satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Cafe
Saat sampai Niken langsung memesan makanan Satria di suruh mencari tempat terlebih dahulu, Satria memilih meja yang paling ujung agar bisa melihat kota Teluk Betung dari atas Cafe
Tak lama Niken datang dengan beberapa pelayan yang membawakan pesanannya
" banyak Amat?" Satria kaget dengan banyaknya pesanan yang di bawa oleh pelayan
" Kalau ga abis buang aja" jawab Niken Santai
" Kak ga boleh gitu, itu mubazir, " Tegur Satria, Niken memang dari keluarga kaya itu juga yang membuat Satria jaga jarak, ia tak mau di anggap menumpang pada orang kaya
" Iya iya , nanti ga gitu lagi" Sahut Niken cepat
" Yuk makan dulu" ajak Niken , Satria melihat makanan yang ada di depannya mengambil Ayam Asap Saos Padang, sedangkan Niken memilih Ayam Goreng yang di beri sambal Kecombrang
keduanya diam menikmati makanan mereka
" Ugh kenyang banget" ucap Satria sambil mengelus perutnya yang sedikit gembul karena makan cukup banyak
" Gimana ga kenyang, ayam satu habis" sindir Niken, ia mengambil Ice yang dia pesan , sedangkan Satria di sodorkan Hot espreso
" loe beneran tadi mau nyari preman preman itu?"tanya Niken yang ternyata masih penasaran Satria mengajaknya ke cafe permata
" Iya, kalau hukum ga bisa adil biar gw yang ngasih pelajaran sama mereka" sahut Satria kesal
" mereka preman, bahaya kalau loe ngadepin mereka sendiri" tegur Niken yang khawatir
" Tenang aja , gw juga ga langsung lawan mereka semua" sahut Satria
" Iya pokoknya hati hati , gw ga mau loe kenapa napa" ucap Niken
" Tenang aja"
Mereka berdua berbincang bincang di sana hingga lupa waktu, mereka baru sadar saat pelayan Cafe mengingatkan mereka tutup jam 11 malam
Sementara Di salah satu lereng gunung di jawa Timur, satu keluarga sedang berbicara dengan serius
" Peninggalan Eyang Wiratama telah menemukan pewarisnya, kita harus segera mengambilnya sebelum ia tumbuh menjadi kuat" kepala keluarga Sutosama, Harya membuka pembicaraan
" Kau yakin itu peninggalan Eyang Wiratama?" tanya seorang sesepuh yang hadir,
Harya mengeluarkan satu liontin, liontin itu berpendar kebiruan
" Ini yang di wariskan leluhur kita , dia berpendar semakin terang sejak sebulan yang lalu, aku yakin kekuatan itu baru tumbuh di pewarisnya" sahut Harya
" Kalau begitu pencar orang orang kita, cari keberadaan pewaris Wiratama sebelum ia menjadi lebih kuat" seru sesepuh itu
" Baik, aku akan menyebar orang orang kita" sahut Harya, ia segera memanggil beberapa tetua dan menyampaikan perintah sesepuh mereka
Harya masih keturunan dari Wiratama, leluhur Harya adalah kakak sepupu dari Eyang Resi Wiratama, namun ia selalu iri dengan kesaktian yang di miliki Wiratama, ia menyusun rencana agar bisa membunuh keluarga kakak sepupunya, ia bergabung dengan musuh utama keluarga Wiratama, yaitu keluarga Dirga, setelah berhasil mengungsikan keluarganya, leluhur Harya, meracuni dan mengepung rumah Eyang Wiratama, Eyang Resi Wiratama tak menduga jika kakak sepupunya sendiri mengkhianati keluarganya
Mengetahui dirinya terkena racun Eyang Resi Wiratama, memasukan semua ilmu miliknya dan juga sebagian jiwanya ke dalam sebuah gelang, dengan kekuatan terakhir ia mengirimkan bayi dan gelang itu, menembus dimensi waktu, Membuka lubang hitam dimensi sangat menguras tenaga dalam Eyang Wiratama,
setelah berhasil mengirim Bayi dan gelang itu, keluarga Surya dan Sesepuh Harya menerobos masuk, semua anggota keluarga tewas , dan resi Wiratama yang kehabisan tenaga pasrah saat kakak sepupunya membunuhnya dengan pedang
Setelah membasmi Keluarga Wiratama, Leluhur Harya mengganti nama keluarganya menjadi keluarga Sutasoma, ia mengambil alih keluarga Wiratama, dan ia mengetahui jika gelang yang berhasil di buat Eyang Wiratama, telah di kirim ke lobang Hitam dimensi, ia mengeluarkan satu kalung dengan liontin terbuat dari batu biru, ia segera mengambil darah Eyang Wiratama dan menguncinya di dalam liontin
"Kau pegang ini, jangan sampai hilang, ini penanda jika kekuatan gelang itu menemukan pewarisnya maka ia akanbersinar, semakin terang maka semakin kuat pewaris itu"Ucap leluhur itu sambil memberikan liontin yang di pegang nyapada salah satu muridnya
" Baik guru aku mengerti" sahut murid itu, ia mengambil liontin itu dan memakainya
Dari hari itu Kalung itu selalu di pakai oleh pemimpin keluarga Sutasoma, namun selama ratusan tahun liontin itu tak pernah bersinar namun sebukan yang lalu tiba tiba liontin itu bersinar terang sesaat dan kembali meredup, menyisakan cahaya redup di liontin,
mereka menunggu leluhur mereka yang sedang bertapa di salah satu goa di gunung itu dan tadi malam leluhur mereka telah keluar dari semedinya, hingga pagi ini mereka mengadakan rapat
setelah mendapat perintah leluhur mereka kepala keluarga Harya mengutus anak buah mereka menyebar ke seluruh Nusantara guna mencari Gelang Peninggalan Resi Wiratama
Setelah semua anak buah pergi ke berbagai daerah kepala keluarga Harya kembali menemui sesepuh Sutasoma
" salam Sesepuh" kepala keluarga Harya langsung memberikan sungkem saat berada di depan sesepuhnya
" bangunlah, tak perlu terlalu formal, hanya ada kita berdua" sesepuh itu berkata
" kau pergilah ke daerah Sumatra, aku merasa keberadaan Gelang itu ada di sana" lanjut sesepuh itu berkata
" Baik kek aku akan ke sumatra secepatnya
" jika kekuatan pewaris itu sudah tak mampu kau hadapi kau jangan ragu meminta bantuan perguruan yang ada di sana, aku ingat perguruan Macan Hitam, Perguruan Bangau Merah dan Perguruan Ular Sakti mempunyai hubungan dengan kita" ucap sesepuh itu mengingatkan
" Baik Sesepuh" jawab Harya . lalu ia pamit undur diri
Di Lampung, Satria banun kesiangan, saat keluar Hadi dan Bimo sedang duduk di pinggir kolam ikan Koi sambil ngopi
" Tumben loe kesiangan " tegur Bimo,
" loe latihan sampe malem yah?" tanya Hadi, ia tahu karena saat di balai pengobatan Sangkal Putung , ia sering melihat Satria melatih pernapasan di dekatnya
" Iya tadi malam latihan sampe mau subuh" jawab Satria berbohong, ia tak mungkin mengatakan jika ia melumpuhkan salah satu preman yang mengeroyoknya
"lihat di medsos, ada berita seorang pria yang baru pulang dari main bilyar di temukan terluka parah, kaki dan tangannya lumpuh" Tiba tiba Bimo berseru
" Cuma berita gitu doang kenapa heboh" tegur Hadi
" Lihat dulu , itu kalau ga salah namanya Oyot salah satu preman yang ngeroyok loe" dengus Bimo, Hadi segera mengeluarkan handphonenya dan membuka medsos
" iya ini orang yang di video rekaman CCtv itu" ucap Hadi ,kini ia yang heboh
" Akhirnya kena batunya juga dia!" geram Bimo
Teeen
Teeen
dari luar terdengar suara klakson mobil ,
" Biar gw lihat" Bimo langsung keluar, melihat siapa yang datang
tak lama ia kembali dengan dua wanita muda
" Rani" seru Hadi
" Kak Niken?" satria yang melihat siapa yang datang kaget karena nikn datang bersama Rani
" Kalian kenal?" tanya Rani melihat satria dan Niken bergantian
" Kenal lah, ini orang yang gw ceritain yang nolong saat gw kecelakaan" niken yang menjawab sambil menggandeng tangan Satria
" jangan deket deket gw belum mandi" Satria segera menjauh karena memang belum mandi
" alah kaya sama siapa aja" Niken malah memeluk Satria dengan erat
" Hmm kumat kak Niken" bimo yang di sendirian mendengus kesal karena hanya ia sendiri yang tak punya pasangan , Rani dekat dengan Hadi, sedangkan Niken sudah pasti nempel sama Satria
" Makanya cari pacar" ejek Hadi
" Nanti juga gw dapet pacar" dengus Bimo sambil melangkah ke lantai dua
" eh mau kemana?" tanya Hadi
" Mau ngambil handuk gw mau mandi"jawab Bimo tanpa menghentikan langkahnya
" Pantes tadi kaya ada bau mbe" celetuk Satria
" Sue, loe juga belum mandi" gerutu Bimo
Niken dan Rani tertawa kecil melihat itu
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁