Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Aidoneus melepaskan genggamannya dari pundak Ophelia. Gadis itu terlihat membulatkan mata sekarang, seakan mencoba untuk memahami ucapannya.
Pria itu menghela napas.
…kita tidak bisa memberi bantuan pada seseorang yang tidak mau dibantu.
Itu adalah perkataannya pada Airin setahun lalu. Ia bisa saja hanya mengobati Ophelia dan mengantarkan gadis ini pulang—tidak perlu repot-repot menyadarkannya begini.
Ya, tidak perlu.
Tidak perlu sama sekali.
Tapi keteledoran gadis itu entah kenapa membuatnya tersakiti.
“Oh.” dia akhirnya bersuara. “Ya, aku mengerti.”
Benar-benar mengerti atau tidak sih?
“Pakai sabuk pengamanmu. Kita pulang.”
Ophelia menurut dan mulai duduk dengan lebih rileks di kursinya. Dia masih tidak bersandar, berarti punggungnya belum sembuh. Dengan luka separah itu pastinya akan membutuhkan waktu lama.
“Ada dokter di kediaman Pratama ‘kan ya?”
“Tidak juga,” jawab Ophelia. “Kalau lukanya terlalu parah biasanya Yelena atau Randi sendiri yang mengobati.”
“Jadi tidak ada satupun profesional yang melihat kondisimu?”
Gadis itu langsung terdiam. Sepertinya dia ingin mengatakan ‘tidak apa-apa’ atau ‘lukanya hampir sembuh’ tapi tahu kalau itu hanya akan menambah kekesalan Aidoneus.
Keluarga itu lebih gila dari yang ia duga.
“Orang yang menyerangmu ada berapa? Kamu ingat ciri-cirinya?”
“Satu. Dia tinggi, tidak terlalu berotot dan hanya memakai topi juga jaket biasa. Sepertinya dia ingin membawaku pergi ke suatu tempat.”
Berarti bukan profesional.
Aidoneus curiga orang itu berasal dari kelompok yang sama dengan pemburu bayaran yang menyerang dia dan Airin setahun lalu—ternyata hanya orang biasa.
Kalau mereka yang melakukan itu, Ophelia pastinya akan dibuat pingsan entah dengan obat atau kekerasan.
Tapi otak dari penyerangan ini mungkin sama.
“Kamu punya gambaran siapa pelakunya?”
“Kemungkinan sama dengan orang yang menyebarkan gosip tentangku kemarin.” Gadis itu tersenyum tipis. “Kali ini entah kenapa dia agak terburu-buru.”
Kali ini?
“Berarti kamu tau kalau pelakunya sama dengan yang membuat Airin celaka setahun lalu?”
Ophelia mengangguk. “Reine Maharaja ‘kan ya? Setahun lalu targetnya adalah Airin, tapi mungkin karena kesal rencananya digagalkan olehku targetnya jadi berubah.”
Tapi Aidoneus rasa itu bukan satu-satunya alasan.
“Arga melakukan penyelidikan pada keluarga itu dan ada hal mengejutkan yang tersembunyi di dalamnya.”
Sebuah rahasia busuk.
“Apa?” tanya Ophelia.
“Reine sebenarnya bukan anak yang lahir dari istri sah Danendra Maharaja.” Aidoneus membelokkan mobil ke jalan yang lebih mulus. “Ibunya merupakan seorang simpanan yang tidak diketahui oleh publik.”
Ophelia membulatkan mata mendengar itu.
“Ada keanehan juga di catatan kelahirannya. Istri sah Danendra melahirkan seorang anak perempuan satu tahun setelah Reine lahir. Tapi anehnya, justru Reine yang dicatat sebagai anak kandungnya. Bayi perempuan itu menghilang entah ke mana.”
Keluarga Maharaja memalsukan dokumennya sedemikian rupa. Tapi tentu, masih bisa diketahui oleh Arga.
“Istri sah Pak Danendra itu meninggal setahun setelah Reine lahir ‘kan ya? Karena bunuh diri?” tanya Ophelia.
Aidoneus menggeleng. “Yang bunuh diri itu simpanannya yang tidak diketahui publik. Istri sahnya meninggal karena kecelakaan tidak lama sebelum itu.”
Gadis di sebelahnya mengangguk. Dia seperti mencerna informasi ini dalam-dalam.
Harusnya Ophelia melihat benang merahnya sekarang. Alasan kenapa Reine melakukan ini, alasan kenapa dia berasal dari panti asuhan—Aidoneus yakin kalau Ophelia cukup pintar untuk menggabungkan semuanya.
Gadis itu terlihat menatap jalan di depan mereka dengan tatapan datar seperti biasa. “Aku tidak pernah penasaran soal siapa yang membuangku ke panti itu. Tidak soal keluarga kandungku, maupun alasan mereka melakukannya.”
Aidoneus mendengarkan dengan seksama.
“Aku sudah dibuang,” lanjutnya. “Fakta itu cukup untuk membuatku tidak peduli dan menganggap mereka juga tidak ada di dunia.”
Begitu.
Kediaman Pratama mulai terlihat. Aidoneus berhenti tepat sebelum mereka sampai di gerbang—dia sedang memakai mobil pribadinya sekarang, jika Randi tau Ophelia diantar olehnya bisa-bisa menjadi masalah.
“Terima kasih.”
“Tunggu.”
Aidoneus mengambil jaket hitam yang ada di belakang kursi dan memberikannya pada gadis itu. “Diluar dingin. Pakai ini, tidak dikembalikan juga tidak masalah.”
Ophelia malah membawa jaket itu ke hidungnya.
“Aku selalu penasaran parfum apa yang kakak pakai.” ujar gadis itu pelan. “Aku suka wanginya.”
Aidoneus membulatkan mata mendengar itu. Gadis ini—
“Jangan pernah mengatakan itu pada pria lain, mengerti?” kesalnya sembari mengusap wajah.
“Memangnya kenapa?”
Dia—
“Pulang saja sana.”
Ophelia memakai jaketnya kemudian turun dari mobil. “Sekali lagi terima kasih.”
Ketika gadis itu menghilang di balik gerbang, Aidoneus hanya bisa menghela napas panjang sembari menutup wajah.
Harusnya dia tidak jatuh cinta dengan anak SMA begini.
...****************...
“Tidak becus!”
Plak!
Reine memukul pria di depannya berulang kali. Umpatan demi umpatan terus terdengar di mulutnya—bahkan sekarang gadis itu mulai melempar barang-barang yang ia susun sedemikian rupa di atas meja.
Harusnya Ophelia datang kemari.
Reine melihat berbagai alat penyiksaan yang kini berserakan di lantai. Harusnya hari ini gadis itu lenyap di tangannya!
“Saya berhasil mengejarnya, ta-tapi ada Tuan Aidoneus disana.”
“Aidoneus Mahawirya?”
“Benar,” pria dengan pipi yang lebam itu mengangguk. “Dia membawa Ophelia masuk ke dalam mobil miliknya.”
Kenapa mereka bisa saling mengenal?
Reine tahu kalau Ophelia itu dekat dengan Airin dan Kaiser, tapi Aidoneus bukan tipe yang akan dekat dengan seseorang hanya karena adiknya begitu.
Ada hal lain, sesuatu yang membuat mereka dekat—apapun itu dia telah membuat rencananya berantakan.
“Sialan!”
...****************...
Kediaman Pratama dingin dan sepi seperti biasa. Ini sudah lewat waktu makan malam, Ophelia mengira kalau semua orang sudah tertidur tapi ternyata Randi berdiri tepat di depan tangga begitu ia masuk.
“Kamu pulang terlambat.”
“Pak supir tidak bisa menjemput.”
“Ayah tahu soal itu.” Randi berjalan mendekat. “Tapi ini terlalu larut.”
Ophelia menghela napas dan menunjukkan tangannya yang diperban. “Aku diserang. Pelakunya entah siapa.”
Randi melihat perban itu sekilas juga hidung Ophelia yang terluka. Setelah yakin kalau putri angkatnya ini tidak berbohong, ia mengangkat alis.
“Lagi? Banyak juga yang tidak suka padamu.”
Seperti dirimu tidak saja.
“Besok Ayah akan menemui kepala keluarga Purnomo sekaligus kepala keluarga Mahawirya. Kami akan membicarakan perihal pertunangan Chelsea dan Arjuna disana.”
“Bukannya itu bagus?” Ophelia tersenyum kecil. “Ayah bisa dekat dengan keluarga Mahawirya, keuntungan yang didapat pastinya lebih besar dari yang ditawarkan Pak Wijaya ‘kan ya?”
Randi terdiam sebentar.
“Memang. Tapi Ayah tidak suka Chelsea melakukan sesuatu diluar perintah seperti tadi pagi.”
Hm.
Ophelia tahu kalau Ayah angkatnya ini pasti akan marah.
“Chelsea yang Ayah besarkan bukan seseorang yang akan memberontak seperti itu.” Randi berjalan melewati Ophelia. Dia melihat bulan yang bersinar terang di luar sana. “...dia semakin mirip denganmu.”
Bukan.
Chelsea hanya sedang belajar kalau dia juga berhak memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri.
“Begitu menikah Chelsea akan keluar dari rumah ini. Aku rasa tidak buruk untuknya pergi dengan seseorang yang dia sukai.”
Randi yang mendengar itu hanya menyandarkan punggung pada jendela. “Kalian itu cuma saudara angkat, bukannya aneh kalau kamu sampai membelanya sejauh ini?”
“Ayah itu Ayah kandungnya.” Ophelia balas menatap Randi. “Bukannya lebih aneh kalau Ayah bahkan tidak menyayanginya seperti itu?”
“Tidak sama sekali,” ucap Randi datar.
Psikopat.
“Cukup untuk malam ini, pergilah ke kamarmu.”
Ophelia tidak mengatakan apapun lagi dan berjalan menaiki tangga. Ia sempat berbalik, menatap Randi yang memasuki ruang kerjanya seperti biasa.
Kenapa bisa manusia seperti itu ada di dunia?