NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Umpatan Kekesalan

Udara di ruang tamu terasa semakin menggigit seiring detik jam yang terus berputar menuju dini hari. Liana meringkuk di atas sofa kulit yang keras, mencoba menenggelamkan diri di balik selimut wol pemberian Morgan. Namun, ada satu masalah besar yang membuatnya tidak bisa memejamkan mata: gaun sutra champagne yang ia kenakan. Gaun itu terlalu ketat, talinya mulai terasa menyayat bahunya, dan ritsleting di punggungnya terasa seperti logam dingin yang menusuk kulit setiap kali ia bergerak.

Ia mengerang frustrasi. Tidak mungkin ia bisa tidur nyenyak dengan pakaian formal seperti ini. Semua pakaian tidurnya, kaos-kaos longgarnya, dan pakaian dalamnya terkunci rapat di balik pintu kamar yang tak bisa dibuka itu.

Liana melirik pintu kamar Morgan yang tertutup rapat. Ada keraguan besar di hatinya, namun rasa tidak nyaman pada tubuhnya jauh lebih mendominasi. Dengan langkah gontai dan selimut yang masih tersampir di bahu, Liana berjalan menuju pintu kamar suaminya.

Tok ... tok ... tok ...

Liana mengetuk pelan, berharap Morgan sudah tidur sehingga ia punya alasan untuk pergi. Namun, hanya dalam hitungan detik, pintu itu terbuka. Morgan berdiri di sana, masih mengenakan celana kain hitamnya, namun kemejanya sudah ditanggalkan, menyisakan kaos dalam putih yang memperlihatkan otot lengan dan bahunya yang kokoh.

"Ada apa?" suara Morgan terdengar serak, khas seseorang yang baru saja berbaring namun belum terlelap. Ia menyandarkan bahunya pada kusen pintu, menatap Liana dengan mata yang sedikit sayu namun tetap waspada.

"Aku ... aku tidak bisa tidur memakai gaun ini," bisik Liana sambil membuang muka, menghindari tatapan intens Morgan. Jemarinya memainkan ujung selimut wol dengan gelisah. "Semua bajuku ada di dalam kamar. Bisakah kau ... maksudku, apakah kau punya sesuatu yang bisa kupinjam? Kaos atau apa saja?"

Morgan terdiam sejenak. Ia memperhatikan wajah Liana yang tampak lelah, lalu beralih pada gaun yang memang terlihat sangat tidak nyaman untuk dipakai tidur. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Morgan berbalik dan berjalan menuju lemari pakaian besarnya yang tertata sangat rapi.

Ia menggeledah tumpukan pakaian, mencari sesuatu yang sekiranya pantas. Morgan tidak memiliki kaos santai; hampir semua koleksinya adalah kemeja formal dan kaos polo berkualitas tinggi. Akhirnya, ia menarik sebuah kemeja putih dari bahan katun premium yang lembut.

"Ini," Morgan menyerahkan kemeja itu pada Liana. "Ini kemeja bersih. Bahannya cukup nyaman. Pakailah."

Liana menerima kemeja itu. Ukurannya terlihat sangat besar di tangannya. "Terima kasih."

"Ganti di dalam sini. Aku akan menunggu di luar," ucap Morgan sambil melangkah keluar kamar, memberikan ruang pribadi bagi Liana.

Liana menutup pintu, melepaskan gaunnya dengan susah payah, dan mengenakan kemeja putih milik Morgan. Kemeja itu tenggelam di tubuh kecil Liana. Bahunya merosot jauh, dan ujung kemejanya jatuh hingga menutupi separuh pahanya. Aroma Morgan—campuran kayu cendana dan sabun mandi yang segar—seketika mengepung indra penciumannya saat ia mengancingkan pakaian itu satu per satu.

Liana menatap pantulan dirinya di cermin besar milik Morgan. Ia merasa aneh, namun juga merasa terlindungi secara misterius dalam balutan pakaian pria itu. Setelah merasa cukup rapi, ia membuka pintu.

Morgan sedang berdiri di dekat jendela koridor, menatap kegelapan malam. Saat mendengar suara pintu terbuka, ia berbalik.

Langkah Morgan mendadak terhenti. Napasnya tertahan di tenggorokan saat matanya menangkap sosok Liana. Kemeja putih itu terlihat sedikit transparan di bawah lampu kuning kamar. Liana sengaja menggulung lengan kemeja yang kepanjangan hingga sikunya, menampakkan lengan putihnya yang mungil. Rambutnya yang tadi disanggul kini sudah terurai bebas, jatuh berantakan di atas bahu kemeja yang kedodoran. Dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka agar ia bisa bernapas, memperlihatkan tulang selangkanya yang indah.

Morgan terpaku. Selama ini ia melihat Liana sebagai mahasiswi pembangkang yang manja, namun malam ini, dalam balutan kemejanya sendiri, Liana tampak begitu ... rapuh sekaligus menggoda secara tidak sengaja. Sisi maskulin Morgan bergejolak. Ia merasakan desiran panas yang tidak seharusnya muncul, sebuah tarikan gravitasi yang membuat logikanya yang kaku mulai retak.

"Sudah selesai?" tanya Morgan, suaranya kini terdengar jauh lebih berat dan sedikit goyah, meski ia berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya tetap datar.

"Ya. Jauh lebih baik," Liana mengusap lengannya yang terbuka, merasa sedikit canggung karena cara Morgan menatapnya. "Aku ... aku kembali ke sofa sekarang."

Saat Liana hendak melangkah melewatinya, Morgan secara refleks menahan pergelangan tangan Liana. Sentuhan kulit mereka terasa seperti sengatan listrik di tengah malam yang sunyi. Morgan segera melepaskannya, menyadari bahwa tindakannya terlalu impulsif.

"Tunggu," ucap Morgan. Ia memalingkan wajah sejenak, mencoba mengatur detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. "Sofa itu terlalu dingin untukmu, apalagi kau hanya memakai kemeja sekarang."

"Tapi aku tidak mau—"

"Tidur di sini," potong Morgan cepat. Ia kembali menatap Liana, namun kali ini ia tidak berani menatap mata gadis itu terlalu lama. "Pakai kamarku. Tidur di ranjang itu. Aku yang akan tidur di sofa."

Liana terbelalak. "Apa? Kau serius? Tadi kau bilang kau tidak mau tidur di sofa."

"Itu sebelum aku sadar kalau kemejaku tidak akan cukup melindungimu dari suhu AC di luar," Morgan berjalan masuk ke kamarnya, menyambar sebuah bantal cadangan dan selimut lain dengan gerakan yang agak terburu-buru. "Aku punya prinsip untuk tidak membiarkan seseorang jatuh sakit karena keras kepalaku sendiri. Masuklah. Kunci pintunya dari dalam jika kau merasa lebih aman begitu."

Liana berdiri mematung di ambang pintu, memperhatikan Morgan yang kini sibuk merapikan selimut di pelukannya. "Kau benar-benar akan tidur di sofa? Morgan, punggungmu bisa sakit, besok kau ada jadwal mengajar pagi."

Morgan berhenti di depan Liana, aroma maskulinnya kini bercampur dengan ketegangan yang nyata. Ia menunduk, menatap Liana dengan tatapan yang sulit diartikan—ada perpaduan antara perlindungan dan keinginan yang ditekan kuat-kuat.

"Aku bisa mengatasinya. Tidurlah, Liana," ucap Morgan pelan. Ia mengulurkan tangan, nyaris menyentuh pipi Liana, namun ia mengepalkan tangannya kembali dan menurunkannya. "Jangan membuatku berubah pikiran. Masuk sekarang."

Liana akhirnya mengangguk pelan. Ia masuk ke dalam kamar Morgan yang luas dan maskulin. Sebelum Morgan benar-benar pergi, Liana berbisik, "Terima kasih, Morgan. Dan ... maaf untuk semuanya hari ini."

Morgan hanya memberikan anggukan kecil tanpa menoleh. Ia berjalan menuju ruang tamu dengan langkah yang lebar, seolah-olah ia sedang melarikan diri dari sesuatu yang bisa menghancurkan pertahanan dirinya.

Begitu pintu kamar tertutup, Morgan menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit yang keras. Ia menatap langit-langit apartemen dalam kegelapan. Bayangan Liana dengan kemeja putihnya yang kedodoran masih tertanam jelas di benaknya. Morgan memejamkan mata rapat-rapat, meremas bantal di pelukannya.

"Sial," umpatnya pelan pada dirinya sendiri.

Dosen yang selalu membanggakan kontrol diri dan logika itu baru saja menyadari bahwa pernikahan kontrak ini akan jauh lebih berbahaya bagi hatinya daripada yang ia bayangkan. Di dalam kamar, Liana berbaring di atas ranjang Morgan yang luas. Ia menghirup aroma Morgan yang tertinggal di bantal, merasa hangat dan aman.

Di malam pertama mereka sebagai suami istri, mereka bertukar tempat—sebuah kompromi bisu yang meruntuhkan sedikit demi sedikit tembok di antara mereka. Liana tertidur dengan perasaan yang mulai bergeser, sementara di ruang tamu, Morgan terjaga semalaman, menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan lebih dari sekadar kunci kamar kepada wanita yang seharusnya hanya menjadi bagian dari kontrak lima tahunnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!