Cecil si wanita lemah ditemukan meninggal di sebuah gudang yang terbakar. Ternyata sebelum gudang dibakar, Cecil sudah diperkosa oleh seorang pemuda tak dikenal. Siapa sangka, Cecil malah terlahir kembali. Cecil memiliki semua ingatan di masa depan dan tubuhnya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Cecil pun merencanakan membalas semua teman-teman yang membullynya sampai membuatnya harus meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Black
Cecil
Lelaki berpakaian serba hitam itu menatapku dengan lekat. Ia lalu tersenyum misterius ke arahku. "Kamu tak kenal denganku? Padahal Sandy sudah memberitahumu kalau aku sering sekali berada di dekatmu."
Pak Sandy?
"Ka-kamu ... Black?" tebakku.
"Ya, Sandy biasa memanggilku seperti itu," jawab Black.
"Kok kamu ... ganteng sih?" tanyaku dengan polosnya.
Black mengernyitkan keningnya. "Ganteng? Kenapa dari sekian banyak pertanyaan, kamu mengajukan pertanyaan itu? Bodoh sekali!"
Kini gantian aku yang mengernyitkan keningku. "Aku tarik kembali ucapanku, ternyata kamu nyebelin. Sudah aku puji malah aku dikatai bodoh," keluhku.
Black menggelengkan kepalanya. Tunggu, kenapa aku bisa melihat Black? Bukankah Pak Sandy bilang kalau aku tak bisa melihat Black karena di masa depan aku sudah meninggal? Kalau aku bisa melihat Black berarti ....
Aku memeriksa tanda di pergelangan tanganku. Hilang. Lenyap tak tersisa. Kok bisa?
"Kenapa? Baru sadar? Itulah kenapa aku menyebutmu bodoh!" ujar Black.
"Kok hilang? Kamu ambil ya?" tanyaku lagi.
Black kembali menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku mengambilnya? Oh God, kenapa kamu sebodoh ini sih? Pantas saja kamu meninggal di masa depan. Bodohmu tingkat akut!"
Aku menatap sinis ke arah Black yang habis mengataiku. "Ish, malaikat macam apa yang suka mengatai manusia?"
"Aku bukan malaikat tuh," balas Black.
"Iya sih, tidak mungkin Tuhan menciptakan malaikat menyebalkan macam kamu," balasku tak mau kalah. Sebenarnya aku kesal dengan sosok Black ini. Pak Sandy bilang dia selalu mengikutiku namun aku tak pernah bisa melihatnya. Aku jadi bertanya-tanya, apakah dia juga mengikutiku saat aku berada di kamar mandi? Secara spontan aku menutup dadaku dengan kedua tanganku.
"Apa yang kamu pikirkan? Jangan kamu pikir aku makhluk mesum macam kalian ya!" kata Black.
Bagaimana ia bisa tahu apa yang kupikirkan. "Ya ... siapa tahu saja. Jadi, kemana tanda di lenganku? Benarkah hilang atau berpindah ke orang lain? Jangan katakan kalau tanda ini pindah ke Anita?"
"Aku tak mau jawab," kata Black.
"Ish ... pelit sekali." Aku harus tahu jawabanya. Bertengkar dengan Black tak membuat semua jadi jelas. Aku harus baik padanya kalau mau mendapat semua jawaban yang aku ingin tahu. "Black, Pak Sandy bilang, kamu sebenarnya baik ya? Bisa kasih tahu aku, tanda di lenganku pindah atau benar-benar menghilang?"
"Sandy tak pernah mengatakan seperti itu. Tak usah berbohong! Aku selalu berada di sisimu saat kamu bertemu Sandy," balas Black.
Ih ... nyebelin banget sih makhluk satu ini. Dibilang malaikat bukan, setan pun bukan. Dia tidak terlalu baik dan tidak sejahat setan. Siapa sih dia?
"Ya ... itu pendapatku. Kamu itu sebenarnya baik, kamu pasti mau menjawabku, apa yang sudah terjadi? Please ... kasih tahu aku ya, Black yang baik," kataku dengan mulut manis.
Black menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Aku tahu kamu berbohong. Kamu tak tulus memujiku. Tak apa, aku hargai usahamu. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan. Kamu cukup menonton apa yang sebenarnya sudah terjadi. Kamu tak bisa berbuat apa-apa jadi jangan buang-buang tenaga."
"Mengajakku kemana-" Belum selesai aku berbicara, aku seolah berpindah tempat. Aku tiba-tiba berada di rumah Lisa. Kenapa aku bisa berada di tempat ini?
Aku mencari keberadaan Black tapi makhluk itu tak ada. Gawat kalau aku sampai ketahuan. Aku hendak pergi dari rumah Lisa namun aku tak sengaja berpapasan dengan salah seorang pelayan-nya.
Aku pasrah saja. Tak mungkin kabur lagi, bisa diteriaki maling. Pelayan itu berjalan mendekat ke arahku namun ia melewatiku begitu saja. Rupanya ia tak bisa melihatku. Jadi ini yang dikatakan Black kalau aku tak perlu buang-buang tenaga.
Aku menuruni anak tangga dan berhenti di depan sebuah ruangan. Aku masuk ke dalamnya seperti hantu yang bisa menembus dinding. Wow, amazing.
"Pak, maaf kalau kedatangan saya mengganggu Bapak." Aku kenal sekali dengan suara ini. Aku mendekat dan terkejut melihat Papa-ku sendiri. Apa yang Papa lakukan di dalam ruangan ini?
"Tak apa. Katakan saja apa tujuanmu. Tak perlu berbasa-basi," kata Pak Anggada.
Wajah Papa terlihat sedih. Kasihan Papa, pasti banyak beban yang ia tanggung. Melihat penampilan Papa, aku langsung menebak kalau aku berada di masa kami hidup miskin alias masa depan. Papa mengenakan seragam kerja milik PT Anggada. Dengan nada memelas, Papa meminta tolong pada Pak Anggada. "Istri saya sedang sakit. Boleh saya meminjam uang untuk membawa istri saya ke dokter, Pak? Saya janji akan menggantinya."
Mama sakit? Oh iya, aku ingat. Papa waktu itu mengusahakan uang untuk biaya berobat Mama sampai rela meminjam dari Pak Anggada. Berarti kejadian ini yang seharusnya terjadi pada Papanya Anita jika tadi siang aku tidak menolongnya. Aku mulai mengerti sedikit demi sedikit.
Papa berterima kasih setelah mendapat pinjaman uang. Aku mengikuti Papa dan ikut berhenti di taman saat melihat Lisa dan Leon bertengkar hebat. Papa bersembunyi di belakang pohon, pasti tak mau mengganggu anak majikannya yang sedang marah besar.
"Kamu yang harus tanggung jawab, bukan aku!" kata Lisa dengan emosi.
"Kenapa hanya aku? Kamu juga turut serta. Kamu ada di sana malam itu. Kamu juga yang membantu menguburkan mayat anak itu. Kita tanggung berdua, bukan hanya aku seorang!" balas Leon tak kalah emosi.
"Dasar laki-laki egois!"
"Kamu juga egois!"
Aku kini melihat ke arah Papa yang terkejut. Secara tak sengaja Papa mundur dan menginjak kaleng bekas cat sampai jatuh.
Aku menahan nafas dan berdoa agar Papa tidak ketahuan. Sayangnya, Leon dan Lisa sadar kalau bukan hanya ada mereka berdua namun ada orang lain. Leon dan Lisa berjalan mendekat. Mereka lalu mengancam Papa.
"Saya permisi!" Papa hendak pergi namun Leon mencekal pergelangan tangannya.
"Mau pergi? Enak saja!"
"Sa-saya tidak dengar apapun," kata Papa.
"Tak usah berbohong!" kata Leon dengan emosi.
"Sa-saya janji tak akan beritahu siapapun!" kata Papa dengan wajah ketakutan.
"Bapak pikir kami percaya?" Leon menatap Papa dengan tatapan penuh ancaman.
"Leon, kamu mau apa?" Lisa berusaha menenangkan Leon yang terlihat terbakar emosi.
Kasihan sekali Papa. Pasti Papa amat ketakutan diancam oleh anak orang kaya. Papa sudah susah, kenapa harus berurusan dengan anak orang kaya yang tidak bertanggung jawab macam Leon? Aku tak bisa menolong Papa. Aku hanya bisa menangis melihat Papaku tertekan seperti itu.
"Dia sudah tahu apa yang kita lakukan. Kalau dia membocorkannya ke semua orang bagaimana?" kata Leon dengan emosi pada Lisa.
"Kamu jangan melakukan hal gila lagi. Sudah cukup!" kata Lisa.
"Apa kamu bisa menjamin kalau dia tak akan membocorkan rahasia kita?" tanya Leon pada Lisa.
Lisa terdiam.
"Tak bisa, bukan?" Leon kembali menatap Papa yang nampak ketakutan bak kelinci yang diapit dua singa.
"Saya tak akan memberitahu siapapun. Saya janji!" Papa memohon agar dilepaskan.
"Leon, dia adalah Papanya Cecil. Kalau dia berani membocorkan rahasia kita, Cecil yang harus bertanggung jawab menggantikannya!" kata Lisa yang berusaha menghentikan Leon.
"Boleh juga. Awas saja jika kamu berani membocorkannya!" Leon melepaskan Papa setelah Papa berjanji tak akan mengatakan pada siapapun. Papa lalu pergi dengan ketakutan.
Sialan dua orang itu! Berani sekali mereka pada Papa, dasar tidak hormat pada orang tua! Darahku seakan mendidih melihat Papaku diperlakukan seperti itu. Awas saja kalian!
"Sudah emosi?" Black tiba-tiba muncul. "Tahan emosimu, sebentar lagi kamu akan lebih emosi lagi."
****