NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Sensasi terbakar di jidat Aria akibat aksi saling tanduk di atas matras tiga hari lalu memang sudah memudar. Namun, rasa gengsi dan kejengkelan yang menyertainya masih tertancap kencang di benak sang peretas. Devan Argantara boleh saja memegang kekuasaan mutlak di markas megah ini, tetapi Aria menolak untuk terus-menerus diposisikan sebagai pihak yang dikendalikan.

​Jika ia tidak bisa mengalahkan Devan melalui kekuatan fisik mentah tanpa berisiko dipiting kembali, maka Aria akan menyerang pria itu lewat ranah yang paling ia kuasai: teknologi.

​Pukul sepuluh malam. Koridor lantai atas markas Argantara sudah sangat lengang. Sebagian besar pengawal bertugas di perimeter luar, sementara Devan dijadwalkan kembali ke ruang kerja pribadinya setelah menyelesaikan inspeksi lapangan di perbatasan.

​Aria melangkah santai menyusuri koridor berlantai kayu jati tersebut. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah flashdisk berdesain tipis berbahan titanium hitam. Di dalam peranti kecil itu, Aria telah menyusun sebuah skrip peretas khusus—sebuah virus usil bernama Puck yang ia rancang selama dua jam di sela-sela waktu istirahatnya.

​Rencananya sangat sederhana dan relatif tidak berbahaya untuk keamanan markas. Skrip tersebut tidak merusak basis data klan atau mencuri rahasia negara. Puck hanya dirancang untuk mengunci seluruh pintu otomatis di ruang kerja pribadi Devan, mematikan pendingin udara hingga ruangan menjadi panas bagai sauna, dan memutar rekaman musik anak-anak dengan nada sumbang secara berulang lewat pengeras suara tersembunyi selama tiga puluh menit tanpa bisa dimatikan dari dalam.

​Itu balasan yang sepadan buat sikap sok berkuasanya di atas matras, batin Aria sembari menyunggingkan senyum puas yang teramat tipis.

​Menggunakan kartu akses tingkat tinggi yang diberikan Devan sebelumnya, Aria menempelkan kartunya ke pemindai pintu ruang kerja Devan.

​BEEP.

​Pintu kayu jati ganda itu terbuka secara halus. Ruangan di dalamnya gelap, hanya disinari pendar rembulan yang menembus dinding kaca gergasi. Aria menyelinap masuk dengan langkah tanpa suara bagaikan seekor kucing.

​Ia melangkah mendekati meja kerja Devan yang rapi, bermaksud menyambungkan flashdisk tersebut ke port pengisi daya pada sistem terminal utama di bawah meja. Namun, baru saja jemari Aria menyentuh tepian meja kayu tebal itu, pendengarannya yang tajam menangkap suara desis yang sangat tipis dari balik dinding rak buku.

​SZZZT.

​Aria membeku. Matanya melebar seketika.

​Sebelum jarinya sempat menancapkan peranti titanium tersebut, sistem keamanan independen milik Devan—yang sama sekali tidak terhubung ke jaringan peladen utama bawah tanah—merespons kehadiran perangkat asing yang mencoba menembus pertahanannya.

​BEEP! BEEP! BEEP!

​Lampu sorot merah berkedip-kedip cepat di empat sudut langit-langit ruangan. Suara sirine alarm darurat bernada tinggi langsung memecah kesunyian malam di seluruh penjuru lantai atas markas!

​"Sialan!" umpat Aria, refleks menarik kembali tangannya. Pria itu ternyata memasang modul proteksi fisik berfrekuensi radio di sekujur mejanya—sebuah jebakan keamanan analog yang tidak terdeteksi oleh pemindai siber Aria!

​Belum sempat Aria berbalik untuk berlari menuju pintu keluar, mekanik pintu otomatis ruang kerja Devan bekerja lebih cepat.

​KLAK!

​Pintu kayu ganda terisolasi itu tertutup rapat dan terkunci secara mekanis dari luar dengan sistem kait baja ganda.

​"Buka! Sialan, kebuka!" seru Aria sembari menempelkan kartu aksesnya ke pemindai pintu berulang kali. Namun, layar pemindai justru menampilkan warna merah menyala bertuliskan: AKSES TERKUNCI — PROTOKOL PENYUSUP AKTIF.

​Dalam hitungan detik, suara langkah kaki sepatu lars yang berat dan terburu-buru bergemuruh di luar koridor.

​"Penyusup di ruang kerja Tuan Devan! Amankan area! Siapkan senjata!" teriakan tegas Marco bergema kencang menembus dinding tebal.

​Aria menepuk dahinya sendiri dengan telapak tangan, merutuki kecerobohannya. Rencana pembalasan usil yang seharusnya menjadi hiburan pribadinya kini berubah menjadi skenario keributan besar. Jika para pengawal mendobrak pintu dan menemukannya terjebak di dalam, statusnya sebagai 'mitra' bisa bergeser kembali menjadi 'penyusup' dalam sekejap.

​Aria bergegas menyembunyikan flashdisk titaniumnya ke dalam saku celana, lalu berdiri tegap di tengah ruangan dengan gaya seolah-olah ia tidak sedang melakukan tindakan ilegal.

​KLAK-KLAK-KLAK!

​Sistem kunci mekanis pintu mendadak terbuka kembali dari luar. Pintu ganda terdorong kasar.

​Delapan pengawal taktis berlarat senjata penuh menerobos masuk dengan moncong senapan serbu terarah lurus ke depan. Di barisan paling depan, Marco berdiri dengan pistol terkokang di tangannya.

​"Jangan bergerak—" teriakan Marco terhenti seketika begitu matanya menangkap sosok yang berdiri tenang di dekat meja kerja.

​Marco menurunkan senjata dengan raut wajah yang sepenuhnya linglung. "Nona Aria? Anda... sedang apa di ruang kerja Tuan Devan malam-malam begini sampai memicu alarm utama?"

​"Aku..." Aria berdeham pelan, mencoba mempertahankan raut wajah dingin tanpa dosa. "Aku cuma mau mengantar laporan analisis sinyal untuk simulasi esok pagi. Tapi rupanya meja bos kalian terlalu sensitif."

​Para pengawal saling pandang dengan canggung, ragu apakah harus tetap menodongkan senjata atau menurunkannya. Sebelum keraguan itu terjawab, sosok jangkung Devan Argantara muncul dari balik kerumunan pengawal di koridor.

​Devan melangkah masuk dengan santai, mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan dadanya yang tegap. Pria itu menyapu pemandangan di dalam ruang kerjanya—lampu merah yang masih berkedip dan Aria yang berdiri kaku di dekat mejanya.

​Devan mengangkat tangan kanannya sedikit. "Kalian semua, turunkan senjata dan kembali ke pos masing-masing."

​"Tapi Tuan, alarm penyusup—"

​"Aku bilang kembali ke pos," potong Devan, suaranya pelan namun mengandung tekanan mutlak yang tak terbantahkan.

​"Baik, Tuan!" Marco dan para pengawal segera memberi penghormatan kaku lalu bergegas mundur, menutup pintu ganda ruangan itu kembali dan menyisakan Devan serta Aria dalam keheningan yang canggung.

​Devan melangkah perlahan mengitari meja kerjanya. Pria itu mematikan tombol sirine darurat di bawah meja, membuat pendar lampu merah mereda dan digantikan oleh cahaya temaram ruangan yang tenang.

​Devan menyandarkan pinggulnya ke tepi meja, menyilangkan kakinya, lalu menatap Aria dengan senyum tipis yang sarat akan sindiran kental.

​"Laporan analisis sinyal, hm?" goda Devan, suaranya berat dan rendah. "Sejak kapan seorang peretas ulung menyerahkan laporan fisik di dalam ruang kerjaku jam sepuluh malam?"

​Aria menyilangkan dadanya, berusaha keras mengabaikan tatapan mata kelam Devan yang seolah bisa membaca isi kepalanya. "Aku cuma mau memastikan kamu membacanya sebelum besok pagi."

​Devan mencondongkan tubuhnya ke depan, mengulurkan tangan kanannya ke arah Aria. "Kalau begitu, mana laporannya?"

​Aria membeku sejenak. "Aku... lupa membawanya."

​Tawa rendah dan renyah meledak dari tenggorokan Devan. Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Aria dengan binar jenaka yang teramat jarang ia perlihatkan kepada siapa pun.

​"Kamu memang pandai meretas server klan Vane, Little Bird," ujar Devan sembari berdiri dari tepi meja, melangkah mendekati Aria hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. "Tapi kamu lupa satu hal: seluruh peranti di meja kerjaku menggunakan modul keamanan sensor induksi buatan tangan. Perangkat digital asing apa pun yang mendekat dalam radius sepuluh sentimeter bakal memicu sistem darurat."

​Devan tiba-tiba mengulurkan tangannya yang besar ke arah saku celana Aria.

​Dengan refleks cepat, Aria mencoba mundur, namun punggungnya langsung berbenturan dengan tepi rak buku kayu yang kokoh. Devan memangkas jarak, mengurung tubuh Aria dengan menumpukan tangan kirinya di rak buku tepat di samping kepala wanita itu, sementara jari-jari tangan kanannya dengan sangat lihai menarik keluar flashdisk titanium hitam dari dalam saku celana Aria.

​Aria menahan napasnya, merasakan kehangatan tubuh Devan yang kembali mengurung dirinya. Hidung mereka hampir bersentuhan, dan aroma woody maskulin dari tubuh Devan memenuhi indra penciuman Aria.

​"Apa ini?" bisik Devan pelan, memperlihatkan peranti kecil itu di antara ibu jari dan telunjuknya.

​"Bukan apa-apa," balas Aria cepat, mencoba merebut peranti itu kembali. Namun Devan dengan mudah mengangkat tangannya lebih tinggi.

​Devan melangkah menuju komputer kerjanya, mencolokkan flashdisk tersebut ke dalam port terisolasi khusus penguji virus. Dalam hitungan detik, barisan kode racikan Aria terpampang di layar monitor pribadi Devan.

​Devan membaca baris-baris kode tersebut. Senyum di bibirnya makin melebar saat menyadari fungsi asli dari algoritma buatan Aria: mengunci pintu, menaikkan suhu ruangan, dan memutar lagu anak-anak berulang kali.

​Devan berbalik, menatap Aria yang kini berdiri bersandar di rak buku dengan raut wajah jengkel bercampur malu yang sangat menggemaskan.

​"Lagu anak-anak, Aria?" goda Devan, menyandarkan punggungnya di meja kerja sembari bersedekap dada. "Itu pembalasanmu karena aku mengunci pergerakanmu di atas matras kemarin?"

​Aria menghembuskan napas kencang, melepaskan topeng dinginnya karena tak bisa lagi mengelak. "Kamu terlalu menyebalkan, Devan. Seseorang harus memberi pelajaran kecil supaya kamu ingat kalau kamu bukan dewa yang bisa mengatur segala hal di dunia ini."

​Devan terkekeh pelan. Bukannya marah karena ruang kerjanya disusupi dan disabotase, sang bos mafia justru merasa sangat terhibur. Keberanian Aria untuk melakukan aksi pembalasan konyol seperti ini menunjukkan bahwa wanita di depannya bukan lagi sekadar tawanan atau peretas yang ketakutan, melainkan seseorang yang mulai merasa nyaman menunjukkan sisi aslinya di sekitar Devan.

​Devan melangkah kembali mendekati Aria. Pria itu meraih jemari tangan Aria, lalu meletakkan peranti flashdisk titanium itu kembali ke telapak tangan wanitanya, merapatkan jari-jari Aria perlahan.

​"Skrip yang sangat rapi," pungkasi Devan pelan, suaranya melembut secara drastis saat ibu jarinya mengusap punggung tangan Aria dengan lembut sebelum melepaskannya. "Tapi kalau kamu mau mengerjaiku lagi di lain waktu... pastikan kamu menanyakan jenis sensor mejaku dulu."

​Aria mengepalkan tangannya yang menggenggam flashdisk, menatap Devan dengan tatapan mata yang menyipit tajam. "Lain kali aku tidak akan ketahuan."

​"Aku akan menunggu saat-saat itu," balas Devan dengan senyum memikat yang membuat jantung Aria berdegup liar tanpa permisi. "Sekarang kembali ke kamarmu dan istirahat. Besok adalah simulasi gabungan terakhir sebelum kita benar-benar menyusup ke Kasino Royale Vane."

​Aria tidak membalas lagi. Ia berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruang kerja Devan. Namun saat menyusuri koridor yang sunyi menuju kamarnya, Aria tak sanggup menahan senyum tipis yang mendadak terukir di bibirnya—sebuah kenyataan membahayakan bahwa permainan tarik-menarik di antara dirinya dan Devan Argantara telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kesepakatan bisnis.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!