Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
[maklumi kalau ceritanya masih kurang, karena author masih belajar, dan meski udah berpengalaman, tetaplah belajar, karena dengan belajar, kalian tetap bisa rendah hati, dan janganlah sombong meski sudah berpengalaman]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Kembaran
Pintu lift basement terbuka dengan suara dengungan pelan, memecah kesunyian area parkir bawah tanah yang remang-remang. Fajar dan Kirana segera melangkah keluar dari tangga darurat, berniat mencari tempat aman untuk menghubungi pihak berwajib. Namun, langkah mereka mendadak terhenti ketika sorot lampu dari beberapa mobil hitam mewah menyala serentak, menerangi seluruh sudut ruangan dan menyilaukan mata.
Fajar refleks mengangkat satu tangan untuk melindungi matanya. Tangan lainnya menggenggam tangan Kirana erat, seolah memastikan perempuan itu tidak akan terlepas darinya di tengah situasi yang semakin tidak masuk akal.
“Kirana, tetap di belakangku,” bisiknya.
Kirana tidak menjawab. Pandangannya terpaku pada barisan mobil di hadapan mereka. Ada sesuatu yang terasa ganjil dari kedatangan orang-orang itu. Mereka tidak tampak seperti sekelompok orang yang datang untuk membuat keributan. Gerakan mereka teratur, pakaian mereka rapi, dan tidak seorang pun berbicara sembarangan. Seolah-olah mereka telah menunggu kedatangan Kirana sejak lama.
Dari arah barisan mobil tersebut, beberapa orang berjas rapi turun perlahan, membuka jalan bagi sosok paruh baya berpostur tegap yang melangkah tenang mendekati mereka. Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna gelap, dengan garis wajah yang matang dan sorot mata tajam yang langsung menghujam kesadaran siapa pun yang memandangnya.
Napas Kirana tertahan.
Ia merasa seperti sedang berkaca pada cermin masa lalu. Struktur wajah dan bentuk mata pria paruh baya di hadapannya itu begitu familier, sangat mirip dengan bayangan yang selama ini terkubur dalam ingatannya. Bahkan cara pria itu memandangnya menimbulkan perasaan aneh, seolah-olah ia sedang melihat seseorang yang sudah lama hilang, tetapi tidak pernah benar-benar dilupakan.
Jari-jari Kirana mulai gemetar.
Ingatan tentang masa kecilnya muncul dalam potongan-potongan yang tidak utuh. Ada wajah yang samar, suara yang terasa jauh, dan perasaan kehilangan yang selama ini tidak pernah bisa ia jelaskan. Ia mencoba menghubungkan semuanya, tetapi pikirannya justru semakin kacau.
“Kamu...” lirih Kirana, suaranya bergetar hebat di udara dingin basement.
Pria itu berhenti melangkah tepat beberapa meter di hadapan mereka. Senyum tipis yang sarat akan kerinduan dan kepahitan terukir di bibirnya.
“Sudah lama tidak bertemu, Kirana... anakku.”
Kata terakhir itu terasa seperti hantaman keras bagi Kirana.
Anakku?
Kirana menatap pria tersebut tanpa berkedip. Bibirnya terbuka sedikit, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia ingin bertanya siapa pria itu, mengapa ia memanggilnya seperti itu, dan mengapa wajahnya terasa begitu akrab. Namun, semua pertanyaan itu bertumpuk di tenggorokannya hingga ia kesulitan mengucapkan satu kata pun.
Fajar langsung pasang badan, berdiri sedikit di depan Kirana untuk melindungi gadis itu.
“Siapa Anda?” tanyanya tegas. “Dan apa maksud Anda memanggilnya anakku?”
Pria itu mengalihkan pandangan kepada Fajar. Ia mengamati pemuda tersebut sejenak, kemudian kembali menatap Kirana. Ada kelegaan tipis di wajahnya saat melihat putrinya tidak sendirian.
“Aku memahami kekhawatiranmu,” jawabnya tenang. “Kamu ingin melindunginya. Itu hal yang baik.”
Fajar tidak menurunkan kewaspadaannya. Ia belum tahu apakah pria itu benar-benar datang untuk membantu atau justru membawa masalah yang lebih besar.
“Kalau begitu, jelaskan siapa Anda,” desaknya.
Pria itu menarik napas perlahan. Sepertinya ia hendak menjawab, tetapi langkah kaki berat yang bergegas mendekat dari arah pintu darurat mendadak memecah percakapan mereka.
Ardi muncul dengan napas memburu. Pisau di tangannya masih teracung, siap menghabisi siapa saja yang menghalangi jalannya.
Namun, begitu pandangan Ardi menangkap sosok pria berjas gelap yang berdiri di hadapannya, tubuh tiran itu mendadak kaku. Warna merah di wajahnya seketika memudar, menyisakan pucat pasi yang mengerikan. Pisau di tangannya hampir terlepas ke lantai semen.
“A-Aditya...?” bisik Ardi gemetar, menyebut nama kakak kandung sekaligus korban dari kejahatannya sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak mengejar Fajar dan Kirana, Ardi tampak kehilangan seluruh keberaniannya. Matanya bergerak gelisah, seakan mencari jalan keluar dari situasi yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.
Aditya tidak segera menjawab. Ia hanya menatap adiknya dengan ekspresi dingin yang jauh berbeda dari kehangatan yang tadi ia tunjukkan kepada Kirana.
“Ardi,” ucapnya akhirnya. “Jadi, setelah semua yang kamu lakukan, kamu masih berani mengejarnya dengan pisau di tangan?”
Ardi menelan ludah. Tangannya mencengkeram gagang pisau semakin erat, tetapi ujungnya mulai bergetar.
“Kamu seharusnya tidak berada di sini,” katanya terbata-bata. “Ini bukan urusanmu.”
“Bukan urusanku?” Aditya mengulang kalimat itu dengan nada rendah. “Kamu merampas identitasku, menghancurkan hidupku, dan membuat putriku tumbuh jauh dariku. Setelah semua itu, kamu masih menganggap ini bukan urusanku?”
Kirana tersentak.
Putriku.
Dua kata itu kembali menggema di benaknya. Ia memandang Aditya, lalu Ardi, mencoba memahami hubungan yang baru saja terungkap. Pria yang selama ini ia kenal sebagai ayahnya ternyata memiliki hubungan dengan pria yang baru datang. Lebih dari itu, ucapan Aditya seakan membongkar kenyataan bahwa seluruh hidupnya mungkin dibangun di atas kebohongan.
“Ayah...” suara Kirana akhirnya terdengar, tetapi begitu lirih hingga hampir tenggelam dalam keheningan.
Aditya segera menoleh kepadanya. Ketegangan di wajahnya sedikit melunak.
“Kirana.”
“Kenapa?” Kirana bertanya dengan suara bergetar. “Kenapa Anda memanggil saya putri Anda? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Aditya terdiam sesaat. Ia tampak ingin mendekat, tetapi menahan langkahnya, seolah memahami bahwa jarak di antara mereka bukan sekadar beberapa meter di lantai basement.
“Aku tahu kamu punya banyak pertanyaan,” katanya. “Kamu berhak mendapatkan semua jawabannya. Aku tidak akan memintamu langsung percaya kepadaku. Aku hanya ingin kamu mendengarkan kebenaran yang selama ini disembunyikan darimu.”
Kirana menunduk. Napasnya terasa berat, sementara Fajar menggenggam tangannya dengan lebih erat. Kehadiran Fajar menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri di tengah kenyataan yang mulai runtuh.
Suasana di basement itu mendadak membeku. Di hadapan Kirana kini berdiri dua sosok figur ayah: Ardi, pria yang membesarkannya dengan kebohongan dan memanfaatkannya sebagai alat kekuasaan, serta Aditya, ayah kandung aslinya yang merangkap sebagai pimpinan perusahaan saingan dan selama ini memburu keadilan atas identitasnya yang dirampok.
Kirana menatap bergantian antara Ardi yang kini tersudut putus asa dan Aditya yang menatapnya dengan penuh kehangatan, tetapi menyimpan luka mendalam.
Otaknya terasa ingin pecah merangkai seluruh kenyataan absurd ini. Selama bertahun-tahun, ia mengira telah mengenal keluarganya sendiri. Kini, satu pertemuan singkat membuat semua keyakinan itu dipertanyakan.
Fajar hanya bisa terdiam rapat di samping Kirana. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk menenangkan kekasihnya, tetapi ia sadar tidak ada kalimat sederhana yang mampu memperbaiki keadaan tersebut.
Di hadapan mereka, Ardi masih berdiri dengan wajah pucat. Sementara itu, Aditya tidak lagi mengalihkan pandangannya dari Kirana.
Badai terbesar dalam hidup Kirana baru saja resmi dimulai.