Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Masa Lalu
Kediaman Dirgantara, Surabaya – Pukul 20.00 WIB
Rumah itu besar, gelap, dan dikelilingi pagar besi yang menjulang tinggi. Laksmana membukakan pintu untuk Reina. "Pak Bramantyo sudah menunggumu di perpustakaan. Ingat, Reina, di rumah ini dinding punya telinga. Jangan katakan apa pun soal pelarian Kenzo."
Reina melangkah masuk. Interior rumah itu dipenuhi kayu jati tua yang mengeluarkan aroma cengkih dan debu. Di ujung lorong, Pak Bramantyo duduk di balik meja besar, diterangi oleh satu lampu meja yang temaram. Di hadapannya, terdapat sebuah kotak beludru merah yang tampak sangat tua.
"Duduklah, Reina," ujar Pak Bramantyo tanpa menoleh. Suaranya tidak sedingin biasanya; ada nada kelelahan di sana.
Reina duduk dengan punggung tegak. "Laksmana bilang Anda punya informasi tentang ibu saya. Apa hubungannya keluarga Anda dengan ibu saya?"
Pak Bramantyo menghela napas panjang, lalu membuka kotak beludru itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung yang identik dengan milik Reina, namun dengan batu permata yang berbeda, serta sebuah foto usang. Di foto itu, seorang wanita cantik—yang sangat mirip dengan Reina—berdiri di samping Pak Bramantyo muda dan seorang pria lain yang wajahnya sengaja dicoret.
"Ibumu, Maya, bukan sekadar teman bagiku," bisik Pak Bramantyo. "Dia adalah kepala arsitek pertama di perusahaan keluarga Dirgantara. Dia yang merancang konsep SMA Garuda. Dia ingin sekolah itu menjadi tempat bagi mereka yang tidak punya suara."
Reina terpaku. "Lalu apa yang terjadi? Ayah bilang dia meninggal karena kecelakaan."
"Itu adalah kebohongan yang disepakati," Pak Bramantyo menatap mata Reina dengan tajam. "Maya meninggal karena dia mengetahui bahwa Ibu Aris dan pihak yayasan ingin mengubah sekolah itu menjadi proyek komersial sejak dua puluh tahun yang lalu. Ibumu dibungkam, Reina. Dan pria yang wajahnya dicoret ini... adalah ayahmu yang sebenarnya, yang melarikan diri karena ketakutan."
Batam: Pelarian yang Berdarah – Pukul 21.00 WIB
Di sebuah losmen murah di pinggiran Batam, Kenzo terjatuh di lantai kamar mandi. Luka operasinya mengeluarkan cairan bening bercampur darah. Demam tinggi mulai menyerang kesadarannya.
"Sial... sedikit lagi," gumam Kenzo sambil mencoba meraih ponselnya. Ia harus menghubungi Laksmana, atau siapa pun, untuk memastikan Reina tidak terjebak dalam permainan ayahnya.
Tiba-tiba, pintu kamar losmennya didobrak. Bukan polisi, melainkan Vino yang berdiri di sana dengan dua pria berpakaian safari.
"Kamu pikir kamu bisa lari dari Singapura dengan kaki seperti itu, Ken?" Vino menggelengkan kepala, tampak muak. "Paman Bramantyo sudah tahu kamu di sini. Dia menyuruhku membawamu pulang ke Surabaya, bukan untuk dihukum, tapi karena nyawamu dalam bahaya. Ibu Aris sudah mengirim orang untuk menghabisimu di jalanan agar tidak ada lagi pewaris Dirgantara yang menghalangi proyeknya."
Kenzo tertawa lemah di sela ringisannya. "Ayah... dia cuma mau menjadikanku pion lagi, kan?"
"Pion atau bukan, setidaknya di Surabaya kamu bisa melihat Reina untuk terakhir kalinya sebelum semuanya meledak," jawab Vino sambil memberi isyarat pada anak buahnya untuk membopong Kenzo.
Perpustakaan Kediaman Dirgantara – Pukul 22.00 WIB
"Kenapa Bapak baru memberi tahu saya sekarang?" tanya Reina, air matanya mulai mengalir.
"Karena sekarang kamu sudah melakukan apa yang ibumu gagal lakukan: kamu menyelamatkan panggung itu. Tapi itu membuatmu menjadi target utama," Pak Bramantyo menyerahkan sebuah flashdisk perak dari dalam laci rahasia. "Di sini ada cetak biru asli SMA Garuda yang ditandatangani ibumu. Ada klausul hukum yang menyatakan bahwa lahan sekolah tidak boleh dialihfungsikan selama bangunan aslinya masih berdiri."
Tiba-tiba, suara alarm rumah berbunyi nyaring. Laksmana menyerbu masuk ke ruangan.
"Pak! Orang-orang Ibu Aris mengepung rumah! Mereka tahu Reina ada di sini dan mereka membawa surat perintah penangkapan atas tuduhan pencurian dokumen yayasan di Jakarta!"
Pak Bramantyo berdiri, wajahnya kembali mengeras. Ia menatap Reina. "Lari lewat pintu belakang bersama Laksmana. Menujulah ke pelabuhan Tanjung Perak. Kenzo sedang dalam perjalanan ke sana dari Batam. Ambil flashdisk ini, ini adalah satu-satunya pelindungmu dan sekolahmu."
Saat Reina dan Laksmana berlari menuju mobil di pintu belakang, sebuah mobil hitam memblokir jalan mereka. Pintu terbuka, dan yang turun bukan anak buah Ibu Aris, melainkan Aris.
Aris memegang sebuah pistol suar di tangannya, wajahnya tampak sangat bertekad. "Masuk ke mobilku, Reina! Laksmana adalah agen ganda! Dia yang membocorkan lokasimu pada ibuku agar dia bisa mendapatkan bayaran dari kedua belah pihak!"
Reina membeku, menatap Laksmana yang kini perlahan mengeluarkan pisau lipat dari sakunya sambil tersenyum licik. "Maaf, Nona. Di Surabaya, kesetiaan itu ada harganya."
Reina terjepit di antara Aris yang mengkhianati ibunya sendiri, dan Laksmana yang mengkhianati Kenzo. Di kejauhan, sirine polisi semakin mendekat.