NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: AKU MENIKAH DENGAN DUDA ITU

"Menikahlah denganku."

Dua kata itu menggantung di udara yang pengap, bercampur dengan bau debu, kayu lapuk, dan tanah basah yang masuk dari atap yang bocor.

Aku mengira telingaku salah dengar karena kedinginan dan lapar. Aku masih duduk di lantai semen yang dingin, memeluk lututku sendiri. Jaket oversize pinjaman dari Ibu yang kebesaran itu sudah basah kuyup dan tidak lagi bisa menghangatkanku. Rambutku yang panjang menempel di pipi.

Di hadapanku, pria bernama Arga itu masih jongkok. Wajahnya diterangi cahaya senter HP yang diletakkan di lantai, menciptakan bayangan yang membuat wajahnya yang tegas terlihat semakin dingin dan keras. Usianya mungkin tidak jauh di atasku, sekitar 29 atau 30 tahun, tapi garis-garis lelah di sekitar matanya membuatnya terlihat jauh lebih tua.

Di tikar pandan tipis di belakangnya, anak perempuan kecilnya, Salsa, masih tertidur pulas memeluk boneka kelinci yang sudah lusuh. Napasnya teratur. Anak sekecil itu harus ikut ayahnya hujan-hujanan menjemput orang asing di tengah malam.

"Pak... Bapak bercanda ya?" suaraku akhirnya keluar, serak dan nyaris tidak terdengar karena tangis yang kutahan sejak di gerbang tadi.

Arga tidak tersenyum. Dia tidak terlihat seperti orang yang suka bercanda.

"Aku tidak pernah bercanda soal pernikahan, Kirana," jawabnya. Suaranya rendah dan berat, hampir kalah oleh suara hujan yang menghantam atap seng. "Ibumu menelepon Mbah Sarti, bibinya. Mbah Sarti menelepon istri Pak RT, istri Pak RT menelepon aku karena rumahku di sebelah rumah kosong ini. Dalam waktu satu jam, satu desa sudah tahu kalau cucu Bu Lastri yang kuliah di kota itu pulang dalam keadaan hamil dan diusir."

Darahku berdesir. Begitu cepat. Aibku sudah menjadi konsumsi satu desa bahkan sebelum aku sempat menginjakkan kaki di rumah ini.

"Itulah kenapa aku menawarkan ini," lanjutnya.

Dia berdiri, mengambil ember plastik hitam yang sudah berlumut di sudut dapur dan meletakkannya tepat di bawah bocoran atap yang paling deras. Air menetes dengan keras ke dalam ember. Tok... tok... tok... Suara itu membuat rumah kosong ini terasa semakin menyedihkan.

"Di Wonorejo, seorang janda apalagi gadis hamil tanpa suami tidak akan bisa hidup tenang. Setiap kamu ke warung, ke masjid, ke posyandu nanti, kamu akan jadi bahan bisik-bisik. Anakmu nanti, saat lahir, akan ditunjuk-tunjuk. Kamu mau anakmu hidup seperti itu?"

Kalimat terakhirnya menghantamku tepat di ulu hati. Aku refleks mengelus perutku yang masih rata. Masih 8 minggu. Masih sangat kecil. Tapi di dalam sana sudah ada jantung yang berdetak. Hasil dari kebodohanku mencintai Rendo terlalu dalam.

Rendo. Lagi-lagi nama itu muncul dan membuat dadaku sesak.

Rendo yang tiga tahun memacariku, yang selalu mengajakku sholat berjamaah, yang dikenal semua orang sebagai anak baik-baik. Rendo yang berjanji akan menikahiku setelah aku wisuda. Rendo yang pada malam ulang tahunku ke-22 itu menangis dan berkata, "Aku takut kehilangan kamu, Kir." Dan aku, bodohnya, menyerahkan segalanya karena mengira cinta harus dibuktikan dengan itu. Sekali. Hanya sekali itu. Dan sekali itu menghancurkan seluruh hidupku.

Sebulan setelah itu dia berubah. Dingin. Menghindar. Sampai akhirnya nomornya tidak aktif, Instagramnya hilang, dan teman kosnya bilang dia sudah pindah ke Kalimantan mengikuti ayahnya yang dapat proyek di sana. Dia kabur. Benar-benar kabur setelah tahu aku mulai mual dan curiga hamil.

"Kenapa... kenapa harus saya, Pak? Di desa ini pasti banyak janda lain yang lebih pantas," bisikku.

Arga kembali jongkok. Kali ini dia menatap Salsa.

"Karena Salsa butuh ibu. Istriku, Mira, meninggal dua tahun lalu. Pendarahan hebat saat melahirkan Salsa di puskesmas. Sejak itu, Salsa tidak pernah mau dekat dengan perempuan mana pun. Kalau ada tetangga perempuan yang mencoba menggendongnya, dia akan histeris, menangis sampai kejang. Trauma."

Dia menghela napas. Untuk pertama kalinya, aku melihat ada retakan di wajah dinginnya itu. Ada duka yang sangat dalam.

"Tapi tadi di mobil, saat kamu naik, dia tidak menangis. Dia malah tertidur pulas di belakangmu. Dan sekarang..." dia menunjuk ke arah ujung jaketku yang masih dipegang oleh tangan kecil Salsa yang tertidur. "Dia memegang bajumu. Dia belum pernah seperti ini pada orang asing."

Aku menatap tangan kecil itu. Hangat. Tulus.

"Jadi Bapak mau menikahi saya bukan karena kasihan, tapi karena anak Bapak butuh pengasuh?" tanyaku. Ada rasa perih di hatiku mendengar itu, tapi juga ada logika yang masuk akal.

"Bisa dibilang begitu. Ini kesepakatan. Pernikahan kontrak," jawabnya jujur. Kejujuran yang menyakitkan tapi justru membuatku sedikit percaya padanya. "Aku butuh istri untuk mengurus rumah, memasak, dan menjaga Salsa saat aku bekerja di kebun karet dari pagi sampai sore. Kamu butuh tempat tinggal, butuh nama untuk anakmu, butuh perlindungan dari gunjingan orang. Aku akan menanggung semua biaya hidupmu, biaya posyandu, sampai biaya melahirkanmu nanti. Aku tidak akan menuntutmu menjadi istri yang sempurna. Aku hanya minta kamu tulus menjaga Salsa."

"Tapi... tapi saya sedang hamil anak orang lain, Pak. Apa Bapak tidak jijik? Tidak malu?"

"Anak itu tidak berdosa," jawabnya cepat. "Yang berdosa itu laki-laki yang menghamili dan kabur. Anakmu, kalau sudah lahir nanti, akan aku anggap seperti anakku sendiri. Akan kuberi nama belakangku. Biar dia punya akta kelahiran yang jelas ada nama ayahnya."

Air mataku yang sudah kering, kembali mengalir deras. Bukan karena sedih, tapi karena untuk pertama kalinya setelah seharian penuh dimaki dan diusir, ada seseorang yang mengatakan bahwa anakku tidak berdosa.

Aku menunduk. Otakku berputar kencang. Pilihan apa yang kumiliki? Jika aku menolak, aku akan tinggal di rumah hantu ini sendirian. Tanpa uang sepeser pun. Tabunganku hanya sisa dua ratus ribu. Dengan perut yang semakin besar, tanpa keterampilan apa pun selain kuliah yang belum selesai. Aku akan mati kelaparan, atau lebih buruk, aku akan kembali ke kota dan menjadi gelandangan hamil yang ditertawakan.

Jika aku menerima, aku akan terikat dengan pria asing. Duda dingin yang penuh rahasia. Hidupku tidak akan bebas lagi. Tapi setidaknya, anakku akan selamat.

Di luar, petir menyambar. Cahaya putih menyilaukan masuk dari jendela yang kacanya sudah pecah. Dalam kilatan cahaya itu, aku melihat wajah Arga dengan jelas. Wajah lelah seorang ayah yang juga berjuang sendirian.

"Apakah... apakah Bapak janji tidak akan menyentuh saya? Maksud saya... sebagai suami istri... saya belum siap," tanyaku dengan suara yang sangat kecil, hampir seperti bisikan. Malu sekali menanyakan hal itu.

Arga menatapku, lalu mengangguk mantap. "Aku janji. Demi Allah dan demi makam Mira istriku, aku tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu. Pernikahan ini hanya di atas kertas untuk melindungi kamu dan Salsa. Di dalam rumah, kamu bebas. Anggap saja kita teman serumah. Sampai kapan pun kalau kamu mau pergi setelah anakmu besar, aku akan lepaskan kamu."

Janji itu. Janji yang terdengar tulus.

Salsa yang tertidur itu tiba-tiba menggeliat dan mengigau pelan. "Mama... mama jangan pergi lagi..."

Satu kata itu. Mama. Kata yang dirindukan anak kecil itu selama dua tahun. Dan tanpa sadar, kata itu juga adalah kata yang ingin kudengar dari anakku nanti.

Entah dari mana keberanian itu datang. Mungkin dari rasa putus asa. Mungkin dari rasa iba pada Salsa. Mungkin dari rasa lelah yang sudah di ujung tanduk.

Aku menghapus air mataku dengan kasar.

"Baik, Pak Arga. Saya... saya mau menikah sama Bapak."

Arga terdiam sejenak, seperti tidak percaya aku akan setuju secepat itu.

"Kamu yakin?"

Aku mengangguk, meski seluruh tubuhku gemetar. "Saya yakin. Tapi saya punya satu syarat. Tolong... jangan pernah bilang ke siapa pun siapa ayah asli anak saya. Biar Rendo mati saja dalam cerita hidup saya. Anak saya hanya punya satu ayah, yaitu Bapak."

Arga menatapku lama, lalu untuk pertama kalinya malam itu, dia tersenyum. Senyum yang sangat tipis, hampir tidak terlihat, tapi membuat wajah dinginnya terlihat sedikit lebih hangat.

"Sepakat."

Malam itu juga, di rumah kosong peninggalan nenek yang bocor, yang hanya diterangi satu senter HP yang baterainya sudah 15 persen, dengan disaksikan seorang anak kecil yang tertidur dan suara hujan yang tak henti, kami melangsungkan pernikahan siri paling sederhana dalam sejarah.

Tidak ada penghulu resmi. Arga sendiri yang menjadi wali hakim karena dia sudah mendapat izin dari Pak RT dan Pak Kyai di desa yang sudah tahu ceritaku dari istri Pak RT.

"Aku terima nikahnya Kirana binti Hadi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang seratus ribu rupiah tunai," ucap Arga dengan suara bergetar menahan dingin.

"Ya... saya terima," jawabku dengan suara yang hampir hilang ditelan hujan.

Sah. Aku kini resmi menjadi istri seorang duda.

Setelah ijab kabul itu, Arga menyentuh keningku pelan untuk berdoa. Tangannya besar dan kasar karena kerja di kebun, tapi sentuhannya hangat.

Saat itulah, dari ekor mataku, melalui jendela kayu yang kacanya pecah dan buram oleh air hujan, aku melihat sesuatu.

Di bawah pohon mangga besar di halaman rumah sebelah, yang gelap dan rimbun, ada bayangan seseorang berdiri. Seseorang dengan jaket hoodie hitam. Tubuhnya tinggi kurus. Dia berdiri mematung menatap ke arah rumah ini. Menatap ke arah jendela tempat kami berada.

Jantungku berhenti berdetak.

Siluet itu... postur tubuh itu... cara berdirinya...

Sangat mirip sekali dengan Rendo.

Apakah dia mengikutiku sampai ke sini? Apakah dia menyesal?

Atau aku hanya berhalusinasi karena terlalu lelah dan trauma?

Aku ingin berteriak memanggil Arga, tapi bayangan itu tiba-tiba berbalik dan menghilang ditelan gelapnya kebun karet dan derasnya hujan.

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!