NovelToon NovelToon
Sweet & Psycho

Sweet & Psycho

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta setelah menikah / Psikopat itu cintaku / Perjodohan
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.

Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.

Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebencian Ino

Kepulangan Rio yang seorang diri menyulut emosi Nyonya Evelyn. Bagaimana bisa Rio mengambil keputusan sepihak tanpa mengonfirmasi siapa pun? Namun, Rio tak punya pilihan. Siapa yang menyangka Tuan Mudanya mendadak bertukar tempat dengan Ino tanpa pemicu jelas, tanpa drama lebih dulu? Sedikit saja Rio salah ambil tindakan, bisa saja Ino kembali bertindak impulsif . Lagi pula, reaksi Sora mengisyaratkan semuanya aman. Mereka berdua berhasil mengelabui keluarga Mubis dengan rapi.

"Nona Sora sepertinya punya rencana lain untuk Tuan Ino, Nyonya," lapor Rio. "Nyonya bisa menghubungi Nona Sora, siapa tahu kita bisa memberi dukungan demi kelancaran misi."

Nyonya Jolly mengangguk paham. Tanpa perlu diperintah, Mark berinisiatif menghubungi Sora. Nada sambung berdering panjang tanpa jawaban. Apakah ponsel Sora masih disita, atau mereka berdua sudah terlelap? Namun, jarum jam baru menunjukkan pukul sepuluh malam—terlalu awal untuk seorang Axcel. Mark lupa, sosok yang berada di sana adalah Ino, kontradiksi dari Axcel yang hobi bergadang. Ino membenci tidur larut demi menjaga kesehatan kulit dan mencegah penuaan dini.

"Tempatkan orang di depan rumah Sora, satu lagi intai area kamarnya," perintah Nyonya Evelyn tegas. "Kalau besok mereka keluar, langsung cegat dan bawa... tunggu, jangan ke kantor. Bawa ke rumah. Mereka harus bertemu Darla."

Mark dan Rio mengangguk patuh lalu segera bergerak menjalankan instruksi.

---

"Aduh, ssshh... badanku pegal semua," keluh Sora seraya menggeliat. "Tahu begini mending tidur bareng Bi Muna. Lagipula Bi Muna sudah tahu kalau Ino itu cowok. Ah, pikun banget! Tapi tumben Bi Muna nggak khawatir liat aku sekamar dengan Ino. Sofa sialan, besok mau kubuang aja?"

Mata Sora menyapu kanan dan kiri, mencari sosok Ino yang sudah lenyap dari ranjang. Sora menghela napas panjang, lagi-lagi pria itu pergi tanpa pamit. Mungkinkah Axcel sudah kembali?

Tak lama, samar-samar terdengar suara senandung lagu dari arah ruang ganti. Terkadang, senandung itu diselingi pekik tawa manis ala wanita. Bulu kuduk Sora meremang. Mana ada hantu pagi-pagi begini? Apa hantu ini kesiangan setelah pulang dari klub malam? Pikiran aneh Sora mulai berkeliaran. Jemarinya menarik selimut tebal hingga membungkus seluruh tubuh, mencoba berkamuflase seraya melangkah perlahan mendekati sumber suara.

*DUG!*

Sora menabrak bidang dada yang kokoh.

"Heii, kamu kenapa? Kedinginan?" Ino menyapa ceria. "Sana mandi, habis itu kita jalan-jalan. Bunda sudah kasih izin main hari ini biar kamu nggak stres."

Sora menurunkan selimut yang menutupi wajahnya. Dengan mata membelalak, ia menanyakan keberadaan suara hantu wanita yang baru saja terkikik di dalam sana. Mustahil Ino tidak mendengarnya.

"Hantu?" Ino terkekeh geli. "Hihiii, itu suaraku tahu! Aku lagi nyobain gaun-gaun oranye milikmu. Lucu banget kalau kupakai, jadi pendek banget, kayak ada yang sapai sobek dikit, hahaha!"

Selimut di tangan Sora terlepas, merosot ke lantai. Mulutnya menganga menatap pemandangan di depannya. Sebagian besar koleksi pakaian branded-nya berserakan tak beraturan. Ino sedang asyik berpesta dengan gaun-gaun milik Sora. Tampangnya terlihat absurd sekaligus menggelikan, proporsi tubuh raksasa Ino dipaksa masuk ke dalam gaun mungil.

Sora memegangi kepala dengan kedua tangan, memekik gemas. Ia segera membongkar penyimpanan tersembunyi, mengambil pakaian asli Ino, lalu melemparkannya.

"Inoo! Sudah, jangan main-main lagi! Bi Muna bisa darah tinggi kalau lihat ruangan berantakan begini! Baju-bajumu masih kusimpan rapi di sini. Rusak semua koleksiku!"

Ino hanya terkekeh tanpa rasa bersalah. "Axcel kan sudah kasih kamu mahar satu miliar. Buat apa pusing memikirkan koleksi lama? Kamu bisa beli baju baru apa saja dengan uang itu."

Wajah Sora memerah menahan kesal. Ucapan Ino ada benarnya, tetapi Sora bahkan belum menyetujui lamaran Axcel. Masalah dengan Easton saja belum tuntas, untuk apa memikirkan uang mahar? Hanya menambah beban pikiran.

"Oke, ayo berangkat. Kita ke mal!" ajak Ino penuh semangat. Pagi yang cerah dan energi terisi penuh setelah tidur nyenyak. Ino membayangkan segala keseruan yang akan mereka lewati. Namun, Sora justru sibuk menatap layar ponselnya.

---

Lama-kelamaan Ino merasa diabaikan. Sora sibuk berbalas pesan dengan Easton. Berawal dari lirikan sekilas, Ino makin merapat untuk ikut menyimak isi obrolan.

"Jadi... kamu sebenarnya senang nggak sih nikah sama Easton?" cetus Ino tiba-tiba. "Alasanmu klise banget, cuma karena belum mau nikah muda. Cewek itu harus tegas. Mau ya mau, enggak ya enggak. Cowok digituin malah merasa diberi harapan, tahu!"

Ino melirik tajam sebelum perlahan memundurkan tubuhnya, lalu melemparkan senyum semanis mungkin pada Sora yang berwajah masam. Ucapan Ino tidak salah, tetapi entah mengapa atmosfer di antara mereka mendadak tegang.

Melihat reaksi Sora, Ino mencibir pelan. Ia menyimpulkan Sora memang belum sepenuhnya move on dari Easton. Dalam hati, Ino memaki kebodohan Axcel yang tidak memanfaatkan celah ini untuk merebut Sora. Balas dendam seharusnya bisa dimulai perlahan. Untuk apa belajar bisnis jika mengalahkan musuh saja selambat ini? Ino belum tahu saja, seluruh rencana itu sudah tersusun rapi di kepala Axcel, termasuk rencana untuk memusnahkan keberadaan Ino.

"Aku sudah bicara baik-baik, tapi Easton tetap nggak mau batalin pertunangan," gumam Sora. "Sepertinya aku harus menemui dia langsung nanti, selesai menemani kamu main. Loh... kita di mana? Ini bukannya rumahmu? Kamu mau pulang, Ino? nggak jadi ke mal?"

Ino ikut mengernyit bingung saat mobil memasuki pekarangan rumahnya. Tak mereka sadari, taksi daring yang mereka tumpangi bukanlah taksi pesanan Sora, melainkan kendaraan Rio yang sudah bersiap sejak semalam. Penyamaran Rio yang sempurna bahkan berhasil mengelabui Ino.

Awalnya Ino hendak mengamuk. Namun karena masih jengkel pada sikap Sora yang terus memikirkan Easton, Ino memutuskan untuk turun dan bermain bersama Rio saja.

"Hai! Sini, sini. Mommy sudah menyiapkan kue kesukaan Ino," Nyonya Evelyn menyambut dengan pelukan hangat seolah tidak ada hal aneh yang terjadi. "Sora, coba juga ya. Enak banget, lho."

Nyonya Evelyn membawa mereka menuju paviliun taman belakang untuk menikmati teh. Di sana, Dokter Darla sudah menunggu dengan pakaian kasual agar Ino merasa nyaman. Mereka paham betul Ino membenci figur dokter dan suasana rumah sakit. Pupil mata Dokter Darla melebar saat melihat Ino dan Sora berjalan berdampingan. Dugaan semalam ternyata tepat, sosok berbadan kekar yang membopong pasiennya kemarin malam memang Axcel.

Ini kali pertama Dokter Darla berhadapan langsung dengan sosok Ino. Semangatnya terpacu. Jarang sekali ia menangani kasus kepribadian ganda dengan karakter bertolak belakang yang saling terikat sekuat ini.

Nyonya Evelyn memperkenalkan Sora dan Ino kepada Dokter Darla. Usai obrolan ringan, Nyonya Evelyn meminta bantuan Sora membuat smoothies di dapur samping, memberi ruang bagi Dokter Darla untuk menginterogasi Ino secara halus.

*Tek.*

"Ino... dengarkan Tante, ya," bisik Dokter Darla lembut. "Ino bisa curahkan semua masalah dan kegelisahan Ino ke Tante. Ceritakan apa yang membuat Ino menjadi seperti ini."

Metode hipnosis sederhana itu bekerja cepat. Dokter Darla perlu mengambil langkah sigap untuk mengenali karakter Ino sebelum pria itu sadar sedang berhadapan dengan seorang psikiater.

"Aku benci Axcel yang nggak bisa balas dendam ke keluarga Paman!" sentak Ino tiba-tiba. Suaranya bergetar penuh kemarahan. "Mereka semua jahat! Axcel juga jahat! Dia cuma diam waktu Kakak dibakar hidup-hidup! Aku sayang Kakak... aku mau mereka semua mati! Kakak kesakitan... Kakak berteriak memanggil Axcel meminta tolong! Axcel sialan! Setan! Axcel harus menebus kesalahannya... Axcel harus mati!"

Ino tak sanggup melanjutkan perkataannya. Tangisnya pecah meledak-ledak diselingi jeritan histeris. Ujaran kebencian dan sumpah serapah terus meluncur deras untuk Axcel. Dokter Darla terpaksa menyadarkannya dari pengaruh hipnosis.

Ino terbangun dengan raut linglung. Ia membetulkan posisi duduk, lalu menyentuh pipinya yang basah oleh air mata. Dengan canggung, ia menyeka jejak air mata menggunakan kerah baju. Dadanya berdenyut nyeri. Matanya menatap Dokter Darla dengan pandangan nanar dan kosong.

Sementara itu di dapur samping, Nyonya Evelyn yang menguping bersama Sora terduduk lemas di lantai. Tangannya dingin dan bergetar hebat, wajahnya pucat pasi. Sora ikut panik melihat ledakan kesedihan Nyonya Evelyn. Ia menepuk dan memijat jemari Nyonya Evelyn yang bergetar, mencoba menyalurkan ketenangan. Tangis Nyonya Evelyn pecah tanpa bisa ditahan. Suasana pagi yang cerah mendadak pekat berduka.

Mark, Rio, dan beberapa staf hanya sanggup berdiri terpaku tak jauh dari sana. Mengapa ucapan Ino sanggup meruntuhkan ketegaran Nyonya Evelyn? Pertanyaan itu tertahan di tenggorokan Sora.

---

Sora memapah Nyonya Evelyn yang tak lagi sanggup menumpu badannya sendiri menuju ruang tengah. Tak berselang lama, sosok di paviliun melangkah masuk dengan raut kebingungan.

"T-Tante... ada apa?" tanya Axcel, sosok yang kini telah kembali. "Tante ngapain di sini? Bukannya aku masih di rumah Sora?"

Dokter Darla tak menjawab. Ia meraih alat perekam kecil di atas meja, lalu memutar kembali rekaman suara amukan Ino yang baru saja terjadi.

*DEG.*

Suara histeris Ino terdengar memenuhi ruangan, melontarkan sumpah serapah dan jeritan pilu.

Napas Axcel tertahan. Matanya terpaku pada alat perekam itu saat satu kata samar terucap dari bibirnya sendiri, "...Kakak?"

⭐⭐⭐⭐⭐

Aduh, makin menguras emosi ya bab kali ini! Akhirnya rahasia trauma masa lalu dan misteri terbentuknya sosok Ino mulai terbuka sedikit demi sedikit. Menurut kalian, apa yang sebenarnya terjadi pada 'Kakak' yang dimaksud Ino? Jangan lupa tinggalkan jejak lewat komentar dan love-nya ya! Sampai jumpa di bab selanjutnya!*

1
Helmy Faldy Alaydrus
bau jigong🤣
Pena kira: di sembur pulaaa
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
dirukyah ini?
Pena kira: Mbah dukun bertindak🤣
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
hadirrr
Pena kira: makasih kk
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍
Pena kira: terimakasih kakak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
bisa bisa nya nggak apal ama muka sodara sendiri
Pena kira: pikun kak🤣
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
lanjut
Pena kira: siap kk
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
jadi paman dari pihak si mama nya ini ya yang pada kerja di perusahan ayah nya axcel? gitu kok belagu amat
Pena kira: songong banget kan, hmmm...enak nya diapain sih orang kek gini ?
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
menarik👍
Pena kira: happy reading kak
total 1 replies
falea sezi
males sora nya oon🤣 di buat tegas lah gk menye 😒 mau kasih giv jd batal sebel liat sora yg bego plin plan pdhl bukti jelas
Pena kira: kak sezi...raosting novel baru ku dong judulnya: Tawanan Pangeran Siren
😍
total 2 replies
falea sezi
kok bisa selena di hamilin siapa😕
Pena kira: ayoo kak tebak
total 1 replies
falea sezi
novel bagus kenapa sepi 👍 q kirim hadiah deh🤣
Pena kira: makasih, bantu share juga dong kak 🤩
total 1 replies
falea sezi
Audrey ini tipe cwek pick me
Pena kira: lebih dari pick me si yaa
total 1 replies
falea sezi
bodoh anak kuliahan g tau alter ego ya🤣
Pena kira: tul bangettt
total 1 replies
falea sezi
kn di clue sora mcnya kok jd ada Audrey
Pena kira: baca terus kakak😅
total 1 replies
falea sezi
nyimak klo bagus q kirim. bunga👍
Pena kira: thank KK♥️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!