H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Sinar matahari pagi menerobos tipis melalui celah tirai kain berwarna cream di kamar kos Mahika. Aroma harum dari essential oil beraroma lavender dan kayu cendana memenuhi ruangan seluas tiga kali empat meter itu. Di luar, suara kicau burung gereja dan sayup-sayup deru mesin kendaraan dari jalan raya mengiringi heningnya pagi.
Kalea Mahika terbangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang dibanding semalam. Kamar kos ini walau jauh lebih sederhana dari rumah orang tuanya yang megah selalu menjadi tempat bernaung paling aman bagi jiwanya. Di sini, tidak ada tuntutan untuk selalu mengalah. Tidak ada bayang-bayang keharusan memprioritaskan perasaan Gisella di atas perasaannya sendiri.
Mahika mendudukkan diri di tepi ranjang. Ia merenggangkan kedua tangannya, menghirup udara pagi dalam-dalam. Wajahnya yang polos tanpa riasan memantulkan cahaya matahari, memancarkan kecantikan yang alami dan tenang.
Hari ini adalah hari Minggu. Hari libur yang sangat ia nantikan setelah berminggu-minggu memeras otak dan tenaga antara pekerjaan kantor dan persiapan pernikahan.
Ponsel di atas meja nakas bergetar pelan. Nama Reno tertera di layarnya, disertai foto mereka berdua yang tersenyum manis saat liburan tahun lalu.
Mahika tersenyum tipis, lalu menggeser ikon hijau.
"Assalamu’alaikum, Calon Suami," sapa Mahika dengan suara serak khas bangun tidur.
Dari seberang telepon, suara tawa renyah Reno menyapa ramah. "Wa’alaikumsalam, Sayang. Baru bangun ya? Gimana tidurnya di kosan? Nyenyak?"
"Nyenyak banget, Ren," jawab Mahika jujur seraya menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Rasanya badan yang kemarin pegal-pegal langsung segar lagi."
"Alhamdulillah kalau gitu," sahut Reno hangat. "Oia, Mahika... hari ini kan libur. Kita jalan-jalan yuk? Kita cari sarapan bubur ayam langganan kita, terus muter-muter cari hiasan dinding buat rumah baru. Gimana?"
Mahika terdiam sejenak, memikirkan tawaran itu. Dulu, ia pasti akan langsung menyambut ajakan Reno dengan antusias. Namun pagi ini, jiwanya merindukan ketenangan yang mutlak. Perdebatan hebat di rumah orang tuanya semalam masih menyisakan sedikit kelelahan emosional yang butuh ia sembuhkan sendiri. Lagipula, dalam waktu tiga puluh hari ke depan, seluruh sisa hidupnya akan ia habiskan bersama Reno sebagai seorang istri. Momen menyendiri seperti ini adalah hal langka yang ingin ia nikmati sepenuhnya.
"Ren..." panggil Mahika lembut. "Maaf banget ya... kayaknya hari ini aku mau di kosan aja deh."
Reno terdengar mengernyit di seberang sana. "Lho, kenapa Sayang? Kamu masih capek atau sakit?"
"Enggak sakit kok. Cuma... aku butuh me time sebentar, Ren," jelas Mahika halus, berhati-hati agar tak menyinggung perasaan tunangannya. "Beberapa minggu ini pikiran aku padat banget. Aku cuma mau nyantai di kamar, maskeran, baca buku, sama rapi-rapi barang kosan sebelum nanti diboyong ke rumah baru kita. Boleh kan?"
Di ujung telepon, hening sejenak sebelum Reno terkekeh pelan. "Ya ampun, aku kira kenapa. Boleh dong, Sayang. Masa enggak boleh? Kamu memang butuh istirahat. Jangan dipaksakan kalau memang capek."
"Makasih ya, Reno. Kamu memang paling pengertian," bisik Mahika tulus.
"Sama-sama, Mahika. Ya udah, kamu lanjut santai-santai ya. Aku juga ada beberapa hal yang mau dibereskan hari ini. Kalau butuh apa-apa atau mau diantar makan siang, langsung telepon aku ya?"
"Iya, Ren. Hati-hati ya kalau keluar."
"Iya, Sayang. Love you."
"Love you too."
Sambungan telepon terputus. Mahika meletakkan ponselnya kembali ke meja. Perasaan hangat menyelimuti dadanya. Memiliki calon suami sebersahaja dan sepengertian Reno adalah anugerah terbesar yang membuat segala kelelahan hidupnya terasa setimpal.
Mahika bangkit dari ranjang. Ia melangkah menuju dapur kecil di sudut kosannya, menyeduh secangkir teh chamomile hangat dan memanggang dua lembar roti tawar. Setelah itu, ia membersihkan diri dan mengenakan pakaian rumah yang nyaman kaos katun longgar bermotif garis-garis dan celana kulot hitam, lengkap dengan jilbab instan berwarna abu-abu muda.
Sembari menikmati teh hangat di kursi rotan dekat jendela kosannya, Mahika meraih ponsel untuk memeriksa notifikasi media sosial. Jemarinya secara refleks membuka aplikasi Instagram.
Beranda media sosialnya dipenuhi unggahan teman-teman sejawat dan akun-akun inspirasi dekorasi rumah yang biasa ia ikuti. Saat menyapu layar ke atas, perhatiannya terhenti pada lingkaran cerita Instagram (Instastory) di bagian atas layar. Akun milik kakaknya: @gisella_maharani.
Mahika menghentikan jemarinya. Ada sedikit keraguan untuk membukanya, mengingat hubungan mereka yang tegang semalam. Namun rasa penasaran wanita membuat jemarinya tetap mengetuk lingkaran foto profil kakaknya.
Sebuah foto terunggah tiga puluh menit yang lalu.
Latar foto itu adalah interior sebuah kafe bernuansa industrial rustic dengan pencahayaan hangat. Di atas meja kayu gelap, tampak dua cangkir kopi satu cappuccino dengan latte art berbentuk hati, dan satu iced Americano. Namun yang membuat perhatian Mahika terkunci bukan cangkir kopinya, melainkan dua pasang tangan yang saling tertaut erat di tengah meja.
Tangan kiri Gisella dengan kuku ber-kutek merah menyala tampak menggenggam erat jemari seorang pria. Wajah sang pria tidak terlihat sama sekali karena sengaja diburamkan (blur) menggunakan efek foto, begitu pula bagian tubuh atasnya.
Foto itu dilengkapi dengan tulisan kecil ber-font estetis di sudut bawah:
"Menikmati waktu tenang bersama tempat pulang paling nyaman."
Mahika mengernyit pelan. Tempat pulang? Kak Gisel sudah punya pacar baru? pikirnya dalam hati. Setahunya, kakaknya selalu mengeluh belum menemukan pria yang cocok.
Namun, saat Mahika hendak menggeser ke cerita berikutnya, matanya menagkap detail kecil pada pergelangan tangan pria di dalam foto buram itu.
Di sana, melingkar sebuah gelang kulit hitam berbahan braided leather dengan pengait stainless steel berbentuk jangkar kecil. Dan di jari manis pria itu, berkilau sebuah cincin perak bermodel polos dengan satu garis lekukan halus di tengahnya.
Jantung Mahika mendadak berdegup kencang secara tak wajar. Tangannya yang memegang ponsel tiba-tiba terasa dingin.
Gelang itu... dan cincin itu... terasa teramat sangat familiar di matanya.
Itu adalah gelang kulit yang persis seperti milik Reno,gelang yang dibeli Reno saat mereka berlibur ke Yogyakarta dua tahun lalu. Dan cincin perak itu... modelnya sangat serupa dengan cincin tunangan yang dilingkarkan Reno di jari manisnya sendiri enam bulan lalu.
Napas Mahika tertahan di tenggorokan. Pikiran buruk melintas liar bagai kilat di kepalanya, memicu rasa mual yang mendadak menyeruak di perutnya.
"Enggak... enggak mungkin", batin Mahika cepat-cepat membantah.
Mahika memperbesar foto (zoom in) di layar ponselnya, meneliti setiap piksel detail tangan pria itu. Tekstur kulitnya, bentuk jarinya, hingga gelang kulit hitam tersebut. Semuanya tampak begitu identik dengan tangan pria yang tadi pagi meneleponnya dengan suara penuh kasih sayang.
Namun, logika Mahika yang dipenuhi rasa percaya selama delapan tahun segera mengambil alih. Ia menggelengkan kepala keras-keras, mencoba mengusir prasangka buruk yang mulai merayap.
"Mahika, kamu ini mikir apa sih?." tegur jiwanya keras. "Gelang model braided leather kayak gitu kan dijual ribuan di toko online. Semua orang bisa punya! Dan cincin tunangan Reno itu modelnya simpel banget, cincin pasaran yang diproduksi massal oleh toko perhiasan."
Mahika menghembuskan napas panjang, meremas jemarinya sendiri yang bergetar.
Lagipula, Reno tadi bilang ada pekerjaan yang harus dibereskan. Reno tidak mungkin berbohong. Pria yang sudah membersamainya dari zaman sekolah, pria yang semalam menyerahkan sertifikat rumah atas namanya, tidak mungkin melakukan hal serendah ini di belakangnya. Apalagi bersama Gisella kakak kandungnya sendiri.
"Lagipula, mana mungkin Kak Gisel tega? Dan mana mungkin Reno setega itu?." pikir Mahika mencoba menenangkan diri.
Akan tetapi, sebuah sudut kecil di dalam hatinya menolak untuk sepenuhnya tenang. Lokasi kafe di latar foto itu... Mahika sangat mengenalnya. Itu adalah Kopi & Kenangan Lama, sebuah kafe tersembunyi di sudut kota yang memiliki interior dinding bata merah yang khas. Kafe itu adalah tempat favorit Reno dan Mahika saat masih kuliah dulu. Tempat yang jarang diketahui orang awam.
Kenapa Gisella bisa berada di kafe itu? Dan bersama siapa?
Mahika memejamkan mata rapat-rapat. Ia meletakkan ponselnya dengan posisi telungkup di atas meja, seolah tak sanggup lagi melihat gambar di layar. Teh chamomile yang tadinya terasa hangat kini meresap dingin di tenggorokannya.
Keheningan kamar kosan yang tadinya menenangkan, kini mendadak terasa begitu mencekik. Prasangka, kepercayaan delapan tahun, dan bayangan keraguan mulai bertarung hebat di dalam dada Kalea Mahika, menanti kebenaran yang perlahan tapi pasti mulai menampakkan wujudnya.
ap g cafek km berdarama🤣🤣
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂