangan sambil membawa beberapa lembar dokumen. Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu terkenal sebagai dosen yang disiplin dan tidak terlalu menyukai mahasiswa yang datang terlambat.
"Selamat pagi semuanya."
"Selamat pagi, Profesor," jawab mahasiswa serempak.
Kuliah pun dimulai.
Topik hari itu adalah valuasi perusahaan dan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan laba.
Profesor Harris menuliskan sebuah persamaan di papan tulis, kemudian berbalik menghadap para mahasiswa.
"Nilai sebuah perusahaan tidak hanya ditentukan oleh pendapatannya saat ini. Investor juga mempertimbangkan ekspektasi pertumbuhan, risiko, dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas pada masa depan."
Ia berhenti sejenak.
"Namun, pertanyaan yang lebih sulit adalah ini: bagaimana jika pasar salah menilai masa depan sebuah perusahaan?"
Beberapa mahasiswa mengangkat tangan.
Seorang pemuda dari barisan depan memberikan jawaban mengenai ketidaksempurnaan informasi. Mahasiswa lain menambahkan faktor psikologi investor.
Profesor Harris mengangguk.
"Lalu, bagaimana cara memperoleh keuntungan dari kesalahan penilaian tersebut?"
Ruangan mendadak lebih tenang.
Arthur menatap papan tulis.
Ia hampir tersenyum.
Pertanyaan itu pernah menjadi dasar dari sebagian besar kekayaannya.
Bukan karena ia mampu memprediksi setiap pergerakan pasar, melainkan karena ia belajar membedakan harga yang dibentuk oleh kepanikan dari nilai yang didukung oleh kenyataan.
"Mr. Sterling."
Arthur mengangkat kepala.
Profesor Harris memandangnya.
"Anda belum mengatakan apa pun sejak kuliah dimulai. Bagaimana menurut Anda?"
Beberapa mahasiswa menoleh.
Dalam kehidupan pertamanya, Arthur akan merasa gugup ketika menjadi pusat perhatian. Ia sering mengetahui jawabannya, tetapi takut salah bicara dan menjadi bahan tertawaan.
Sekarang, rasa takut itu telah lama menghilang.
"Pasar tidak selalu salah, Profesor," jawab Arthur tenang. "Namun, pasar bisa memberikan harga yang keliru ketika sebagian besar pelaku mengambil keputusan berdasarkan informasi yang sama-sama tidak lengkap."
Profesor Harris mengangguk pelan.
"Penjelasan yang masuk akal. Lanjutkan."
"Jika sebuah perusahaan memiliki masalah sementara yang dapat diperbaiki, tetapi investor menganggap masalah itu sebagai kehancuran permanen, harga sahamnya mungkin turun jauh di bawah nilai wajarnya."
Arthur berhenti sebentar.
"Sebaliknya, perusahaan yang terlihat menjanjikan bisa dinilai terlalu tinggi ketika investor menganggap pertumbuhan masa depan sebagai sesuatu yang pasti."
Profesor Harris menyilangkan tangan.
"Jadi, menurut Anda, apakah investor sebaiknya membeli perusahaan yang harganya jatuh?"
"Tidak selalu. Harga yang jatuh bukan bukti bahwa suatu aset murah. Investor harus memahami penyebab penurunan tersebut, menilai kondisi keuangan perusahaan, dan menghitung risiko kehilangan modal."
Untuk beberapa saat, ruangan itu sunyi.
Profesor Harris kemudian tersenyum tipis.
"Jawaban yang lebih matang daripada yang biasanya saya dengar dari mahasiswa tahun kedua."
Beberapa mahasiswa menoleh kepada Arthur dengan ekspresi berbeda.
Daniel bahkan menyenggol lengannya dari samping.
"Sejak kapan kau berubah menjadi profesor?"
Arthur hanya mengangkat bahu.
"Sejak kau terlalu sering tidur saat kuliah."
Daniel mendengus.
Kuliah berlanjut tanpa kejadian lain yang berarti.
Namun, ketika bel pergantian kelas berbunyi, Arthur melihat seorang gadis memasuki ruangan sambil membawa setumpuk buku.
Rambut sebahunya bergerak lembut ketika ia berjalan melewati pintu.
Clara Vance.
Arthur langsung mengenalinya.
Gadis itu mengenakan mantel krem yang sama seperti yang dilihatnya di koridor pagi tadi. Wajahnya tampak sedikit pucat, tetapi senyumnya tetap sopan ketika ia menyapa seorang mahasiswa yang duduk di dekat pintu.
Ia berjalan menuju bangku kosong di barisan tengah.
Tepat dua kursi di depan Arthur.
Untuk beberapa detik, Arthur tidak bergerak.
Selama enam puluh tahun, ia telah membayangkan kesempatan untuk bertemu Clara sekali lagi.
Ia pernah membayangkan berbagai kalimat yang akan diucapkannya. Ia bahkan pernah bertanya-tanya apakah Clara masih akan mengenali wajahnya apabila mereka bertemu di jalan.
Akan tetapi, sekarang ketika gadis itu benar-benar berada di dekatnya, semua kalimat yang pernah ia siapkan terasa tidak berguna.
Ia bukan lagi pria berusia delapan puluh tahun yang sedang menghadapi kematian.
Ia adalah pemuda berusia dua puluh tahun yang belum pernah benar-benar mengenal perempuan yang dicintainya.
Arthur harus mengingat satu hal.
Clara tidak mengenal masa depan yang ia ketahui.
Bagi gadis itu, Arthur hanyalah seorang mahasiswa biasa.
Ia tidak boleh memperlakukan Clara seolah-olah perempuan tersebut telah menjalani kehidupan yang sama dengannya.
"Arthur?"
Suara Daniel membuyarkan lamunannya.
"Kau sedang melihat apa?"
Arthur mengalihkan pandangan.
"Tidak ada."
Daniel mengikuti arah tatapannya, lalu menemukan Clara yang sedang membuka buku.
"Oh."
Senyum jahil muncul di wajahnya.
"Oh, jadi begitu."
Arthur mengerutkan kening.
"Apa maksudmu?"
"Jangan berpura-pura. Aku tahu kau menyukainya."
Arthur tidak langsung menjawab.
Daniel mencondongkan tubuhnya dan berbisik, "Kau tahu siapa keluarganya, bukan? Ayahnya punya koneksi dengan beberapa perusahaan investasi besar. Katanya, dia juga sering dijemput oleh orang-orang dari keluarga Vance."
"Aku tidak tertarik pada keluarganya."
"Kalau begitu, kau tertarik pada apa?"
Arthur memandang Clara sekali lagi.
"Kepadanya."
Daniel terdiam.
Jawaban itu terdengar terlalu sederhana untuk sebuah pertanyaan yang biasanya dijawab dengan lelucon.
Namun, sebelum Daniel bisa menggoda lebih jauh, Clara menjatuhkan sebuah pulpen dari mejanya.
Pulpen itu menggelinding ke lorong di antara kursi.
Arthur membungkuk, mengambilnya, lalu berdiri.
"Ini milikmu?"
Clara menoleh.
Mata mereka bertemu untuk pertama kalinya dari jarak dekat.
Arthur merasakan dadanya mengencang.
Bukan karena ia tidak mengenal wajah itu.
Justru karena ia terlalu mengenalnya.
Clara tersenyum kecil.
"Oh, iya. Terima kasih."
Ia menerima pulpen tersebut.
"Sama-sama," jawab Arthur.
Clara memperhatikannya sebentar.
"Kau Arthur Sterling, bukan? Kita pernah berada dalam kelompok diskusi yang sama semester lalu."
Arthur hampir kehilangan kata-kata.
Clara mengingat namanya.
Dalam kehidupan pertama, ia pernah menganggap hal itu mustahil. Ia selalu merasa dirinya terlalu biasa untuk menarik perhatian seseorang seperti Clara.
Namun, kenyataan di hadapannya berbeda.
"Benar," jawab Arthur. "Kau Clara Vance."
Clara mengangguk.
"Senang bertemu denganmu lagi."
Senyum itu.
Senyum yang selama puluhan tahun hanya hidup di dalam kenangannya.
Arthur membalasnya dengan senyum yang lebih tenang.
"Senang bertemu denganmu juga."
Percakapan mereka hanya berlangsung beberapa detik sebelum Clara kembali merapikan buku-bukunya.
Tidak ada pengakuan cinta.
Tidak ada janji untuk selamanya.
Hanya sebuah pulpen yang terjatuh dan percakapan singkat di ruang kuliah.
Namun, bagi Arthur, pertemuan itu terasa lebih berharga daripada banyak transaksi bernilai miliaran dolar yang pernah ia lakukan.
Sebab kali ini, ia masih memiliki kesempatan untuk mengenal Clara tanpa dibayangi penyesalan.
Setelah kelas selesai, Arthur dan Daniel berjalan menuju kafetaria kampus.
"Jadi, apa ide bisnismu tadi?" tanya Daniel sambil membuka dompetnya. "Aku punya waktu sekitar satu jam sebelum bekerja."
Arthur duduk di meja dekat jendela.
"Aku ingin membicarakan perusahaan perangkat lunak."
Daniel mengerutkan kening.
"Perangkat lunak? Kita bahkan tidak punya uang untuk membeli komputer yang bagus."
"Kita tidak perlu membangun perusahaan sekarang."
"Lalu?"
"Kita perlu menemukan masalah yang akan menjadi semakin besar dalam beberapa tahun mendatang."
Arthur mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan, lalu menuliskan beberapa kata.
Komputasi awan.
Keamanan siber.
Pembayaran digital.
Analisis data.
Daniel membaca daftar tersebut.
"Ini semua terdengar seperti istilah yang sedang dibicarakan orang-orang teknologi."
"Karena memang begitu."
"Jadi, apa yang akan kita jual?"
Arthur menatapnya.
"Belum ada yang akan kita jual. Aku ingin kau membantuku meneliti perusahaan-perusahaan kecil yang memiliki produk bagus, tetapi tidak mampu menjangkau pelanggan."
Daniel mulai serius.
"Dan apa keuntungan kita?"
"Kita membantu mereka menemukan pelanggan. Kita mendapat komisi dari setiap kontrak yang berhasil kita bawa."
Daniel mengusap dagunya.
"Itu berarti kita menjadi perantara bisnis?"
"Pada awalnya, ya. Kita tidak membutuhkan kantor mahal atau banyak pegawai. Kita hanya membutuhkan waktu, koneksi, dan kemampuan menemukan perusahaan yang tepat."
Daniel menatap daftar di layar sekali lagi.
"Masalahnya, kita masih mahasiswa. Tidak ada perusahaan yang akan mempercayai kita."
"Kalau begitu, kita harus memberikan alasan kepada mereka untuk mempercayai kita."
Arthur menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Ia tidak berniat menceritakan bahwa dirinya pernah mengendalikan perusahaan dengan ribuan pegawai. Ia juga tidak akan menggunakan masa depan untuk memaksa Daniel menerima setiap gagasannya.
Ia hanya akan menunjukkan bahwa rencana tersebut layak dijalankan.
Daniel akhirnya mengangguk perlahan.
"Baiklah. Aku akan memikirkannya."
Arthur tersenyum.
"Jangan terburu-buru. Pelajari dulu."
Saat Daniel bangkit untuk membeli makanan, sebuah pemberitahuan muncul di layar ponsel Arthur.
Pesan dari bank.
Saldo rekeningnya: kurang dari sepuluh dolar.
Arthur menatap angka itu beberapa saat.
Di akun perdagangannya, sebagian besar uang yang ia miliki telah digunakan untuk membeli opsi saham perusahaan farmasi kecil yang ia yakini akan mengumumkan hasil uji klinis positif dalam beberapa minggu mendatang.
Itu adalah langkah berisiko.
Ia mengetahui hasil akhirnya dari kehidupan pertama, tetapi bukan berarti setiap kondisi di masa kini akan berjalan persis sama.
Namun, ia sudah membuat keputusan.
Sekarang, ia harus mencari cara untuk bertahan selama menunggu investasinya berkembang.
Arthur memasukkan ponsel ke saku.
Di luar jendela, mahasiswa berlalu-lalang di bawah sinar matahari musim gugur.
Semuanya tampak biasa.
Tetapi Arthur tahu bahwa kehidupan keduanya telah dimulai dengan dua langkah penting.
Ia telah kembali berbicara dengan Clara.
Dan ia telah menemukan seseorang yang mungkin bersedia membantunya membangun kerajaan bisnis baru.
Arthur tidak mengetahui bahwa di tempat lain di Manhattan, seseorang sedang memeriksa sebuah laporan investasi lama.
Di atas meja pria itu terdapat sebuah dokumen dengan nama Arthur Sterling.
Pria tersebut mengerutkan kening.
"Menarik," gumamnya. "Mengapa seseorang dengan saldo hampir nol mulai membeli opsi perusahaan farmasi yang bahkan tidak diperhatikan oleh analis kita?"
Ia mengambil telepon dan menekan sebuah nomor.
"Periksa mahasiswa bernama Arthur Sterling. Aku ingin tahu dari mana dia mendapatkan informasi itu."
Panggilan berakhir.
Dan tanpa disadari Arthur, langkah pertamanya untuk mengubah masa depan telah menarik perhatian seseorang yang seharusnya belum mengenal namanya.