NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - PENYUSUP DI PESTA LELANG

Keheningan di ruang kerja itu terasa begitu tebal dan memabukkan. Tangan Kael masih menggenggam lembut punggung tangan Valeria yang menempel di dadanya. Jantung mereka berdetak seirama, berpacu gila-gilaan menembus batas profesionalisme yang selama sepuluh tahun ini mereka jaga mati-matian.

Valeria menatap bibir Kael yang sedikit terbuka, lalu perlahan kembali menatap sepasang mata elang pria itu. Ada dorongan gila di dalam dirinya untuk berjinjit dan memangkas sisa jarak di antara mereka.

Namun, sebelum kewarasan mereka benar-benar putus, suara nyaring dari *intercom* di atas meja kerja Valeria berbunyi nyaring.

*BIP! BIP!*

"Nyonya, maaf mengganggu. Gaun Anda untuk acara pelelangan malam ini sudah disiapkan di kamar. Dan mobil akan siap dalam satu jam," lapor suara Bastian dari *speaker*, terdengar canggung dan kaku.

Sengatan realita langsung menghantam mereka berdua. Valeria tersentak pelan, buru-buru menarik tangannya dari dada Kael seolah baru saja menyentuh besi panas. Wanita itu mundur dua langkah, membuang muka untuk menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba menjalar di pipinya.

Kael juga langsung menunduk, tangannya yang tadi menggenggam tangan Valeria kini mengepal erat di sisi tubuh. Pria itu berdeham pelan, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak serak.

"S-saya akan tunggu di luar, Val. Silakan Anda bersiap-siap," ucap Kael kaku, sama sekali nggak berani menatap mata bosnya lagi.

Tanpa menunggu jawaban, Kael berbalik dan berjalan cepat keluar ruangan, menutup pintu ganda itu rapat-rapat.

Valeria membuang napas kasar yang sedari tadi dia tahan. Tangannya meremas ujung *blazer*-nya dengan frustrasi. "Sialan lo, Bastian. *Timing* lo selalu hancur," rutuk Valeria pelan, setengah kesal setengah lega karena batal melakukan hal gila yang mungkin bakal ngubah dinamika mereka selamanya.

Satu jam kemudian.

Kael berdiri tegap di lorong depan pintu ruang kerja Valeria. Pria itu sudah mengganti kemejanya yang berdarah dengan setelan jas hitam *three-piece* baru yang sangat rapi. Meskipun bahu kanannya masih berdenyut ngilu, Kael menekan rasa sakit itu dalam-dalam. Fokusnya sekarang adalah mengawal sang ratu ke acara lelang gelap terbesar tahun ini.

Acara lelang bawah tanah ini diadakan oleh salah satu gembong artefak dan senjata ilegal ternama. Semua petinggi sindikat, politisi korup, dan pengusaha kotor dari seluruh penjuru kota bakal hadir. Valeria harus datang untuk menunjukkan taringnya, membuktikan bahwa klan mereka sama sekali nggak goyah meski baru saja diguncang oleh pengkhianatan Marco dan ancaman Klan Viper.

Bunyi *klik* dari pintu ruang kerja memecah lamunan Kael.

Pintu terbuka perlahan. Valeria melangkah keluar.

Kael menoleh, dan detik itu juga, pria jangkung yang biasanya sedingin es itu lupa caranya bernapas.

Valeria mengenakan gaun sutra berwarna merah darah yang menjuntai menyapu lantai marmer. Gaun itu memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat sempurna. Bagian depannya memiliki potongan *v-neck* yang berani, sementara belahan tinggi di paha kirinya mengekspos kaki jenjangnya setiap kali dia melangkah. Namun yang paling mematikan adalah bagian belakangnya—punggung mulus Valeria terekspos sempurna karena desain *backless* yang menjuntai hingga ke pinggang bawah.

Rambut panjangnya yang biasa diikat kini dibiarkan tergerai dengan gaya *hollywood waves* yang elegan. Lipstik merah gelap menghiasi bibirnya, senada dengan warna gaun dan *heels* stiletto yang dia pakai.

Dia bukan sekadar bos mafia malam ini. Dia adalah dewi kehancuran yang siap menaklukkan siapa saja yang berani menatap matanya.

"Gimana penampilanku? Nggak terlalu berlebihan buat acara lelang barang rongsokan, kan?" tanya Valeria santai, memutar tubuhnya sedikit untuk memamerkan gaunnya.

Kael mematung. Jakunnya naik turun saat dia menelan ludah kasar. Mata elangnya benar-benar terpaku, menyapu penampilan Valeria dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang nyaris memuja. Untuk sesaat, otak Kael yang biasanya jalan seribu kilometer per jam mendadak nge-*blank*.

"Kael? Halo? Bumi memanggil bayanganku," goda Valeria sambil melambaikan tangan lentiknya di depan wajah pria itu. Senyum jahil terukir di bibirnya, sadar betul efek penampilannya terhadap pengawal andalannya ini.

Kael tersentak pelan, buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah dinding. Telinganya memerah.

"Anda... sangat memukau, Val," jawab Kael serak. Suaranya sedikit lebih berat dari biasanya. "Gaun itu... sangat pas. Tapi mungkin... bagian punggungnya terlalu terbuka. Banyak tikus kotor di acara malam ini."

"Biarin aja. Tikus-tikus itu cuma bisa ngeliatin, kan? Kalau ada yang berani nyentuh, aku tinggal serahin ke kamu buat dipotong tangannya," kekeh Valeria percaya diri. Wanita itu berjalan melewati Kael, aroma *Baccarat* yang manis langsung menguar menggelitik hidung pria itu. "Ayo jalan. Aku nggak mau telat."

Kael menghela napas panjang, meratapi nasibnya malam ini yang harus mati-matian menahan cemburu dan amarah ngeliat tatapan lapar pria-pria hidung belang nanti.

***

Mobil Maybach hitam mereka berhenti di depan sebuah *mansion* megah bergaya klasik di pinggiran tebing kota. Tempat ini dijaga super ketat. Puluhan pria berbadan besar dengan *earpiece* berdiri di setiap sudut, memeriksa undangan dan mendeteksi senjata setiap tamu yang datang.

Tentu saja aturan 'dilarang bawa senjata' itu nggak berlaku buat tamu VIP sekelas Valeria.

Saat Valeria turun dari mobil dengan dibukakan pintu oleh Kael, seluruh mata di halaman *mansion* itu langsung tertuju padanya. Beberapa bos mafia saingan yang lagi merokok di dekat air mancur sampai menghentikan obrolan mereka. Pesona sang ratu malam ini benar-benar bikin semua orang terdiam.

Kael berjalan tepat satu langkah di belakang kiri Valeria. Aura mematikan yang Kael pancarkan bertolak belakang banget dengan keanggunan Valeria. Kalau Valeria memancing tatapan kagum dan penuh nafsu, Kael membalas semua tatapan itu dengan ancaman diam yang bilang: *Lirik dia sekali lagi, dan matamu bakal kucungkil.*

Mereka berdua berjalan masuk ke *ballroom* utama yang disulap jadi ruang pelelangan super mewah. Lampu *chandelier* kristal menggantung megah di langit-langit. Ratusan tamu undangan duduk di meja-meja bundar, menikmati sampanye mahal sambil menunggu acara dimulai.

"Nyonya Valeria, suatu kehormatan Anda bersedia hadir," sapa Tuan Anton, sang tuan rumah pelelangan, mendekat dengan senyum sumringah.

"Malam, Anton. Kuharap barang-barang yang kau lelang malam ini nggak mengecewakan. Aku lagi butuh hiburan," balas Valeria basa-basi, menerima segelas sampanye dari nampan pelayan yang lewat.

"Tentu saja! Kami punya beberapa koleksi antik dari dinasti Ming dan senjata prototipe Eropa. Oh, silakan, meja VIP Anda ada di depan, tepat di dekat panggung," arah Tuan Anton sopan.

Saat Valeria berjalan membelah kerumunan menuju mejanya, bisik-bisik mulai terdengar di sekeliling mereka. Kael yang punya pendengaran super tajam langsung menangkap beberapa kalimat yang nggak mengenakkan.

*"Kudengar sektor selatan mereka baru aja dibobol Viper. Berani banget dia muncul di sini."*

*"Gila, perempuan itu makin cantik aja. Sayang banget bapaknya mati cepet, kalau nggak udah kulamar dari dulu."*

*"Liat tuh anjing penjaganya di belakang. Matanya kayak mau makan orang."*

Kael mengabaikan komentar tentang dirinya, tapi tangannya refleks terkepal setiap kali ada mata pria buncit yang berani menatap punggung terbuka Valeria terlalu lama. Pria jangkung itu dengan sengaja menggeser posisi berdirinya, sedikit menutupi punggung Valeria dari pandangan orang-orang di meja belakang.

"Banyak lalat malam ini, Val," bisik Kael dingin, berdiri tegap di belakang kursi Valeria saat wanita itu duduk.

"Biarin. Lalat cuma berani berisik dari jauh," sahut Valeria santai menyesap sampanyenya.

Acara pelelangan pun dimulai. Barang demi barang ditampilkan di atas panggung. Mulai dari lukisan curian dari museum Paris, perhiasan bersejarah, sampai *file* data rahasia perbankan. Valeria sempat mengangkat papan tawaran beberapa kali, membeli sepasang belati antik berlapis emas putih sekadar buat pamer kekayaan.

Namun, insting Kael yang udah diasah bertahun-tahun di medan pertempuran mendadak bereaksi.

Ada yang salah.

Mata elang Kael menyapu seluruh *ballroom*. Di antara puluhan pelayan berseragam kemeja putih dan rompi hitam yang wara-wiri menuangkan minuman, ada satu pelayan yang gerak-geriknya nggak wajar. Pelayan itu terus berjalan memutar, tapi arah tujuannya perlahan-lahan makin mendekati meja VIP Valeria.

Kael memfokuskan pandangannya. Pria berseragam pelayan itu memakai kacamata tebal, menunduk terus. Tapi yang bikin alarm di kepala Kael menyala adalah postur tubuhnya. Cara pria itu berjalan nggak kayak pelayan yang takut numpahin minuman, melainkan cara berjalan seorang petarung yang lagi ngatur keseimbangan badan buat menyerang.

Tepat saat pelayan itu lewat di bawah cahaya lampu yang cukup terang, Kael melihat secuil tato tinta hitam mengintip dari balik kerah kemeja putih pria itu. Tato berbentuk sisik ular.

*Viper.*

Darah Kael langsung mendidih. Berani-beraninya Klan Viper mengirim penyusup sejauh ini ke acara eksklusif hanya untuk menargetkan nyawa ratunya.

"Val," panggil Kael sangat pelan, nada suaranya berubah berat dan serius.

"Hmm?" gumam Valeria tanpa menoleh, matanya masih fokus melihat patung giok di atas panggung.

"Ada penyusup dari Viper. Arah jam tiga, menyamar jadi pelayan," lapor Kael singkat tanpa menggerakkan bibirnya terlalu banyak.

Valeria tidak bereaksi berlebihan. Wajahnya tetap tenang, dia bahkan masih sempat tersenyum kecil sambil memutar gelas sampanyenya. Tapi tangan kirinya yang ada di pangkuan diam-diam meraba pistol kecil kaliber 22 yang dia sembunyikan di balik belahan gaun pahanya.

"Berapa orang?" bisik Valeria santai.

"Yang terlihat baru satu. Tapi saya yakin ada beberapa lagi yang bersiaga di pintu keluar," analisis Kael. Mata Kael terus mengunci pergerakan pelayan itu yang kini tinggal berjarak tiga meja dari mereka. "Kita tidak bisa membuat keributan di tengah *ballroom*. Tuan Anton punya banyak pengawal bersenjata berat di sini."

"Kalau gitu kita pancing dia keluar," putus Valeria cerdas.

Wanita itu meletakkan gelasnya di atas meja, lalu berdiri dengan anggun.

"Anton, aku mau ke ruang VIP di lantai dua sebentar. Butuh udara yang lebih privat buat ngerokok," ucap Valeria dengan suara yang sengaja dibesarkan sedikit agar terdengar oleh beberapa orang di dekatnya.

Tuan Anton yang sedang mengawasi jalannya lelang buru-buru mengangguk. "Tentu, Nyonya! Ruang VIP nomor tiga kosong. Silakan gunakan."

Valeria berjalan menjauh dari keramaian, melangkah menaiki tangga melengkung menuju balkon lantai dua yang diisi deretan ruang VIP tertutup. Kael berjalan di belakangnya, menutupi titik buta Valeria. Lewat ekor matanya, Kael melihat pelayan mencurigakan itu meletakkan nampannya di atas meja kosong, lalu diam-diam mengikuti mereka menaiki tangga.

Pancingan berhasil.

Lorong lantai dua terasa jauh lebih sepi dan remang-remang dibanding *ballroom* di bawah. Dentuman musik klasik dan suara lelang terdengar samar dari sini.

Valeria berjalan santai membuka pintu ruang VIP nomor tiga. Ruangan itu kedap suara, dilengkapi sofa kulit mewah, meja biliar, dan jendela kaca satu arah yang menghadap ke arah panggung lelang di bawah.

Begitu Valeria melangkah masuk, Kael tidak langsung mengikuti. Pria itu sengaja memelankan langkahnya, membiarkan pintu ruangan sedikit terbuka.

Suara langkah kaki yang sangat pelan dan berhati-hati terdengar mendekat dari ujung lorong. Sang penyusup mengira targetnya sedang lengah.

Saat si pelayan penyusup itu tiba di depan pintu ruang VIP nomor tiga, tangannya merogoh ke balik rompinya, mengeluarkan sebuah pistol berperedam suara. Pria itu menyeringai, bersiap mendorong pintu dan menghabisi nyawa sang ratu mafia.

Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu, sebuah tangan besar berkekuatan monster muncul dari balik kegelapan lorong dan mencengkeram wajah pria itu dengan sangat brutal.

"Ugh—!"

Suara erangan si penyusup tertahan di tenggorokan. Kael dengan kasar menyeret tubuh pria itu masuk ke dalam ruang VIP, lalu menendang pintu di belakangnya hingga tertutup rapat berbunyi *KLIK* tanda terkunci.

Baku hantam di ruang kedap suara itu pun dimulai.

1
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!