NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 AMIRA DAN PAK DIKA PERGI

"Kurang ajar kamu, Amira!" pekik Mirna dengan napas memburu.

"Aku kurang ajar? Lalu kalian mau apa?" tantang Amira, menatap mertuanya tanpa rasa takut sedikit pun.

"Anak tidak tahu diri!" maki Mirna kesal. Ia lalu menoleh tajam ke arah anak kesayangannya. "Adam, ceraikan dia sekarang juga! Jangan tunda-tunda lagi!"

"Amira, ini semua salahmu yang terlalu keras kepala. Jangan sampai kamu mengadu yang tidak-tidak pada Ibu Lasmi di panti," sela Alya sok menasihati. "Terima saja kebaikan Mas Adam yang masih mau mempertahankanmu."

Amira melirik Alya dari sudut mata. "Sampah," jawabnya singkat nan menohok.

Penghinaan itu membuat dada Adam bergolak panas. Emosi menguasai dirinya. Dengan mata mendelik, Adam mengangkat tangannya, hendak menampar wajah Amira. Namun, Amira bergerak cepat. Sebelum telapak tangan Adam mendarat, Amira mencengkeram pergelangan tangan Adam lalu memelintirnya ke belakang dengan gerakan mantap!

"Akh! Lepaskan, Amira!" geram Adam kesakitan.

Amira menghentakkan tangan Adam ke samping hingga pria itu hilang keseimbangan dan terhuyung.

BRAK!

Kepala Adam membentur pinggiran kursi kayu dengan keras. Ia meringis sambil memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.

"Kurang ajar kamu, Amira! Kamu akan menyesal seumur hidup karena bercerai dengan Adam!" sergah Mirna panik melihat anaknya tersungkur.

Amira menyunggingkan senyum dingin. "Satu-satunya penyesalanku adalah hidup selama dua tahun di rumah ini secara sia-sia."

"Kamu—"

"Mas Adam, sudahlah! Amira ini makin hari makin tidak bisa diatur! Cepat ceraikan dia!" potong Sonia kesal melihat saudaranya tak berdaya menghadapi Amira.

Adam bangkit sambil mengepalkan tangan, matanya menyala penuh dendam. "Dasar istri tidak tahu diri! Hari ini, detik ini... aku talak kamu, Amira! Kita resmi bercerai!" ucap Adam dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan.

Amira tidak menangis. Tidak ada raut penderitaan atau teriakan histeris memohon agar pernikahan dipertahankan. Ia justru bangkit berdiri dengan tenang, bermaksud melangkah ke kamar untuk mengambil pakaiannya.

"Jangan berani-berani masuk ke kamarku!" Perintah Adam tegas. "Sonia, keluarkan semua baju wanita ini dari kamar!"

"Siap, Mas!" Sonia bergerak cepat.

Tak lama kemudian, Sonia keluar membawa tumpukan baju milik Amira. Namun, bukannya diserahkan atau diletakkan baik-baik, Sonia melangkah melewati semua orang lalu melemparkan seluruh pakaian itu ke atas tanah di halaman rumah.

"Ambil baju kotormu itu!" bentak Sonia seraya bersedekap angkuh di ambang pintu.

"Oke, baiklah," sahut Amira dingin.

Ia berjalan ke arah meja tamu, mengambil pemantik api milik Pak Diki yang tergeletak di sana, lalu melangkah keluar. Langkah kakinya sangat tenang dan anggun. Di halaman rumah yang kering karena terik musim kemarau, pakaian-pakaian Amira berserakan di atas tanah.

Amira melihat sebuah kardus bekas di sudut halaman. Mila yang menyaksikannya melipat tangan di dada dengan nada merendahkan. "Nah, begitu dong! Masukkan semua bajumu ke kardus itu lalu angkat kaki dari sini!"

Amira mengabaikan ucapan Mila. Menggunakan ujung kakinya, ia mengumpulkan seluruh pakaiannya hingga menggunung tinggi. Kemudian, kardus bekas yang disangka Mila akan dipakai untuk wadah baju, justru disulut api oleh Amira menggunakan pemantik di tangannya.

Crrhhk... BZZZT!

Api kecil dari pemantik menyambar kardus, lalu dalam hitungan detik melahap gundukan pakaian Amira. Api membumbung tinggi ke udara, membakar habis seluruh kenangan dan masa lalunya di rumah itu.

"Kisah kita sudah usai... Masa laluku dengan kalian, resmi aku bakar hari ini," ucap Amira datar.

Angin musim kemarau meniup kobaran api hingga makin membesar. Asap hitam pekat membumbung tinggi, memancing perhatian para tetangga sekitar yang mulai berdatangan karena panik.

Adam dan Ridwan yang melihat kobaran api semakin tak terkendali mendadak panik setengah mati. "Gila kamu, Amira!" teriak Ridwan berlari mencari ember dan air untuk memadamkan api bersama warga.

"Ada apa ini?! Kenapa ada kebakaran?!" tanya seorang tetangga.

"Ini si Amira! Dia gila, marah-marah lalu membakar pakaian di halaman!" adu Mirna mencoba mencari simpati tetangga.

Di tengah kekacauan itu, suara deru mesin sepeda motor Scoopy merah terdengar mendekat. Pak Diki baru saja pulang. Pria paruh baya itu mematikan mesin motornya dan tertegun menyaksikan keramaian serta kobaran api di halaman rumahnya.

"Ada apa ini?!" tanya Pak Diki dengan nada berat, memandang heran ke arah kerumunan.

Mata tegas Pak Diki tak sengaja beradu pandang dengan Adam. Matanya yang biasa berwibawa seketika berkaca-kaca. "Adam... Kapan kamu pulang, Nak?"

Adam buru-buru menghampiri bapaknya, menyalami dan mencium tangan pria tua yang sudah mengorbankan tanah warisannya demi biaya pendidikannya ke Jepang.

"Adam baru sampai, Pak," jawab Adam pelan.

Pak Diki melangkah masuk ke dalam rumah dengan raut wajah sangat dingin. Matanya menyipit sinis menatap Alya yang terus-menerus menempel ketat pada lengan Adam.

Setelah semua orang berkumpul di ruang tamu, Pak Diki membuka suara dengan nada dalam dan penuh penekanan. "Adam... kamu benar-benar tidak punya malu."

Adam tersentak. "Kenapa, Pak?"

"Kamu tidak sadar? Kamu itu sudah punya istri, tapi kenapa bukan istrimu yang menggandeng tanganmu?! Apa kata tetangga yang melihatnya?!" cetus Pak Diki gusar.

"Pak, ini Alya. Alya ini istri Adam," sela Mirna membela.

BRAK!

Pak Diki menggebrak meja kayu hingga semua orang terlonjak kaget. "Kamu menganggap bapak apa di rumah ini, hah?! Kamu menikah lagi, kenapa tidak ada bicara sedikit pun pada bapak?!"

"Sudahlah, Pak... Mereka ini nikahnya terburu-buru," sahut Mirna mencoba menenangkan.

"Nikah terburu-buru atau perempuan ini sudah hamil duluan?!" tebak Pak Diki tajam.

"Bapak! Jangan bicara sembarangan!" potong Adam tidak terima. "Alya dan aku sudah menikah secara sah seminggu yang lalu!"

"Kalian sudah di Indonesia sejak seminggu lalu tapi tidak memberi tahu bapak sama sekali... Kenapa?" tanya Pak Diki penuh kekecewaan.

"Karena kalau diberi tahu, Bapak tidak akan pernah setuju! Bapak kan selalu membela Amira!" bentak Mirna blak-blakan.

Pak Diki mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang mendadak hening. "Mana Amira?"

"Amira sudah diceraikan Adam, Pak," jawab Ridwan cepat.

"Adam!" bentak Pak Diki menatap anaknya tak percaya.

"Iya, Pak. Adam sudah menceraikan Amira," tegas Adam.

"Kenapa kamu ceraikan dia?!"

"Karena Amira tidak pantas untuk Adam, Pak!" potong Mirna mengambil alih.

"Alasannya apa?!" desak Pak Diki.

"Amira itu tidak berpendidikan! Keras kepala, tidak punya keluarga! Masa depan apa yang bisa dicapai Adam kalau hidup bersama wanita seperti Amira?!" sembur Mirna penuh prasangka.

Pak Diki terkekeh sinis, matanya mengikis habis harga diri anak dan istrinya. "Memangnya masa depan seperti apa yang bisa kamu raih bersama seorang pelakor?"

"Bapak! Jangan hina istriku!" teriak Adam membela Alya.

Mirna ikut berdiri emosi. "Iya, kamu jangan menghina menantuku! Alya ini punya segalanya, jauh melampaui Amira!"

"Kelebihan apa yang bisa dibanggakan dari seorang pelakor pencuri suami orang?" sergah Pak Diki kian menohok.

"Bapak! Alya bukan pelakor! Aku mencintainya!" teriak Adam putus asa.

Pak Diki menggelengkan kepala dengan raut wajah sangat kecewa. "Bapak tidak terima. Bapak tidak ridho! Kamu akan menyesal seumur hidupmu, Adam... Kamu membuang Amira demi wanita seperti ini!"

"Bapak! Jangan terus-menerus menghina menantuku! Kalau Bapak tidak suka dan terus menghina Alya, lebih baik Bapak saja yang pergi dari sini!" ancam Mirna kalap.

Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Pak Diki berdiri. Ia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian, ia keluar membawa sebuah tas ransel besar berisi pakaian-pakaiannya.

"Kalian mengusirku dari rumahku sendiri... Baik," ucap Pak Diki dengan suara bergetar namun tegas. Ia menatap Mirna, Adam, dan saudara-saudaranya satu per satu. "Nikmati saja awal dari kehancuran kalian. Bapak sudah mengingatkan."

Tanpa menoleh lagi, Pak Diki menyandang ransel besarnya lalu melangkah keluar, meninggalkan rumah yang kini dipenuhi aura keserakahan dan kebohongan.

1
sunaryati jarum
Semoga keluarga Amira
sunaryati jarum
Mulai jadi pemuas sang penguasa,Sonia
sunaryati jarum
O mau jadi wanita simpanan ,Sonia.Tapi Yamamoto tak akan pernah menyentuh Amira
@Mita🥰
wiiiih mungkin kakak nya Amira
@Mita🥰
pasti anak buah kakek Amira yang bikin unggah an Amira hilang
YuWie
anak siapakah kamu amir
sunaryati jarum
Mungkin kau putri pebisnis besar yang diculik dan ditinggalkan di panti asuhan
YuWie
rung sadar kan..malah tambah dodro..alias tambah kebangetan niat jahatnya
YuWie
benar kata pak polisi..bertele tele
Suanti
sonia tak pernah kapok klu kejadian lgi sm amira jgn mau pki jln damai jeblos kan aja ke penjara biar kapok 🤭
sunaryati jarum
Keluarga pak Diki tidak waras semua kecuali Pak Diki
@Mita🥰
ealah ..alah bukan nya sadar malah makin menjadi
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 nah sekarang tahu kan
Suanti
sdh lah amira jeblos kan aja sonia ke penjara byk btl cerita keluarga mantan mu yg toxin 🤣🤣
Suanti
beri hukuman setimpal amira jangan mau jln damai biar kan aja di penjara biar tau rasa mantan keluarga toxin 🤭🤣
YuWie
Luar biasa
santi damayanti: terimakasih kaka
total 1 replies
YuWie
bacottt..ciatt..tendang aja al
YuWie
ngerti anak yatim piatu malah diperas.. situ waras
Suanti
jgn2 pria tua itu bpk nya amira atau kakek nya, amira 🤣🤣
Suanti
dasar keluarga toxin selalu salah kan amira 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!