Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kebahagiaan Kecil Di Panti Asuhan.
Wira menyunggingkan sudut bibirnya.
Bukan senyum yang ia pakai ketika ia menjadi sopir pribadi Sera. Bukan senyum tipis yang terlatih, yang selalu ia berikan sambil membukakan pintu mobil dan berkata, "Baik, non."
Tetapi, kali ini senyum yang berbeda. Senyum yang lepas.
Di depannya, Sera sedang duduk bersila di atas lantai keramik beralas karpet tipis, dikelilingi oleh anak-anak panti asuhan.
Rambutnya yang biasanya tertata rapi di sanggul, kini tergerai sedikit berantakan diterpa angin. Tak perduli meski celana panjang yang biasanya duduk di atas kursi, kini harus kotor karena debu karpet.
Gadis itu sedang membagikan cemilan dan susu kotak.
Gerakannya begitu hati-hati. Ia menyodorkan satu kotak susu cokelat kepada seorang anak laki-laki yang giginya ompong, lalu mengelus kepalanya.
Sera juga membuka bungkus biskuit rendah gula untuk seorang anak perempuan yang tangannya masih terlalu kecil untuk merobek plastik.
Wira melihat itu dari ambang pintu.
Dulu, dua puluh tahun lalu, ia adalah salah satu dari anak-anak itu. Duduk di lantai yang sama, menunggu susu kotak yang tidak selalu datang setiap hari.
Memori masa kelam Wira kembali berputar. Namun dengan cepat pria itu menepisnya.
Pandangannya kembali berfokus pada Sera.
Tadi sebelum tiba di panti, Wira memang sengaja mengajak Sera untuk mampir di salah satu mini market.
"Non, kita belanja disini saja, ya.” Ucap Wira sembari menepikan mobilnya.
Mini market itu terletak tak jauh dari panti, hanya berjarak sekitar dua ratus meter. Tempat yang dulu sering Wira lewati dengan perut kosong. Hanya bisa melihat, tanpa tau kapan bisa masuk ke dalamnya.
Sera hanya mengangguk. Ia tidak banyak bicara sejak tadi.
Di dalam mini market itu, Wira mendorong troli dengan cepat. Tanpa ragu, Ia mengambil dua kardus susu kotak cair. Satu kardus rasa cokelat, satu kardus rasa vanila.
Setelah itu, ia berjalan ke lorong cemilan. Pria itu tidak mengambil cemilan sembarangan. Wira memilih dengan teliti biskuit gandum, wafer rendah gula, dan beberapa bungkus roti susu yang lembut. Semua yang cocok untuk anak-anak. Semua yang tidak akan membuat perut kecil mereka sakit.
"Non Sera mau pilih juga?" tanya Wira.
Sera menggeleng, lalu matanya berhenti pada sebuah rak. Ia mengambil beberapa ikat rambut warna-warni. Mungkin bisa di berikan pada anak - anak perempuan nanti.
Di kasir, Sera ingin membayar. Wira menahannya dengan halus.
"Biar saya, non. Panti ini adalah rumah saya dulu."
Sera menatap pria itu. Ucapan Wira terdengar begitu tulus.
Dan ketika mereka akhirnya tiba di gerbang kayu Panti Asuhan Kasih Bunda, apa yang terjadi selanjutnya membuat dada Sera sesak dengan cara yang berbeda.
Anak-anak panti yang berjumlah dua puluh lima orang itu, yang awalnya berlarian di halaman yang begitu terik siang itu, semuanya berhenti ketika melihat mobil datang
Lalu mereka berteriak bersamaan ketika melihat Wira keluar.
"KAK WIRA!"
Bukan teriakan sopan. Bukan panggilan 'Om'. Tapi teriakan penuh kebahagiaan.
Dua puluh lima anak itu berlari bersamaan menerobos panasnya siang. Mereka mengerubungi Wira. Ada yang memeluk kaki. Ada yang menarik tangan. Ada yang langsung naik ke punggung pria itu.
Wira pun tertawa. Untuk pertama kalinya sejak Sera mengenalnya, Wira tertawa dengan suara yang keras dan lepas.
"Eh, eh, pelan-pelan. Kakak bawa sesuatu.” Ucap Wira sambil menurunkan dua kardus besar dari dalam mobil.
Sera pun membantu mengeluarkan kantong cemilan.
Mata dua puluh lima pasang mata itu langsung membulat melihat dua kardus susu dan kantong-kantong cemilan itu.
Ibu panti yang keluar dari dalam, ibu Narina, hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Kamu selalu begitu, Wira. Setiap pulang, membawa segerobak.” Ucapnya sembari menepuk bahu Wira.
Wira meletakkan kardus itu di tengah lantai. Ia tidak membagikannya sendiri. Ia mendorong kardus itu pelan ke arah Sera.
"Non Sera, bisa membagikannya?"
Itulah awalnya.
Sera yang tadinya hanya duduk mematung, kini dikelilingi oleh dua puluh lima anak yang menatapnya penuh harap.
Seorang anak laki-laki dengan kaos kebesaran menyodorkan tangannya. Seorang anak perempuan dengan rambut kuncir dua, yang tadi duduk di pangkuannya, kini bersandar di bahunya.
Sera mulai membagikan. Satu per satu.
"Kakak, terima kasih.” Ucap seorang anak.
"Kakak cantik.” Timpal anak yang lain.
Sera tersenyum. Senyum pertama sejak semalam. Senyum yang masih basah oleh air mata, tetapi kini terasa berbeda.
Wira duduk di kursi kayu kecil di sudut ruangan.
Dari sana, ia melihat pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan dalam rencana balas dendamnya.
Wira telah merencanakan semuanya. Ia merencanakan untuk membongkar rahasia Ravin yang menyembunyikan Rania, mantan kekasihnya, di apartemen miliknya tanpa sepengetahuan Sera.
Pria itu merencanakan agar Sera hancur dan meninggalkan Ravin.
Ia merencanakan untuk mengambil semua milik Ravin, semua yang seharusnya menjadi miliknya sebagai kakak yang terbuang dua puluh tahun lalu.
Tapi Wira tidak pernah merencanakan pemandangan ini.
Ia tidak pernah merencanakan bahwa melihat Sera yang dikhianati, yang seharusnya ia jadikan alat untuk balas dendam, justru membuatnya teringat pada ibunya sendiri. Sang mama yang juga ditinggalkan, karena orang ketiga.
Dua puluh lima anak itu sangat senang melihat kedatangan Wira dan Sera.
Mereka berebut susu kotak. Mereka tertawa. Mereka tidak peduli siapa Wira di luar sana. Apakah ia seorang sopir?
Apakah ia seorang anak buangan?
Apakah ia seorang pria yang sedang menyusun balas dendam?
Bagi mereka, Wira hanyalah Kak Wira. Kakak yang selalu pulang dengan membawa sekotak susu.
Sera menoleh ke arah Wira di sela-sela ia membagikan cemilan rendah gula itu. Mata mereka bertemu.
"Terima kasih sudah bawa saya kesini, mas Wira.” Ucap Sera, suaranya masih serak karena menahan tangis.
Wira mengangguk. Senyumnya yang tadi lepas, kini berubah menjadi senyum yang menahan sesuatu.
"Sama-sama, non Sera."
‘Aku akan selalu berusaha untuk membuat kamu bahagia, Sera.’ Bisik Wira dalam hatinya.
Ia tidak perduli jika harus menghancurkan rumah tangga Ravin. Asalkan bisa membuat Sera bahagia.
‘Tunggu waktu kehancuran kalian. Irene, Ravin, dan si tua Bangka. Aku akan segera datang.’