Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Harga Sebuah Kesepakatan
Alisha kembali membuka map itu. Pandangannya berhenti pada satu pasal yang sejak tadi membuatnya penasaran.
Pendamping pribadi.
Semakin dipikirkan, istilah itu semakin mengganggunya. Kalau hanya menemani menghadiri acara, perjalanan, atau urusan pribadi tertentu, seharusnya tugasnya bisa dijelaskan dengan lebih jelas.
Namun, kontrak itu justru menggunakan kalimat yang sangat luas.
Alisha mengambil kartu nama yang diberikan pria tadi. Ia menatap nomor yang tertera di sana beberapa saat.
Haruskah ia bertanya?
Ia sempat ragu. Namun lelaki itu memang sudah mengatakan bahwa ia boleh menghubunginya jika ada bagian yang ingin ditanyakan. Tidak ada salahnya meminta penjelasan sebelum mengambil keputusan.
Akhirnya, Alisha membuka aplikasi pesan dan mengetik.
Alisha:
Selamat malam. Saya Alisha Prameswari. Mau tanya soal perjanjian yang tadi.
Balasan datang beberapa saat kemudian.
Pria tersebut:
Selamat malam, Nona Alisha. Silakan.
Alisha menatap layar. Jarinya menggantung di atas keyboard. Ia menarik napas sebelum kembali mengetik.
Alisha:
Di kontrak tertulis saya jadi pendamping pribadi Tuan Ares Sudibyo dan memberikan pendampingan sesuai kebutuhan pihak pertama. Itu maksudnya pendampingan seperti apa ya?
Pesan terkirim, namun balasan tidak langsung datang. Alisha menunggu beberapa menit, ia mulai menyesal, apakah pertanyaannya tadi terlalu langsung?
Ponselnya bergetar.
Pria tersebut:
Nona mau tau seluruh ruang lingkupnya?
Alisha mengerutkan kening. Bukankah seharusnya hal itu sudah tertulis jelas dalam kontrak?
Ia mengetik perlahan.
Alisha:
Ya. Saya mau tau dulu sebelum memutuskan.
Beberapa detik kemudian, balasan kembali masuk.
Pria tersebut:
Baik.
Jawabannya hanya satu kata. Namun entah kenapa, Alisha justru semakin tidak nyaman. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia menggenggam ponselnya lebih erat sambil menunggu.
Pesan berikutnya masuk.
Pria tersebut:
Pendampingannya bersifat pribadi. Nggak ada hubungannya sama kerjaan kantor Nona.
Alisha mengernyit. Itu belum menjawab pertanyaannya. Ia mengetik lagi, lebih cepat.
Alisha:
Maksudnya?
Jeda kali ini lebih lama.
Mungkin sekadar menghadiri acara keluarga. Atau menemani perjalanan. Namun jika hanya itu, mengapa kompensasinya sampai lima puluh juta?
Sebelum sempat berpikir lebih jauh, ponselnya bergetar.
Pria tersebut:
Termasuk memenuhi kebutuhan biologis Tuan Ares.
Alisha membeku. Selama beberapa detik, pikirannya seperti berhenti bekerja. Ia membaca kalimat itu sekali lagi, tetapi tidak menemukan celah untuk menafsirkannya secara berbeda. Jari Alisha perlahan turun dari layar.
“Kebutuhan biologis...”
Suaranya nyaris hanya berupa bisikan. Wajahnya memanas, tetapi bukan karena malu. Keterkejutan, ketidakpercayaan, dan sedikit rasa tersinggung bercampur menjadi satu.
“Jadi... itu maksud kontrak ini?”
Pandangannya beralih pada map di pangkuannya. Lima puluh juta setiap bulan. Biaya pengobatan Raka. Bantuan mencari donor. Larangan menjalin hubungan dengan pria lain.
Satu demi satu potongan yang sebelumnya terasa aneh kini mulai tersusun.
Dadanya terasa sesak. Ia sempat berharap ada penjelasan lain. Sesuatu yang lebih masuk akal.
Ternyata tidak.
Alisha menggigit bibir bawahnya, lalu mengetik dengan tangan yang sedikit kaku.
Alisha:
Maksudnya saya diminta jadi pasangan intim Tuan Ares?
Pesan terkirim. Kali ini balasan datang lebih cepat.
Pria tersebut:
Benar.
Alisha menatap satu kata itu tanpa berkedip. Pesan berikutnya muncul beberapa detik kemudian.
Pria tersebut:
Tapi tanpa hubungan romantis, tanpa pernikahan. Murni kesepakatan. Selama kontrak berlangsung.
Alisha menurunkan ponselnya ke pangkuan. Untuk beberapa saat, ia tidak mampu melanjutkan membaca. Tawaran yang sebelumnya terlihat seperti jalan keluar mendadak berubah menjadi sesuatu yang membuatnya merasa terjebak.
Namun di sisi lain, bayangan wajah Raka kembali muncul di benaknya. Kamar rumah sakit. Obat-obatan. Biaya perawatan yang terus berjalan. Rumah yang mungkin sebentar lagi harus ia jual.
Inilah yang membuat tawaran itu terasa begitu kejam.
Bukan karena ia sama sekali tidak punya pilihan. Melainkan karena pilihan yang ditawarkan kepadanya datang tepat ketika ia sedang berada di titik paling terdesak.
Dan sekarang ia harus memutuskan... Berapa harga yang sanggup ia bayar demi menyelamatkan adiknya?
Alisha tidak lagi mengirim pesan. Ia menurunkan layar ponselnya dan mengalihkan pandangan kepada Raka yang masih terlelap di atas ranjang pasien.
Wajah adiknya pucat. Selang infus terpasang di tangannya, sementara beberapa kabel masih terhubung pada alat pemantau di samping ranjang. Raka adalah satu-satunya keluarga yang tersisa.
Alisha kembali menatap pesan terakhir di layar ponselnya.
Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.
Ia masih bisa membayangkan cara pria itu menjelaskan semuanya dengan begitu tenang. Seolah yang ditawarkan bukan sesuatu yang bisa mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri, melainkan sekadar kesepakatan bisnis.
Semua kebutuhan yang selama ini membuatnya nyaris kehilangan napas tersedia dalam satu kontrak. Dengan satu syarat.
Dirinya.
Kalau menerima, ia mungkin bisa mempertahankan rumah mereka. Raka bisa melanjutkan pengobatan tanpa harus melihat kakaknya menghitung uang setiap kali tagihan rumah sakit datang.
Tapi kalau Raka sampai tahu caranya?
Alisha langsung menggeleng. “Tidak.”
Ia tidak sanggup membayangkan wajah adiknya ketika mengetahui bahwa kakaknya menerima uang dengan cara seperti itu. Raka pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.
Alisha menggenggam ponselnya lebih erat. Malam itu, tidak ada pilihan ketiga. Hanya sebuah tawaran yang sudah memperlihatkan harga sebenarnya, dan keputusan yang menunggu untuk diambil.
.
...✨“Tidak semua jalan keluar adalah penyelamatan. Ada kalanya, jalan itu hanya membawa kita pada pertanyaan yang lebih sulit: seberapa besar bagian dari diri kita yang rela dikorbankan demi menyelamatkan orang lain?”✨...
.
To be continued
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Mana ada sih, laki-laki dimuka bumi ini yang mau, melewatkan hidangan lezat di depan matanya... 😂😂😂 Yaaa langsung di makan dong... 😁😁😁 Bodoh aja kalau Ares harus terus menerus mengabaikan makanan lezat di depan matanya... 😂😂😂