Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Orang dari Masa Lalu Tidak Pernah Benar-Benar Hilang
Pria itu tidak menjawab langsung. Dia hanya tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke mata. “Saya hanya penasaran. Gadis cantik yang bisa menjatuhkan pria seberat itu… jarang ada.”
Aira merasakan instingnya berteriak pelan. Orang ini berbahaya. Bukan seperti Gajah yang hanya mengandalkan otot. Cara bicaranya terlalu tenang.
“Saya pergi,” kata Aira singkat, lalu melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.
Raka menyusul di sampingnya. “Siapa itu? Wajahnya tidak familiar.”
“Tidak penting. Yang penting saya sudah dapat lima belas juta malam ini.” Aira menepuk saku jaketnya. “Sekarang saya pulang. Jangan ikut.”
“Saya antar.”
“Tidak perlu.”
“Saya antar. Titik.”
Aira berhenti sejenak dan menatap Raka. “Kalau kamu antar, bensinnya kamu yang bayar. Dan jangan bilang-bilang ke orang bahwa kamu kenal saya. Saya tidak mau ribet.”
Raka tersenyum lebar. “Deal.”
Mereka keluar dari arena melewati pintu belakang. Udara malam agak dingin. Aira berjalan cepat, sementara Raka menyamakan langkah di sampingnya dengan santai.
Di belakang mereka, pria berbadan tegap itu masih berdiri di dekat pagar, menatap kepergian Aira sambil mengeluarkan ponsel.
Dia menekan satu nomor. “Saya menemukan dia,” katanya pelan. “Gadis itu masih hidup. Dan dia masih sama berbahayanya seperti dulu.”
Di ujung sana, suara dingin menjawab, “Jangan gegabah. Amati dulu. Kita tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.”
Pria itu mematikan telepon, lalu tersenyum tipis.
Sementara itu, Aira sudah naik ke motor Raka. Angin malam menerpa wajahnya. Dia memegang pinggang Raka seperlunya saja, secukupnya agar tidak jatuh.
“Kamu lapar?” tanya Raka di tengah jalan.
“Tidak.”
“Bohong. Perutmu sudah bunyi sejak tadi.”
Aira terdiam. “…Boleh. Tapi yang murah saja.”
Raka tertawa. “Nasi padang lagi?”
“Tidak. Bakso saja. Yang satu porsi. Jangan berlebihan.”
Raka menggelengkan kepala sambil tersenyum. Gadis di belakangnya ini benar-benar tidak biasa. Cantik, mematikan, dan sama sekali tidak tertarik padanya. Dan entah kenapa, justru itu yang membuatnya semakin ingin tahu. Aira menatap jalan di depan, pikirannya sudah kembali ke perhitungan. "Lima belas juta ditambah sisa kemarin. Cukup untuk dua bulan kalau hemat. Besok… mungkin saya istirahat. Atau cari lawan yang bayarannya lebih tinggi."
Dia tidak tahu bahwa malam itu, di arena yang baru saja dia tinggalkan, seseorang dari masa lalunya sudah mulai bergerak. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, uang saja mungkin tidak akan cukup untuk menyelamatkannya.
Besok paginya, Aira terbangun karena suara ketukan di pintu yang terlalu sopan untuk penagih utang. Dia membuka mata, menatap langit-langit retak kamar kost, lalu menghela napas. Jam di ponsel murahnya menunjukkan pukul sepuluh pagi. Terlalu siang untuk orang yang biasa tidur setelah pukul tiga dini hari.
Ketukan itu berulang. “Aira. Saya tahu kamu di dalam. Saya bawa sarapan.” Suara Raka.
Aira menutup muka dengan bantal. “Pergi.”
“Saya bawa bubur ayam. Dan kopi.”
Diam sejenak. “…Kopinya pakai gula berapa?”
“Sedikit. Sesuai selera orang yang tidak suka manis berlebihan.”
Aira menggerutu pelan, lalu bangkit. Rambutnya acak-acakan, kaos oblongnya kusut, dan ada memar kecil di tulang rusuk kiri akibat tendangan Gajah semalam yang tidak sempat dia hindari sempurna. Dia membuka pintu hanya selebar telapak tangan.
Raka berdiri di luar dengan senyum yang sudah terlalu familiar. Di tangannya ada kantong kertas berisi bubur dan dua gelas kopi.
“Kamu tidak punya pekerjaan lain?” tanya Aira datar.
“Ada. Tapi libur hari ini.”
“Berbohong.”
“Iya. Saya bolos latihan.” Raka mengangkat kantong. “Boleh masuk?”
Aira merebut kantong itu dan membiarkan pintu terbuka lebih lebar. “Masuk. Tapi jangan lama-lama. Saya mau tidur lagi.”
Raka masuk dan duduk di kursi plastik retak yang satu-satunya ada di kamar. Aira langsung menyendok bubur tanpa basa-basi. Setelah tiga suapan, dia angkat bicara. “Kemarin ada orang aneh di arena. Yang bertanya nama saya.”
Raka menegakkan tubuh. “Saya ingat. Wajahnya tidak enak dilihat. Kenapa?”
“Tidak tahu. Tapi insting saya bilang dia bukan penonton biasa.” Aira menelan kopi. “Kalau dia muncul lagi, jangan ikut campur. Urusan saya.”
“Kalau dia bahaya?”
“Semua orang di dunia saya bahaya. Saya sudah terbiasa.”
Raka terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Kamu pernah bilang dulu kamu pembunuh bayaran.”
Aira berhenti menyendok. Matanya menajam. “Saya tidak pernah bilang itu.”
“Tidak langsung. Tapi cara kamu bertarung… cara kamu berbicara… dan kamu tidak takut sama sekali saat enam orang datang kemarin… susah untuk tidak menebak.”
Aira meletakkan sendok. “Dengarkan baik-baik, Raka. Masa lalu saya sudah mati. Saya tidak ingin menghidupkannya lagi. Kalau kamu terus bertanya, saya akan mengusir kamu dan tidak akan terima makanan gratis lagi.”
Raka mengangkat kedua tangan. “Baik. Saya diam.”
Mereka makan dalam diam yang agak canggung. Aira sengaja makan cepat. Begitu bubur habis, dia berdiri. “Sudah. Kamu boleh pulang.”
Raka belum sempat menjawab ketika suara motor terdengar dari luar. Lalu suara langkah kaki yang terlalu rapi untuk preman biasa.
Aira langsung menuju jendela dan mengintip. Empat pria turun dari dua mobil hitam yang parkir di depan kost. Mereka tidak membawa pipa besi atau golok. Mereka membawa senjata yang lebih tajam—pisau lipat dan satu orang terlihat menyembunyikan pistol di pinggang. Paling depan adalah pria berbadan tegap yang semalam menatapnya di arena.
Aira merasakan darahnya dingin. Bukan karena takut. Melainkan karena dia mengenali cara berdiri orang itu. Orang dari organisasi lama. Dia berbalik dan menatap Raka. “Keluar dari jendela belakang. Sekarang.”
“Apa?”
“Jangan tanya. Keluar. Kalau mereka melihat kamu bersama saya, kamu ikut jadi target.”
Raka membuka mulut hendak membantah, tapi tatapan Aira membuatnya menurut. Dia bergerak ke jendela belakang kamar yang menghadap gang sempit. Aira membuka jendela itu dan mendorong Raka keluar.
“Lari. Jangan kembali.”
“Aira—”
“Lari.”
Raka akhirnya melompat turun dan menghilang di gang. Aira mengunci jendela, lalu mengambil pisau lipat dari bawah kasur. Dia berdiri di tengah kamar, napas tenang, tubuh sudah siap. Ketukan di pintu terdengar. Kali ini lebih keras.
“Aira. Kami tahu kamu di dalam. Bos ingin bicara.”
Aira tidak menjawab. Pintu ditendang dari luar. Kayu murahan itu langsung retak. Dua pria masuk lebih dulu. Yang tegap menyusul di belakang dengan senyum tipis.
“Masih sama cantiknya,” kata pria itu. “Bos kecewa kamu menghilang tanpa pamit.”
Aira menatapnya datar. “Bos sudah mati. Saya sendiri yang memastikan.”
Senyum pria itu menghilang. “Bos yang baru tidak suka pengkhianat. Apalagi yang membawa banyak rahasia.”
“Saya tidak membawa apa-apa. Saya hanya ingin hidup tenang dan makan mi instan.”
“Sayangnya, hidup tenang tidak lagi menjadi pilihan.”