seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : KECELAKAAN
****
Lampu neon di area parkir PT. Ryuga Corp berkedip-kedip, seolah-olah ikut merasakan kelelahan yang menggelayuti pundak Adinda Maheswari. Jarum jam menunjukkan pukul 22.00 WIB. Dinda mengusap wajahnya yang pucat, mencoba mengusir kantuk yang mulai menyerang saraf pusatnya.
"Din, ikut yuk? Kita cari nasi goreng di depan. Muka kamu sudah kayak zombi, lho," ajak Maya, rekan kerjanya, sambil merapikan tas.
Dinda memaksakan senyum tipis. "Enggak deh, May. Aku langsung pulang saja. Kasihan Dika sama Dita sendirian di rumah. Tadi pagi Dita agak panas badannya."
"Kamu itu terlalu memaksakan diri, Din. Sekali-kali ikut nongkrong kek," keluh Maya.
"Lain kali ya? Salam buat yang lain," jawab Dinda lembut namun tegas.
Bagi Dinda, setiap detik di luar rumah tanpa pengawasan adalah kekhawatiran. Sejak kecelakaan merenggut kedua orang tuanya dua tahun lalu, hidup Dinda berubah total. Gadis 21 tahun itu bukan lagi mahasiswi penuh ambisi, melainkan tulang punggung yang harus memastikan kedua adik kembarnya, Andika dan Anindita, tetap bisa sekolah dan makan.
***
Jalanan menuju kontrakan Dinda cukup sepi malam itu. Kepalanya terasa berat, dan pandangannya sesekali mengabur. Tinggal sedikit lagi, Dinda. Lewati persimpangan ini, lalu sampai, batinnya menyemangati diri sendiri.
Di sebuah tikungan, Dinda melangkah menyeberang tanpa menyadari sebuah sedan hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Cahaya lampu depan yang menyilaukan membutakan pandangannya sesaat.
BRAKK!
Tubuh kecil itu terpental ke aspal. Rasa sakit yang tajam menusuk pinggang dan lengannya sebelum semuanya berubah menjadi kegelapan total.
Allandra Ryuga menginjak rem sekuat tenaga. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera keluar dari mobil, wajahnya yang biasanya dingin kini tampak panik. Di bawah sorot lampu mobilnya, seorang wanita tergeletak tak berdaya.
"Nona? Nona, bisa dengar saya?" Alan mengangkat tubuh Dinda dengan hati-hati.
Saat ia memindahkan tubuh wanita itu ke kursi belakang, sebuah kartu plastik jatuh dari saku jaket Dinda yang robek. Alan memungutnya. Matanya menyipit membaca tulisan di kartu tersebut: ID CARD KARYAWAN – PT. RYUGA CORP. Nama: Adinda Maheswari. Bagian: Produksi.
"Karyawanku?" gumam Alan tak percaya. Ia segera menginjak gas menuju rumah sakit pribadinya.
**
Dinda mengerjap. Aroma karbol yang menyengat menusuk indra penciumannya. Ia mencoba duduk, namun ringisan sakit keluar dari bibirnya.
"Jangan banyak bergerak dulu. Anda mengalami memar cukup parah di bagian pinggang."
Dinda menoleh. Di samping ranjangnya berdiri seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya sangat tampan, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang dalam.
"Sa-saya di mana?" tanya Dinda terbata.
"Rumah sakit. Saya yang menabrak Anda. Maafkan saya, saya tidak melihat Anda menyeberang," ujar pria itu.
Di luar dugaan, Dinda justru menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Tidak, Tuan. Saya yang salah. Saya menyeberang sambil melamun karena mengantuk. Saya yang minta maaf sudah merepotkan Anda dan mungkin membuat mobil Anda lecet."
Alan tertegun. Selama hidupnya sebagai CEO, ia terbiasa menghadapi orang-orang yang menuntut ganti rugi atau bersikap oportunis. Namun gadis ini? Di saat tubuhnya penuh luka, dia malah meminta maaf.
"Nama saya Alan," ucap pria itu, sengaja memangkas nama belakangnya yang terlampau terkenal.
"Dinda," jawabnya singkat. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. "Jam berapa sekarang? Saya harus pulang! Adik-adik saya..."
Dinda mencoba turun dari ranjang, namun Alan menahannya dengan satu tangan. "Anda belum boleh pulang. Dokter bilang Anda butuh observasi."
"Tidak bisa, Tuan Alan! Adik saya sakit, kembarannya tidak bisa menjaga sendirian. Saya mohon, biarkan saya pulang," Dinda menatap Alan dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah. Saya antar. Tapi dengan satu syarat: besok Anda tidak boleh masuk kerja. Istirahatlah," perintah Alan.
Dinda mengangguk patuh, meski dalam hatinya ia tetap bertekad untuk datang ke pabrik.
***
Mobil mewah Alan berhenti di depan sebuah gang sempit. Alan memaksa mengantarnya sampai ke depan pintu rumah petak itu. Saat Dinda membuka pintu kayu yang sudah rapuh, sosok remaja laki-laki berdiri di sana dengan wajah kaku.
Andika. Dia memang anak yang dingin, namun sorot matanya yang tajam saat ini memancarkan kekhawatiran yang luar biasa.
"Baru pulang, Kak?" tanya Dika datar, namun matanya langsung tertuju pada Alan yang berdiri di belakang Dinda. "Siapa dia? Kenapa Kakak pulang pakai mobil semewah itu?"
"Dika, ini Tuan Alan. Tadi Kakak... jatuh di jalan, dan Tuan Alan berbaik hati menolong," Dinda mencoba menutupi kecelakaan itu.
Dika mendekat, menatap kakaknya dengan teliti. Ia melihat perban di lengan Dinda dan cara kakaknya berjalan yang agak menyeret. Amarah mulai membakar dadanya. Di pikiran Dika yang masih remaja, dunia luar sangatlah kejam terhadap wanita miskin seperti kakaknya.
"Jatuh? Jangan bohong, Kak!" suara Dika meninggi, membuat Dita yang sedang tidur di dalam terusik. "Kakak sudah nekat, ya? Kakak mulai mau diajak pergi sama pria-pria kaya seperti dia karena butuh biaya untuk Dita?"
"Dika! Apa yang kamu katakan?!" Dinda terkejut bukan main.
"Dika takut, Kak!" Dika membuang muka, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai memerah. "Aku lebih baik kelaparan daripada melihat Kakak melakukan hal-hal kotor demi uang. Jangan temui dia lagi. Masuk, Kak!"
Dika menarik lengan Dinda masuk ke dalam dan menutup pintu dengan keras di depan wajah Alan.
Di luar, Alan masih berdiri mematung. Kata-kata "hal-hal kotor demi uang" terngiang di kepalanya. Pria itu menyadari betapa beratnya beban moral yang dipikul Dinda hingga adiknya pun merasa ketakutan seperti itu.
**
Keesokan harinya, di kantor pusat Ryuga Corp, Alan tidak bisa fokus pada tumpukan berkas di meja CEO-nya. Ia memanggil sekretarisnya.
"Cari tahu semua tentang Adinda Maheswari. Kondisi keluarganya, alamat lengkapnya, dan sejarah medis adiknya yang sakit," perintah Alan.
"Baik, Pak. Tapi hari ini Anda ada kunjungan ke cabang pabrik sore nanti," sahut sekretarisnya.
"Bagus. Itu yang saya tunggu," gumam Alan.
Sementara itu, di rumahnya, Dika diam-diam bersiap. Ia mengambil tas lusuhnya. Tanpa sepengetahuan Dinda, sepulang sekolah nanti ia berencana kembali bekerja serabutan di pasar—tempat yang sebenarnya dilarang oleh Dinda. Dika rela melakukan apa saja asalkan kakaknya tidak perlu "merendahkan diri" pada pria kaya seperti pria yang ia lihat semalam.
**
Sore harinya, Dinda tetap memaksakan diri bekerja di pabrik. Pinggangnya masih terasa nyeri, tapi ia berusaha tetap tegap di barisan mesin produksi. Tiba-tiba, suasana pabrik menjadi riuh. Para pengawas tampak panik dan merapikan barisan.
"Ada apa?" bisik Dinda pada Maya.
"Kabarnya pemilik Ryuga Corp mau datang berkunjung, Din! Tuan Allandra Ryuga yang terkenal itu!"
Jantung Dinda berdegup kencang. Ia belum pernah melihat pemilik perusahaan secara langsung. Saat rombongan pria berjas mulai masuk ke area produksi, Dinda tetap menundukkan kepala, fokus pada pekerjaannya agar tidak pingsan karena rasa sakit di tubuhnya.
Langkah kaki sepatu kulit yang berat berhenti tepat di depan mesin Dinda.
"Bagaimana progres bagian ini?" suara berat dan berwibawa itu terdengar sangat familiar di telinga Dinda.
Dinda mendongak perlahan. Matanya membelalak. Di depannya berdiri pria yang semalam menolongnya, namun kali ini ia mengenakan jas yang jauh lebih mahal dengan tatapan yang sangat berwibawa.
Alan menatap Dinda dengan tajam, namun ada kilatan kemarahan yang tertahan karena Dinda melanggar janjinya untuk beristirahat. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Dinda, cukup dekat hingga tak ada orang lain yang mendengar.
"Sudah saya bilang, jangan bekerja hari ini, Dinda," bisik Alan dengan nada yang membuat bulu kuduk Dinda merinding.
Dinda membeku. "Tuan... Alan?"
Tiba-tiba, dari arah pintu gerbang pabrik, terjadi keributan. Seorang remaja laki-laki—Andika—berlari masuk sambil dikejar oleh satpam. Ia berteriak memanggil nama kakaknya dengan wajah penuh kepanikan.
"Kak Dinda! Pulang, Kak! Dita kritis!"
Dinda merasa dunianya runtuh seketika. Namun, yang membuatnya lebih terkejut adalah saat Alan langsung menangkap tubuhnya yang lemas dan memerintahkan asistennya dengan lantang.
"Siapkan mobil. Sekarang!"
Semua karyawan pabrik terdiam melihat CEO mereka menggendong seorang buruh pabrik. Di tengah kekacauan itu, Alan menatap Dika yang terengah-engah. Di saat itulah, Alan menyadari sesuatu pada wajah Dika yang membuatnya terpaku sejenak, sesuatu yang membangkitkan ingatan lama yang terkunci rapat.
***
Bersambung...