NovelToon NovelToon
Babu Yang Dicintai

Babu Yang Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara

Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.

“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”

Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.

Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Sore itu, saat jam sekolah usai, Celin tidak langsung pulang. Ia pergi ke cafe Kirei. Ia harus bekerja lebih keras, menabung lebih banyak, dan mencari cara agar ia punya posisi tawar di depan Reja.

Jika Reja ingin bermain dengan kebebasan, maka Celin akan mulai bermain dengan kenyataan. Ia tidak akan membiarkan Reja menang dengan mudah di rumah yang mereka tinggali bersama.

Malam itu, saat Celin baru saja melangkah keluar dari cafe dengan seragam kerja yang dilapisi jaket lusuh, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depannya. Kaca mobil turun, menampilkan wajah tegas namun teduh milik Adrian.

"Celin? Kamu... kok masih kerja di jam segini?" tanya Adrian dengan nada terkejut sekaligus kecewa.

Celin mematung. Jantungnya berdegup kencang. "E-eh, Papa... Iya, Pa, ini cuma sebentar..."

"Celin, Papa kan sudah bilang. Kamu itu menantu Papa, istri Reja. Semua kebutuhan kamu, biaya kuliah nanti, sampai uang saku, itu tanggung jawab Papa dan Reja. Kamu nggak perlu lagi kerja banting tulang di cafe seperti ini," ucap Adrian sambil turun dari mobil.

Celin mencoba menjawab dengan bijak, menyembunyikan kenyataan bahwa uang itu ia butuhkan untuk ayahnya. "Bukan begitu, Pa. Celin hanya ingin menjaga kemandirian. Celin udah terbiasa sibuk, rasanya aneh kalau hanya diam di rumah."

Adrian menggelengkan kepala. "Mandiri itu bagus, tapi tugas kamu sekarang adalah fokus belajar dan... menjaga Reja. Sudah, jangan membantah. Ayo, Papa antar pulang. Ini sudah terlalu malam untuk perempuan sendirian."

Celin panik. Ia tahu Reja kemungkinan besar sedang tidak ada di rumah atau sedang berulah. "Nggak usah, Pa. Celin bisa naik angkutan umum, dekat kok..."

"Ayo, Celin," suara Adrian tidak menerima penolakan.

Sepanjang jalan, Celin hanya bisa berdoa dalam hati agar rumah dalam keadaan tenang. Namun, saat mobil memasuki halaman, firasat buruknya terbukti. Rumah itu gelap, hanya lampu teras yang menyala. Reja tidak ada.

"Mana Reja? Kenapa rumah sesepi ini?" tanya Adrian sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam.

Celin meremas tangannya yang masih terbalut kasa. "Mungkin Reja lagi... di atas, Pa. Atau mungkin lagi..."

Belum sempat Celin menyelesaikan kalimatnya, suara raungan motor sport memecah keheningan kompleks. Lampu sorot motor yang terang benderang menyapu wajah mereka berdua.

Reja masuk ke halaman dengan gaya ugal-ugalan, sebelum akhirnya mengerem mendadak saat melihat mobil ayahnya.

Reja membeku. Ia turun dari motor dengan wajah yang sedikit pucat, berusaha menyembunyikan bau asap rokok yang melekat di pakaiannya.

"Dari mana kamu, Reja?!" bentak Adrian, suaranya menggelegar di keheningan malam.

"Istri kamu baru pulang kerja, dan kamu baru pulang kelayapan dengan motor itu?"

Reja melirik Celin dengan tatapan tajam yang seolah menuduh Celin mengadu. Namun, ia segera memasang wajah lelah yang dibuat-buat.

"Siapa yang kelayapan, Pa?" jawab Reja dengan nada defensif yang tenang.

"Reja tadi dari rumah Rian. Kita belajar kelompok buat persiapan ujian akhir yang sebentar lagi mulai. Reja serius mau berubah, Pa, makanya Reja bela-belain belajar sampai malam."

Adrian mengernyit, menatap putranya dengan selidik. "Belajar? Kenapa harus pakai motor sport itu? Dan kenapa ponsel kamu mati saat Papa telepon tadi?"

"Baterainya habis, Pa. Kalau motor... ya supaya cepat sampai rumah. Reja tahu Papa bakal marah kalau Reja pulang telat," lanjut Reja, berbohong tanpa berkedip. Ia bahkan menunjukkan beberapa lembar fotokopi soal yang sebenarnya ia ambil asal dari tasnya.

Adrian menghela napas panjang, amarahnya sedikit mereda meski masih ada kecurigaan. Beliau beralih menatap Celin. "Celin, apa benar Reja bilang mau belajar tadi?"

Celin berada di posisi sulit. Jika ia jujur bahwa Reja baru saja bersenang-senang, Reja akan menyiksanya lebih parah nanti. Tapi jika ia berbohong, ia merasa mengkhianati kepercayaan Adrian.

Celin melirik Reja. Pria itu memberikan kode lewat matanya—sebuah ancaman yang sangat jelas. "Iya, Pa. Reja tadi memang pamit mau fokus belajar karena ujian sudah dekat," ucap Celin pelan, suaranya terasa pahit di tenggorokan.

Reja menyeringai tipis di balik kegelapan. Ia merasa menang. Adrian akhirnya mengangguk. "Bagus kalau begitu. Tapi besok-besok, belajarnya di rumah saja. Kasihan Celin sendirian. Ya sudah, Papa pulang dulu. Kalian masuk dan istirahat."

Begitu pintu depan tertutup rapat, Reja langsung berbalik dan menyambar lengan Celin dengan kasar. Wajahnya yang tadi terlihat manis di depan ayahnya, kini berubah menjadi bengis.

"Lo sengaja, kan?! Lo sengaja bawa Papa ke sini biar dia liat gue nggak ada di rumah?!" bentak Reja tepat di depan wajah Celin. Suaranya bergema di ruang tamu yang luas dan sunyi.

Celin menyentak tangannya sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri. "Gue nggak sengaja! Papa ketemu gue di depan cafe dan dia maksa buat anter pulang. Gue udah nolak berkali-kali!"

"Nolak?! Kalau lo beneran nolak, dia nggak akan ada di sini! Lo pasti sengaja masang muka melas lo itu biar Papa kasihan, terus dia dapet alasan buat nyalahin gue lagi!" Reja berteriak semakin kencang, urat-urat di lehernya menegang.

"Lo denger nggak sih?!" balas Celin, suaranya mulai meninggi karena rasa lelah yang memuncak. "Gue bahkan bohong buat belain lo tadi! Gue bilang lo belajar di rumah Rian padahal gue tau lo cuma hura-hura nggak jelas. Gue nyelametin muka lo di depan Papa!"

"GAK USAH SOK JADI PAHLAWAN!" Reja memukul dinding di samping kepala Celin dengan kepalan tangannya hingga menimbulkan suara dentuman keras.

Celin terlonjak, namun ia tidak memejamkan mata. Ia menatap balik Reja dengan keberanian yang membuat pria itu semakin murka.

"Lo itu cuma pion, Celin! Jangan pernah ngebantah omongan gue! Tugas lo cuma diem, nurut, dan jangan bikin masalah buat gue!"

"Gue bukan robot! Gue punya hidup, Kalau lo emang nggak mau Papa curiga, ya lo berubah! Jangan cuma pinter bohong!"

"DIEM!" Reja berteriak histeris, tangannya gemetar karena amarah yang meledak. Ia tidak terbiasa dibantah, apalagi oleh gadis yang ia anggap dibeli oleh keluarganya.

"Sekali lagi lo buka mulut buat ngebantah gue... gue pastiin besok lo nggak bakal bisa jalan ke sekolah!"

Reja menendang meja kopi di dekatnya hingga bergeser jauh, lalu ia berlari naik ke lantai atas, membanting pintu kamarnya dengan sangat keras hingga plafon rumah terasa bergetar.

Bersambung...

1
Nelson Sihombing
semangat celin
araaself
lanjutttt
Alia Chans: siap kak🔥🔥
total 1 replies
Nelson Sihombing
cerita yang seru lagi nih....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!