Sabar adalah kata yang selalu di ucapkan ibuku kepadaku, kata itu lah yang membuat ku kuat karena kesedihan tidak selamanya ada, akan ada kebahagiaan yang menanti.
Sejak kecil aku dan ibuku hidup berdua, ayah ku tidak pernah kembali setelah berpamitan dengan ibu ku pergi merantau ke luar negeri, setelah pergi tidak pernah ayah ku mengirim uang untuk kehidupan kami, ibu ku kerja menjadi buruh cuci gosok dari rumah ke rumah, aku sering ikut dengan ibuku karena tidak ada yang menjaga ku di rumah.
Ibu ku berhasil menyekolahkan ku sampai aku selesai kuliah, kehidupan ku yang berat membuatku selalu berhati hati kepada semua orang sampai suatu hari aku bertemu Yuda di tempat kerja ku. dia meluluhkan hati ku, membuat ku percaya bahwa lelaki tidak semua seperti ayah ku. sampai suatu hari dia mengenalkanku kepada keluarganya, disitulah aku bertemu ayah ku, pria yang sudah 20 tahun tidak pernah aku temui yang hanya aku lihat dari fotonya di kamar ibuku. ternyata ayah Yuda adalah ayahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zahira alkhansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Handphone baru
"Om khawatir, kamu tidak ada kabar satu hari ini, om kira ada apa apa sama kamu, karena om ada kabar bagus untuk kamu cahaya" balasan pesan om Iwan
" cahaya baik baik aja koq om, tapi hari ini cahaya itu sibuk banget om sampe gak sempat pegang hp, udah gitu nada dering cahaya bisanya cuma getar. Jadi suka gak kedengeran kalo ada orang nelpon. Kabar baik apa om?" balas ku lagi
" putri dan istri om udah setuju kamu ngajar les putri di malam hari. Jadi waktu nya dari jam 7 sampai jam 9 malam. Tidak mengganggu aktivitas kuliah kamu kan?" tanya om Iwan di pesan nya.
"oh iya om.. Alhamdulillah, bisa kok om." balasku dengan cepat.
" nanti kalo istri om ngubungi kamu, kamu pura pura gak tau dulu ya. Yaudah kamu istirahat deh, udah malam ini. Om juga udah mau tidur." balasan pesan om Iwan
" iya om, sekali lagi terimakasih banyak om" balasku.
Pagi itu, terasa sepi biasanya Widya dan aku suka berdebat siapa yang akan mandi duluan, tapi kali ini, gak ada kawan ribut itu terasa sepi. Ibu lagi berberes di dapur, ku hampiri ibu lalu ku peluk ibu dari belakang.
" Ibu, maafin cahaya ya sekarang cahaya jarang bantuin ibu" ujar ku
" gak apa apa sayang, ibu bisa koq sendiri lagian tugas ibu di rumah ini cuma masak sama ke warung aja, semenjak ada Widya tugas kita agak ringan. Kamu dan Widya bisa beberes rumah, nyuci, nyetrika. Jadi ibu gak gitu capek" jawab ibu.
" iya Bu, baru 1 hari Widya di kosan Rina, sunyi juga ya Bu" ucapku lagi
" yaudah kamu sarapan sana, hari ini mau bawa bekal gak?? Biar ibu siapkan." tanya ibu
" gak usah deh Bu, cahaya sama teman teman nanti mau lihat Rasmi di rumah sakit. mamanya Rasmi suka nyediain makanan yang enak enak Bu" jawab ku cengingisan
" lah koq malah bergantung makan sama ibu nya Rasmi, gak boleh itu ngerepotin orang" jawab ibu
"Assalamualaikum, permisi... Cahaya" tiba tiba ada panggilan suara dari depan pintu.
" kamu ada janjian dengan teman mu?? Tanya ibu.
" gak ada Bu, cahaya gak ada janjian sama siapa siapa. Dari suaranya kayak suara putra" jawabku sambil berjalan ke arah pintu sambil membuka pintu
" putra, ngapain kamu pagi pagi udah kesini?" tanyaku
" mau antar kamu ke kampus" jawabnya lagi.
" ayok, masuk dulu, aku baru mau sarapan. Kamu udah sarapan? Tanya ku ke putra
" belum, aku takut telat tadi jemput kamu makanya aku buru buru." jawab putra.
" yaudah duduk deh aku ambilin sarapan kamu dulu" ucapku lagi
Putra pun duduk di ruang tamu sekaligus ruang tv kami, aku kebelakang menyiapkan teh dan sarapan untuk putra.
selesai sarapan putra mengantarku ke kampus. Di perjalanan putra mengatakan kalau siang ini dia harus kembali ke asrama, masa liburnya sudah selesai.
"Ya, inget ya kamu jangan ganti ganti no handphone, jangan susah di hubungi, jangan buat aku jadi galaui" imbau nya lagi sambil mengendarai sepeda motornya
" apaan sih, galau kayak anak remaja aja" jawabku sambil mencubit pinggang nya
" lah kita kan emnk masih remaja." jawabnya lagi
" kita udah masuk dewasa bukan remaja lagi"
jawabku
" gak ah, nanti cepet tuanya aku mau jadi remaja aja" ucap putra
Kami pun tertawa bersama.
Ternyata di belakang mobil om Iwan mengikuti cahaya dan putra, om Iwan kalah cepat untuk menjemput cahaya, membuat om Iwan menjadi emosi.
Setibanya di kampus, putra pamit ke cahaya.
" inget ya cahaya, jangan nakal nakal, jangan lirik lirik cowok lain," ucap putra
" lah kamu siapa?? Kita kan belum jadian" jawabku sambil terkekeh melihat tingkah putra
" saat ini aku memang bukan siapa siapa tapi aku ini calon suami kamu." jawabnya lagi"
" iddiiiih kepedean" jawabku sambil tertawa.
Lalu tiba tiba di ciumnya kening cahaya, cahaya sangat terkejut.
" apaan sih put, malu di kampus banyak orang" ucap cahaya
" jadi kalo gak banyak orang, boleh?? " tanya putra
" NGGAAAKKK" ucap cahaya keras.
Putra pun tertawa, dan pergi meninggalkan cahaya. Lalu handphone cahaya bergetar karena handphone nya di letakkan di saku celana, cahaya tau kalau ada panggilan. Ternyata dari om Iwan.
" Halo iya om" jawab cahaya
" dimana?" tanya om Iwan
" baru aja sampai di kampus om, ada apa ya om?" jawab cahaya
" gak ada cuma tadi pas om, lewat depan kampus kamu, om lihat kamu sama temen kamu." ucap om Iwan beralasan
" owh, iya itu temen cahaya dari desa om, dia lagi libur makanya datang om" jawabku
" oohh, om kira itu pacar kamu" jawab om Iwan lagi
" nggak om, cahaya mau konsentrasi kuliah dulu, mau bgebahagiain ibu jadi orang sukses. Baru mikirin hal seperti itu" jawabku
" oowh, bagus itu jarang anak anak muda sekarang berpikiran seperti kamu cahaya" jawab om Iwan
" oh iya cahaya, nanti siang waktu istirahat om mau minta tolong ke kamu. Bisa gak??" tanya om Iwan.
" apa itu om?? Om ada proyek sama relasi kerja om, jadi anak dia itu berulang tahun, nah, om bingung mau kasih hadiah apa. Makanya mau minta pendapat kamu." tanya om Iwan
" cahaya, ada kosong sih om, jam 1 sampai jam setengah 12 sampai jam 1 om. Kalau waktunya cocok dengan om cahaya bisa bantu" jawabku lagi
" oke, kayaknya itu waktu istirahat om juga" ucap om Iwan
Panggilan pun di matikan.
Aku berjalan menyusuri lorong kampus, Widya dan Rani tiba tiba mengejutkan aku.
" cieee, yang diantar pacar baru" ledek Rani
" pacar baru apaan, aku sama putra cuma temenan aja" ucapku
" kalau cuma teman, kenalin ke aku donk Ya, siapa tau jodohnya sama aku" ucap Rani
Lalu Widya mencubit pinggang Rani
" hmmmm gimana ya, nanti deh aku pikir pikir dulu" ucapku lagi sambil tertawa meninggalkan mereka berdua.
Selesai waktu kuliah om Iwan benar benar tepat waktu pukul 11.30 om Iwan mengirim.pesan kalau sudah di parkiran. Aku pun permisi ke Widya dan Rani kalau ada urusan.
kunjungan hampiri mobil om Iwan di parkiran.
" Halo cantik" ucap om Iwan di dalam mobil, saat aku membuka pintu mobilnya
" halo om, udah lama nunggu om?" tanya ku
" belum, baru aja sampai. yuk kita jalan takut nanti gak keburu waktunya" jawab om Iwan
mobil pun melaju di jalan raya lalu cahaya mengeluarkan kotak perhiasan yang kemarin diberikan om Iwan kepadanya.
" om, hadiah ini terlalu mahal buat cahaya. Cahaya gak bisa Nerima ya om. Maafin cahaya ya om" ucap cahaya.
Om Iwan pun mengangguk, lalu tersenyum.
" ini aja deh yang om kasiin kado untuk anaknya temen om" ucap om Iwan
" iya bisa juga itu om"jawabku
" rencananya tadi om mau membelikan sebuah handphone, karena kalung nya kamu kembaliin budget yang sekarang sama om untuk beli hadiah, om beliin kamu handphone aja ya." ucap om Iwan
" eh, gak usah om, handphone cahaya masih bagus koq om" jawab cahaya
" ayolah cahaya, anggap om ini seperti ayah kamu, seorang anak gak boleh nolak hadiah pemberian orangtuanya." ucap om Iwan.
Air mata cahaya langsung keluar.
" selama ini, cahaya gak pernah dapat perhatian dari seorang ayah om, cahaya bahkan gak pernah liat wajah ayah seperti apa, om dan Bu indah sudah terlalu baik ke ibu dan cahaya, cahaya takut tidak bisa membalasnya om" ucap cahaya
Mobil om Iwan lalu menepi di trotoar, di peluknya cahaya yang sedang menangis.
" sudah, om akan jadi ayah buat cahaya. Makanya cahaya gak boleh nolak kalu om beri hadiah. Kalau orang orang liat pasti orang orang salah paham, maka dari itu kita harus merahasiakan ini. Om hanya mau jadi sosok ayah buat cahaya." ucap om Iwan.
Cahaya pun mengangguk, mobil Allah berjalan menyusuri jalan raya dan berhenti di sebuah toko handphone.
di dalam toko handphone tersebut cahaya di suruh memilih handphone mana yang cahaya mau, tapi cahaya memilih handphone yang paling murah yang di jual disitu.
" yakin kamu pilih yang ini? Tanya om Iwan
Cahaya pun mengangguk
" yang penting, bisa nelpon, bisa foto, biasa searching om" jawab cahaya.
" yaudahh kalau itu keinginan kamu" ucap om iwan
Om Iwan pun langsung ke kasir untuk membayar handphone tersebut
Setelah membeli handphone, cahaya di antar kembali ke kampus. Dan cahaya menyembunyikan handphone tersebut dari teman teman nya.
pada saat cahaya berjalan ke kampus. Bu indah menelepon.
"cahaya, kemarin kan om sama putri bahas mengenai guru les private. Nah putri mau kalau kamu yang jadi guru les private nya. Kamu bisa cahaya? Tanya Bu indah
" bisa bu.mulai kapan ya Bu?? " tanya cahaya.
" mulai nanti malam juga gak apa apa " ucap Bu indah.
" baik Bu, sampai jumpa nanti malam ya Bu, ucap cahaya pamit dan mematikan telepon.