JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidangan Aneh Sang Babu
# Hidangan Aneh Sang Babu #
Aroma gurih yang teramat pekat menguar memenuhi seluruh sudut aula perjamuan Istana Teluk Bayangan. Di atas meja-meja koral yang dilapisi kain sutra perak, terhidang piring-piring emas berisi steak tebal berkuah merah kecokelatan yang tampak begitu menggugah selera. Asap tipis yang membubung membawa wangi rempah samudra yang sangat kaya, memanjakan hidung siapa pun yang berada di ruangan tersebut.
Aku berdiri tegap di sudut paling ujung ruangan, tidak jauh dari meja khusus Pangeran Nataniel. Kedua tanganku terlipat rapi di depan dada dengan jemari yang saling bertaut lembut. Di balik raut wajahku yang tenang dan tunduk, dada ku bergemuruh oleh rasa percaya diri yang teramat tinggi.
("Sempurna,") bisik batinku penuh kepuasan seraya mengulas senyuman tipis yang tak terlihat. ("Kombinasi serat Jamur Karang Sirip Purba dan keempukan juicy dari fillet Ikan Tuna Lemak Merah itu benar-benar luar biasa! Bumbu saus koral merah yang kubuat sanggup meresap hingga ke serat paling dalam, menciptakan rasa gurih, sedikit manis, dan rempah yang sangat meledak di lidah. Siapa pun tidak akan menyangka bahwa ini murni bahan nabati dan ikan purba, bukan daging manusia!")
Aku melirik ke arah Selir Lyra dan belasan selir lainnya yang duduk di jajaran meja samping. Selir Lyra menyunggingkan senyuman culas dan licik, menatapku dengan sudut mata yang memancarkan keyakinan penuh bahwa aku sebentar lagi akan dieksekusi karena menolak memasak, atau menjadi gila karena merasa bersalah. Mereka sama sekali tidak tahu bahwasanya piring emas di hadapan mereka tidak mengandung setetes pun darah atau daging manusia!
Pangeran Nataniel duduk anggun di tahta utamanya di ujung meja perjamuan. Jubah peraknya terhias indah, dan wajah tampannya tampak dingin tanpa ekspresi. Di sisi kiri dan kanannya, belasan Menteri Kerajaan bersisik emas dan para panglima perang bertubuh raksasa telah siap menikmati santapan malam.
"Silakan dinikmati, Paduka, para Menteri, dan para Selir yang terhormat," ujar Selir Lyra dengan suara mendayu-dayu yang penuh kepura-puraan. "Babu manusia kerdil ini telah bekerja keras di dapur bawah tanah untuk menyajikan olahan daging istimewa bagi kita semua malam ini."
Para Menteri yang sudah kelaparan setelah sidang panjang tanpa ragu memotong steak tebal berkuah merah tersebut menggunakan pisau perak mereka. Potongan daging empuk yang kaya serat itu meluncur masuk ke dalam mulut para pejabat tinggi samudra tersebut.
Aku menahan napas sejenak, menantikan pujian berhamburan atas mahakarya kuliner ku.
Namun... apa yang terjadi selanjutnya justru berada di luar kalkulasi paling liar di dalam kepalaku!
Begitu potongan daging itu dikunyah oleh para Menteri, raut wajah mereka seketika berubah drastis! Tidak ada binar kepuasan, tidak ada desahan nikmat. Sebaliknya, wajah bersisik emas para pejabat tinggi itu memerah padam, disusul oleh mata yang membelalak lebar penuh rasa jijik dan kemarahan yang meluap-luap!
*PLEHH!*
Menteri Utama Kerajaan, seorang duyung tua bertubuh raksasa bersisik emas, melepehkan potongan makanan itu dari mulutnya tepat ke atas piring emas dengan raut wajah teramat mual!
"SAMPAH APA INI?!" jerit Menteri Utama dengan suara menggelegar yang menggetarkan pilar-pilar kristal aula!
*BRANGGG!*
Dalam hitungan detik, gema amukan pecah di seluruh aula perjamuan! Para Menteri dan panglima perang menghentakkan piring-piring emas mereka hingga pecah terhempas ke lantai kristal! Makanan yang kubuat dengan teramat telaten dilempar secara brutal ke sembarang arah!
"Busuk! Ini bukan rasa daging manusia yang segar!" taring salah satu panglima perang mencuat tajam seraya menggeram murka. "Rasanya aneh! Bumbu apa ini?! Manis dan gurihnya teramat ganjil! Ini makanan sampah yang menghina lidah para pejabat Istana Teluk Bayangan!"
"Biadab! Berani-beraninya ada hidangan semacam ini disajikan di meja perjamuan kerajaan!" seru Menteri lainnya seraya bangkit berdiri, matanya menyala merah oleh amarah yang membakar.
Aku terperanjat kaku! Seluruh aliran darah di tubuhku serasa membeku seketika!
Jantungku berdegup begitu kencang hingga tenggorokanku menyempit. Tubuhku gemetaran hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasa percaya diri yang tinggi tadi runtuh tak berbekas, berganti dengan ketakutan yang teramat nyata dan melumpuhkan.
("Ya Tuhan... mereka mengamuk!") jerit batinku histeris, panik setengah mati. ("Apakah mereka tahu? Apakah lidah monster-monster ini sanggup membedakan serat jamur dan ikan dari daging manusia?! Apakah penyamaranku terbongkar?! Mampus kau, Alessia! Mampus!")
Di saat aula meledak oleh amukan dan makian para pejabat, aku melirik ke arah Pangeran Nataniel dengan sudut mata yang bergetar.
Nataniel tidak melepehkan makanan dari mulutnya, tidak juga melemparkan piring emasnya. Pangeran iblis itu hanya meletakkan pisau peraknya dengan pelan. Pria perkasa itu terdiam kaku di atas tahtanya, namun raut wajahnya berubah menjadi teramat menakutkan. Iris mata keemasannya memancarkan kilat dingin yang begitu pekat, membekukan atmosfer di sekitarnya hingga tak ada seorang pun yang berani menatap langsung ke arahnya.
Melihat kekacauan dan amukan para Menteri, Selir Lyra dan kelompoknya tidak bisa menyembunyikan rasa puas yang meluap-luap. Mereka meledakkan tawa mengejek yang teramat renyah, memanfaatkan momen amukan ini untuk menghancurkanku sepenuhnya!
"Lihatlah! Manusia kerdil itu telah menghina kita semua!" seru Selir Lyra seraya melompat bangkit dari kursinya, menunjuk wajahku yang pucat pasi dengan kuku tajamnya. "Dia menyajikan makanan sampah yang menjijikkan untuk Paduka dan para Menteri! Dia sengaja ingin meracuni dan merusak selera makan Penguasa Lautan!"
"Hukum dia! Bunuh babu busuk itu sekarang juga!" teriakan para selir lainnya bersahut-sahutan memprovokasi suasana.
Menteri Utama yang sudah gelap mata oleh amarah mendadak memutar tubuh raksasanya ke arahku. Sisik emas di lengannya tegang bergetar, dan tangan besarnya meraih sebuah tombak perak milik pengawal di sampingnya.
"Manusia kerdil tak berguna! Kau harus membayar penghinaan ini dengan nyawamu!" Raung Menteri Utama seraya melangkah cepat menerjang ke arahku!
"Ampun! Ampuni hamba!" jeritku kaget luar biasa seraya melangkah mundur hingga punggungku terhempas rapat di dinding karang.
Ujung tombak perak yang tajam itu meluncur kencang mengincar dadaku! Hawa kematian yang dingin menyengat kulitku. Aku memejamkan mata rapat-rapat, merapatkan tubuhku ke dinding seraya bersiap menerima takdir bahwa hidupku akan berakhir di tempat biadab ini!
Namun, sepersekian detik sebelum mata tombak itu merobek kulit dadaku...
*DUMMM!*
Sebuah tekanan sihir gravitasi yang teramat masif dan dahsyat meledak dari ujung meja utama! Gelombang sihir perak tak terlihat menyapu seluruh aula perjamuan dengan kecepatan kilat!
*CRACKKK!*
Tombak perak di tangan Menteri Utama seketika hancur berkeping-keping menjadi debu! Seluruh Menteri, pengawal, dan para selir yang sedang berteriak mendadak terhempas kaku ke lantai, tidak sanggup bergerak satu milimeter pun akibat tekanan sihir yang menghujam tubuh mereka!
Keheningan yang teramat mencekam dan membekukan seketika menguasai seluruh ruangan. Amukan para pejabat dan tawa mengejek para selir terhenti secara drastis.
Nataniel perlahan bangkit berdiri dari tahtanya. Jubah peraknya melambai pelan, dan aura kematian dari tubuhnya memancar begitu pekat hingga membuat lampu-lampu kristal redup memudar.
Pangeran iblis itu tidak menatap para Menteri yang ketakutan. Iris mata keemasannya yang dingin meluncur lurus menembus mataku yang masih terpejam gemetar di sudut dinding.
"Siapa..." suara Nataniel mengalun rendah, dalam, namun sanggup meremukkan saraf siapa pun yang mendengarnya. "...siapa yang menyuruh babu manusiaku memasak di dapur bawah tanah malam ini?"
Suasana menjadi teramat kaku. Tekanan aura Nataniel membuat para pejabat menahan napas dalam-dalam.
Melihat pertanyaan Nataniel, Selir Lyra yang berada di barisan depan justru tersenyum lebar di dalam hatinya. Ia mengira Pangeran Nataniel sedang murka besar pada Alessia dan mencari tahu kronologi agar bisa mengeksekusi babu manusia itu secara langsung!
Dengan rasa percaya diri yang teramat tinggi, Selir Lyra melangkah maju dua tapak, membungkuk anggun dengan raut wajah penuh kemenangan yang siap menyaksikan kematianku.
"Hamba, Paduka yang Mulia," ujar Selir Lyra dengan nada suara yang sengaja dibuat bangga dan penuh kepatuhan. "Hamba yang memerintahkan babu kerdil ini untuk menyiapkan olahan daging di dapur bawah tanah. Hamba berniat memberinya kesempatan untuk berbakti pada Paduka dan para petinggi, namun ternyata dia justru menyajikan makanan sampah yang menghina Paduka..."
*SREETTT!*
Kalimat Selir Lyra tidak pernah selesai!
Sebelum ada satu orang pun di dalam aula yang sanggup menyadari pergerakannya, figur tegap Nataniel telah melesat bagaikan kilat merah, berpindah tempat dan berdiri tepat di hadapan Selir Lyra!
Tangan raksasa Nataniel yang dilapisi sihir perak meluncur cepat, mencengkeram erat leher halus Selir Lyra!
*Sstttl!*
"Pa... Paduka...?" cicit Selir Lyra gagap, mata cantiknya membelalak lebar oleh rasa syok dan ketakutan yang mendadak meledak di dadanya.
Nataniel tidak memberikan kesempatan sedikit pun untuk penjelasan, permohonan ampun, atau helaan napas. Matanya menatap Selir Lyra tanpa ada sebersit pun rasa kasihan.
*KRAKKK!*
Bunyi patahan tulang leher yang teramat nyaring dan mengerikan menggelegar menembus keheningan aula! Nataniel mematahkan leher Selir Lyra secara brutal dalam satu sentakan kuat!
Tubuh indah Selir Lyra seketika terkulai lemas tanpa nyawa. Nataniel melepas cengkeramannya dengan dingin, membiarkan mayat selir cantiknya itu terhempas jatuh tak berdaya ke atas lantai kristal!
Seluruh aula perjamuan membeku dalam horor yang teramat dahsyat!
Di barisan depan para pejabat, Menteri Hukum bersisik emas, yang merupakan ayah kandung dari Selir Lyra, melotot dengan mata memerah dan tubuh gemetar kaku melihat putri kesayangannya tewas dieksekusi secara mendadak di depan matanya sendiri!
Nataniel melangkah melangkahi mayat Lyra, lalu mengalihkan pandangannya ke arah para petinggi yang masih mematung horor.
"Ada yang ingin mengkritik cara bertindakku?" tanya Nataniel dingin.
⭐ ⭐⭐⭐⭐
Sumpah! Bener-bener plot twist dan mampus banget buat Selir Lyra Kiravers! 😱 Nataniel tanpa ragu langsung mematahkan leher Lyra di depan ayahnya sendiri!
Penasaran gimana nasib Alessia setelah kejadian mengerikan ini dan apa alasan sebenarnya Nataniel membela Alessia?
Yuk, langsung lanjut baca Bab 20 sekarang juga! ✨