Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyakit aneh
Hingga suatu hari saat hari Joko mengalami kelelahan yang luar biasa setelah menyelesaikan event khusus di hotelnya. Ia tidur pulas di hari dimana Dewi Poncowati datang menemuinya.
Saking lelahnya ia bahkan meminta maaf kepadanya karena tidak bisa melayaninya.
"Nuwun sewu Nyai, maafkan aku malam ini aku tidak bisa memberikan nafkah batin padamu, aku lelah sekali," ucap Joko
Joko memejamkan matanya dan terlelap.
Namun siapa yang tahu jika penolakan Joko merupakan sebuah awal bencana yang akan membuat hidupnya berubah.
Angin berhembus kencang membuat jendela kamar joko tiba-tiba terbuka sendiri. Hempasan angin membawa hawa panas yang membuat Joko seketika terjaga.
"Nyai!" serunya dengan wajah ketakutan.
Namun sosok Dewi Poncowati sudah menghilang. Bahkan saat Joko memanggilnya wanita itu tidak datang.
"Apa yang terjadi??" gumamnya
Ia kemudian bangun dari tidurnya dan melangkah keluar.
Ia terkejut saat melihat sang istri jatuh terkapar di lantai.
"Niken!" serunya panik
Ia buru-buru menghampiri wanita itu.
Tubuhnya dingin seperti es. Wajahnya pucat pasi. Joko begitu panik.
Ia memapah sang istri kemudian membawanya ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, tiba-tiba saja Niken sadar. Ia seperti orang yang baru bangun dari tidur. Wajahnya kembali bersinar dan suhu tubuhnya seketika kembali normal
Bahkan dokter memeriksanya mengatakan jika Niken baik-baik saja.
Joko sejenak terdiam. Tidak mungkin istrinya baik-baik saja, ia melihat sendiri bagaimana tubuh Niken seperti mayat hidup. Kaku dengan suhu tubuhnya yang begitu dingin.
Namun ia tak mau berdebat dengan dokter karena ia tahu mereka tidak akan percaya dengan ceritanya.
Malam itu juga Joko membawa istrinya pulang, walaupun sebenarnya ia enggan pulang. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada istrinya jika ia pulang ke rumah.
Namun Niken terus merajuk. Wanita itu tidak betah berada di rumah sakit. Baginya rumah adalah tempat ternyaman untuknya.
"Ayolah mas, aku mau pulang, aku rindu masakan rumah, pokoknya aku gak mau makan kalau aku gak boleh pulang!" ucap Niken merajuk
Wanita itu memasang wajah muram membuat Joko tak bisa menolak keinginannya. Joko memang sangat mencintai wanita itu hingga membuatnya selalu menuruti semua keinginannya. Baginya Niken adalah satu-satunya wanita yang ia cintai dan membuat hidupnya berwarna jadi wajar saja jika ia akan melakukan apapun demi wanita itu.
Dalam perjalanan pulang Niken terlihat begitu ceria. Seperti biasanya ia selalu bersenandung selama perjalanan. Lagu favoritnya membuat Joko merasa yakin jika Niken memang baik-baik saja.
Ia bahkan meminta Joko untuk membeli makanan favoritnya. Tak ada yang aneh dengannya. Ia bersikap manja dan ceria seperti biasanya.
Dalam perjalanan pulang, karena lelah Niken pun terlelap. Setibanya di rumah. Joko hendak membangunnya. Namun melihat wajah damai Niken yang terlelap, membuatnya tak tega untuk membangunkan istrinya itu.
Ia kemudian menggendong wanita itu. Namun aneh, tubuhnya terasa sangat berat, padahal berat badan Niken hanya empat puluh lima kilo, tapi ia seperti mengangkat beban satu kuintal beras.
Langkah demi langkah Joko berusaha bertahan menggendong tubuh Niken. Namun semakin ia masuk kedalam rumah, tubuh wanita itu semakin bertambah berat. Keringat dingin bercucuran dari wajahnya, ia bahkan tak sanggup lagi menggendong tubuh Niken hingga ia menjatuhkan nya di lantai ruang tamu.
"Aduh!" Niken terbangun
Wajahnya mengernyit menahan sakit. Ia menatap Joko dengan wajah kesal.
"Ish sayang, kenapa sih aku di lempar, jangan bilang mas sudah gak sayang aku lagi!" ucapnya sedih
"Maaf sayang, Mas gak sengaja!" Joko buru-buru menghampiri wanita itu.
Ia pun menjelaskan kenapa ia melepaskan dirinya.
"Aku benar-benar tidak sengaja, walaupun tubuhmu sangat berat aku berusaha untuk tetap menggendong mu. Tapi tubuh ini tiba-tiba saja lunglai dan tubuh mu terjatuh dari gendongan ku," ucap Joko
"Masa sih aku berat, perasaan berat badanku masih sama," Niken buru-buru bangun kemudian berlari ke kamarnya.
Tak lama ia kembali lagi dengan membawa timbangan di tangannya.
Ia kemudian naik ke keatas timbangan itu dan menunjukan angkanya kepada Joko
"Tuh lihat, masih sama kan!" serunya
"Jangan bilang Mas kecapean karena merawat Niken seharian!"
Joko menggeleng.
"Aku tidak akan pernah lelah merawat mu sayang, karena kamu adalah istriku dan sudah kewajiban aku menjaga dan merawat mu, tapi... sudahlah, mungkin aku akan menjelaskannya esok pagi," ucap Joko
Ia kemudian menggandeng Niken dan mengajaknya untuk beristirahat.
"Aku gak mau jalan, aku kau gendong," ucap Niken manja
Joko tersenyum, meskipun ia merasa sangat lelah namun ia tak bisa mengecewakan wanita itu.
Ia kemudian menggendongnya.
"Aku gak mau gendong belakang, aku mau gendong depan!" seru Niken
"Iya, iya!" Joko segera menggendongnya
"Gimana berat tidak??" tanya Niken
Joko menggeleng.
"Tuh kan, berarti tadi Mas itu kecapean,"
Sementara itu dari balik tirai tiba-tiba muncul bayangan hitam yang mengawasi keduanya.
Tatapan matanya seolah menyiratkan kecemburuan yang dalam melihat kemesraan mereka berdua.
Udara di ruangan itu tiba-tiba berubah panas. Meskipun kediaman Joko dilengkapi AC Central , malam itu benda tersebut tidak berfungsi.
Saking panasnya rumah itu hingga membuat Joko harus mengipasi Niken selamalaman agar istrinya itu bisa tidur.
Sementara itu Joko sendiri merasakan tubuhnya tiba-tiba tidak enak. Dadanya terasa sesak hingga beberapa kali ia batuk. Tapi batuknya bukan batuk biasa, ia bahkan selalu mengeluarkan darah dan benda-benda tajam seperti paku, jarum dan silet saat batuk.
"Ada apa denganku," ucap Joko dengan wajah panik
Sementara itu bayangan hitam itu tersenyum lebar saat melihat Joko terus batuk-batuk. Joko tidak bisa tidur malam itu. Batuknya membuat ia tak bisa memejamkan matanya.
Ia kemudian duduk bersila untuk melakukan ritual. Kali ini ia ingin memanggil Dewi Poncowati sang istri gaib.
lantas untuk memutus adalah dgn bnyk punya istri kok ngeri men ya
tp emang sih siapa yg g sedih krn kehilangan tp mbok ya jgn terllu berlebihan sih
kira3 siapa yg bikin niken seperti itu
kek gtu ya ko
nah tuhh tau kan kek mana klo ada istri bnyk sookoorrr🤭🤭🤣🤣🤣
kek mana coba setan dan jin aja bisa cembokur lho ko
kmu sih g hati2
Tabarakallah....
Alhamdulillah....
setelah mengetahui Joko merasa kepanasan maka Maryati reflek membacakan doa sambil mengusap kepala Joko
karena Maryati sering membaca ayat-ayat Al Qur'an seeeh
padahal saat itu, Pranyoto bukan lah berasal dari kaum bangsawan atau pejabat lhooo tapi bisa memperistri Maryati yang berasal dari bangsawan
ada apa gerangan yang terjadi dengan rumah Maryati ??
kenapa mendadak hawa di rumah nya menjadi sejuk meski tak ada AC
pake maen bisik-bisik segala neeeh
kita-kita kan jadi ikutan keeepooo 🏃🏃