NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 15

Jek menatap Rara, lalu beralih ke tangan Maya yang memutih. Di kejauhan, garis pantai Jakarta tampak seperti lautan kunang-kunang ungu yang mulai bergerak maju, merayap di atas air, menantang maut demi mencapai satu-satunya titik buta yang tersisa.

"Lakukan, Maya," ucap Jek. Suaranya tidak lagi dingin, melainkan penuh keikhlasan yang tenang.

"Jek, jangan!" Rara memegang wajah Jek, mencoba mencari kepastian di matanya. "Kita bisa lari lagi. Kita bisa bersembunyi di tempat lain!"

"Tidak akan ada tempat yang cukup jauh, Ra," Jek membalas genggaman tangan Rara. "Selama aku masih membawa 'patahan' kesadaran mereka di kepalaku, aku adalah suar bagi mereka. Aku adalah antena yang akan selalu membawa mereka kepadamu, kepada Maya, dan kepada siapa pun yang mencoba bertahan."

Jek tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa seperti pamitan. "Aku lebih baik kehilangan masa laluku daripada melihatmu menjadi bagian dari hutan itu."

Maya melangkah mendekat. Getaran di tangannya mulai memancarkan suara mendesing yang tinggi. "Jek, dalam hitungan ketiga, semua beban informasi itu akan menguap. Fokuslah pada satu hal yang paling ingin kamu simpan. Mungkin itu akan menjadi jangkar di tengah kekosongan nanti."

Jek memejamkan mata. Ia tidak membayangkan kode, tidak membayangkan emas, tidak juga membayangkan kejayaan J-Group. Ia membayangkan aroma kopi yang hangus di warung kayu dan tawa Rara saat mereka kehujanan di pasar malam.

"Satu..."

Rara memeluk Jek erat, membenamkan wajahnya di dada pria itu.

"Dua..."

Cahaya putih dari tangan Maya mulai menyelimuti kepala Jek. Seluruh mercusuar seolah bergetar hebat, membiaskan cahaya yang membelah kegelapan malam.

"Tiga."

Sebuah ledakan sunyi terjadi. Pendar ungu di cakrawala mendadak kehilangan arah, berpusing kacau sebelum akhirnya padam di sepanjang garis pantai. Jek jatuh lunglai dalam dekapan Rara. Suara mendesing di udara menghilang, menyisakan suara ombak yang menghantam karang garam dengan jujur.

Keheningan panjang menyelimuti puncak mercusuar.

Beberapa menit kemudian, Jek mulai mengerang. Ia membuka matanya perlahan. Rara menahan napas, menatap langsung ke dalam manik mata suaminya, mencari sisa-sisa pengenalan di sana.

Jek menatap Rara. Ia melihat air mata di pipi wanita itu, melihat luka bakar di tangannya, lalu melihat sekelilingnya yang berantakan dengan puing-puing kaca. Ia tampak bingung, seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur yang sangat panjang dan melelahkan.

"Kita... di mana?" tanya Jek pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

Rara gemetar, suaranya tercekat di tenggorokan. "Jek... kamu ingat siapa aku?"

Jek mengerutkan kening, mencoba menggali sesuatu dari dalam kepalanya yang terasa kosong dan bersih—seperti sebuah buku yang baru saja diganti kertasnya. Ia menatap Rara lama sekali, hingga akhirnya ia mengulurkan tangan, menghapus air mata di pipi Rara dengan ibu jarinya.

"Aku tidak tahu kenapa kita ada di sini," bisik Jek dengan senyum yang samar namun hangat. "Tapi aku tahu kalau aku sangat mengenal rasa teh yang biasa kamu buat."

Rara terisak, kali ini karena lega. Memori tentang "Kaisar" mungkin telah musnah, namun "Nurani" tampaknya memiliki tempat penyimpanannya sendiri yang tidak bisa dijangkau oleh perintah format mana pun.

Maya berdiri di dekat pintu, kelelahan namun puas. Ia melihat ke arah daratan. Pendar ungu itu tidak lagi terlihat. Dunia mungkin masih dalam kekacauan, hutan mungkin masih asing, tapi ancaman terpusat itu telah kehilangan jangkarnya.

"Ayo," Maya mengajak mereka dengan suara lembut. "Fajar hampir tiba. Kita harus kembali ke daratan sebelum air pasang, dan kali ini, kita akan membangun segalanya dari awal. Tanpa rahasia, tanpa sistem."

Jek berdiri dengan bantuan Rara, menatap matahari yang mulai menyembul di ufuk timur. Ia tidak lagi melihat angka-angka di sana, hanya sebuah cahaya baru yang menanti untuk diberi nama.

Saat mereka menapakkan kaki kembali di dermaga Jakarta, dunia yang mereka temui bukan lagi kota yang mereka tinggalkan. Aspal jalanan telah pecah sepenuhnya, digantikan oleh jalinan akar raksasa yang kini berwarna cokelat kusam—mati dan membatu setelah kehilangan sinyal pusatnya. Bangunan-bangunan pencakar langit masih berdiri, namun mereka tampak seperti kerangka raksasa yang diselimuti mumi tumbuhan.

Jek berjalan dengan langkah ragu. Ia memandangi tangannya yang kasar, lalu menatap gedung J-Group di kejauhan yang kini hanyalah menara mati tanpa lampu tunggal pun.

"Tempat ini... kenapa terasa seperti aku pernah memilikinya, tapi aku membencinya?" tanya Jek pelan, matanya menyipit mencoba mengingat sesuatu yang terus meluncur pergi dari benaknya.

Rara menggenggam tangan Jek erat. "Kamu tidak memilikinya, Jek. Kamu hanya pernah terjebak di dalamnya. Sekarang kita bebas."

Maya berjalan di depan mereka, waspada. Meski jaringan saraf ungu itu sudah padam, sisa-sisa "biologi baru" masih ada. Mereka melewati sebuah taman di mana seekor kucing hutan dengan bulu yang masih berpendar redup sedang memakan buah dari pohon yang bentuknya menyerupai sirkuit.

"Dunia tidak kembali ke titik semula," Maya berbisik, lebih kepada dirinya sendiri. "Ini adalah ekosistem hibrida. Kita tidak bisa lagi hidup seperti dulu. Kita harus belajar bahasa baru dari alam ini."

Tiba-tiba, dari balik reruntuhan sebuah halte bus, muncul sekelompok orang. Mereka berpakaian lusuh, membawa tombak kayu yang ujungnya dilapisi kristal garam. Mereka tampak waspada, namun saat melihat Jek, pemimpin mereka—seorang pria paruh baya dengan bekas luka di wajahnya—menjatuhkan senjatanya.

"Tuan Jek?" pria itu berbisik, suaranya gemetar antara takut dan harap. "Apakah itu benar-benar Anda? Apakah Anda kembali untuk menyalakan kembali 'Nurani'?"

Jek mundur selangkah, wajahnya menunjukkan kebingungan yang murni. "Siapa... siapa Anda? Dan apa itu 'Nurani'?"

Rara segera melangkah ke depan Jek, melindunginya. "Dia bukan lagi orang yang kalian cari. Dia hanya Jek. Dan Nurani sudah tidak ada. Sistem itu sudah mati."

Orang-orang itu saling berpandangan. Kecewa sekaligus bingung.

"Jika Nurani mati, lalu bagaimana kita bisa melawan mereka yang ada di Utara?" tanya pria itu lagi. "Para sisa-sisa 'Ares' yang tidak terinfeksi hutan... mereka telah membangun benteng baja di pelabuhan utara. Mereka punya senjata, Tuan. Mereka menindas kami karena kami tidak punya lagi pelindung digital."

Jek menatap orang-orang itu, lalu menatap Rara. Ia tidak ingat tentang pertempuran besar, tidak ingat tentang kode kuantum, tapi ada sesuatu yang mendidih di dadanya saat melihat ketidakadilan di depan matanya. Sebuah insting yang lebih tua dari memori mana pun.

"Aku tidak tahu siapa aku dulu," Jek bicara, suaranya berat dan penuh wibawa yang muncul secara alami. "Dan aku tidak punya 'Sistem' untuk membantu kalian. Tapi jika ada orang yang menindas sesamanya hanya karena mereka punya baja lebih banyak, maka aku punya alasan untuk tetap tinggal di sini."

Maya menoleh ke arah Jek dengan senyum pahit. Format ulang mungkin menghapus data, tapi tidak bisa menghapus karakter. Jek tetaplah Jek.

"Apa rencana kita, Jek?" tanya Maya, seolah ia kembali menjadi asisten sang Kaisar.

Jek melihat ke arah tumpukan besi tua dan akar-akar mati yang berserakan. Ia mengambil sepotong kabel tembaga yang menjuntai dan sebuah batu tajam.

"Kita tidak butuh komputer untuk melawan mereka," kata Jek, matanya berbinar dengan jenis kecerdasan yang berbeda—kecerdasan seorang penyintas. "Kita akan menggunakan apa yang alam ini tinggalkan untuk kita. Rara, bantu aku mengumpulkan orang-orang ini. Kita punya warung yang harus dibangun kembali, tapi kali ini, warung itu akan menjadi markas perlawanan."

Di tengah reruntuhan Jakarta yang hijau dan sunyi, sebuah legenda baru mulai ditulis. Bukan oleh seorang Kaisar Bayangan yang bersembunyi di balik layar, melainkan oleh seorang pria tanpa masa lalu yang memilih untuk bertarung demi masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!