Annisa menerima perjodohan kedua orang tuanya setelah mengetahui jika calon suaminya adalah cinta pertamanya.
Anissa yang awalnya bahagia berubah sedih ketika mengetahui bahwa suaminya sama sekali tidak mencintainya pada malam pertama mereka.
"Aku menikahimu hanya karena terpaksa. Aku telah memiliki seorang kekasih. Kami telah menjalin hubungan lebih dari 6 tahun. Jadi aku ingatkan, jangan berharap aku akan memberikan hak kamu sebagai istri."
Annisa memegang dadanya yang terasa sesak mendengar ucapan Farhan yang menusuk hatinya. Annisa mengira dia akan bahagia karena menikah dengan cinta pertamanya, tapi semua itu berubah setelah pernyataan yang membuat Anissa sadar. Bahwa dirinya tidaklah dicintai.
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan diriku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Enam. NTC.
Sherlin berdiri dari duduknya. Dengan berkacak pinggang menatap ke arah Farhan.
"Jangan berbelit Farhan, katakan saja satu kesalahanku yang membuat kamu ambil keputusan ini."
Farhan menatap ke arah Annisa. Istrinya itu tampak duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku nggak bisa menerima perselingkuhan yang kamu lakukan," ucap Farhan.
Sebenarnya Farhan tidak langsung mengatakan kesalahan Sherlin karena ada Annisa. Farhan malu jika Annisa tahu keburukan Sherlin.
Farhan tidak ingin Annisa akan tersenyum dan bertepuk tangan setelah tahu kalau wanita yang selama ini selalu dia banggakan ternyata tidak lebih dari seorang pecundang.
"Kamu nggak bisa menuduh aku tanpa bukti. Aku udah katakan jika pria-pria yang berfoto denganku selama ini hanyalah sekedar rekan kerja saja."
"Ini bukan rekan kerjamu. Aku mengenalnya bukan sebagai model," ucap Farhan sambil menunjukan foto-foto Sherlin dengan seorang pria pemilik majalah.
"Dari mana kamu dapatkan foto itu?" tanya Sherlin.
"Jadi benar selama ini kamu telah membohongi aku dengan berselingkuh!" ucap Farhan dengan suara lantang.
"Aku nggak berselingkuh. Itu hanya sekadar foto. Aku menghormati pria itu karena dia pemilik majalah dimana aku sering menjadi modalnya."
"Omong kosong. Jika hanya sekadar menghormati, kenapa harus berpose tidak senonoh."
"Bagi model itu foto biasa."
"Begitu kamu katakan biasa. Yang luar biasanya gimana?"
"Farhan, kita udah bicarakan ini. Jika mulai hari ini aku akan mengurangi foto di majalah dewasa. Kamu bisa menerimanya, tapi sekarang tiba-tiba kamu berubah. Jujur saja, apa yang terjadi?" tanya Sherlin.
"Yang terjadi adalah, hati ini udah tidak ada untukmu. Kita harus berpisah. Jalani kehidupan masing-masing."
"Aku tidak bisa terima semua ini."
Farhan berdiri dari duduknya. Saat ini Farhan dan Sherlin telah saling berhadapan.
"Aku mau kamu keluar, dan mulai hari ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku sudah pikirkan ini dari kemarin. Aku akan memulai hidup baru dengan istriku. Aku selama ini sudah banyak berdosa, menyiakan dan mempermainkan pernikahan. Aku harap kamu bisa terima."
"Aku tidak bisa terima. Kamu udah janji tidak akan pernah meninggalkan aku, apa pun itu yang terjadi. Saat kamu akan menikah, kamu mengatakan semua itu hanyalah pernikahan di atas kertas. Kamu akan tetap menungguku, mana bukti janjimu itu?"
"Kita sebagai manusia hanya bis berencana, Tuhan yang menentukan. Tuhan juga yang telah membolak balikan perasaan manusia. Yang kamu cintai hari ini bisa kamu benci dihari berikut, begitu juga sebaliknya. Yang kamu benci hari, ini bisa jadi akan kamu cintai esok. Bisa jadi Anda membenci sesuatu padahal itu adalah hal terbaik. Begitu pula sebaliknya, mungkin yang disukai justru buruk. Sesungguhnya Tuhan maha mengetahui yang tidak manusia pahami," ucap Farhan.
"Aku rasa cukup pembahasan kita. Jangan pernah datang lagi. Aku dan kamu jalani kehidupan masing-masing. Kamu masih tau jalan keluar dari rumah ini'kan?"
"Baiklah Farhan, aku akan keluar. Namun, bukan berarti aku menerima semua inibegitu saja. Kita harus bicara berdua. Aku tau kamu canggung bicara di depan wanita ini," ucap Sherlin menunjuk ke arah Annisa.
"Aku tau kamu masih mencintaiku. Saat ini hatimu ragu setelah melihat foto-fotoku, akan aku buktikan jika aku mencintaimu. Kita masih saling mencintai. Waktu enam tahun yang telah kita lalui tak akan mudah dilupakan begitu saja. Aku pamit. Aku harap kamu memikirkan sekali lagi keputusan ini," ucap Sherlin lagi.
"Buat kamu, jangan senang dulu ketika mendengar Farhan memutuskan aku. Saat ini dia hanya sedang kecewa."
Setelah mengucapkan itu dengan Annisa, Sherlin melangkah pergi. Farhan kembali duduk setelah melihat Sherlin yang menghilang dari pandangan. Farhan menatap Annisa yang masih tetap tenang duduk disampingnya.
...****************...
Bersambung