NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Sementara di belahan bumi lain, ribuan kilometer dari dinginnya kota Edinburgh, hangatnya sinar matahari pagi menyiram sebuah rumah bergaya tropis yang asri di Indonesia.

Aroma teh melati yang mengepul hangat dan harum pandan dari kue buatan rumah memenuhi area teras belakang.

Di meja teras, seorang pria paruh baya sedang duduk santai menyesap tehnya seraya membaca koran pagi.

Tak lama, Istrinya melangkah keluar membawa nampan berisi camilan hangat, lalu duduk di kursi seberang.

Gimana, Yah?" tanya sang istri, meletakkan nampan camilan di atas meja kayu.

"Apa teman Ayah sudah memberi kepastian soal ajakan perjodohan dengan putri sulung kita?"

Pria itu meletakkan cangkir tehnya, lalu helai napas panjang seraya merapikan letak koran di pangkuannya.

"Beliau sangat menyambut baik ajakan kita, Bu," sahut suaminya tenang. "Tapi saat ini beliau masih mempertimbangkan jawaban dari anaknya terlebih dahulu."

"Mempertimbangkan jawaban anaknya? Maksudnya, dia belum setuju?"

"Bukan belum setuju, Bu. Dia sangat menghargai keputusan anaknya. Apalagi mereka ada anak kecil yang harus di jaga, jadi...dia tidak bisa memutuskan secara sepihak."

Ibunya mengangguk-angguk paham. "Iya sih, Yah... Bagus kalau orang tuanya bijaksana begitu. Tapi... apa Melani sudah tahu soal ini? Maksud Ibu, soal calonnya yang punya anak?"

"Jangan pernah bilang hal ini sama Melani." Jawab sang suami tegas.

"Lho, kenapa begitu, Yah?" tanya istrinya kaget.

 "Kasihan Melani kalau dia tidak tahu apa-apa—"

"Ibu lupa kenapa Melani bisa sampai frustrasi dan berbuat sembrono seperti sekarang?!" potongnya.

 "Melani itu mentalnya lagi jatuh gara-gara masalah kemarin! Kalau kita kasih tahu calon suaminya sudah punya anak, dia pasti bakal makin banyak alasan, menolak, dan malah bikin pikiran kita makin pusing!"

 "Tapi kalau nanti Melani kaget setelah menikah bagaimana, Yah..."

"Ayah yakin, Melani itu penyayang. Begitu sudah sah dan melihat anak kecil itu, naluri keibuannya pasti bakal keluar sendiri," tegas suami tanpa ragu.

"Lagi pula, kita juga sama sekali tidak membocorkan rahasia dan kondisi Melani yang sebenarnya ke keluarga mereka kan? Jadi adil!"

Istrinya menghela napas berat, tak berani membantah lagi ketegasan suaminya.

"Terus... bagaimana dengan Aisha, Yah?" tanya Ibunya pelan. "Apa sebaiknya kita hubungi dan kabari dia? Biar dia tahu kalau kakaknya mau menikah?"

"Tidak perlu, Bu. Aisha tidak boleh tahu dan tidak boleh pulang!"

"Lho, Yah?! Aisha itu adik kandungnya! Masa Mbaknya mau nikah, dia sama sekali tidak diberi tahu?"

"Ibu lupa kenapa Melani bisa sampai seperti itu?!" cetus sang suami.

"Selama ini Melani merasa tersaingi oleh Aisha. Aisha itu jauh lebih berpendidikan, mandiri, dan punya daya tarik sendiri," bisiknya penuh penekanan.

 "Kalau Aisha pulang nanti, lalu calonnya Melani melihat Aisha dan tahu semuanya... bisa-bisa pria itu malah terpikat sama Aisha! Kalau sampai pria itu batal nikah sama Melani dan malah mau menikah dengan Aisha, Melani bakal semakin hancur dan sakit hati, Bu! Ibu mau Melani makin gila?!"

Ibunya hanya terdiam.

"Biarkan Aisha tetap di sana," lanjut Ayahnya dingin. "Lagipula selama ini, kita juga memang tidak pernah menelepon atau menghubungi dia kan? Biarkan tetap seperti itu! Jangan ada satu pun telepon dari kita ke Aisha sampai seluruh proses pernikahan Melani ini selesai!"

"Baik, Yah... kalau menurut Ayah itu jalan yang terbaik..."

**

Udara kota Edinburgh terasa menusuk tulang. Kabut tipis masih menggantung di atas jalanan saat Aisha sengaja melangkah lebih cepat menyusuri koridor gedung kantornya yang masih sangat sepi.

Namun, begitu mendekati pintu ruang divisinya, langkah Aisha terhenti.

Di depan pintu ruangannya yang masih terkunci rapat, berdiri seorang pria berjas rapi. Pria itu tampak bertingkah sangat aneh, ia terlihat mengintip melalui celah kaca jendela pintu yang samar-samar.

Aisha mengerutkan dahi, mengamati gerak-gerik mencurigakan itu dari jarak beberapa meter.

"Apakah ada penyusup pagi-pagi begini? ' batin Aisha seraya berjinjit mendekat secara perlahan.

Aisha mengepalkan tangan, siap melayangkan tas ransel tebalnya jika pria itu bertindak berbahaya.

Begitu jarak mereka tinggal selangkah, Aisha menyilangkan tangan di dada lalu bertanya dengan nada penuh selidik.

"Excuse me... what are you doing?"

Pria itu tersentak hebat. Ia buru-buru berbalik dengan gerakan cepat nan kaku.

Mata Aisha seketika membelalak bulat. "P-Pak Anton?!"

Pria yang berdiri kaku di hadapannya dengan wajah yang mulai merona merah itu tak lain adalah bosnya sendiri. Anton, yang ketahuan basah kuyup sedang mengintip ruangan kosong, berusaha setengah mati menguasai dirinya. Ia buru-buru merapikan kerah jas dan berdehem beberapa kali untuk menutupi rasa malu yang luar biasa.

"Ehem! A-Aisha..." sapa Anton. "Kamu... sudah datang?"

"Aduh! Maaf, Pak! Saya benar-benar tidak tahu kalau itu Bapak!" ucap Aisha seraya membungkuk-bungkuk canggung.

"Saya pikir tadi ada... ada orang asing yang mau mencuri atau gimana! Maafkan saya, Pak Anton!"

"Tidak apa-apa! Tidak masalah," potong Anton cepat, mengangkat sebelah tangannya.

"Saya... saya cuma mengecek apakah AC di dalam ruangan kamu berfungsi atau tidak. Ya, mengecek fasilitas."

Aisha menatap pintu ruangan yang jelas-jelas masih terkunci rapat dari luar dengan heran. "Ngecek AC... dari balik pintu yang terkunci, Pak?"

Anton membeku sejenak. "Maksud saya... mengecek apakah kamu sudah datang atau belum. Karena... mau mendiskusikan tugas yang saya berikan kemaren."

Aisha mengedipkan matanya, lalu tersenyum mengangguk-angguk walau kepalanya dipenuhi tanda tanya besar. "Oh... begitu. Saya kira Bapak lagi cari barang hilang."

"Bukan," sahut Anton singkat, berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum wibawanya hancur berkeping-keping. "Ngomong-ngomong, tugasnya... bagaimana? Sudah selesai?"

"Sudah selesai kok, Pak!"

"Ehem... Bagus kalau begitu," ujar Anton mencoba bersikap tegas. "Kalau begitu, ayo ikut ke ruangan saya sekarang. Kita periksa laporannya bersama."

Anton berbalik dan siap melangkah menuju ruang kerjanya. Namun, Aisha justru tetap berdiri di tempatnya, menatap Anton dengan raut wajah serba salah.

"Anu... Pak?" panggil Aisha pelan.

Anton menoleh kembali, menaikkan sebelah alisnya. "Ya? Ada apa lagi?"

"Saya... saya boleh masuk ke dalam ruangan saya dulu tidak, Pak?" tanya Aisha polos seraya menunjuk pintu di belakang Anton.

Anton mengerutkan dahi. "Untuk apa? Kan kita mau meninjau laporannya di ruangan saya?"

Aisha menyengir canggung. "Ya mau meletakkan tas dulu, Pak... Punggung saya bisa patah kalau harus bawa ransel seberat ini sambil berdiri mendengarkan Bapak mengoreksi laporan."

Anton terdiam seketika. Matanya melirik ransel tebal di bahu Aisha, lalu beralih ke wajah Aisha.

"Ah..." Anton memegang tengkuknya. "Tentu. Tentu saja. Letakkan tas kamu dulu."

"Thank you, Sir!" ujar Aisha seraya merogoh kunci dari saku jaketnya.

Aisha memutar kunci pintu, lalu mendorongnya terbuka. Sebelum melangkah masuk, ia menoleh sebentar ke arah Anton yang masih berdiri kaku seperti patung di tengah koridor.

"Bapak tidak mau masuk dulu? Di luar dingin lho, Pak," tawar Aisha ramah.

"Tidak, terima kasih! Saya... saya tunggu di ruangan saya saja!" sergah Anton cepat, langsung berbalik arah dan melangkah meninggalkan area itu dengan gaya berjalan yang terkesan sangat kaku karena menahan malu.

Aisha menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh bosnya itu. "Aneh banget Pak Anton hari ini... Kesambet angin Edinburgh apa ya?" gumam Aisha polos seraya melangkah masuk ke dalam ruangannya.

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!