"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Perempuan Lain?
"Aku tidak bermaksud seperti itu... aku hanya..." Kharisma mencengkeram bahu Prabujangga erat-erat, napasnya terengah saat Prabujangga membenamkan wajah di lehernya.
"Hanya apa?"
"H-hanya ingin tau kenapa Mas Prabu sangat menolak Kinnar..." gumamnya, berusaha menatap Prabujangga yang masih merasa geram. "Mas punya perempuan lain, ya?"
Di detik itu, Kharisma bisa melihat Prabujangga menyipitkan mata. Dari tatapannya, sepertinya Prabujangga sungguh tidak menyangka bahwa pertanyaan seperti itu yang akan keluar dari mulutnya.
"Maaf, tapi... apa yang dikatakan Kinnar juga sangat masuk akal, Mas." Kharisma menciut di bawah tatapan Prabujangga. "Kinnar itu sahabat aku. Jika Mas Prabu menolak sekali dia untuk bekerja di perusahaan Mas, bisa saja itu artinya Mas menghindar. Secara jika Mas punya perempuan lain di kantor pasti Kinnar akan melapor..." gumamnya.
"Kalau dia yang menjadi perempuan lain-nya? Apa dia akan melapor pada kamu?" bisik Prabujangga, nadanya sengaja direndahkan seperti menahan amarah. Tangannya menapak di perut Kharisma. "Saya berusaha menjauh dari masalah, tapi justru kamu di sini menjebak saya dengan masalah lain."
Kharisma terbelalak. "M-maksud Mas? Tidak mungkin Kinnar ingin menjadi perempuan lain itu—"
"Kenapa tidak?"
Kharisma terdiam.
"Kamu ini perempuan yang sangat polos atau sangat bodoh? Melihat watak asli manusia tidak bisa," Prabujangga berbisik serak. "Saya bisa saja menerimannya bekerja di perusahaan saya, tapi sayangnya saya sedang tidak butuh hiburan sekarang untuk main-main."
"M-mas..." Kharisma melenguh, cangkramannya di bahu Prabujangga mengerat. Laki-laki itu menggores kulitnya dengan gigitan.
Sebenarnya apa yang coba Prabujangga katakan? Tidak mungkin jika Kinnar itu jahat, kan? Dia adalah sahabatnya sejak kecil. Teman satu-satunya. Kinnar itu hanya ingin bekerja dan berhenti memanfaatkan pria-pria kaya itu.
"Aku tidak tau kenapa Mas berkata seperti ini, tapi aku percaya pada Kinnar. Mas pasti menyembunyikan sesuatu, Mas pasti menyembunyikan perempuan lain—"
"Jadi kamu cemburu sekarang? Bukannya kamu mengizinkan jika saya menikahi perempuan lain sebelumnya?" Prabujangga terkekeh pelan, tawanya bergetar di tubuh Kharisma. "Sekarang kenapa mengeluh jika saya memiliki wanita lain?"
Kharisma mengembungkan pipi dengan kesal. "Tapi kan itu saat aku belum hamil. Kalau sekarang kan sudah hamil. Apa Mas masih ingin perempuan lain juga?"
Kharisma bergerak-gerak, tangannya mencoba menepis sentuhan Prabujangga di perutnya. Tapi bisa ditebak, Prabujangga tetap kekeh dan justru memasukan tangannya ke dalam gaunnya, dan menyentuh langsung permukaan perutnya yang rata.
"Justru laki-laki rentan direbut wanita lain di saat-saat seperti ini," gumam Prabujangga, tepat di telinga Kharisma. "Saat istrinya hamil dan cerewet. Saat istrinya tidak bisa disentuh karena ada makhluk kecil di sini." Tangannya menekan lembut lekuk perut Kharisma.
"Jadi itu benar? Mas memiliki wanita lain?" Kharisma menghela napas lesu, tangannya terlepas dari bahu Prabujangga. "Jadi benar Mas tidak membiarkan Kinnar bekerja di sana karena ada perempuan lain..."
Kharisma bisa merasakan matanya memanas, setitik air matanya jatuh sebelum tubuhnya bergetar halus. Pikirannya kembali memikirkan perkataan Kinnar, tentang kemungkinan kenapa Prabujangga menolak keras dan berlebihan terhadapnya.
Prabujangga terhenyak, memundurkan wajahnya dari leher Kharisma. Matanya meneliti wajah istrinya yang menangis. Mata sembabnya, bibir mungil yang merapat, ia merasa familiar sekali.
"Saya tidak memiliki perempuan lain." Prabujangga menghela napas, menyugar rambutnya lelah. "Kamu saja yang termakan oleh ucapan temanmu itu. Kamu kira saya pria seperti itu?"
Kharisma mengangguk pelan.
Segalanya tentang Prabujangga terasa abu-abu. Kharisma belum bisa membaca bagaimana sebenarnya perasaan suaminya itu. Ia tau bahwa ia hanya dimanfaatkan untuk keturunan, tapi kadang kala Prabujangga bertindak berbeda, kan? Apa salah jika ia merasa cemburu?
"Mas Prabu meragukan sekali... Mas tidak sayang, ya, denganku?" Kharisma menahan sesegukkan.
Ada jeda yang cukup panjang di sana. Prabujangga tampak berpikir.
"Saya tidak pernah menyayangi wanita manapun, Kharisma. Termasuk juga kamu."
Bongkahan es seakan-akan jatuh di atas kepala. Kharisma sebenarnya sudah menduga jawaban Prabujangga, tapi kenapa rasanya tetap sakit sekali?
Prabujangga mendaratkan keningnya di kening Kharisma, menatap lekat. "Saya tidak pernah menyayangi siapapun di hidup saya bahkan pada orang tua saya sendiri. Saya tau bahwa kamu dibesarkan dan dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi kamu, tapi kamu tidak bisa berharap bahwa semua orang akan melakukan hal yang sama."
Jeda.
"Kamu mungkin bertanya-tanya kenapa saya bisa berpikir mengapa saya menganggap sahabatmu ingin mendekati saya. Tapi selama hidup saya, saya sudah dihadapkan oleh banyak sekali pengkhianat hingga mudah bagi saya untuk membedakan mereka. Dan temanmu itu... sangat mudah untuk dibaca," timpalnya. "Jangan menganggap bahwa orang-orang yang dekat dengan kamu tidak akan bisa menyakiti kamu, Kharisma. Karena justru mereka adalah orang-orang paling berpotensi untuk menyakiti kamu."
Kharisma memejamkan mata, pipinya basah karema jejak tangisnya. Isakan lembut lolos dari bibirnya saat merasakan jari Prabujangga menyeka air matanya.
Ia merasa bingung. Ia merasa bingung sekali dengan perlakuan Prabujangga yang seperti ini.
...***...
Tengah malam tak terasa karena perdebatan terakhir yang ia lalui bersama Prabujangga. Kharisma menuruni anak tangga perlahan, tau bahwa di jam segini Papa dan Mama pasti sudah tidur.
Kharisma merasa kepalanya pusing setelah berpikir terlalu keras. Prabujangga tidak sayang padanya, laki-laki itu tidak pernah sayang dengan siapapun. Sikap kepeduliannya terhadap Kharisma selama ini jelas karena Kharisma dianggap menguntungkan.
Perlahan-lahan Kharisma menuju dapur, meraih gelas dan menuangkan air dari teko kaca.
"Mas Prabu ternyata memang tidak sayang," gumamnya, meloloskan desahan kekecewaan.
Kenapa ia merasa seperti ini? Kenapa ia merasa sangat kecewa saat Prabujangga mengatakan bahwa dia tidak menyayanginya? Bukankah sudah jelas sekali jika sejak awal pernikahan mereka memang sama-sama tidak ada rasa?
Kharisma menyentuh perutnya, pikirannya kembali terpacu pada awal-awal berita kehamilannya. Kenapa Prabujangga tidak memberitahu Bunda dan juga Ayah kalau ia sedang hamil? Kenapa justru disembunyikan? Bukankah Prabujangga didesak oleh Ayah Batra agar cepat-cepat memberikan keturunan?
Astaga, kenapa ini membingungkan sekali?
Tepat di saat itu, tiba-tiba saja telepon rumah berdering di ruang tamu. Kharisma terdiam, menunggu sampai salah satu pelayan keluar dari kamar mereka dan mengangkat panggilan. Tapi sampai beberapa detik kemudian, tidak ada tanda-tanda bahwa telepon itu akan diangkat. Jadi, Kharisma memutuskan untuk meletakan gelasnya dan melangkah ke ruang tamu.
"Siapa yang menelpon tengah malam seperti ini, ya?" gumamnya, perlahan-lahan mengangkat panggilan.
"Halo? Ini kediaman Respati—"
"Sudah tau. Mas Prabujangga ada?"
Kharisma terdiam saat tiba-tiba suara manis nan manja terdengar dari seberang telepon. Ini suara perempuan, dan menanyakan keberadaan Prabujangga.
"Ada urusan apa, ya? Mas Prabu sedang tidur."
"Memangnya harus di sebutkan? Kamu ini pelayan, ya? Kenapa banyak tanya sekali?"
Kharisma terdiam. Ia tidak pernah mendengar seseorang bicara dengannya menggunakan nada ketus seperti itu. Siapa sebenarnya perempuan ini? Apa urusannya dengan Prabujangga?
"Mas Prabu sedang tidur." Kharisma menghela napas. "Ini istrinya, bukan pelayan."
"Oh? Istrinya?" tawa manis nan sinis terdengar mengikuti. "Istrinya yang tidak bisa memuaskan itu, ya? Yang bodoh dan polos itu?"
Kharisma tercekat, jantungnya seolah-olah berhenti berdetak mendengar sebutan menyakitkan itu. Seumur hidupnya, ia tidak pernah dikatai bodoh kecuali oleh Prabujangga dan wanita asing ini.
"Kebetulan sekali, ya, yang mengangkat panggilan ini adalah istrinya. Karena dia tidak berkunjung hari ini untuk bermanja denganku, sepertinya mengadukan perbuatannya pada istri mudanya yang bodoh ini tidak terdengar buruk."
Kharisma meremat telepon erat-erat. "Maksud kamu apa? Kamu ada hubungan apa dengan Mas Prabu?"
"Oh? Kamu nggak tau?" Wanita itu kembali tertawa. "Suamimu itu selalu menghampiriku setiap merasa jenuh dengan kebodohanmu. Tidak bisa melayani suami, bodoh sekali."
Tangan Kharisma mulai gemetar. Apa ini mungkin? Apa perempuan ini adalah... perempuan lain-nya Prabujangga? Seperti yang Kinnar katakan?
"Aku ingin bicara dengan Mas Prabujangga. Mana dia?"
Kharisma menahan matanya yang kembali memanas. "Mas Prabu tidur. Tidak bisa bicara."
"Bangunkan. Aku berhak ngomong sama dia. Enak saja mendatangiku hanya saat butuh saja. Dia itu lebih memerlukanku daripada kamu. Di manfaatkan saja sok mengatur."
Jangan tanyakan bagaimana hancurnya hati Kharisma saat mendengar ucapan wanita itu. Siapa sebenarnya dia? Kapan Prabujangga sempat menemuinya?
Kharisma memejamkan matanya, jejak air mata kembali terlihat di pipinya. Jadi apa yang dikatakan Kinnar itu benar? Prabujangga memiliki perempuan lain. Tapi kenapa? Bukankah Prabujangga sendiri mengatakan bahwa dia bukan laki-laki seperti itu?
"Kamu siapa sebenarnya? A-apa saya yang sudah Mas Prabu lakukan pada kamu?" suaranya gemetar.
Wanita di seberang telpon terdengar tertawa. "Apa saja? Sudah terlalu banyak. Aku bisa kasih bukti kalau kamu mau."
"Bukti?"
"Iya, bukti. Aku bisa kasih bukti ke kamu kalau suami kamu itu lebih suka sama aku. Aku bisa memuaskan dia, tidak seperti kamu yang bodoh."
Kharisma mengepalkan tangan. Ia tau ini sangat menyakitkan, tapi kenapa ia merasa ingin melihat bukti itu secara langsung? Kenapa ia ingin melihat bukti-bukti bahwa Prabujangga adalah laki-laki kotor dan tidak seperti yang dikira?
"Ah, pasti sedang menangis ya, makannya tidak menjawab?" Nada bicaranya sungguh sarkas dan sinis. "Tapi itu normal. Kalau mau bukti-bukti itu, kamu bisa temui aku besok. Di taman pusat kota, bagaimana?"
Kharisma berpikir. Kepalanya berdenyut menyakitkan.
Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Prabujangga benar-benar memiliki perempuan lain. Jika besok ia bisa memiliki bukti-bukti itu, bukankah itu artinya ia bisa membungkam Prabujangga? bukankah itu artinya ia bisa membuktikan bahwa Prabujangga berbohong?
Kharisma menarik napas panjang.
"Oke, besok di taman pusat kota."
Bersambung...
mau GK komen tp GK nahan 🤭
di kalau ga denger atau melihat dengan mata kaki kepala nya susah untuk percaya