Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malaikat Tak Bersayap di Lorong Hujan
Hujan menderas mengubah jalanan ibu kota menjadi sungai-sungai kecil yang keruh. Dea terus berlari, napasnya tersengal-sengal, seragamnya basah kuyup menempel di kulit, dan sepatunya sudah dipenuhi lumpur. Ia sudah berjalan entah berapa kilometer menjauhi kompleks perumahan elitenya, tersesat masuk ke dalam labirin gang-gang sempit di daerah padat penduduk yang kumuh dan asing baginya.
Lampu-lampu jalan di daerah ini banyak yang mati. Bau got yang menggenang bercampur dengan aroma gorengan dari warung tenda yang mulai tutup. Dea menggigil kedinginan. Perutnya berbunyi perih, dan pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia memeluk ranselnya erat-erat, berjalan gontai di bawah kanopi sebuah ruko yang tutup untuk sekadar berteduh.
"Hei, Neng. Kok sendirian aja malam-malam hujan begini?"
Suara serak itu membuat bulu kuduk Dea berdiri. Tiga orang pemuda berwajah sangar dengan pakaian lusuh keluar dari sebuah pos ronda yang gelap. Salah satu dari mereka memegang botol minuman keras, menatap Dea dari atas ke bawah dengan pandangan lapar. Walaupun Dea terlihat berantakan, kulitnya yang bersih dan ransel bermerek yang dipeluknya jelas menunjukkan bahwa ia berasal dari dunia yang berbeda—sebuah mangsa yang empuk.
"Jangan ganggu saya," suara Dea bergetar, ia melangkah mundur, namun punggungnya menabrak tembok ruko. Terperangkap.
"Wah, anak orang kaya nih kayaknya. Sini tasnya, sekalian main-main bentar sama Abang," seringai pria bertato di lengannya sambil mengulurkan tangan kotornya untuk menarik kerah jaket Dea.
Dea memejamkan mata, menjerit tertahan saat tangan pria itu nyaris menyentuhnya. Namun, sentuhan kasar itu tak pernah tiba.
Terdengar suara buk yang keras, disusul rintihan kesakitan.
Dea membuka matanya pelan-pelan. Pria bertato itu kini sudah tersungkur di genangan air kotor, memegangi perutnya sambil mengerang. Di depan Dea, berdiri seorang wanita muda. Tubuhnya ramping namun terlihat sangat tegap, mengenakan celana training hitam, kaus putih polos, dan payung lipat berwarna merah yang ujungnya baru saja digunakan untuk menyodok ulu hati preman tadi.
"Tiga lawan satu, dan korbannya anak sekolah? Kalian ini preman atau pengecut?" Suara wanita itu tenang, jernih, namun memiliki ketegasan yang membelah suara hujan.
"Bangsat! Berani lu ikut campur, cewek gila!" Preman kedua yang memegang botol langsung mengayunkan botolnya ke arah kepala wanita itu.
Dea menjerit, "Awas, Kak!"
Wanita itu sama sekali tidak panik. Dengan gerakan yang begitu luwes bagai sebuah tarian, ia menunduk menghindari ayunan botol. Tangan kirinya menangkap pergelangan tangan si preman, memelintirnya dengan sudut yang tak lazim, dan dengan satu sapuan kaki kanan yang cepat, ia menjatuhkan preman itu ke tanah. Krak! Bunyi tulang yang dipelintir membuat preman ketiga langsung ciut nyalinya. Tanpa pikir panjang, preman yang tersisa lari terbirit-birit menembus hujan, meninggalkan kedua temannya yang masih mengerang di tanah.
Wanita itu membetulkan letak payungnya, menatap kedua preman di tanah dengan tatapan dingin. "Pergi sebelum kupatahkan leher kalian berdua." Keduanya langsung merangkak bangun dan lari pontang-panting.
Setelah suasana sepi, wanita itu berbalik menatap Dea. Di bawah remang lampu jalan yang tersisa, Dea bisa melihat wajah penyelamatnya. Wajahnya cantik dengan kecantikan yang alami dan tidak dibuat-buat. Matanya teduh, menenangkan, mengingatkan Dea pada tatapan almarhumah ibunya setiap kali membangunkannya di pagi hari.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya lembut. Nada suaranya berubah drastis dari yang tadi sedingin es kini menjadi sehangat selimut.
Dea mencoba mengangguk, tapi tiba-tiba dunia terasa berputar. Kakinya lemas, dan tubuhnya limbung ke depan. Sebelum ia menghantam aspal yang keras, lengan wanita itu dengan cekatan menangkapnya.
"Badanmu panas sekali," gumam wanita itu, menyentuh kening Dea. "Ayo, ikut aku. Kostku tidak jauh dari sini. Kau bisa mati kedinginan kalau tetap di jalan."
Tanpa penolakan, karena memang tidak punya tenaga dan pilihan, Dea membiarkan dirinya dipapah.
Mereka tiba di sebuah kamar kost sederhana berukuran 3x4 meter yang bersih dan rapi. Wanita itu dengan sigap mengambilkan handuk kering, meminjamkan pakaian gantinya yang sedikit kebesaran di tubuh Dea, dan menyeduhkan teh manis hangat.
"Minumlah. Ini akan membuat perutmu sedikit nyaman," ucapnya sambil menyodorkan cangkir seng berenamel bunga.
"T-terima kasih..." Dea menerima cangkir itu, tangannya masih bergetar. Kehangatan teh itu perlahan mengalir ke dada, dan entah mengapa, bendungan emosi yang mati-matian ia tahan sejak keluar dari rumahnya malam ini jebol. Air mata Dea tumpah begitu saja. Ia menangis tersedu-sedu, meratapi ibunya, ayahnya yang jauh, dan kekejaman yang harus ia terima.
Wanita itu tidak bertanya apa-apa. Ia hanya duduk di sebelah Dea, merangkul pundak gadis remaja itu, dan membiarkan Dea menangis di pelukannya sambil mengelus rambut Dea dengan lembut. Sentuhan itu... Dea sangat merindukan sentuhan itu. Rasa aman yang aneh dan magis seketika melingkupi Dea, seolah semesta mengirimkan malaikat untuknya malam ini.
"Namaku Tania," bisik wanita itu pelan saat tangis Dea mulai mereda. "Siapa namamu, manis?"
"D-Dea..." jawabnya parau.
Tania tersenyum tipis. Sambil menatap Dea yang perlahan tertidur karena kelelahan di kasur tipisnya, pikiran Tania melayang pada tujuannya sendiri berada di kota metropolitan yang keras ini. Ia adalah seorang guru tari tradisional di sebuah sanggar kecil tak jauh dari sini. Namun, itu bukan alasan utamanya merantau dari desanya.
Di dalam laci meja kecil di sudut kamarnya, tersimpan sebuah kotak kayu. Di dalamnya ada secarik surat usang dan sebuah selimut bayi yang ditemukan bersama dirinya dua puluh tahun lalu di dalam sebuah kardus di pinggir hutan desa. Orang tua angkatnya merawatnya dengan penuh kasih, namun pesan di surat itu jelas: Tolong rawat anak ini. Saat ia berusia 20 tahun, biarkan ia pergi ke ibu kota. Kebenaran tentang darah dagingnya ada di sana.
Tania menatap wajah Dea yang terlelap dengan sisa air mata di pipinya. "Entah dari iblis mana kau melarikan diri, Dea," gumam Tania pelan, matanya berkilat penuh tekad. "Tapi selama kau di sini, tidak akan ada yang boleh menyakitimu."
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor