Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.Kesal tanpa sebab
Malam merambat makin pekat menyelimuti ibu kota, meninggalkan sisa-sisa aroma tanah basah setelah terpaan hujan deras sore tadi. Di dalam kamar VIP lantai dua kediaman Adikara, suasana begitu hening hingga suara detik jarum jam di dinding terdengar seperti ketukan konstan yang menyiksa.
Aruna masih terduduk di tepi tempat tidur berukuran besar. Matanya menatap kosong ke arah pintu yang beberapa waktu lalu dihempaskan kencang oleh Kaivan. Air mata yang sempat menetes di pipinya kini telah mengering, meninggalkan sensasi lengket dan perih di kulitnya yang pucat pasi.
Pikirannya kalut. Nama Bagas terus berputar-putar di dalam kepalanya bagai gema yang menakutkan.
Aruna tahu betul bagaimana watak dan kekuasaan Kaivan Adikara. Pria itu bisa dengan mudah memusnahkan mata pencaharian seseorang, bahkan memasukkan seseorang ke dalam penjara hanya dengan satu jentikan jari.
Bayangan Bagas yang tersungkur di atas aspal basah di depan gerbang diseret oleh pengawal berbadan tegap membuat dada Aruna makin sesak.
“Kenapa kamu harus datang ke sini, Bagas...?” bisik Aruna dalam hati, kepalanya tertunduk dalam, jemari tangan kirinya mencengkeram erat seprai putih tempat tidur. “Aku ini cuma pembawa sial... Siapa pun yang dekat denganku pasti ikut hancur...”
Rasa bersalah yang teramat sangat menyelimuti jiwanya. Aruna merasa dirinya bagai wabah beracun. Orang tuanya menjualnya, Kaivan membencinya dan mengurungnya, dan kini teman-temannya di kafe orang-orang tulus yang pernah memberinya sedikit rasa hangat ikut terseret ke dalam neraka yang melilit hidupnya.
Di sudut ruangan, pintu kamar perlahan terdorong terbuka. Bi Asih melangkah masuk dengan sangat berhati-hati, membawa nampan berisi semangkuk sup ayam hangat, segelas air putih, dan beberapa butir obat dari dokter.
"Nona Aruna..." panggil Bi Asih sangat lembut, suaranya sarat akan rasa prihatin yang mendalam.
Aruna tidak bergeming, tak pula menoleh.Bi Asih menghela napas panjang. Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja samping tempat tidur, lalu perlahan berlutut di samping ranjang agar tingginya sejajar dengan Aruna. Wanita paruh baya itu memberanikan diri menyentuh pelan lutut Aruna yang tertutup kain celana.
"Nona... tolong makan sedikit ya, Nak," bujuk Bi Asih dengan mata berkaca-kaca. "Bibi mohon... Jangan siksa diri Nona seperti ini. Kalau Nona tidak makan, nanti kondisi Nona makin drop lagi..."
Aruna perlahan menolehkan kepalanya. Matanya yang redup dan tanpa sinar menatap wajah Bi Asih. "Bi Asih... Pak Kaivan benar-benar bakal menjarain Bagas...?" suara Aruna terdengar sangat parau, pecah, dan hampir tak bernyawa.
Bi Asih tertegun sejenak. Ia mengusap jemari tangan Aruna yang dingin. "Pak Kaivan cuma lagi emosi, Nona... Tadi Bibi dengar Pak Kaivan cuma menyuruh pengawal mengusir anak muda itu dari depan kompleks. Pak Kaivan tidak memanggil polisi..."
Secercah rasa lega yang sangat tipis menyusup ke dalam dada Aruna, meski tak sanggup mengikis selimut kegelapan yang mengurung hatinya.
"Tapi Pak Kaivan... marah sekali, kan?" bisik Aruna lagi, pandangannya kembali melayang hampa. "Semua orang marah sama saya... Saya memang cuma bikin masalah..."
"Tidak, Nona... Jangan bicara begitu," Bi Asih menggeleng cepat, air matanya menetes.
"Bibi memang cuma asisten rumah tangga di sini, tapi Bibi sudah kenal Pak Kaivan dari beliau masih kecil. Pak Kaivan itu... beliau sebenarnya panik setengah mati waktu melihat Nona pingsan dan terluka kemarin. Beliau sampai menembos hujan dan lari-lari membawa Nona ke rumah sakit..."
Aruna tersenyum tipis sebuah senyuman getir yang sangat menyakitkan untuk dilihat.
"Dia panik... karena takut barang jaminannya mati, Bi," sahut Aruna lirih, menyuarakan kenyataan pahit yang disampaikan Kaivan berulang kali.
"Kalau saya mati, uang tiga puluh miliar milik keluarganya tidak akan pernah kembali."
Bi Asih bungkam. Ia tidak sanggup membantah kalimat jujur dari gadis yang sudah terlalu banyak menelan luka tersebut.
Wanita paruh baya itu hanya bisa menggenggam jemari Aruna lebih erat, berdoa dalam hati agar keajaiban sudi menyentuh rumah yang dingin ini.
Sementara itu, di ruang kerja pribadinya di lantai satu, Kaivan berdiri di dekat bar terbuka. Pria itu menggenggam gelas kristal berisi minuman keras tanpa es. Jas mewahnya sudah ia tanggal, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga ke siku.
Kaivan menenggak isi gelasnya hingga tuntas dalam satu tegukan. Rasa panas membakar tenggorokannya, namun sama sekali tak sanggup meredakan gejolak emosi yang membakar dadanya sejak sore tadi.
Setiap kali ia memejamkan mata, dua bayangan terus-menerus beradu di dalam pikirannya: bayangan Aruna yang memegang serpihan kaca dengan mata hampa siap mengakhiri hidupnya, dan bayangan Bagas yang berteriak histeris di depan gerbang menuntut kebebasan Aruna.
“Kau tidak pernah mencintai dia! Kau cuma memanfaatkan dia!”
Teriakan Bagas berputar-putar bagai kutukan di dalam kepala Kaivan.
Kaivan mengepalkan tangannya kencang pada gelas kristal itu hingga buku-buku jarinya memutih kaku. Rahangnya menegang keras. Rasa tidak terima, benci, dan cemburu yang sangat asing menguasai seluruh logikanya.
"Bisa-bisanya seorang barista miskin bertingkah seolah dia pahlawan di hadapanku...?" desis Kaivan pada keheningan ruangan. Suaranya rendah dan penuh bahaya.
Ia sangat membenci fakta bahwa Bagas tahu tentang penderitaan Aruna. Ia lebih membenci kenyataan bahwa Aruna gadis yang selalu tunduk dan pasrah di hadapannya mendadak memohon dengan mata berkaca-kaca hanya untuk melindungi laki-laki lain.
Kenapa dia harus memohon demi laki-laki itu?! batin Kaivan murka. Kenapa dia tidak pernah memohon padaku untuk dirinya sendiri?!
Pintu ruang kerja berbunyi pelan. Sekretaris Dimas melangkah masuk membawa berkas laporan darurat.
"Pak Kaivan," panggil Dimas membungkuk sopan, mengabaikan atmosfer berat yang menyelimuti atasannya.
"Tim IT dan hukum kita baru saja menyelesaikan pemblokiran artikel serta foto yang beredar di situs media hiburan tadi sore. Sebagian besar portal berita sudah menarik kembali unggahan mereka setelah menerima surat peringatan resmi dari Adikara Group."
Kaivan membalikkan badannya kaku, menatap Dimas dengan sorot mata yang dingin dan menusuk. "Bagaimana dengan Ibu Rosmala?"
"Tim hukum kami sudah mendatangi kediaman keluarga Rasyara jam delapan malam tadi," terang Dimas sigap.
"Kami telah menyampaikan ultimatum keras bahwa jika Ibu Rosmala kembali memberikan pernyataan palsu kepada media, Adikara Group akan langsung mengeksekusi penyitaan seluruh aset Rasyara Group tanpa perpanjangan waktu satu hari pun. Tuan Rendra Rasyara sangat ketakutan dan berjanji akan mengurung istrinya di dalam rumah."
Kaivan mendengus sinis. "Bagus. Biarkan keluarga serakah itu merasakan akibat dari ketamakan mereka sendiri."
Kaivan meletakkan gelas kristalnya di atas meja bar dengan denting nyaring. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, melirik kaku ke arah Dimas.
"Lalu... bagaimana dengan laki-laki yang membuat keributan di depan rumah tadi sore?" tanya Kaivan, berusaha menyamarkan rasa ingin tahunya di balik nada suara yang datar dan tidak peduli.
Dimas berdehem pelan sebelum menjawab. "Nama lengkapnya Bagas Firmansyah, Pak. Beliau adalah barista senior di Kafe Kopi Senja, tempat Nona Aruna bekerja sebelumnya. Berdasarkan penelusuran singkat tim kami, beliau tidak memiliki catatan kriminal dan memang murni bertindak emosional karena mengkhawatirkan Nona Aruna setelah melihat foto yang viral."
"Aku tidak minta riwayat hidupnya, Dimas," potong Kaivan ketus dan kaku. "Apakah dia masih berkeliaran di sekitar kompleks ini?"
"Tidak, Pak. Setelah diusir oleh pengawal, beliau sempat ditahan oleh dua teman kerjanya yang menyusul ke lokasi dan sekarang sudah kembali ke area tempat tinggalnya." Dimas jeda sejenak, menatap Kaivan ragu-ragu.
"Apakah Anda ingin tim hukum kami melayangkan gugatan resmi atas tindakan pengerusakan gerbang kepadanya, Pak?"
Kaivan membuang pandangannya ke arah jendela luar yang gelap. Jemari tangannya bergerak perlahan meremas kain kemejanya sendiri.
Di dalam benak angkuhnya, keinginan untuk menghancurkan Bagas dan memasukkannya ke dalam penjara terasa sangat kuat demi menuntaskan rasa cemburu dan dendamnya. Namun, bayangan raut wajah Aruna yang menangis memohon padanya tadi sore mendadak hadir menghentikan niat kejam itu.
“Pak Kaivan... tolong... jangan apa-apakan Bagas...”
Jika ia memasukkan Bagas ke dalam penjara, Aruna pasti akan makin membencinya. Gadis itu mungkin akan kembali nekat mencoba mengakhiri hidupnya sebuah kemungkinan buruk yang kini diakui Kaivan amat sangat menakutkannya.
"Tidak perlu," kata Kaivan dingin, membelakangi Dimas.
"Memasukkan serangga seperti dia ke penjara hanya akan membuang-buang waktu dan biaya tim hukumku. Cukup awasi kafenya. Kalau dia berani mendekati rumah ini lagi, baru tindak tegas."
"Baik, Pak Kaivan," jawab Dimas patuh, meski di dalam hatinya ia sedikit terkejut atas keputusan atasannya yang mendadak melunak.
"Kau boleh pulang, Dimas," perintahkan Kaivan kaku.
"Baik, Pak. Permisi."
Setelah Sekretaris Dimas keluar, keheningan kembali menguasai rumah mewah itu.
Kaivan berdiri mematung di tengah ruangan selama beberapa menit. Pikirannya melayang naik ke lantai dua.
Ada dorongan aneh yang terus membisikkan namanya untuk melangkah menuju kamar Aruna sebuah dorongan untuk memastikan dengan matanya sendiri bahwa gadis itu masih bernapas dan tidak kembali melakukan tindakan konyol.
Dengan langkah kaki yang kaku dan pelan, Kaivan menaiki anak tangga satu demi satu.
Koridor lantai dua tampak remang, hanya diterangi oleh lampu dinding yang redup. Kaivan berhenti tepat di depan pintu kamar Aruna. Tangannya terulur ke arah gagang pintu, berhentinya sejenak di udara saat rasa gengsi dan egingnya kembali berontak.
Aku cuma memeriksa investasiku, kilih Kaivan pada hatinya sendiri yang bergejolak. Aku tidak peduli padanya secara pribadi.
dengan perlahan, Kaivan memutar gagang pintu tanpa menimbulkan suara.
Pintu terbuka tipis. Cahaya temaram dari koridor menerobos masuk ke dalam kamar yang gelap.
Kaivan mengintip dari celah pintu.
Di atas tempat tidur besar, Aruna meringkuk di bawah selimut tebal. Gadis itu tampak sudah tertidur, dengan napas yang lambat dan teratur. Di atas meja samping tempat tidur, mangkuk sup pemberian Bi Asih tampak masih utuh tanpa tersentuh sedikit pun, berdampingan dengan segelas air dan obat-obatan yang dibiarkan begitu saja.
Kaivan melangkah masuk ke dalam kamar secara perlahan. Sepatu kulitnya tidak mengeluarkan suara sama sekali di atas karpet tebal.
Pria tinggi angkuh itu berdiri di samping ranjang, menatap sosok Aruna yang terbaring lemah. Dalam keheningan malam dan kegelapan kamar, tanpa adanya tatapan takut dari Aruna atau bentakan keras dari dirinya sendiri, sosok gadis di hadapannya tampak begitu kecil, ringkih, dan hancur.
Mata Kaivan tertuju pada punggung tangan kanan Aruna yang terbungkus perban tebal, lalu beralih menatap wajah pucat gadis itu. Bahkan dalam tidurnya, dahi Aruna masih menyipit tipis, seolah mimpi buruk terus mengejarnya tanpa henti.
Jemari Kaivan yang berada di samping tubuhnya berguncang pelan. Ada keinginan terlarang yang sangat kuat untuk mengulurkan tangan dan mengusap dahi Aruna yang berkerut itu, untuk membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan bahwa tidak ada lagi orang yang akan menyakitinya.
Namun, gengsi angkuh yang telah tertanam puluhan tahun di dalam jiwanya menahan jemari Kaivan dengan sangat kuat. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung, mematungkan dirinya seperti patung es.
"Kenapa kau harus hadir di dalam hidupku, Aruna...?" bisik Kaivan sangat pelan, suaranya hampa dan sarat akan kerapuhan yang tersembunyi rapat.
"Kenapa kau harus membuat segalanya jadi serumit ini...?"
Aruna bergerak kecil dalam tidurnya, membalikkan tubuhnya membelakangi Kaivan, menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutup lehernya.
Kaivan menatap punggung kecil itu selama beberapa saat lagi. Ia tahu, jalan di depan mereka masih sangat panjang dan dipenuhi jurang yang terjal.
Dinding prasangka, perbedaan kasta, utang puluhan miliar, dan rasa cemburu akan kehadiran Bagas telah menciptakan benang-benang rumit yang kian terjerat erat di antara mereka.
Tidak ada rasa cinta yang terucap. Tidak ada pulihnya rasa percaya. Yang ada hanyalah dua jiwa yang sama-sama terluka dan terikat dalam ikatan pernikahan paksa yang dingin.
Dengan helaan napas berat yang tak terdengar, Kaivan mundur dua langkah, lalu perlahan berjalan keluar dari kamar dan menutup pintunya tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun—meninggalkan Aruna di dalam kesendirian malam, sementara badai baru dalam hidup mereka siap menerjang kembali esok hari.
_Bersambung