NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Tubuh yang Menolak Berhenti Berkembang

Tiga hari menuju Seleksi Hunter.

Pukul 07.42 pagi.

"𝙎𝙚𝙗, 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪?"

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 berdiri di tengah ruang latihan keluarga Greyad sambil memutar kedua bahunya. Ia mengenakan kaus olahraga hitam dan celana pendek. Di dekat dinding, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sedang menyusun kerucut penanda di atas matras, satu per satu, dengan jarak yang sama persis.

"𝘚𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tidak mengangkat kepala. "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢? 𝘒𝘢𝘯𝘨𝘦𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘴𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘨𝘦𝘮𝘦𝘵𝘢𝘳?"

"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶. 𝘓𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵. 𝘗𝘢𝘨𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘰𝘵𝘰𝘵𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘭." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 merentangkan lengan, seolah ingin membuktikannya. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘯𝘢𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯?"

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berhenti dengan satu kerucut masih di tangan.

Ia menoleh, memandang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 beberapa detik, lalu meletakkan kerucut terakhir itu di ujung barisan.

"𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨𝘪."

"𝘐𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘰𝘨𝘪𝘬𝘢𝘬𝘶."

"𝘓𝘰𝘨𝘪𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯. 𝘉𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berdiri dan menepuk lututnya. "𝘔𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘱𝘶𝘭𝘪𝘩. 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝙑𝙖𝙣. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘵𝘰𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘰𝘣𝘦𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Ia tidak menemukan celah dalam alasan itu. Dan justru itu yang menyebalkan.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menunjuk lintasan kecil yang sudah ia siapkan.

"𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘤𝘰𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘤𝘪𝘳𝘤𝘶𝘪𝘵. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘤𝘢𝘱𝘦𝘬."

"𝘚𝘦𝘮𝘢𝘤𝘢𝘮 𝘴𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘴𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨?"

"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪. 𝘐𝘯𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘢𝘯." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengambil stopwatch dari meja di sampingnya. "𝘗𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘥𝘶𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨."

Dua puluh menit kemudian, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sudah berdiri di belakang garis penanda.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menjelaskan rangkaiannya sambil menunjuk tiap titik.

"𝘚𝘱𝘳𝘪𝘯𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘶𝘴𝘩-𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘏𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘧𝘰𝘰𝘵𝘸𝘰𝘳𝘬 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘤𝘶𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘪. 𝘋𝘪 𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘶𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘏𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳𝘪. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘣 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘵𝘳𝘢𝘪𝘨𝘩𝘵 𝘬𝘦 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘱𝘢𝘳𝘳𝘺, 𝘤𝘰𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳, 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳, 𝘨𝘶𝘢𝘳𝘥 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪." Ia mengangkat stopwatch. "𝘐𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘮𝘶."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengulang urutan itu sekali dalam kepala.

"𝘚𝘪𝘢𝘱. 𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢."

Peluit berbunyi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 langsung melesat.

Sepuluh meter selesai dalam beberapa langkah. Ia menjatuhkan tubuh ke posisi push-up, menuntaskan sepuluh repetisi, lalu bangkit menuju deretan kerucut.

Kaki kirinya bergerak lebih dulu.

Disusul kaki kanan.

Tubuhnya berpindah menyamping tanpa menyilangkan kedua kaki.

Di ujung lintasan, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sudah menunggu dengan sarung tangan latihan.

Jab pertama datang.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melakukan slip.

Serangan kedua menyusul, membuatnya mundur setengah langkah sebelum guard-nya kembali terpasang.

"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴!"

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berbalik ke bantalan pukul.

Jab. Straight.

Pak! Pak!

Dua pukulan mendarat berurutan. Ia menuntaskan parry dan counter sederhana, lalu berlari ke titik terakhir.

Klik. 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menghentikan stopwatch.

"𝘌𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘥𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬. 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘶𝘵𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, 𝘬𝘰𝘰𝘳𝘥𝘪𝘯𝘢𝘴𝘪𝘮𝘶 𝘭𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯."

"𝘓𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯?" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengatur napas. "𝘙𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯."

"𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘐𝘯𝘪 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘱𝘶𝘵𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢. 𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘱𝘶𝘵𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯."

Setelah jeda, putaran kedua dimulai.

Lalu ketiga.

Memasuki putaran keempat, napas 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mulai memburu.

Keringat mengalir dari pelipis hingga dagunya.

Gerakan kaki yang tadi rapi mulai melebar. Bahunya perlahan terangkat, dan beberapa kali kedua tangannya turun dari posisi guard tanpa ia sadari.

"𝘎𝘶𝘢𝘳𝘥, 𝙑𝙖𝙣!"

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 buru-buru mengangkat tangan.

Terlambat setengah detik. Sarung tangan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sudah lebih dulu menempel di pelindung dadanya.

"𝘒𝘦𝘯𝘢. 𝘒𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳, 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik napas panjang. Dadanya naik-turun.

"𝘐𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵..." Ia mengibaskan tangan, mencari kata. "𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘨𝘶𝘴. 𝘒𝘢𝘬𝘪, 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴."

"𝘐𝘵𝘶 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mendekat dan menekan bahu kanan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dengan dua jari. Bahu itu keras seperti papan.

"𝘒𝘦𝘳𝘢𝘴, 𝘬𝘢𝘯? 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘱𝘦𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘵𝘰𝘵. 𝘏𝘢𝘴𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘶𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘬𝘶, 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵. 𝘈𝘵𝘶𝘳 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴, 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩, 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶. 𝘊𝘢𝘱𝘦𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menurunkan bahunya pelan-pelan. Rasanya aneh, seperti melepaskan sesuatu yang sejak tadi ia genggam tanpa sadar.

Ia kembali ke garis awal.

Pada putaran berikutnya, kecepatannya sedikit turun.

Namun gerakannya lebih terkendali.

Ia tidak lagi memaksakan pukulan keras ke bantalan. Langkahnya juga tidak selebar sebelumnya. Ketika serangan latihan datang, ia menghindar seperlunya, lalu guard-nya langsung naik kembali.

"𝘕𝘢𝘩. 𝘐𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menghentikan stopwatch.

Waktunya memang lebih lambat dibandingkan putaran pertama.

Tetapi kali ini, kesalahan tekniknya jauh berkurang.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyeka keringat dengan punggung tangan. Ada senyum kecil di wajahnya.

"𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘳𝘢𝘱𝘪. 𝘓𝘶𝘤𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬."

"𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mencatat waktu itu di ponselnya. "𝘈𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘬𝘢𝘬𝘪."

Senyum 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memudar.

Bayangan makhluk yang pernah menyerangnya kembali melintas.

Kuku tajam.

Rahang menganga.

Dan tubuhnya sendiri yang nyaris tidak mampu bergerak.

Ia mengencangkan tali sarung tangannya, sedikit lebih kuat dari yang perlu.

"𝘈𝘺𝘰. 𝘗𝘶𝘵𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 melirik tangan itu sekilas, tetapi tidak berkomentar. Ia hanya mengangkat stopwatch.

---

Menjelang siang, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengajak 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menjalani satu sesi sparring ringan sebagai penutup.

Keduanya mengenakan perlengkapan pelindung.

Tidak ada Regalia.

Tidak ada mana, tidak ada kemampuan supernatural.

Hanya teknik dasar.

"𝘈𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sambil mengencangkan pelindung kepalanya. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘪 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢."

"𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭𝘮𝘶, 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩?"

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩, 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘨𝘢𝘵𝘢𝘭, 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭𝘮𝘶 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tersenyum miring dan mengangkat guard.

Mereka mengambil posisi.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 membuka dengan jab.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggeser kepala, lalu bergerak sedikit ke samping.

Pukulan pertama meleset.

Serangan kedua datang hampir bersamaan. Kali ini 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menahannya dengan guard.

Ia mencoba membalas, tetapi 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sudah mundur keluar dari jangkauan.

"𝘑𝘢𝘳𝘢𝘬𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak menjawab.

Ia membetulkan posisi kaki sambil memperhatikan bahu 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. Sejak tadi, bahu itu selalu bergerak sepersekian detik sebelum tangannya.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 kembali maju.

Bahunya bergerak.

Tangan kanan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hampir ikut terangkat, tetapi ia segera menahannya. Bahu 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memang bergerak, tetapi pinggulnya diam.

Feint.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mempertahankan guard.

Ketika jab berikutnya benar-benar datang, ia melakukan parry kecil dan melangkah menyamping.

Celah terbuka.

Jab.

Sarung tangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyentuh pelindung wajah 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 dengan bersih.

Untuk sesaat, keduanya terdiam.

Kemudian 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tersenyum lebar.

"𝘕𝘢𝘩! 𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘦𝘯𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak sempat menjawab.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 langsung membalas.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melakukan slip, membiarkan pukulan itu lewat di sisi kepalanya. Namun ketika mencoba mengambil jarak, kaki belakangnya terlambat berpindah.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memotong jalur keluarnya.

Dua pukulan latihan menyusul bergantian.

Yang pertama berhasil ia tahan.

Yang kedua mendarat di pelindung tubuhnya.

"𝘚𝘵𝘰𝘱."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mundur dua langkah.

"𝘚𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘤𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘰𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵, 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯. 𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨, 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘸𝘢𝘭."

"𝘐𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳. 𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengatur napas. Matanya masih tertuju pada posisi kaki 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. "𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘳𝘰𝘯𝘥𝘦 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱𝘯𝘺𝘢."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menimbang permintaan itu sebentar.

"𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘳𝘰𝘯𝘥𝘦 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬. 𝘏𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳."

Sparring kembali dimulai.

Kali ini 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menaikkan tempo.

Bedanya langsung terasa.

Serangan datang lebih rapat, dengan sudut yang terus berubah, memaksa 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyesuaikan posisi tanpa henti. Beberapa kali ia berhasil bertahan. Sekali, ia bahkan berhasil keluar dari sudut tepat seperti yang ia rencanakan.

Namun semakin lama, reaksinya mulai tertinggal.

Sebuah feint membuka guard kirinya.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tidak menyia-nyiakan celah itu.

Tap.

Sarung tangannya menyentuh pelindung kepala 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

"𝘒𝘦𝘯𝘢. 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mundur sambil terengah-engah, lalu melepas pelindung kepalanya. Rambutnya basah menempel di dahi.

"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sambil menurunkan tangan. "𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘴𝘢𝘬𝘶 𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘶𝘵 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘒𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘶𝘵 𝘵𝘢𝘥𝘪, 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶. 𝘋𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘣 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩. 𝘋𝘪𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢, 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘰𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘶𝘩."

"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘸𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯."

"𝘚𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵?" 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tertawa pendek dan menepuk bahunya. "𝙑𝙖𝙣, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯. 𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘧𝘰𝘯𝘥𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘢𝘭𝘶."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa kecil. Napasnya masih belum rata.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪."

"𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨."

"𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨."

"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘨𝘢."

---

Setelah mandi, keduanya duduk di teras belakang rumah Greyad.

Angin siang berembus di antara pepohonan, membawa bau rumput yang baru dipotong.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membuka dan menutup telapak tangannya berulang kali, memperhatikan jari-jarinya seolah ada yang berbeda di sana.

Di sebelahnya, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 membuka tutup botol minum, tetapi tidak langsung meminumnya.

"𝙑𝙖𝙣, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶. 𝘑𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘴𝘢𝘭."

"𝘚𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘪𝘻𝘪𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢?" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak mengangkat kepala. "𝘐𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘳𝘪𝘨𝘢."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memutar-mutar tutup botol di antara jarinya.

"𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵?"

Jari-jari 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhenti bergerak.

"𝘛𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘢𝘱𝘢?"

"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮. 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menyandarkan punggung. "𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨. 𝘉𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘥𝘪𝘥𝘪𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭. 𝘚𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘶, 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak langsung menjawab. Pandangannya jatuh ke halaman, ke bayangan pohon yang perlahan bergeser di atas rumput.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭..." Ia menarik napas. "𝘐𝘺𝘢. 𝘛𝘢𝘬𝘶𝘵."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menoleh. "𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬."

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪, 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩."

Tanpa sadar, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyentuh bahunya, tepat di bekas luka samar yang masih tersisa di sana.

"𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘠𝘢𝘬𝘪𝘯." Ia diam sebentar. "𝘈𝘯𝘦𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳."

"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?"

"𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggosok ibu jarinya ke buku jari yang masih lecet. "𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶, 𝙎𝙚𝙗. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tidak menanggapi. Ia meletakkan botolnya di lantai.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melanjutkan, suaranya lebih pelan.

"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱. 𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨..." Ia mencari kata yang pas, tetapi tidak menemukannya. "𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menyandarkan kepala ke sandaran kursi dan menatap langit-langit teras cukup lama.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘩𝘢𝘭 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩." Suaranya kembali ringan, meski tidak sepenuhnya. "𝘋𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱 𝘱𝘶𝘴𝘩-𝘶𝘱 𝘥𝘶𝘢 𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa.

"𝘗𝘦𝘴𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘴𝘶𝘢𝘴𝘢𝘯𝘢."

"𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴𝘬𝘶." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 memungut botolnya lagi. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘢𝘴𝘢𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘶𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴, 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢."

---

Dua hari menuju Seleksi Hunter.

Keesokan paginya, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 hanya memberi latihan mobilitas ringan dan pengulangan teknik tanpa tekanan.

Menjelang akhir sesi, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencoba menawar.

"𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘵 𝘧𝘰𝘰𝘵𝘸𝘰𝘳𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘓𝘪𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢."

"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬."

"𝘛𝘪𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵."

"𝙑𝙖𝙣, 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳."

Sesi terakhir itu selesai lebih cepat dari biasanya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sedang memutar kedua lengannya sambil menunggu 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 membereskan perlengkapan ketika ia sadar sahabatnya itu sedang memperhatikannya.

"𝘓𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘭?" tanya 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. "𝘒𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘦𝘯𝘢𝘮? 𝘛𝘶𝘫𝘶𝘩?"

"𝘋𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menekuk siku, lalu memutar bahu. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘯𝘺𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯, 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪."

Kening 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berkerut.

Ia mendekat, lalu tanpa permisi meraih lengan kiri 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dan membaliknya. Kemarin, di sisi dalam lengan bawah itu ada memar kebiruan selebar dua jari, bekas benturan sparring.

Sekarang warnanya nyaris hilang. Hanya tersisa bayangan kekuningan yang samar.

"𝘐𝘯𝘪 𝘢𝘯𝘦𝘩."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat alis. "𝘈𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨?"

"𝘙𝘦𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳𝘺-𝘮𝘶." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menekan bekas memar itu dengan ibu jari. 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bahkan tidak meringis. "𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘵𝘢𝘮𝘪𝘯𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘪𝘬. 𝘗𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪. 𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮."

"𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩?"

"𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯," jawab 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. Nadanya tidak seyakin kata-katanya. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘴𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencoba tertawa. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘪𝘳𝘪."

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯, 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘳𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 melepaskan lengannya.

"𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯. 𝘐𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢."

Ia kembali ke tasnya, memasukkan sarung tangan, lalu menarik ritsleting sampai ujung.

Kemudian menariknya sekali lagi, padahal tas itu sudah tertutup.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak bertanya lagi.

Tetapi ia memperhatikan.

---

Sepanjang perjalanan pulang, percakapan itu terus berputar di kepalanya.

Sesampainya di panti asuhan, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 langsung masuk kamar dan membuka jurnal latihannya.

Catatan demi catatan memenuhi halaman.

Kekuatan meningkat.

Stamina membaik.

Recovery semakin cepat.

Adaptasi gerakan terus berkembang.

Semua perubahan itu memang dimulai setelah instalasi CORE-nya mencapai seratus persen.

Namun ketika ingatannya kembali ke gedung terbengkalai itu, tangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhenti membalik halaman.

Ada satu bagian dari pertarungan itu yang masih terasa ganjil.

Tubuhnya yang terluka parah.

Darah yang membasahi pakaiannya.

Dan bagaimana ia tetap mampu bergerak, padahal seharusnya tenaganya sudah lama habis.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menutup jurnal perlahan.

𝘈𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧?

Ia menatap telapak tangannya.

Untuk pertama kalinya, pertanyaan itu tidak lagi terasa seperti rasa penasaran biasa.

Karena kalau 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 benar, kalau tubuhnya memang pulih melampaui batas yang seharusnya...

Lalu apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya sejak pagi ketika ia membuka mata itu?

— BAB 21 SELESAI —

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!