Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 10.
Seketika itu juga, area tribun di sekitar Stella mendadak hening. Beberapa pasang mata menatap Stella dengan pandangan kasihan, sebagian lagi menahan senyum geli. Tatapan Gibran yang dingin bertengger di wajah Stella selama tiga detik penuh sebelum cowok itu berbalik dan kembali berlari mengejar bola.
Tangan Stella yang tadinya membentuk corong perlahan turun. Kalimat penyemangat yang sudah ada di ujung lidahnya mendadak menguap, digantikan oleh rasa sesak yang langsung menghantam dadanya. Ada bunyi retakan halus di dalam hatinya—sesuatu yang sebetulnya sudah sering terjadi, tetapi kali ini rasanya jauh lebih ngilu karena terjadi di depan ratusan pasang mata. Stella terpaku. Senyumnya membeku, lalu perlahan luntur.
"Stel..." Rara mengusap pundak Stella lembut, lalu merangkulnya mencoba menghibur dengan kata-kata.
Stella memejamkan mata sesaat. Menghirup oksigen banyak-banyak seolah pasokan udara di sekitarnya mendadak menipis. Namun, tepat saat ia membuka mata kembali, sebuah sakelar di dalam dirinya seolah bergeser. Wajahnya yang sempat pias langsung berubah cerah dalam hitungan detik. Ia tertawa renyah, tawa khasnya yang selalu terdengar lepas.
"Hahaha! Duh, galak amat sih si Bos," cetus Stella sambil mengibaskan tangan ke wajah, pura-pura gerah. Ia berbalik menghadap ketiga sahabatnya dengan mata yang sengaja dibikin berbinar jenaka. "Lagian lagak gue udah kayak manajer klub Eropa belum, Ra? Keren kan suara gue, bisa memecah keheningan lapangan?"
Lidia, sahabat Stella yang lain mendengus, tetapi matanya memancarkan kekhawatiran. "Keren matamu. Lo barusan dikit lagi di-red card sama gebetan sendiri, tahu."
"Ah, Gibran mah emang gitu kalau lagi serius. Makin galak makin seksi, ya enggak?" Stella mengedipkan sebelah matanya, lalu langsung merangkul balik pundak Rara sekaligus, menyeret mereka menjauh dari tribun. "Yuk, ah, cabut ke kantin belakang! Haus banget gue. Lagian babak kedua bentar lagi kelar, pasti menang itu mah kalau ada pawangnya di sini tadi."
Sepanjang jalan koridor menuju kantin, Stella tidak berhenti mengoceh. Ia melompat-lompat kecil, menyapa anak-anak kelas sebelah yang berpapasan, dan menceritakan lelucon garing tentang guru sejarah mereka yang tadi pagi salah memakai sepatu.
Rara, Tania, dan Lidia sesekali menimpali, tertawa bersama, menganggap Stella yang 'petakilan' dan tidak tahu malu ini adalah Stella yang biasanya. Topeng itu terpasang dengan sangat sempurna. Sangat rapi.
Hingga mereka tiba di area luar kantin belakang yang agak sepi karena sebagian besar murid masih menonton futsal.
"Gue ke toilet bentar ya, kebelet pipis akibat terlalu bersemangat tadi," pamit Stella dengan cengiran lebar.
"Jangan lama-lama, Stel! Pesan es teh manis nih?" teriak Lidia.
"Yoi, dua ya! Yang satu gulanya dikit aja, biar manisnya kalah sama gue!" sahut Stella sambil berjalan mundur, lalu berbalik dan setengah berlari menuju toilet.
Begitu langkah kakinya melewati pintu lorong toilet yang sepi, senyum di wajah Stella runtuh seketika. Seperti sebuah pertunjukan teater yang lampunya mendadak dimatikan. Bahunya yang tadi tegak langsung merosot. Ia bersandar pada dinding semen koridor yang dingin, membiarkan tubuhnya sedikit merosot.
Stella menatap lurus ke lantai. Dadanya naik turun, menahan gemuruh yang sedari tadi ia kurung rapat-rapat di depan teman-temannya. Ia tidak menangis, tidak ada air mata yang keluar. Hanya ada rasa lelah yang luar biasa besar yang mendadak menggerogoti energinya. Berpura-pura tidak apa-apa di depan orang banyak ternyata jauh lebih menguras tenaga ketimbang berteriak di pinggir lapangan futsal selama satu jam penuh.
"Capek, ya?"
Sebuah suara berat, datar, dan tenang tiba-tiba memecah kesunyian lorong.
Stella tersentak. Ia langsung menegakkan tubuhnya, otomatis memasang kembali senyum lebarnya dalam waktu kurang dari satu detik. Ia menoleh ke arah sumber suara.
Di sana, bersandar pada pilar dekat ujung lorong dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya, berdiri Lingga. Cowok yang terkenal pendiam dan jarang ikut campur urusan orang lain. Lingga tidak memakai baju jersey seperti anak-anak lain, ia hanya mengenakan kemeja seragam yang lengannya digulung hingga siku. Sepasang matanya yang tajam namun teduh menatap lurus ke arah Stella.
"Eh, Lingga? Ngapain lo di sini? Mau ke toilet cowok ya? Tuh, pintunya di sebelah sana, jangan salah masuk ke toilet cewek, ntar lo dituduh mesum!" kata Stella, langsung memberondong dengan nada suara yang sengaja dibuat heboh dan ceria.
Lingga tidak membalas candaan itu. Ia bahkan tidak tersenyum. Cowok itu hanya berjalan mendekat, langkah kakinya terdengar pelan namun tegas di atas lantai tegel. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Stella.
"Enggak usah repot-repot," ucap Lingga pelan, matanya mengunci pandangan Stella.
"Hah? Repot-repot apaan?" Stella tertawa kecil, agak gugup karena tatapan Lingga terasa seperti sedang menguliti isi kepalanya.
"Enggak usah repot-repot akting di depan gue," lanjut Lingga. Suaranya tidak ketus seperti Gibran, justru terdengar sangat jernih dan bebas dari penghakiman. "Gue liat semuanya di lapangan tadi. Dan gue juga liat gimana muka lo berubah pas lo jalan ke sini sendirian."
Tawa Stella terhenti di tenggorokan. Senyum di bibirnya perlahan memudar, menyisakan lengkungan tipis yang tampak dipaksakan sebelum akhirnya benar-benar hilang. Lorong itu mendadak terasa sangat sunyi, hanya menyisakan sayup-sayup suara sorakan dari lapangan futsal di kejauhan.
Untuk pertama kalinya hari itu, Stella tidak bisa memasang topengnya kembali. Di hadapan Lingga yang asing, pertahanannya mendadak terasa begitu rapuh.
......................
...****************...
Tbc,