NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku, Cleaning Service

Suami Kontrakku, Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"

"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.

Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minta Cucu

***

Pagi itu, sinar matahari tipis menyusup lewat celah jendela kayu kontrakan. Mirza menjadi yang pertama terbangun. Begitu kesadarannya terkumpul, rasa pegal luar biasa langsung menjalar di lengan kanannya yang terasa kebas karena tertimpa kepala Alana semalaman.

Mirza memiringkan kepalanya sedikit, memandangi wajah Alana yang berada tepat di depan dadanya. Wajah wanita itu tampak begitu damai dan polos tanpa deretan omelan atau raut ketus yang biasanya dia tampilkan.

"Akhirnya bisa tidur nyenyak juga," batin Mirza sembari mengikis senyum tipis.

"Harus dipaksa dulu baru bisa berhenti bicara."

Namun detik berikutnya, Mirza merutuki keberaniannya sendiri. Dia masih heran kenapa semalam dia nekat menarik kepala Alana, menjadikan tangannya sebagai bantal, bahkan melingkarkan pelukan sampai bosnya itu tertidur pulas. Kalau Alana mengamuk pagi ini, bisa repot urusannya.

Tak berapa lama, kelopak mata Alana bergerak pelan. Menyadari istrinya mulai terbangun, Mirza dengan cepat memejamkan mata, berpura-pura masih tertidur lelap.

Alana mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya pagi. Dia melirik ke sekeliling kamar yang sempit itu, sebelum pandangannya terhenti tepat pada wajah Mirza yang hanya berjarak beberapa sentimeter di hadapannya.

Sadar lengannya masih berada di bawah kepala Alana dan dipeluk erat, Alana menyentakkan tangan Mirza dengan pelan tapi tegas.

"Hei, bangun!" gertak Alana berbisik sambil mendorong dada Mirza.

"Saya tahu kamu sudah bangun! Jangan pura-pura tidur!"

Mirza pelan-pelan membuka matanya, memasang raut muka pura-pura baru mengantuk.

"Eh ... sudah pagi, ya?"

"Sudah pagi!" Alana buru-buru membenarkan posisinya dan merapikan bajunya, pipinya mendadak agak merona.

"Jangan cari-cari kesempatan lagi ya! Cuma gara-gara semalam saya akhirnya bisa tidur, bukan berarti kamu bisa seenaknya memeluk saya begitu."

Mirza hanya terkekeh pelan sembari mengusap lengannya yang masih kesemutan. Pria itu lantas bangkit dan turun dari tempat tidur.

"Iya, iya," sahut Mirza santai.

"Aku mau keluar dulu, mau lihat Ibu sudah bangun atau belum."

Di dapur yang harum oleh aroma masakan, Maya tampak sibuk menyusun piring-piring berisi hidangan sarapan di atas meja makan kayu yang sederhana.

"Ibu ... maaf ya, Mirza kesiangan," ujar Mirza seraya menghampiri ibunya sambil meringis bersalah.

"Jadi enggak sempat bantuin Ibu masak sarapan pagi ini."

Maya tersenyum hangat, mengibaskan tangannya santai.

"Enggak apa-apa, Nak. Laguna Ibu cuma masak yang simpel kok." Maya lalu mengedarkan pandangan ke arah koridor kamar.

"Alana mana? Apa dia kesiangan juga?"

"Saya di sini, Bu," suara Alana terdengar dari balik pintu kamar.

Alana melangkah keluar dengan rambut yang sedikit acak-acakan namun tetap terlihat menawan. Dia melirik Mirza dengan tatapan jengkel sebelum beralih menyapa Maya.

"Maaf ya Bu, Alana baru bangun," adu Alana dengan nada merajuk.

"Tadi malam Alana benar-benar susah tidur. Digangguin terus sama Mirza, makanya pagi ini jadi bangun kesiangan!"

Mendengar aduan itu, Maya bukannya marah, malah mengulas senyum menggoda yang sangat lebar.

"Alah, enggak apa-apa ... Ibu maklum banget kok," sahut Maya terkekeh pelan.

"Namanya juga pengantin baru, wajar kalau bangun kesiangan. Pasti tadi malam kalian lembur kan, mau bikinkan Ibu cucu?"

Uhuk! Uhuk!

Mirza dan Alana yang saat itu refleks meminum air putih di meja makan seketika tersedak bersamaan. Keduanya terbatuk-batuk dengan wajah yang mendadak merah padam sampai ke telinga.

"I-Ibu! Ngomong apa sih ...." cicit Mirza kelabakan sambil mengusap mukanya yang panas. Sementara Alana langsung membeku di tempat, menggigit bibir bawahnya karena sangat malu dan serba salah.

"Sudah, sudah ... enggak usah malu dan sungkan sama Ibu," goda Maya lagi sambil tertawa geli melihat kepanikan anak dan menantunya.

"Ibu mengerti kok. Pasangan baru itu memang bawaannya pengin gangguin pasangannya terus. Ya sudah, kalian mandi sana dulu, habis itu langsung sarapan ya!"

Usai mandi dan berganti pakaian rapi untuk berangkat ke kantor, Alana mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil kamar Mirza. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Shiren langsung menyita perhatiannya.

Aku lihat Kevin, Al.

Jantung Alana serasa berhenti berdetak sesaat. Kevin? Kevin sudah kembali ke Indonesia?

Tanpa buang waktu, Alana buru-buru berpamitan pada Maya dan Mirza dengan alasan ada urusan mendadak yang harus diselesaikan di kantor. Dia meluncur cepat membelah kemacetan kota dengan mobil mewahnya.

***

Setibanya di gedung kantor, Alana melangkah lebar menuju ruangannya. Namun, dahinya berkerut saat mendapati meja kerja Shiren di depan pintunya masih kosong melompong. Dengan perasaan campur aduk, Alana segera masuk ke ruangannya dan mendial nomor sekretarisnya itu.

"Kamu di mana, Shiren?!" cetus Alana begitu panggilan terhubung.

"Aku cariin malah tidak ada di meja kerja!"

"Aduh, maaf sekali, Al ...." suara Shiren terdengar panik dari seberang telepon.

"Aku izin terlambat sebentar ya, Al. Ini aku lagi sarapan sebentar sama ayang beb."

"Tunggu, Shiren! Soal pesan kamu tadi—"

Tut... tut... tut...

Sambungan telepon mendadak terputus sebelum Alana sempat melontarkan pertanyaannya. Alana menatap layar ponselnya dengan dengusan kesal.

"Ck! Malah dimatikan!"

Rasa penasaran kini menguasai seluruh pikiran Alana. Di mana persisnya Shiren melihat Kevin? Apakah pria itu benar-benar sudah kembali untuknya?

Dengan tangan bergetar pelan, Alana mencoba memanggil nomor telepon lama Kevin yang masih tersimpan rapi di kontak darurat ponselnya. Namun, seperti bertahun-tahun lalu, hanya suara operator yang menyambutnya, Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi...

Alana menghela napas berat. Dia meletakkan ponselnya, lalu membuka laptop di meja kerja. Pandangannya melirik tumpukan berkas laporan tebal yang menumpuk di sisi meja, menunggu untuk diperiksa dan ditandatangani.

Namun, fokusnya sudah menguap entah ke mana. Nama Kevin kini memenuhi seluruh sudut pikirannya, membuat Alana sama sekali tidak bergairah untuk menyentuh pekerjaan kantornya hari ini.

Bosan dan makin tidak fokus, Alana memutuskan untuk memesan kopi di kantin lantai bawah sambil menunggu Shiren datang. Dia memilih duduk di meja sudut yang agak tersembunyi, memegangi cup kopi hangat yang baru saja diantarkan.

Namun, pandangannya mendadak terkunci pada pemandangan tak jauh dari mejanya. Mirza sedang duduk di sana, berdua bersama Nilam. Mereka terlihat sangat santai, bahkan beberapa kali mengobrol diselingi tawa lepas.

"Kenapa kalau sama Nilam bisa ketawa selebar itu? Selama ini sama gue mana pernah dia ketawa kayak gitu," batin Alana dengan dada yang mendadak panas.

"Dasar suami enggak tahu diri, selalu aja cari kesempatan sama cewek lain!"

"Hayo! Ngelamun aja, Al!"

Suara Shiren yang mendadak muncul dari belakang bikin Alana hampir tersedak kopinya. Tanpa permisi, Shiren langsung mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Alana, menyeringai jahil mengikuti arah pandangan bos sekaligus sahabatnya itu.

"Cie ... lagi memantau Mirza, ya?" goda Shiren sembari menaik-turunkan alisnya.

"Lo cemburu, kan, lihat Mirza ngobrol akrab gitu sama Nilam?"

"Ngaco lo!" sergah Alana cepat, memalingkan wajahnya gengsi.

"Jangan lupa ya, gue sama dia tuh cuma nikah kontrak. Enggak ada yang cemburu!"

"Masa, sih?" tawa Shiren pecah pelan.

"Lagian Mirza itu cuma karyawan biasa, jauh di bawah level gue. Mana mungkin gue cemburu!" tukas Alana dengan raut ketus.

"Duh, mending lo jangan menghina dulu deh, Al," sahut Shiren santai.

"Benci itu bisa jadi cinta kalau bencinya terus-terusan lo pupuk. Jujur ya, sebagai sekretaris sekaligus sahabat lo, gue sih setuju-setuju aja kalau lo sama Mirza beneran jadi suami istri sungguhan."

"Shiren, stop ngomong aneh-aneh!" potong Alana menahan kekesalannya, lalu memajukan tubuhnya serius.

"Gue mau tanya soal pesan lo tadi pagi. Lo ketemu Kevin di mana?"

Raut muka Shiren langsung berubah canggung. Dia menggaruk pelipisnya.

"E-eh ... sebenarnya gue enggak lihat dia secara langsung, Al."

"Maksud lo?" Alana memicingkan mata.

"Tadi pagi pas gue sarapan di kafe bareng pacar gue, di TV lagi tayang wawancara media internasional gitu," jelas Shiren pelan.

"Kevin ada di situ. Dia bilang di wawancara itu kalau dia bakal pulang ke Indonesia dan lanjutin kariernya di sini."

"Rese banget, sih!" dengus Alana, memukul pelan permukaan meja kantin dengan raut wajah sangat kesal.

"Selama bertahun-tahun ini dia tuh ke mana aja? Kenapa enggak pernah sekalipun hubungin gue?! Apa susahnya coba, sekadar kasih kabar dia ada di mana, lagi ngapain, atau masih hidup apa enggak?!"

Alana bersandar ke kursi dengan napas memburu, mengingat kerumitan hidupnya saat ini.

"Kalau dari dulu dia kasih kabar, gue enggak perlu nekat bikin rencana gila nikah kontrak sama Mirza!"

Shiren memegang jemari Alana, mencoba menenangkan sahabatnya itu

"Al, tenang dulu. Jangan emosi begitu."

"Gimana gue enggak emosi, Ren?" Alana memutar bola matanya frustrasi.

"Ya mending sekarang lo tunggu aja," potong Shiren lembut tapi masuk akal.

"Kalau Kevin emang beneran balik ke Indonesia dan masih serius sama lo, dia pasti bakal cari cara buat nemuin lo, Al. Lo liat aja nanti."

1
dibyanto byl
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!