NovelToon NovelToon
Dewi Angin Utara

Dewi Angin Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.

Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.

Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.

Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.

Sementara Utara tetap mengingatnya.

Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 : MADU UNTUK FENG YAO

Xiong Yan tiba di gua markas Klan Beruang Hitam menjelang tengah hari. Dua penjaga gerbang batu langsung menegakkan punggung dan memberi hormat.

"Selamat datang kembali, Pemimpin!"

"Hm." Xiong Yan hanya mengangguk singkat, lalu melenggang masuk dengan wajah sedatar tembok.

Kedua penjaga itu saling melirik. Setelah Xiong Yan menghilang di kelokan lorong, salah satunya berbisik, "Kau lihat tadi? Pemimpin jalan sambil memegangi pipinya."

"Mungkin giginya sakit."

"Pemimpin kita tidak pernah sakit gigi."

Di ruang utama gua, Xiong Yan duduk di singgasana batunya. Ia sudah bertekad untuk berpikir jernih dan kembali menjadi pemimpin klan yang berwibawa.

Sepuluh menit kemudian, ia masih menatap dinding gua dengan pandangan kosong.

*Terima kasih karena sudah sudi berterus terang...*

Xiong Yan menyandarkan dahinya ke telapak tangan. Ia sudah memimpin pertempuran melawan tiga klan serigala dan menghadapi sepuluh pemburu bersenjata sekaligus. Namun satu gadis dengan sekop penyiram bunga ternyata mampu membuatnya lupa cara bernapas dengan benar.

"Pemimpin?"

Xiong Yan tersentak. Xiong Ling, wakilnya yang setia sekaligus paling cerewet, berdiri di ambang pintu sambil membawa gulungan laporan wilayah.

"Ada apa?"

"Saya yang seharusnya bertanya. Anda pergi berhari-hari tanpa kabar. Seluruh klan sudah cemas. Sekarang Anda pulang dengan wajah merah begitu. Apa lukanya kambuh?"

"Tidak. Darahku memang gampang panas."

Xiong Ling menatap langit-langit gua yang lembap dan dingin. "Begitu, ya."

Xiong Yan berdeham keras. Ia diam sebentar, lalu bertanya pelan tanpa menoleh, "Xiong Ling."

"Ya, Pemimpin?"

"Kalau... hipotesisnya... ada seseorang yang sudah menolongmu. Seseorang yang baik. Dan kau ingin berteman dengannya, tapi kau tidak tahu caranya. Apa yang harus dilakukan?"

Xiong Ling berkedip. Sekali. Dua kali. Sudut bibirnya perlahan naik, dan matanya berbinar penuh minat.

"Hipotesis, ya?"

"Ya. Hipotesis."

"Orang yang menolong itu... perempuan?"

"Xiong Ling."

"Baik, baik, saya diam." Xiong Ling mengangkat kedua tangannya, tapi senyumnya tidak hilang. "Kalau menurut saya, Pemimpin, cara termudah adalah membawakan hadiah. Madu hutan dari sarang lebah tertinggi, misalnya. Semua makhluk menyukainya."

Xiong Yan mengangguk pelan, lalu mengernyit. "Tapi dia bukan beruang."

"Lalu dia apa?"

"Dia..." Xiong Yan berhenti. Ia baru sadar bahwa ia tidak tahu apa pun tentang Feng Yao selain namanya, asal-usulnya yang sudah musnah, dan kebiasaannya menyiram bunga spiritual setiap pagi. "Aku tidak tahu."

"Berarti tugas pertama Anda adalah mencari tahu apa yang dia suka."

"Bagaimana caranya mencari tahu?"

"Ya... dengan mengobrol, Pemimpin."

Xiong Yan terdiam. Mengobrol. Dengan Feng Yao. Tanpa dicubit.

Bayangan senyum gadis itu langsung melintas di benaknya, dan telinganya ikut memanas.

"Pemimpin, telinga Anda merah."

"Darahku panas."

"Di dalam gua yang sejuk ini?"

"Diam, Xiong Ling."

Setelah wakilnya pamit dengan langkah tertahan menahan tawa, Xiong Yan bangkit dan berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Ia menyusun rencana seperti menyusun strategi perang.

*Pertama, jangan datang dengan tangan kosong. Madu hutan, mungkin juga buah pegunungan yang paling manis.*

*Kedua, jangan terlalu sering datang. Nanti terkesan mencurigakan.*

*Ketiga...* Ia berhenti melangkah. *Kalau ada pemburu atau makhluk asing yang mendekati wilayah pondok, aku harus tahu lebih dulu.*

Ia memutuskan menambah patroli diam-diam di sekitar pondok bambu itu. Lalu dengan tegas ia menepis pikiran bahwa alasan sebenarnya bukan hanya soal keamanan wilayah klan.

Malam itu, cahaya bulan menyusup lewat celah atap gua. Xiong Yan berbaring di atas alas jerami, menatap langit-langit batu. Tempat itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Ia teringat kata-kata Feng Yao tentang tempat asalnya. Senyum gadis itu tetap lembut, tapi ada sesuatu di baliknya. *Tempatku sudah lama musnah dan aku mengembara.*

Dada Xiong Yan terasa sedikit sesak. Ia menyadari bahwa gadis yang tinggal sendirian di pondok bambu itu, yang merawat seekor beruang asing tanpa pamrih, mungkin sudah lama tidak punya siapa-siapa untuk diajak bicara.

*Kalau begitu...*

Xiong Yan memejamkan mata dengan tekad baru.

*Aku akan jadi temannya. Pelan-pelan saja, dan tidak boleh gugup.*

Beberapa saat kemudian, tangannya kembali terangkat menyentuh pipinya sendiri. Pipi itu masih terasa hangat.

"Sial," gumamnya lirih ke arah kegelapan. "Ini akan jadi misi tersulit sepanjang hidupku."

Di luar gua, Xiong Ling yang menguping di balik batu besar buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tawanya tidak pecah.

Tiga hari kemudian, Xiong Yan berdiri di tepi hutan dengan sebuah keranjang anyaman di tangan. Isinya satu guci kecil madu hutan dan sekeranjang buah persik gunung.

Ia sudah berlatih kalimat pembukanya sepanjang jalan. *Selamat pagi, Beifeng Yao. Kebetulan aku lewat dan kebetulan membawa ini.*

Kedengarannya sangat wajar. Ia yakin itu.

Lima belas menit kemudian, ia masih berdiri di balik pohon, menatap pondok bambu dari kejauhan. Di halaman, Feng Yao sedang berjongkok menyiram bunga spiritualnya sambil bersenandung kecil.

*Kenapa jantungku berisik sekali?*

"Kalau mau masuk, masuk saja. Kau sudah berdiri di situ dari tadi."

Xiong Yan hampir menjatuhkan keranjangnya. Feng Yao bahkan tidak menoleh. Ia hanya tersenyum sambil terus menyiram bunga.

"...Kau tahu?"

"Suara langkahmu berat sekali. Untuk ukuran pemimpin klan, kau tidak pandai bersembunyi," ujar Feng Yao geli.

Xiong Yan berjalan keluar dengan langkah kaku dan berdiri di depan gadis itu. Semua kalimat latihannya lenyap begitu saja.

"Aku..." Ia mengulurkan keranjang itu dengan kedua tangan, seperti menyerahkan upeti kepada seorang raja. "Ini untukmu."

Feng Yao berkedip, lalu menerimanya. Ia menyibak kain penutupnya dan matanya membulat. "Madu? Dan persik gunung? Ini kelihatan segar sekali!"

"Madunya dari sarang lebah tertinggi di sisi timur. Persiknya dari lereng utara, yang paling manis." Xiong Yan menegakkan punggung. "Sebagai... terima kasih. Atas perawatanmu kemarin."

"Padahal tidak perlu repot begini." Feng Yao mengangkat guci madu itu ke arah cahaya matahari. Cairan keemasannya berkilau. "Tapi terima kasih. Sudah lama sekali aku tidak makan madu."

Xiong Yan mencatat kalimat itu dalam hati dengan serius. *Suka madu. Sudah lama tidak makan madu. Bawa lebih banyak lain kali.*

Lalu Feng Yao mendongak, dan senyumnya perlahan berubah menjadi kerutan heran.

"Xiong Yan."

"Ya?"

"Pipimu kenapa bengkak?"

Xiong Yan membeku. Ia lupa menyembunyikannya.

Pipi kirinya memang sedikit bengkak dan kemerahan. Ada satu titik kecil di dekat telinga, bekas sengatan lebah.

"Tidak apa-apa. Cuma serangga."

"Lebah?" Feng Yao menatap guci madu, lalu menatap pipinya lagi. Matanya langsung menyipit. "Kau mengambil madu ini sendiri? Dari sarang yang tertinggi?"

"...Ya."

"Tanpa asap pengusir lebah?"

"Aku beruang. Kami tidak butuh asap."

"Kau tersengat."

"Hanya tiga kali."

"Tiga?!"

Xiong Yan mendadak sangat tertarik pada semak-semak di sebelah kanannya.

Feng Yao menghela napas panjang, meletakkan keranjang di beranda, lalu menarik lengan baju pria itu tanpa memberi kesempatan menolak. "Duduk. Sekarang."

"Tidak perlu, ini akan sembuh sendiri..."

"Duduk."

Tubuh Xiong Yan langsung menurut sebelum otaknya sempat memproses. Ia duduk di anak tangga beranda dengan punggung tegak dan tangan terlipat rapi di lutut, seperti murid yang sedang dimarahi guru.

Feng Yao masuk ke pondok dan kembali dengan mangkuk kecil berisi ramuan hijau. Ia berlutut di depan Xiong Yan, mencelupkan kain bersih ke dalam ramuan itu, lalu menekannya perlahan ke pipi yang bengkak.

Dingin.

Namun wajah Xiong Yan justru terasa makin panas.

"Sakit?" tanya Feng Yao pelan.

"Tidak."

"Jangan bohong. Alismu berkedut."

"Itu bukan karena sakit."

"Lalu karena apa?"

Xiong Yan menatap wajah Feng Yao yang hanya berjarak sejengkal darinya, dengan bulu mata panjang dan sorot mata yang fokus penuh kekhawatiran. Semua sarafnya seakan berdenging.

"...Darahku panas," jawabnya lemah.

Feng Yao menahan tawa, bahunya bergetar. "Kau bilang begitu lagi."

"Memang begitu."

"Iya, iya. Aku percaya." Suaranya lembut, dengan nada menggoda yang tidak ia sembunyikan. "Kau ini aneh, Xiong Yan. Membawakan hadiah dengan pipi bengkak, lalu pura-pura tidak sakit."

"Aku tidak pura-pura."

"Kau pura-pura."

Xiong Yan diam. Kalah telak.

Beberapa saat kemudian Feng Yao menarik kain itu dan tersenyum puas. "Sudah. Bengkaknya akan hilang besok pagi." Ia berdiri, mengambil guci madu, dan mengangkatnya sedikit. "Kau sudah bersusah payah mengambil ini. Sebagai gantinya, tinggallah sebentar untuk minum teh. Kita makan persiknya bersama."

Xiong Yan mendongak. "...Aku boleh?"

"Tentu saja boleh. Tamu yang membawa hadiah harus disuguhi teh." Feng Yao menoleh dari ambang pintu sambil tersenyum. "Lagipula, kau kan sudah bukan beruang kecil yang tidur di halamanku lagi."

Jantung Xiong Yan berdegup kencang tak keruan.

Ia menatap punggung gadis itu menghilang ke dalam pondok. Lalu, dengan sangat pelan, ia menunduk dan menutup wajahnya dengan satu telapak tangan.

*Rencana tahap pertama: berhasil.*

*Tapi kenapa rasanya aku yang kalah?*

Dari balik pepohonan di kejauhan, Xiong Ling, yang tentu saja mengikuti diam-diam, mengangkat kedua jempolnya ke arah langit dengan mata berkaca-kaca haru.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!