Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Flora VS Stella
Pelataran halaman tengah akademi telah dipadati oleh kerumunan siswa sejak pagi buta. Area tengah sudah didesain ulang sedemikian rupa, permukaan batu dibersihkan hingga hanya menyisakan bentangan tanah padat yang diratakan.
Di sekelilingnya dipasangi rantai pembatas agar tidak ada penonton yang menerobos masuk. Tak jauh dari tepi arena, deretan meja dan kursi kayu berukir disiapkan khusus untuk jajaran dewan dan tamu kehormatan.
Jadwal kelas pagi dikosongkan total, membebaskan seluruh murid biasa agar bisa menyaksikan turnamen. Kedelapan Aetherist muda sudah berdiri di tepi pelataran, mengenakan seragam olahraga ketat berdesain fleksibel yang membungkus lekat tubuh mereka demi mempermudah pergerakan.
"Baiklah, Anak-Anak! Hari yang kita nantikan akhirnya tiba. Ingat pesanku: bertanding lah secara sportif, bersih, dan utamakan keselamatan!" Seru Profesor Ignatius memberikan pengarahan pembuka.
Seraphina dan Profesor Alistair sudah menduduki bangku kehormatan di barisan depan, berdampingan dengan para bangsawan netral Asteria, termasuk Cassian Vance.
"Ayo, Putri Stella! Tunjukkan keanggunan dan kekuatan Aetherist dari Solaria!" seru Cassian menyuarakan dukungannya dari tribune. Sorakan itu disambi senyum dan lambaian dari sang putri.
Profesor Alistair bangkit berdiri, menyapu pandangan ke sekeliling lapangan. "Para tamu dan murid akademi sekalian! Hari ini, untuk pertama kalinya para Aetherist muda kita akan menjajal adu ketangkasan dan kekuatan fisik. Turnamen ini tidak diselenggarakan untuk mencari siapa yang paling unggul, melainkan untuk menguji sejauh mana adaptasi dan kapasitas fisik mereka masing-masing!"
Tepuk tangan meriah membahana menggelegar di seluruh lapangan.
"Kita akan memulai laga perdana dalam waktu lima menit. Pertandingan pembuka pagi ini, Stella dari Solaria melawan Flora dari Verdantia!" Profesor Ignatius mengumumkan.
Para Aetherist muda bergeser mundur ke luar garis pembatas menuju bangku peserta yang disediakan.
"Semangat, Flora! Kau pasti bisa melaluinya!" bisik Airyn mengepalkan tangan memberi dukungan. Flora hanya tersenyum tipis nan canggung.
Airyn melangkah bersama William menuju barisan bangku peserta. Namun saat menuju tempat duduknya, mata Airyn menangkap sosok Fin yang tengah terlibat adu mulut sengit dengan seorang murid akademi di luar rantai pembatas.
"Kenapa kau sibuk mendukung gadis air itu, Fin? Sudah jelas dia akan kalah dari Emery!" cetus seorang murid laki-laki pada Fin.
"Hei! Terserah aku mau mendukung siapa! Apa urusanmu, hah?!" sahut Fin tak mau kalah.
"Fin!" panggil Airyn melangkah mendekat.
Murid laki-laki yang menjadi lawan bicara Fin seketika gelagapan mendapati kehadiran Airyn, lalu ngacir melarikan diri ke dalam kerumunan.
"Oh... Airyn!" Binar gembira seketika memancar di wajah Fin. Namun senyuman itu meredup tipis saat ia menangkap sosok William yang berdiri di belakang Airyn dengan raut wajah datar.
"Apapun yang terjadi nanti, bagiku kau sudah menjadi pemenangnya hari ini, Airyn," pangkas Fin menyuarakan dukungannya dengan tulus. Airyn menyunggingkan senyum hangat mendengarnya.
"Terima kasih banyak, Fin..."
"Ayo, kita harus segera menduduki bangku tunggu. Laga sebentar lagi dimulai," pangkas William menyela, menepuk pelan bahu Airyn agar terus melangkah maju dan menyudahi obrolannya dengan Fin.
Airyn melambaikan tangan pamit pada Fin, sementara William mendorong pelan punggungnya agar bergegas. Kedelapan Aetherist menduduki deretan bangku peserta. Teira sudah duduk lebih dahulu di baris belakang, Airyn menduduki posisi tengah diapit William di sisi kirinya. Andrew dan Snow menempati barisan depan, sementara Emery duduk di bangku depan persis di hadapan William.
Kini, seluruh pasang mata tertuju pada arena utama, dimana sesaat lagi pertandingan antara Flora melawan Stella dimulai.
Kedua gadis itu sudah berdiri berhadapan di tengah arena. Profesor Ignatius melangkah ke tengah sebagai wasit resmi. Aturan pertarungan ini membebaskan variasi seni bela diri apa pun, berfokus penuh pada respons fisik, teknik, dan daya tahan.
"Aturannya sederhana, siapa yang jatuh dan tidak sanggup bangkit kembali dalam hitungan sepuluh detik, maka dinyatakan kalah!" tegas sang profesor.
Flora dan Stella mengangguk, tanda keduanya sama-sama paham.
"Dalam hitungan... satu... dua... tiga..."
PRRRIIIITT!
Suara peluit melengking membelah udara. Kedua gadis di arena seketika merapatkan kuda-kuda mereka.
Stella yang lebih dulu meluncurkan pukulan. Flora dengan refleks yang baik melangkah mundur, berhasil menghindar tipis sebelum tinju Stella mengenai wajahnya.
Atmosfer di sekeliling pelataran makin memanas. Ratusan murid akademi bersorak-sorai riuh memberikan dukungan.
"Cih! Jangan terus-terusan melarikan diri, Flora!" geram Stella gusar. Ia mengikis jarak dan kembali melepaskan kombinasian pukulan beruntun.
Meski Flora pada dasarnya memiliki kepribadian pemalu, namun saat sedang bertarung matanya memancarkan ketenangan yang luar biasa. Dengan cermat, gadis bersurai merah muda itu menangkis dan menghindar, membiarkan Stella menguras tenaganya lewat serangan-serangan bertubi-tubi.
"Ayo, Flora! Teruskan!" seru William mendadak bangkit berdiri, memberi dorongan semangat. Airyn yang menyaksikan aksi William tak mau kalah, ikut melambaikan tangan tinggi-tinggi. "Semangat, Flora! Kau luar bisa!"
"Stella! Terus serang dia sampai terpojok!" Emery yang tak mau kalah menyerukan dukungan untuk teman sekamarnya.
Di arena, duel berlanjut sengit. Flora bertahan konsisten pada pola menangkis dan menghindar, sementara Stella makin menggebu-gebu melancarkan pukulan, tendangan, dan tebasan lengan.
PRRRIIIITT!
"Istirahat lima menit!" pangkas Profesor Ignatius saat melihat napas kedua gadis itu mulai terengah-engah dan mengucurkan keringat di dahi masing-masing.
Keduanya menepi menuju sudut lapangan. Paman Barnaby dan petugas kantin bergegas menyerahkan botol air segar. Tim medis akademi bersiaga penuh memeriksa kondisi vital kedua peserta.
Flora dan Stella meraup pasokan air dengan cepat. Napas mereka memburu, membasahi dahi dan leher yang dipenuhi bulir keringat. Tim medis memastikan tidak ada cedera organ sebelum mengizinkan mereka melanjutkan laga.
"Baik, kita lanjutkan round kedua!" seru Profesor Ignatius memanggil kedua peserta kembali ke tengah.
Stella dan Flora bangkit melangkah mendekat ke arah sang profesor yang sudah menunggu keduanya di tengah arena.
"Siap?"
Keduanya mengangguk tegap dengan kepalan tangan terangkat di depan dada.
"Mulai!" Ignatius melompat mundur.
Stella langsung melancarkan serangan kejutan secepat kilat. Kelelahan yang melanda membuat gerakan Flora perlahan melambat, membuatnya kesulitan untuk terus-terusan mengelak dari jangkauan Stella.
"Habislah kau sekarang!" seru Stella keras. Dengan sisa tenaganya, Stella melayangkan tebasan kaki bagian bawah, menjegal tumpuan Flora!
BRUK!
Flora tersungkur jatuh di atas tanah keras. Tangan kanannya refleks menumpu berat tubuhnya terlebih dahulu untuk menahan benturan.
KREK!
Sebuah sensasi ngilu menusuk persendiannya. Flora mencoba bangkit, namun pergelangan tangan kanannya memar hebat dan terasa kaku tak bertenaga akibat kesalahan tumpuan.
"Satu... dua... tiga..." Profesor Ignatius mulai menghitung waktu.
Flora terduduk pasrah di atas tanah, memegangi lengan kanannya yang membengkak pelan.
"Flora! Ayo bangkit, Flora!" seru William terus menyuarakan semangat dari sudut tribune. Namun Flora menggeleng pelan, tak sanggup lagi memaksakan tubuhnya.
"...sembilan... sepuluh!"
PRRRIIIITT!
Peluit panjang bergema menandai berakhirnya laga pembuka.
"Pemenang pertandingan ini, Stella dari Solaria!" seru Profesor Ignatius mengangkat lengan gadis itu tinggi-tinggi.
Stella menyunggingkan senyum kemenangan dan bersorak gembira. Emery melompat kegirangan menerobos garis, merangkul erat Stella seraya meloncat bersama diiringi gemuruh tepuk tangan dan sorakan penonton.
Sementara itu, Airyn langsung bangkit dari bangkunya dan berlari kencang menghampiri Flora yang masih terduduk memegangi lengannya.
"Flora!" seru Airyn cemas seraya berlutut di samping sahabatnya.
"Kau tidak apa-apa?!"
"Aku tidak apa-apa, Airyn... Sepertinya pergelangan tanganku terkilir cukup parah," bisik Flora menahan sakit.
"Segera bawa Flora ke Ruang Pengobatan di gedung keempat lantai 2, tepat di sebelah ruang profesor, Airyn!" pangkas Seraphina yang mendadak sudah berdiri di dekat mereka, matanya cermat memindai cedera Flora.
"Baik, Profesor!" Airyn bergegas merangkul dan membantu Flora berdiri.
"Aku ikut dengan kalian!" sela William melangkah mendekat.
"Pertandingan kedua akan dimulai dalam sepuluh menit, Andrew dari Ashforge melawan William dari Galecrest!" Profesor Ignatius mengumumkan peserta berikutnya.
Langkah William terhenti seketika.
"Kau tetap di sini, William. Persiapkan dirimu untuk bertanding! Maaf, aku dan Flora mungkin tidak bisa menonton lagamu," pangkas Airyn tegas seraya memapah Flora.
"Ya... tidak apa-apa. Semoga cederamu tidak parah, Flora!" ujar William pasrah lalu berbalik melangkah menuju arena.
Airyn membimbing Flora menelusuri pelataran menuju ruang pengobatan, sementara gemuruh sorak penonton kembali membahana menyambut laga sengit antara Andrew dan William.