NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mana Semua Barangku?

Udara malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, seolah alam pun ikut menertawakan nasib mereka yang kini tak punya atap untuk bernaung. Bagas menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari keberanian di antara sisa-sisa kebanggaannya yang telah hancur. Ia menoleh ke arah Ibu Melati dan Siska, yang kini tampak seperti pengemis di tengah kemewahan kota yang tak peduli pada mereka.

"Cepatlah, kita harus sampai ke sana sebelum pemilik kontrakannya tidur," desak Bagas dengan suara yang serak.

Ibu Melati masih terdiam, matanya yang sembab menatap nanar ke arah gerbang komplek yang semakin menjauh. Ia belum bisa menerima kenyataan bahwa tas kulit kesayangannya kini hanya berisi pakaian seadanya, bukan lagi tumpukan uang atau perhiasan. Tangannya yang gemetar memegang erat gagang koper, buku-buku jarinya memutih karena menahan amarah yang tertahan di tenggorokan.

"Apa kau yakin tempat itu layak, Bagas?" tanya Ibu Melati dengan nada sinis yang masih tersisa. "Aku tidak akan bisa tidur jika tempatnya kotor dan banyak kecoak."

Bagas menatap ibunya dengan tatapan yang nyaris putus asa, wajahnya tampak lelah dan tidak terurus. Ia sudah tidak punya kesabaran lagi untuk meladeni segala tuntutan yang tidak masuk akal dari wanita itu.

"Ibu, kita tidak sedang memilih hotel bintang lima," sahut Bagas dengan nada meninggi. "Kita beruntung masih punya tempat untuk berteduh malam ini, atau Ibu lebih memilih tidur di bawah jembatan?"

Siska mendengus kesal, ia menghentakkan kakinya ke aspal, menimbulkan suara nyaring yang memecah keheningan malam. Ia merasa dunia benar-benar tidak adil, seharusnya ia sedang berada di sebuah pesta mewah sekarang, bukan berjalan kaki membawa koper di pinggir jalan yang gelap.

"Ini semua salah Kak Bagas!" teriak Siska dengan nada melengking. "Kenapa dulu Kakak tidak bisa menjaga aset itu dengan baik? Kenapa Kakak membiarkan Laras mengambil semuanya?"

Bagas berhenti melangkah secara mendadak, membuat Siska nyaris menabrak punggungnya. Ia berbalik dan menatap adiknya dengan sorot mata yang penuh kebencian, sebuah kilatan amarah yang selama ini ia tahan kini meledak keluar.

"Berhenti menyalahkanku, Siska!" bentak Bagas dengan suara tertahan. "Siapa yang setiap hari meminta uang belanja tambahan untuk membeli tas-tas palsu itu? Siapa yang selalu memprovokasi Ibu untuk menindas Laras agar dia merasa tidak berharga?"

Siska terdiam, wajahnya memerah karena malu sekaligus marah mendengar tuduhan kakaknya. Ia ingin membantah, namun ia sadar bahwa kata-kata Bagas adalah kenyataan pahit yang tidak bisa ia hindari lagi.

"Kita semua bersalah di sini," lanjut Bagas dengan suara yang lebih tenang namun terasa lebih dingin. "Kita semua menikmati hasil kerja keras Laras selama tiga tahun, dan sekarang, kita harus menanggung akibatnya bersama-sama."

Ibu Melati mencoba memotong pembicaraan mereka dengan suara yang bergetar karena emosi. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh kenyataan bahwa anaknya sendiri tidak lagi bisa melindunginya.

"Diam kalian berdua!" seru Ibu Melati. "Apapun yang terjadi, kita tetap keluarga Pratama yang terhormat, dan kita tidak boleh terlihat lemah di depan orang lain!"

Bagas tertawa sinis mendengar ucapan ibunya, sebuah tawa yang terdengar kosong dan penuh kepahitan. Ia merasa sangat bodoh telah membiarkan dirinya terbuai oleh kesombongan semu yang dibangun oleh keluarganya sendiri.

"Terhormat, Bu?" tanya Bagas sambil menunjuk ke arah pakaian mereka yang berdebu. "Lihatlah diri kita sekarang, kita bahkan tidak punya cukup uang untuk membayar ongkos taksi menuju kontrakan itu."

Mereka pun kembali berjalan dalam diam, langkah kaki mereka terasa semakin berat seiring dengan semakin jauhnya mereka dari kawasan perumahan elit. Siska tidak lagi menatap ponselnya, ia hanya menunduk, takut jika seseorang yang ia kenal akan melihatnya dalam keadaan yang memalukan seperti ini.

Jalanan mulai menyempit, berganti dari aspal mulus menjadi jalanan berbatu yang tidak rata. Lampu jalan yang remang-remang membuat suasana semakin mencekam, sesekali terdengar suara anjing menggonggong di kejauhan. Ibu Melati terus menggerutu, mengeluh tentang kakinya yang lecet dan udara yang terlalu pengap bagi paru-parunya.

"Sebentar lagi kita sampai," ucap Bagas mencoba menenangkan situasi yang semakin tidak kondusif. "Itu dia, kontrakan yang dimaksud teman kerjaku."

Di depan mereka berdiri sebuah bangunan tua dengan cat yang sudah mengelupas di sana-sini. Tidak ada pagar mewah, tidak ada taman yang indah, hanya ada deretan kontrakan sempit yang tampak lembap dan tidak terawat. Bau selokan yang menyengat langsung menusuk hidung mereka begitu mereka sampai di depan pintu kontrakan tersebut.

Ibu Melati menutup hidungnya dengan sapu tangan, matanya terbelalak melihat kondisi tempat yang akan menjadi rumah baru mereka. Ia benar-benar tidak sanggup membayangkan harus tinggal di tempat sekecil dan sekotor itu.

"Bagas, apakah kau bercanda?" tanya Ibu Melati dengan suara yang nyaris seperti bisikan. "Tempat ini bahkan lebih kecil dari gudang di rumah kita yang dulu."

Siska terisak lagi, kali ini tangisannya terdengar lebih putus asa daripada sebelumnya. Ia duduk di atas kopernya sendiri, menatap pintu kayu yang tampak keropos dengan tatapan kosong.

"Aku tidak mau masuk ke sana," gumam Siska dengan suara yang pecah. "Aku lebih baik mati daripada harus tinggal di tempat seperti ini."

Bagas mengabaikan adiknya dan berjalan menuju pintu kontrakan, lalu mengetuknya dengan keras. Ia tidak peduli lagi dengan rasa malu atau harga diri, yang ia inginkan hanyalah sebuah tempat untuk merebahkan tubuhnya yang sudah terasa remuk.

"Siapa di sana?" teriak seseorang dari balik pintu dengan suara yang kasar.

Seorang pria paruh baya dengan sarung yang melilit di pinggangnya membuka pintu sedikit, menatap mereka dengan tatapan curiga. Wajahnya tampak tidak bersahabat, matanya menyapu penampilan Bagas dan keluarganya dengan tatapan meremehkan.

"Kami ingin menyewa kontrakan ini," ucap Bagas dengan nada yang diusahakan tetap sopan. "Apakah masih ada kamar yang kosong?"

Pria itu menatap mereka dari atas ke bawah, seolah sedang menilai apakah mereka mampu membayar uang sewa atau tidak. Ia kemudian meludah ke arah samping sebelum menjawab dengan suara yang parau.

"Tinggal satu kamar di ujung," sahut pria itu sambil menunjuk ke arah gang gelap di samping bangunan. "Harganya tiga ratus ribu per minggu, dibayar di depan. Kalau tidak punya uang, pergi saja dari sini."

Bagas merogoh sakunya, mengeluarkan dompet yang hanya berisi beberapa lembar uang kertas yang sudah lecek. Ia menghitungnya dengan tangan yang gemetar, berharap jumlahnya cukup untuk membayar setidaknya satu minggu ke depan.

"Ini uangnya," ucap Bagas sambil menyodorkan uang tersebut kepada pria itu. "Tolong terima ini, kami benar-benar butuh tempat untuk malam ini."

Pria itu mengambil uang tersebut dengan kasar, lalu menghitungnya dengan teliti di bawah cahaya lampu jalan yang redup. Setelah memastikan jumlahnya benar, ia melemparkan kunci kamar ke arah Bagas, yang dengan sigap menangkapnya sebelum jatuh ke tanah.

"Kamar paling ujung, kuncinya rusak sedikit tapi masih bisa dipakai," kata pria itu sebelum menutup pintu dengan suara bantingan yang keras.

Bagas menatap kunci di tangannya, merasa seolah kunci itu adalah beban yang sangat berat. Ia menoleh ke arah Ibu Melati dan Siska, yang masih membeku di tempatnya berdiri, menatap pintu kontrakan dengan pandangan yang penuh penolakan.

"Ayo, kita masuk," ajak Bagas dengan suara yang terdengar sangat lelah.

Mereka pun berjalan menuju kamar yang ditunjukkan oleh pria itu, melintasi gang sempit yang gelap dan berbau tidak sedap. Setiap langkah terasa seperti sebuah siksaan, sebuah pengingat akan seberapa jauh mereka telah jatuh dari puncak kehidupan mereka.

Begitu mereka masuk ke dalam kamar, udara pengap langsung menyambut mereka. Hanya ada sebuah kasur tipis di lantai, sebuah lemari kecil yang sudah reyot, dan sebuah jendela kecil yang tidak bisa dibuka. Ibu Melati segera terduduk di atas kasur, menutup wajahnya dengan kedua tangan, air mata kembali mengalir di pipinya yang sudah tidak lagi memakai riasan.

Siska melemparkan tasnya ke pojok ruangan, lalu ikut duduk di samping ibunya dengan tubuh yang gemetar karena menahan tangis. Bagas berdiri di tengah ruangan yang sempit itu, menatap dinding yang lembap dan retak, merasa seolah dunia telah menutup pintu baginya untuk selamanya.

Ia tahu bahwa besok pagi, mereka akan terbangun dalam realitas yang jauh lebih kejam, tanpa lagi memiliki kemewahan yang dulu mereka anggap sebagai hak mereka. Bagas menyadari bahwa hidup yang selama ini ia jalani hanyalah sebuah ilusi yang hancur berkeping-keping, meninggalkan dirinya dan keluarganya dalam kehancuran yang mutlak.

Ia mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimuti mereka di dalam kontrakan yang sempit tersebut. Di dalam keheningan malam, hanya terdengar suara napas yang berat dan isakan pelan dari Ibu Melati dan Siska, sebuah melodi duka yang akan terus menemani mereka di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!