Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Dua minggu berlalu bagaikan sekejap mata di dalam gedung Zeros Records.
Tumpukan kotak piza kosong dan kaleng minuman energi berserakan di sudut-sudut studio.
Mika tertidur pulas di atas karpet dengan gitar listrik yang masih memeluk di dadanya.
Leo duduk terlelap di kursi putarnya dengan kepala tertunduk di depan layar synthesizer.
Sementara itu, Clara tertidur di sofa panjang dengan selimut tebal yang menutupi separuh wajahnya.
Hanya Stevan yang masih terjaga.
Ia duduk di meja kendali utama, memoles detik-detik terakhir dari lagu kesepuluh yang akan menjadi penutup album perdana mereka.
Klik.
Tanda centang hijau muncul di layar monitor utama, menandakan proses mastering audio telah selesai seratus persen.
Stevan menyandarkan punggungnya dan menghela napas panjang tanpa suara.
Sebuah album maha karya bertajuk Resonansi Terbuang telah lahir dari tangan empat orang yang pernah dibuang oleh dunia.
Stevan merogoh sakunya, berniat membuka panel platform musik independen untuk menjadwalkan perilisan digital album tersebut siang ini.
Namun, saat ia menekan tombol unggah, sebuah notifikasi peringatan merah menyala di layarnya.
AKSES DITOLAK.
Akun Zeros Records telah dibekukan sementara oleh Asosiasi Platform Digital Nasional atas dugaan pelanggaran standar industri.
Mata Stevan seketika menyipit tajam.
Pembekuan akun secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan email sebelumnya?
Ini bukan kesalahan sistem, ini adalah pemblokiran manual yang dilakukan oleh pihak yang memiliki otoritas tinggi.
[TING!]
[Deteksi ancaman bisnis skala besar.]
[Otoritas Aliansi Label Raksasa sedang mencoba mencekal distribusi digital album tuan rumah.]
Stevan tersenyum sangat dingin di balik maskernya.
Pak Surya mungkin sudah berada di balik jeruji besi, namun akar korupsi dan monopoli pria itu masih tertanam kuat di asosiasi label nasional.
Mereka takut album Resonansi Terbuang ini akan menyapu bersih pasar dan membuat artis-artis instan mereka tidak laku.
Stevan tidak panik sedikit pun.
Ia sudah mendapatkan hadiah Keterampilan Negosiasi Bisnis Tingkat Ahli dari sistem minggu lalu.
Ini adalah saat yang paling tepat untuk menguji keterampilan tersebut.
Stevan mengetik pesan singkat di grup obrolan internal mereka yang pasti akan dibaca saat ketiga rekannya bangun nanti.
"Aku akan keluar sebentar untuk mengurus masalah distribusi. Istirahatlah dengan tenang, peluncuran album tidak akan tertunda sedetik pun."
Stevan mengambil jaket kulit hitamnya dan melangkah keluar dari gedung Zeros Records menuju pusat kawasan bisnis ibu kota.
Dua jam kemudian, di sebuah ruang rapat mewah di lantai empat puluh gedung Asosiasi Platform Digital Nasional.
Lima orang pria paruh baya berkemeja rapi duduk mengelilingi meja bundar kaca.
Mereka adalah para direktur eksekutif dari lima label rekaman terbesar di negara ini, yang dikenal sebagai The Big Five.
"Kerja bagus, Pak Direktur Platform," ucap salah satu bos label sambil menyesap cerutunya.
"Dengan diblokirnya akun anak-anak indie sok jago itu, mereka tidak akan bisa merilis satu lagu pun hari ini."
Direktur Platform yang duduk di ujung meja tersenyum angkuh dan menganggukkan kepalanya.
"Tenang saja, selama Surya masih memberikan aliran dana yang lancar dari selnya, asosiasi ini akan terus menjaga pasar kalian dari hama luar."
"Biar mereka tahu rasa, tanpa izin dari The Big Five, sehebat apa pun musik mereka hanya akan membusuk di dalam harddisk."
Brak!
Pintu ganda ruang rapat itu tiba-tiba didorong terbuka dengan sangat kasar dari luar.
Dua orang petugas keamanan asosiasi terlempar ke lantai karpet sambil mengerang kesakitan.
Kelima bos label itu terlonjak kaget dari kursi mereka dan menatap tajam ke arah pintu masuk.
Stevan melangkah masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah yang sangat santai namun penuh dengan aura intimidasi yang membekukan darah.
Ia masih mengenakan topi hitam dan masker medis, persis seperti penampilannya saat di panggung final festival.
"Siapa kau?! Berani sekali kau menerobos masuk ke rapat asosiasi!" bentak Direktur Platform dengan wajah memerah.
Stevan sama sekali tidak menjawab.
Ia berjalan lurus menuju kursi kosong di ujung meja, menarik kursi itu dengan kasar, dan duduk menyilangkan kakinya dengan gaya sangat arogan.
Ia lalu merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel, dan meletakkannya di atas meja kaca.
"Panggil keamanan tambahan sekarang juga! Seret orang gila ini keluar!" teriak bos label yang memegang cerutu dengan panik.
Namun Stevan mengangkat tangannya perlahan dan memberikan isyarat agar mereka diam.
Ia mengetik beberapa kalimat di ponselnya dengan kecepatan yang sangat mengerikan lalu menyodorkannya ke tengah meja.
"Kalian memblokir akun distribusiku secara ilegal tanpa surat peringatan."
"Buka blokirnya dalam waktu satu menit, atau aku akan menghancurkan sistem platform kalian dari dalam."
Membaca ancaman yang sangat frontal itu, kelima bos label itu langsung tertawa terbahak-bahak secara bersamaan.
"Hahaha! Ternyata ini si Zero yang sombong itu!" tawa Direktur Platform dengan nada luar biasa meremehkan.
"Kau pikir kau siapa, anak muda? Kau meretas sistem audio panggung festival itu memang hebat, tapi sistem platform ini dilindungi oleh keamanan siber tingkat nasional!"
"Kau mau menghancurkannya dari dalam? Silakan saja coba kalau kau memang sehebat mulut besarmu itu!" ejek bos label lainnya.
Stevan sama sekali tidak terpancing emosi oleh hinaan murahan tersebut.
Keterampilan Negosiasi Bisnis Tingkat Ahli di dalam otaknya menganalisis setiap gerak-gerik, nada suara, dan titik lemah dari kelima pria tua di depannya.
Ia menarik kembali ponselnya dan mengetik pesan baru dengan sangat tenang.
"Aku memang tidak akan meretas sistem keamanan nasional kalian."
"Aku hanya akan membocorkan data skandal penggelapan pajak dari kelima label raksasa ini ke seluruh media asing."
Tawa kelima bos label itu seketika terhenti secara mendadak seperti kaset yang pitanya tersangkut.
Wajah mereka yang tadinya angkuh dan meremehkan kini berubah menjadi pucat pasi.
"A-apa maksudmu? Penggelapan pajak apa?!" bantah Direktur Platform dengan suara yang tiba-tiba bergetar panik.
Stevan tidak mengetik apa-apa lagi.
Ia hanya menekan sebuah tombol di layar ponselnya, dan sebuah dokumen digital muncul di proyektor besar ruangan rapat tersebut.
Dokumen itu menampilkan deretan angka transaksi gelap, transfer ke rekening luar negeri, dan pemotongan royalti artis secara ilegal yang dilakukan oleh The Big Five selama sepuluh tahun terakhir.
"I-itu... dari mana kau mendapatkan data rahasia itu?!" teriak bos label bercerutu dengan wajah sepucat mayat.
Keringat dingin mulai mengucur deras dari dahi mereka semua.
Data itu adalah rahasia paling kotor yang dijaga ketat oleh sistem akuntansi bawah tanah mereka.
Tidak ada peretas biasa yang bisa menembus masuk ke sana tanpa meninggalkan jejak.
Stevan mengetik pesannya dengan senyuman paling mematikan di balik maskernya.
"Aku punya mata dan telinga di setiap kabel internet yang kalian gunakan."
"Data ini sudah siap dikirim ke stasiun berita internasional. Mereka sangat menyukai skandal korupsi dari negara berkembang."
"Satu klik dariku, dan kalian berlima akan menyusul Surya ke dalam sel penjara sore ini juga."
Hening.
Ruang rapat mewah itu kini terasa seperti ruang eksekusi mati yang sangat pengap dan mencekam.
Kelima bos label raksasa yang selalu menindas musisi kecil itu kini menelan ludah dengan sangat susah payah.
Ego dan kesombongan mereka hancur lebur diinjak-injak oleh seorang pemuda bisu bertopeng.
Direktur Platform dengan tangan gemetar hebat meraih ponsel miliknya sendiri.
"B-baiklah... kami akan membuka blokir akun Zeros Records sekarang juga," ucap Direktur Platform dengan suara serak yang penuh ketakutan.
"Tolong... tolong jangan sebar luaskan data tersebut, Tuan Zero."
Ia menekan tombol persetujuan di layar ponselnya, dan sebuah notifikasi masuk ke ponsel Stevan.
Akses akun Zeros Records telah dipulihkan.
Stevan melirik notifikasi itu dan menganggukkan kepalanya dengan gaya bos besar.
Namun, ia sama sekali tidak mengambil ponselnya dari atas meja.
Ia justru mengetik tuntutan tambahan yang membuat kelima pria itu nyaris terkena serangan jantung.
"Buka blokir saja tidak cukup sebagai permintaan maaf."
"Aku meminta tujuh puluh persen dari slot iklan promosi utama di halaman depan platform kalian selama satu bulan penuh, gratis."
"Serta pembagian hasil royalti 90 banding 10 untuk keuntunganku dari semua pemutaran lagu Zeros Records."
Bos label bercerutu langsung memukul meja karena tidak terima dengan pemerasan telanjang tersebut.
"Sembilan puluh persen untukmu?! Itu perampokan namanya!" bentaknya dengan urat leher menonjol.
Stevan hanya menyilangkan lengannya dan menatap pria itu dengan pandangan dingin, seolah berkata, Pilih perampokan atau penjara?
Direktur Platform buru-buru menarik lengan bos bercerutu itu dan menggelengkan kepalanya panik.
"K-kami setuju!" seru Direktur Platform dengan sangat cepat.
"Kami akan memberikan slot promosi utama dan pembagian sembilan puluh persen mulai siang ini juga!"
Stevan mengambil ponselnya, berdiri dari kursinya dengan elegan, dan membetulkan letak topi hitamnya.
Sebelum melangkah keluar dari ruangan, ia mengetik satu pesan terakhir dan menunjukkannya kepada kelima pria pecundang tersebut.
"Kerja sama yang bagus, para direktur."
"Kalian baru saja menyelamatkan nyawa kalian sendiri, sekaligus menandatangani surat kematian bagi label kalian sendiri."
"Mulai hari ini, The Big Five sudah mati, dan Zeros Records adalah penguasa tunggalnya."
Stevan berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah yang sangat mantap dan berwibawa.
Di belakangnya, kelima bos label itu hanya bisa jatuh terduduk lemas di kursi mereka, meratapi nasib buruk yang menimpa industri mereka.
Badai yang sebenarnya telah dimulai, dan tidak ada satu pun dinding yang bisa menahan hantaman dari karya-karya Zeros Records.