NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Tanda Tangan Palsu dan Beban di Balik Pintu Kafe

Pena hitam berbalut warna emas mengilap digeser pelan oleh Nadia ke tengah meja kayu Kafe Merah, mendarat tepat di atas berkas Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak. Cahaya lampu temaram kafe memantul di permukaan pulpen berkelas tersebut, seolah mempertegas takdir rumit yang baru saja disanggupi oleh Dewa.

"Pena," ujar Nadia singkat dengan nada datar tanpa riak emosi. "Tanda tangani di dua rangkap ini sekarang. Lembar pertama untuk saya, lembar kedua untuk kamu."

Dewa menatap pulpen mahal itu dengan pandangan nanar. Tangannya terangkat perlahan, terasa amat berat seolah digantungi beban berkuintal-kuintal. Jemarinya yang biasanya lincah dan kekar kini agak gemetar saat meraih batang pulpen tersebut.

"Nadia... kamu benar-benar enggak mau kasih waktu saya buat mikir semalam aja?" tanya Dewa, mencoba menawar dengan nada suara yang memelas, kehilangan seluruh kepribadian norak dan sok tahunya.

Nadia menggeleng pelan, matanya menatap lurus tanpa kompromi sedikit pun.

"Tidak ada waktu berpikir, Bimo. Kesempatanmu untuk berpikir sudah habis saat kamu memutuskan setuju beberapa detik lalu," sahut Nadia dingin. "Tanda tangan sekarang di atas materai, atau detik ini juga dokumen pembatalan investasi perusahaan ayahmu dikirim."

"Gila... kamu ini beneran cewek dingin yang enggak punya perasaan ya," gumam Dewa seraya mengutuk dalam hati.

Dewa menarik napas panjang, menahannya di dada selama beberapa saat, lalu menghembuskannya pasrah. Ia membuka tutup pulpen tersebut. Dalam benaknya, gejolak batin membakar kesadarannya. Nama yang harus ia tuliskan di atas materai itu bukanlah namanya sendiri, melainkan nama sahabat baiknya, Bimo. Ia terpaksa memalsukan tanda tangan Bimo demi menyelamatkan keluarga sahabatnya dari kebangkrutan tragis yang dirancang oleh wanita di hadapannya.

Srett... srett...

Goresan tinta hitam mengukir tanda tangan atas nama Bimo di atas dua lembar materai berturut-turut. Setiap goresan terasa bagaikan sembilu yang menyayat rasa harga dirinya. Dewa telah resmi menyanggupi sebuah kebohongan besar yang melibatkan dokumen hukum legitimatif.

Nadia memandangi proses tersebut dengan saksama, memastikan tidak ada detail yang terlewat. Setelah Dewa meletakkan kembali pulpen tersebut di atas meja dengan denting pelan, Nadia meraih kedua lembar dokumen itu. Ia memeriksa keabsahan tanda tangan di atas materai dengan teliti sebelum memasukkan satu rangkap ke dalam stofmap biru dan menyimpannya kembali ke dalam tas kulit mewahnya.

"Bagus. Keputusan yang sangat bijaksana," puji Nadia formal, meski penampilannya tetap sangat dingin.

"Bijaksana matamu," cetus Dewa pelan dengan muka masam. "Gue, maksud saya, saya terpaksa, Nadia. Ingat itu. Saya melakukan ini semua cuma demi kelangsungan hidup perusahaan ayah saya."

"Apapun alasanmu, hasilnya sama. Dokumen ini sah secara hukum di antara kita berdua," balas Nadia sambil merapikan letak tasnya. Ia menggeser satu dokumen rangkap sisanya ke arah Dewa. "Simpan lembar dokumen bagianmu ini baik-baik. Jangan sampai hilang atau dibaca oleh orang lain."

Dewa menyambar kertas itu kasar, melipatnya asal-asalan lalu mengemasnya masuk ke dalam saku dalam kemeja tropis kuningnya yang norak.

"Terus, habis ini apa lagi? Kamu mau suruh saya ngapain?" tanya Dewa sengit.

Nadia berdiri anggun dari kursinya, merapikan blazer hitam yang membungkus tubuh rampingnya dengan gerakan yang sangat berkelas.

"Hari ini cukup. Jadwal akad dan teknis pernikahan akan diurus oleh asisten saya dan ibumu. Kamu hanya perlu bersiap-siap dan datang tepat waktu pada hari pelaksanaannya," papar Nadia lugas.

"Gampang banget kamu ngomong ya. Kamu kira nikah kontrak gini enggak bikin mental orang berantakan?" celetuk Dewa sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, mendongak menatap Nadia yang sudah berdiri tegap.

"Mental adalah urusan pribadi masing-masing. Pria dewasa harus sanggup menanggung konsekuensi atas keputusan yang sudah diambilnya," sahut Nadia datar. Ia melirik jam tangan mewahnya sekali lagi. "Saya harus kembali ke kantor. Ada rapat direksi lima belas menit lagi."

"Ya udah, sana pergi. Bikin pusing aja dari tadi," usir Dewa tidak sopan, sengaja menunjukkan kekesalannya yang sudah memuncak.

Nadia tidak terpengaruh oleh ucapan kasar tersebut. Ia hanya mengangguk tipis sebagai tanda perpisahan formal.

"Sampai jumpa di hari pernikahan kita, Bimo," ucap Nadia dingin.

Tanpa menunggu balasan dari Dewa, Nadia membalikkan badannya dan melangkah anggun meninggalkan meja kafe. Suara ketukan sepatu hak tingginya berirama teratur di atas lantai kayu, memicu pandangan kagum dari beberapa pengunjung kafe lain. Dewa memperhatikan punggung wanita itu hingga menghilang di balik pintu kaca Kafe Merah, disusul deru halus mobil mewah bermerek Eropa yang membawanya pergi dari area parkir.

Dewa menyandarkan punggungnya lemas ke kursi kayu. Ia menyisir rambut tebalnya ke belakang dengan kedua tangan, membiarkan napasnya terengah-engah pelan. Seluruh tenaga dan daya pikirnya seolah terkuras habis dalam kurun waktu tidak sampai satu jam berada di dalam kafe ini.

"Apes... Apes banget nasib gue hari ini," umpat Dewa berbisik pada dirinya sendiri.

Pelayan kafe mendekati meja Dewa dengan ragu-ragu, melihat ekspresi pemuda tampan berkemeja norak itu yang tampak amat tertekan dan berantakan.

"Permisi, Mas... Untuk tagihan minumannya, Mbak yang tadi sudah menyelesaikannya di kasir," ujar pelayan itu sopan.

Dewa menoleh pelan, menyapu wajah pelayan itu dengan pandangan layu.

"Oh... Ya, makasih," jawab Dewa singkat.

Ia tidak berminat lagi menyentuh sisa kopi atau kue kering mahal di atas meja. Dewa bangkit berdiri dengan gontai. Kacamata hitam berbingkai emas yang tadi ia pakai dengan gaya pamer kini hanya ia kantongi di saku celana jinsnya.

Dewa melangkah keluar dari Kafe Merah. Gemerincing bel di atas pintu menyambut hembusan angin sore kota yang cukup kencang, menerpa kemeja tropis berpotongan dada terbuka yang dikenakannya. Pemandangan lalu lintas jalan raya yang ramai dan bising di hadapannya tak mampu mengalihkan perhatian Dewa dari gumpalan penyesalan luar biasa yang kini bersarang di dadanya.

Misi awal yang diamanatkan oleh Bimo sangat sederhana: menyamar menjadi Bimo, bertingkah norak, kelakuan buruk, dan membuat Nadia ilfil hingga membatalkan rencana perjodohan keluarga mereka. Namun kenyataannya, rencana itu hancur berantakan. Jangankan berhasil membuat Nadia ilfil atau marah, Dewa justru masuk ke dalam jebakan Batman sang CEO dingin, menyerahkan tanda tangan palsu atas nama Bimo, dan menyeret dirinya sendiri ke dalam sebuah pernikahan kontrak berdurasi satu tahun.

"Bimo... Gue kudu ngomong apa sama lu sekarang?" gumam Dewa meratapi nasibnya seraya memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.

Ia melangkah pelan menyusuri trotoar menuju halte bus terdekat. Langkah kakinya terasa begitu berat, seiring dengan benaknya yang dipenuhi oleh bayangan wajah Bimo dan rasa bersalah yang teramat sangat. Penyamaran harinya itu bukan hanya gagal total, melainkan telah menjelmakan masalah baru yang ribet dan berpotensi menghancurkan kehidupan mereka berdua di masa depan.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!