NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Bulan baru telah berganti, dan ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Rahman Affandi.
Hari ini adalah tanggal delapan, batas akhir dari perpanjangan waktu tujuh hari yang ia berikan minggu lalu.
Di dalam kamarnya, Rahman duduk menghadap meja kayu dengan buku catatan lusuh di tangannya.
Tangan tuanya dengan lincah menghitung tumpukan uang kertas yang ada di atas meja.
Srek srek srek.
"Budi lunas, Rina lunas plus uang sewa alat uap, Dimas juga sudah bayar lunas dari awal."
"Semuanya lancar dan aman terkendali," gumam Rahman sambil tersenyum puas.
Namun senyum itu perlahan memudar ketika matanya menatap satu nama di buku catatannya yang belum dicoret.
Nama itu adalah Maya, penyewa kamar nomor dua.
"Anak kuliahan ini belum bayar sepeser pun sampai detik ini."
"Padahal ini sudah hari kedelapan, batas toleransinya sudah habis total."
Rahman mengetuk-ngetukkan penanya ke meja dengan perasaan kesal.
Ia tahu Maya adalah mahasiswi perantauan yang mengandalkan kiriman uang dari orang tuanya di desa.
Biasanya gadis itu selalu membayar tepat waktu pada tanggal satu.
Namun bulan ini, Maya selalu menghindar saat berpapasan dengannya di halaman.
"Pasti dia tidak punya uang dan sengaja bersembunyi dariku."
"Aturan tetaplah aturan, besok pagi aku harus mengusirnya kalau dia tidak bisa bayar!" putus Rahman tegas.
Malam harinya, suasana Kos Putra Putri Melati terasa sangat sunyi.
Angin malam berhembus cukup dingin menusuk tulang.
Di dalam kamar nomor dua, Maya sedang duduk di lantai sambil menangis sesenggukan.
Kamar itu gelap karena ia sengaja mematikan lampu agar disangka sudah tidur.
Srek srek.
Tangan Maya dengan gemetar memasukkan beberapa helai bajunya ke dalam koper kain yang sudah kusam.
"Maafkan saya, Pak Rahman, saya benar-benar minta maaf."
"Bapak pasti sangat marah kalau tahu saya kabur malam-malam begini," batin Maya dengan air mata yang terus menetes.
Tadi sore, ibunya menelepon dari kampung membawa kabar buruk.
Sawah bapaknya terkena hama parah dan gagal panen total musim ini.
Keluarganya bahkan harus berhutang ke tetangga desa hanya untuk makan sehari-hari, apalagi untuk mengiriminya uang kos.
Maya tidak punya pilihan lain selain menyerah.
Ia tidak sanggup menahan rasa malunya jika besok pagi barang-barangnya dilempar ke jalan oleh bapak kosnya.
"Lebih baik aku pergi diam-diam dan menumpang tidur di masjid kampus untuk sementara waktu."
"Nanti kalau aku sudah dapat kerja paruh waktu, aku pasti akan kembali untuk melunasi hutangku," janjinya pada diri sendiri.
Klik.
Maya menutup resleting kopernya dan menghapus air matanya.
Ia mengambil ranselnya dan menggendongnya di punggung.
Sementara itu, di kamar nomor satu, Rahman baru saja bersiap untuk tidur.
Ia menaruh kacamata bacanya di atas meja dan menarik selimut.
Ting!
Suara mekanis sistem tiba-tiba berbunyi sangat nyaring di kepalanya.
Sebuah layar biru transparan muncul tepat di atas wajahnya.
[Peringatan: Penyewa kamar nomor dua sedang bersiap untuk melarikan diri.]
[Misi Utama: Hentikan Maya dari rencananya untuk kabur malam ini.]
[Syarat Khusus: Jangan gunakan kekerasan, jangan usir dia, dan cari cara agar dia tetap tinggal tanpa merasa direndahkan.]
Rahman langsung bangkit dari kasurnya dengan mata melotot.
"Kabur?!"
"Berani-beraninya anak ingusan itu mau membawa lari uang sewaku!" teriak Rahman marah.
[Hadiah: Tambahan umur 5 hari dan paket sembako gratis selama sebulan.]
[Kegagalan: Pengurangan umur 5 hari dan penyakit insomnia akut selama dua minggu.]
Membaca ancaman insomnia akut, Rahman langsung merinding.
Ia sangat membenci kurang tidur karena itu akan membuat punggungnya sakit seharian.
Apalagi hadiah paket sembako sebulan penuh itu sangat menggiurkan untuk menghemat pengeluaran makannya.
"Sistem ini benar-benar suka mencampuri urusan orang lain."
"Baiklah, aku akan tangkap anak nakal itu sekarang juga," gerutu Rahman sambil memakai sandal jepitnya.
Di luar, Maya membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan.
Ceklek.
Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang melihatnya.
Halaman depan sangat sepi, hanya diterangi oleh lampu pijar kekuningan dari teras Pak Rahman.
Tap tap tap.
Maya melangkah mengendap-endap sambil menyeret kopernya pelan-pelan agar rodanya tidak berisik.
Jantungnya berdebar sangat kencang, takut tiba-tiba ada tetangga yang terbangun.
Ia akhirnya sampai di depan gerbang besi yang tinggi.
Tinggal membuka kunci selot gerbang ini, dan ia akan bebas.
Kriet.
Suara selot besi yang digeser terdengar cukup nyaring di malam yang sepi.
"Mau pergi ke mana kamu malam-malam begini, anak kuliahan?"
Suara bariton yang sangat berat dan dingin tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Maya langsung tersentak kaget hingga kopernya terlepas dari pegangannya.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...