Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggun
"Wah, mewah banget tempatnya." celetuk Pak Bambang terperangah.
Aira tersenyum tipis lalu menimpalinya, "Iya, Pak. Nggak kalah mewah kan sama rumah Mas Devan?"
Pak Bambang menatap menantunya penuh rasa penasaran. "Tempat ini... punya kamu, Nak?"
"Iya, Pak. Gimana, Bapak suka?" tanya Devan santai. Pak Bambang pun refleks mengangguk cepat.
"Sebenarnya kamu ini siapa, Nak Devan? Bapak sungguh nggak percaya kalau semua yang kamu pakai ini cuma hasil menyewa, seperti yang dibilang Ibu mertuamu." cercar Pak Bambang penasaran.
"Mending Bapak istirahat dulu yuk, biar Mas Devan antarkan ke kamar." sela Aira lembut.
Aira dan Devan langsung menuntun Pak Bambang menuju kamarnya. Tubuh tua itu memang butuh istirahat yang cukup setelah semua tekanan yang dialaminya.
Sambil berjalan, Aira berbisik memberi tahu sang ayah. "Sebenarnya Mas Devan ini pebisnis sukses, Pak. Beda jauh sama apa yang diomongin Ibu sama Karin. Jujur, Aira sendiri tadinya hampir nggak percaya."
Pak Bambang menghentikan langkahnya sebentar. "Benar begitu, Devan?"
"Iya, Pak." jawab Devan singkat dan rendah hati.
Dada Pak Bambang mendadak sesak. "Kenapa kamu cuma diam aja waktu Ibu mertua sama ipar kamu ngatain kamu kuli bangunan? Maafkan mereka ya, Devan... Bapak merasa gagal jadi kepala rumah tangga sampai nggak bisa mendidik istri dan anak Bapak dengan benar." ujar Pak Bambang dengan suara bergetar penuh penyesalan.
"Bapak nggak perlu minta maaf, Bapak sama sekali nggak salah. Lagipula Devan nggak masalah dibilang kuli bangunan, Pak. Bagi Devan, pekerjaan kuli juga halal dan mulia." balas Devan menenangkan.
Pak Bambang benar-benar dibuat bertekuk lutut oleh sikap menantunya ini. Sudah kaya raya, tapi sama sekali tidak congkak atau hobi pamer harta. Malah terkesan sangat merendah.
"Bapak bangga dan salut banget sama kamu. Meskipun kaya, kamu tetap rendah hati." puji Pak Bambang tulus. "Sekali lagi maafkan Bapak ya, sudah merepotkan kamu sejauh ini."
"Bapak sudah Devan anggap seperti orang tua kandung Devan sendiri, jadi nggak perlu sungkan begitu, Pak." jawab Devan tulus, membuat rasa haru kembali menyelimuti hati Pak Bambang.
Devan kemudian mendorong pintu sebuah kamar khusus untuk ayah mertuanya. Sekali lagi, Pak Bambang dibuat terpukau. Kamar itu begitu luas, bersih, dan tertata sangat rapi, terlihat begitu hangat dan nyaman.
"Sekarang Bapak istirahat ya. Ingat kata dokter, Bapak nggak boleh capek-capek dan jangan banyak beban pikiran." ingat Devan tegas tapi perhatian.
"Iya, Nak... Terima kasih banyak ya sudah menyediakan tempat tinggal senyaman ini buat Bapak." balas Pak Bambang terharu.
Devan mengangguk pelan, sementara Aira membantu ayahnya berbaring dan menarik selimut hingga ke dada.
...****************...
Malam harinya, Devan baru sempat memberitahu Aira kalau ayahnya meminta mereka datang ke rumah.
"Sayang, tadi siang Ayah telepon. Katanya malam ini kita disuruh datang ke rumah, ada hal penting yang mau disampaikan. Nggak apa-apa kan kalau malam ini kita tinggalin Bapak sebentar? Tenang aja, nanti aku minta Aldi buat nemenin Bapak di sini, sekalian aku kenalkan mereka sama kamu." ucap Devan lembut.
Aira tersenyum mengerti. "Iya, nggak apa-apa kok, Mas. Nggak enak juga kalau kita nggak datang."
"Ya udah, sekarang kamu siap-siap ya. Dandan yang cantik, semua kebutuhan kamu sudah aku siapkan di dalam." titah Devan manis.
"Makasih banyak ya, Mas... Kamu sampai serepot ini mempersiapkan semuanya buat aku dan Bapak." bisik Aira tersentuh. Devan hanya tersenyum, mengelus lembut rambut istrinya lalu mendaratkan kecupan hangat di kening Aira.
Aira bergegas melangkah ke dalam walk-in closet. Ruangan itu tak kalah mewah dari fasilitas di rumah suaminya. Berbagai deretan pakaian pria dan wanita tertata sangat rapi di sana.
Mata Aira berbinar terperangah! Semua kebutuhan wanita lengkap ada di sana, mulai dari pakaian dalam, aksesori, baju, sepatu, hingga tas-tas bermerek. Semuanya masih baru lengkap dengan label harganya yang bikin meringis karena fantastis!
*Waw... kira-kira dia habis berapa ratus juta buat beli semua ini? Ckck, dasar orang kaya, bebas banget! Bedalah sama aku yang kalau mau beli apa-apa harus mikir ribet dulu.* gumam Aira dalam hati. Rasanya masih seperti mimpi bisa bersanding dengan suami yang tampan, penyayang, dan serba ada.
Jari-jemari Aira akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah gaun hitam tanpa lengan setinggi lutut. Modelnya simpel, tapi begitu melekat di tubuhnya, gaun itu langsung memancarkan kesan elegan dan mewah. Memang dasar barang mahal, kualitasnya tak perlu diragukan!
Aira benar-benar terlihat sangat cantik, anggun, dan berkelas. Riasan wajahnya tipis natural, tanpa polesan menor sedikit pun.
Sebelum berangkat, mereka berpamitan dulu pada Pak Bambang. Hati Pak Bambang luluh dan bahagia luar biasa melihat keharmonisan anak dan menantunya itu.
...****************...
Di tempat lain, begitu tahu suaminya mengundang Devan dan istrinya untuk datang, Arum sengaja ikut mengundang Anggun!
Kedatangan Anggun disambut hangat oleh Arum. "Sayang! Akhirnya kamu datang juga!" seru Arum girang sambil memeluk Anggun erat.
"Iya dong, Tante. Aku bela-belain datang kemari demi Tante loh," balas Anggun dengan gaya sok cantiknya.
Arum langsung merangkul Anggun masuk ke dalam rumah. "Selamat malam, Om. Hai, Raka." sapa Anggun centil sambil menyalami Fandi.
"Eh, ada Anggun rupanya." sahut Fandi.
"Iya nih, Pa. Jarang-jarang kan dia bisa mampir, biasalah orang sibuk." timpal Arum berpura-pura seolah Anggun datang kebetulan, padahal dialah dalang di balik undangan itu.
Anggun ini sebenarnya seorang model, tapi bukan kelas atas alias masih biasa-biasa saja. Tapi jangan salah, gayanya sudah selangit!
"Kamu makin kesini makin cantik aja, Nggun. Gimana kabarnya sekarang? Udah lama ya kita nggak ketemu." sapa Raka ramah.
Semenjak Raka disuruh ikut mengurus perusahaan Fandi, waktunya tersita habis sampai tidak ada waktu sekadar jalan bareng Anggun. Begitu pula dengan Anggun yang sok sibuk dengan jadwal modelnya.
"Ah, kamu bisa aja. Aku baik kok." sahut Anggun merendah untuk meroket.
"Kalian ngobrol-ngobrol dulu aja ya, Om ada hal penting yang harus diurus sama Raka." pamit Fandi yang memang sedang pusing berat memikirkan nasib perusahaannya yang terancam bangkrut.
"Iya, Om, santai aja." balas Anggun sok ramah. Kini tinggal Anggun dan Arum yang tersisa di ruangan itu.
Raka sendiri sebenarnya sudah hafal luar kepala maksud ibunya memanggil Anggun. Apalagi kalau bukan menyuruh Anggun mendekati Devan, kakak tirinya?
"Tante, katanya Devan mau ke sini? Mana?" tanya Anggun celingukan mencari keberadaan laki-laki itu.
Sejak pertama kali melihat Devan, Anggun memang sudah kepikiran. Gimana enggak? Devan itu sempurna banget, tampan, matang, dan bergelimang harta! Wanita mana coba yang nggak kepincut sama sosok Devan Kusuma, pebisnis ulung dengan kekuasaan besar di tangannya? Banyak wanita cantik berlomba-lomba mendekatinya, tapi Devan tipe yang susah disentuh. Di mata Devan, semua perempuan sama saja hanya mengincar hartanya.
Sangat berbanding terbalik dengan Aira. Sejak awal, Aira cuma tahu kalau Devan itu kuli bangunan. Padahal Devan tidak berniat menutupi identitasnya, tapi Aira tetap menerimanya dengan tulus apa adanya. Berawal dari situlah ketertarikan Devan tumbuh hingga benih-benih cinta mekar di antara mereka berdua.
"Sabar, sebentar lagi dia juga sampai. Tapi dia datang sama istrinya." tutur Arum melayangkan bom informasi yang seketika bikin Anggun terperanjat! Setahu Anggun, Devan itu masih single alias belum menikah.
"Apa?! Devan udah menikah, Tante? Kok Anggun nggak tahu?" cecar Anggun kaget bukan main.
"Jangankan kamu, Tante sama Om aja nggak tahu!" sungut Arum.
"Jadi maksudnya, Devan nikah diam-diam tanpa kasih tahu Om dan Tante?"
"Iya, waktu dia ada proyek di daerah sana, tiba-tiba dia dipaksa nikah sama seorang wanita. Entah gimana ceritanya sampai mereka bisa dinikahkan, Tante juga nggak paham." jelas Arum asal-asalan. Devan memang tidak pernah mau cerita blak-blakan soal alasan pernikahannya dengan Aira kepada ibu tirinya itu.
Anggun mencibir gatal. "Kalau Devan yang macem-macem kayaknya nggak mungkin deh, Tante. Jangan-jangan cewek itu yang keganjenan! Aku jadi penasaran banget sama cewek itu." ujar Anggun panas.
"Tante tebak orangnya pasti kampungan, secara tinggalnya aja di pelosok desa." kompor Arum sengaja.
"Hah? Cuma orang kampung? Ih, kok Devan mau-mau aja sih disuruh nikahin cewek kampungan?" dengkus Anggun makin tak habis pikir.
"Tahu tuh, Tante juga heran sama anak tiri Tante yang satu itu. Padahal Tante maunya punya menantu kayak kamu udah cantik, baik, model lagi! Kamu harus tetep pepet Devan terus ya, Anggun. Tante cuma sudi punya menantu kamu." desak Arum blak-blakan.
Anggun agak ragu sebentar. "Tapi... Devan kan udah nikah, Tante?"
"Halah, palingan istrinya itu jelek dan burik! Namanya juga cewek kampung, pasti dia mau nikah sama Devan cuma gara-gara ngincar harta doang! Tante nggak sudi Devan punya istri yang salah. Devan itu dari keluarga terhormat, istrinya ya harus yang setara dong! Malu-maluin kalau cuma dapet cewek kampung." racak Arum yang sejak awal sudah menaruh benci setengah mati pada Aira. "Pokoknya kamu harus bisa rebut hati Devan, nanti Tante bantuin dari belakang!"
"Tante serius?" Mata Anggun berbinar kegirangan mendapat lampu hijau dan dukungan penuh dari Arum.
Ini bagaikan angin segar bagi Anggun! Dia memang menaruh rasa pada Devan, dan sekarang malah didukung habis-habisan oleh ibunya. Anggun sendiri tidak tahu kalau Devan itu hanya anak tiri Arum, dia mengira Devan dan Raka adalah saudara kandung.
Selama ini Anggun setengah mati susah mendekati Devan karena sikap lelaki itu yang terlampau dingin dan selalu menjaga jarak. Karena susah menembus benteng Devan, Raka yang malah ganti mendekatinya. Anggun pikir tak ada salahnya juga melayani Raka sekadar diajak jalan, toh bisa dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk makin dekat dengan Devan.
"Iya dong, kita harus bikin Devan ceraikan istri kampungannya itu!" tegas Arum berapi-api, yang langsung diangguki semangat oleh Anggun.
*Brummm...*
Tak lama kemudian, deru suara mesin mobil terdengar berhenti tepat di halaman depan. Arum tersenyum miring, sudah bisa menebak siapa yang datang.
"Nah, itu pasti mereka!" seru Arum.
Anggun mendadak panik kecil lalu buru-buru membenarkan tatanan rambut dan riasan wajahnya. Dia harus memastikan penampilannya benar-benar sempurna dan tak tanding!
"Aku udah nggak sabar pengin liat secantik apa cewek jelek istrinya Devan. Pasti nanti dia langsung minder dan iri setengah mati pas liat aku." celetuk Anggun penuh percaya diri.
"Itu sih udah pasti, secara kamu kan cantik banget." puji Arum membesarkan kepala Anggun.
"Assalamualaikum..."
Suara berat nan karismatik Devan terdengar bersamaan dengan langkah kaki yang memasuki rumah. Aira berjalan anggun di samping suaminya.
"Waalaikumsalam." sahut Arum santai sambil menoleh...
*Deg!*
Seketika itu juga, Arum dan Anggun membeku di tempat! Napas Anggun tertahan di tenggorokan.
Di depan mereka, Devan berdiri gagah berdampingan dengan seorang wanita yang luar biasa cantik! Wanita itu memiliki tubuh tinggi semampai, kulit putih mulus yang terlihat glowing alami, serta aura elegan yang sangat terpancar. Gaun hitam simpel yang membalut tubuhnya justru membuatnya terlihat sangat modis dan mewah tiada tanding!
Jangankan cewek kampung burik yang mereka bayangkan, bahkan Anggun yang berprofesi sebagai model pun... kalah telak jika disandingkan dengan kecantikan Aira saat ini!
**Bersambung**