Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Bel sekolah penanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar berdering nyaring, memecah kesunyian sore hari di SMA Nusa Bangsa. Para siswa berhamburan keluar kelas, membereskan buku ke dalam tas masing-masing. Di barisan bangku depan, Maya yang kini menempati raga Lexa merapikan alat tulisnya dengan tenang.
Di dekat pintu keluar kelas, Hani dan Lana berdiri menunggu sambil berbisik-bisik, melirik curiga ke arah bangku belakang tempat raga Maya berada. Sejak insiden gempa bumi dan perubahan drastis sang ketua geng, ada satu hal mengganjal yang terus mengusik pikiran mereka berdua.
"Han, lu sadar nggak sih?" bisik Lana menyenggol lengan Hani. "Akhir-akhir ini si Lexa aneh banget. Bukan cuma dia jadi ramah sama semua orang, tapi dia juga sama sekali nggak pernah nyentuh atau nge rundung si Maya lagi. Padahal dulu, pantang banget buat dia liat muka Maya tanpa nyari gara-gara."
Hani mengangguk setuju, melipat tangannya di dada dengan dahi berkerut. "Iya, bener banget. Padahal tadinya gue ngira dia cuma baik ke kita doang. Tapi tadi pas si Maya mancing emosi dia soal liburan ke Australia, dia malah diem aja. Padahal biasanya meja Maya udah digrak atau bukunya dibuang ke tempat sampah."
Obrolan mereka terhenti saat Maya beranjak berdiri hendak melangkah keluar kelas. Melihat target perundungan mereka berjalan sendirian, jiwa jahil dan kebiasaan lama Hani serta Lana terpanggil kembali. Tanpa berpikir panjang, Hani langsung melangkah cepat, menghadang jalur jalan Maya di dekat deretan lemari kelas.
"Mau kemana lu, anak pungut?" celetuk Hani dengan nada sinis, menghalangi langkah raga asli Maya yang sedang dikuasai oleh Lexa.
Di balik raga Lexa yang anggun, ia menghentikan langkahnya. Matanya menatap tajam ke arah Hani dan Lana yang berdiri angkuh di hadapannya. Niat awal di dalam hati Maya sebenarnya ingin maju melerai dan membentak Hani seperti biasa untuk menghentikan aksi mereka. Namun, sedetik kemudian, Maya mengurungkan niatnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan memilih mundur selangkah.
"Biarlah..." batin Maya dalam hati. "Biarkan dia merasakan sendiri akibat dari perbuatannya di masa lalu."
Maya sadar, raga yang kini sedang dihadang dan diintimidasi oleh Hani itu adalah raga aslinya sendiri raga yang selama bertahun-tahun kerap disiksa, dihina, dan dirundung habis-habisan oleh Lexa dan antek-anteknya. Maya ingin jiwa Lexa merasakan secara langsung bagaimana rasanya berada di posisi korban perundungan tanpa ada satupun orang yang membela.Sementara itu, di hadapan Hani dan Lana, jiwa Lexa yang terjebak di dalam raga Maya mendadak disergap kepanikan luar biasa.
"H-Hani? Lana? Mau apa kalian?!" cicit Lexa dengan suara bergetar ketakutan, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding kelas.Hani tertawa meremehkan. "Wah, sekarang udah berani nanya, ya? Sombong banget akhir-akhir ini karena dibela kepala sekolah gara-gara olimpiade kemarin! Lu pikir karena si Lexa lagi anteng, kita bakal biarin lu bebas gitu aja?!"
"Gue nggak ngapa-ngapain kalian!" bela Lexa panik, mencoba menerobos ke samping.
Namun Lana langsung mencekal lengan kusam raga Maya dengan kasar, menariknya kembali ke tengah ruangan. "Heh, jangan banyak ngeles lu!".Tanpa aba-aba, Hani mengambil sebuah keranjang plastik berisi sisa bungkusan plastik makanan, kertas bekas, dan kulit buah yang menumpuk di dekat piket kelas. Dengan seringai puas di wajahnya, Hani mengangkat keranjang itu tinggi-tinggi.
*BYUR!*
Sampah-sampah kotor dan sisa makanan itu tumpah ruah, menghujani kepala dan tubuh raga Maya secara telak. Bau tidak sedap seketika menguar dari seragam kusam tersebut.
"AAAGH! Apa-apaan ini?!" jerit Lexa histeris, meronta-ronta sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor berlumuran sampah. Air mata kemarahan dan rasa jijik langsung tumpah membasahi pipinya.Di sudut ruangan, Maya hanya berdiri diam menyaksikan pemandangan itu dengan tatapan dingin. Pemandangan tersebut sangat persis, bahkan bagaikan *replay* dari kejadian beberapa bulan lalu di mana Lexa sendiri lah yang dengan sengaja menumpahkan tempat sampah ke atas kepala Maya di tempat yang sama persis.
"Rasain tuh! Biar lu sadar diri kalau lu itu cuma anak penjual sayur!" cemooh Hani tertawa puas, menikmati jeritan kesakitan dari gadis di hadapannya."Belum cukup tuh," tambah Lana kejam.
*BUGH!*
Sebuah tendangan keras mendarat telak di tulang kering kaki raga Maya, membuat Lexa menjerit kesakitan dan hampir tersungkur ke lantai. "Ampun... Sshh, sakit! Jangan..." rintih Lexa sambil memegang lututnya yang berdenyut ngilu.
Namun Hani dan Lana sama sekali tidak memiliki rasa iba. Mereka menarik kuat kerah seragam kusam tersebut, bersiap menyeret tubuh Maya di atas lantai kasar menuju kamar mandi belakang kelas persis seperti apa yang pernah dilakukan Lexa pada Maya dahulu kala ketika mereka ingin mengurungnya di toilet lembap.
"Ayo jalan! Mandi sana sekalian biar bau sampah lu ilang!" bentak Hani kasar, menyeret tubuh Maya yang meronta-ronta menangis.Di tengah cengkeraman tangan Hani dan Lana, jiwa Lexa di dalam raga Maya merasakan siksaan fisik dan mental yang begitu menghancurkan harga dirinya. Rasa sakit di kakinya, dinginnya lantai yang menggores lututnya, bau sampah yang memuakkan, serta rasa malu luar biasa karena diseret tanpa daya di hadapan beberapa siswa yang menonton membuat dunianya runtuh seketika.Saat itulah, di detik-detik ia diseret menuju pintu keluar, Lexa tiba-tiba teringat.
Ia teringat pada hari di mana ia sendiri pernah menyeret Maya dengan cara yang sama persis ke tempat itu. Ia teringat bagaimana dulu Maya menangis memohon ampun, dan bagaimana ia menertawakannya tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Kini, karma itu berbalik menghantamnya telak tanpa ampun. Ia harus merasakan sendiri setiap inci rasa sakit, kehinaan, dan penderitaan dari apa yang telah ia perbuat dahulu pada Maya. Di balik isak tangisnya yang sesak, Lexa akhirnya menyadari bahwa tidak ada tempat untuk lari dari dosa-dosa masa lalunya dan takdir sedang menuntut pelunasan tuntas atas setiap tetes air mata penindasan yang pernah ia ciptakan.
-karna apa yang kita tanam,itu yang kita tuai…