NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Sebagai Kekasih

Cassie menatap pena di dalam kotak kayu itu, lalu beralih menatap wajah Liam yang tampak sangat tegang menanti jawabannya. Perlahan, senyum kecil mulai terbit di bibir Cassie. Ia mengambil pena itu, menggenggamnya erat, lalu menatap Liam dengan binar jenaka di matanya.

​"Aku terima," ucap Cassie pelan. "Tapi dengan satu syarat."

​Liam yang tadinya sudah hampir bisa bernapas lega, kembali menegang.

"Syarat apa lagi?"

​Cassie tertawa kecil, ia melangkah maju dan melingkarkan tangannya di pinggang Liam, mendongak menatap pria yang kini resmi menjadi kekasihnya itu.

"Syaratnya, kau tidak boleh memprotes nafsu makanku. Karena jujur saja, Liam... tempat ini memang sangat cantik dan romantis, tapi perutku tidak bisa kenyang hanya dengan melihat bunga Daisy."

​Liam mengernyitkan dahi, bingung. "Maksudmu?"

​"Maksudku, padahal tadi aku sudah berharap kau membawaku ke restoran mahal yang ada di pusat kota," keluh Cassie sambil mengerucutkan bibirnya. "Biar momen 'penembakan' resmi ini bisa dibarengi dengan steak besar, pasta, dan hidangan penutup yang manis. Kau lupa ya, kalau mahasiswi yang sedang stres mengerjakan banyak tugas ini masih dalam masa pertumbuhan? Aku sangat lapar, Liam!"

​Liam terdiam sejenak, lalu tawa keras pecah dari mulutnya. Ia menyandarkan dahinya ke dahi Cassie, merasa bodoh sekaligus sangat lega.

Ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara agar tidak terlihat seperti saat bersama Amanda, sampai ia lupa satu hal mendasar tentang Cassie, gadis ini adalah "mesin penghancur makanan" jika sudah merasa lapar.

​"Sial, aku benar-benar lupa kalau kekasihku ini lebih mementingkan perut daripada suasana," ledek Liam sambil mencubit hidung Cassie gemas.

"Padahal aku sudah menyewa tempat ini agar kita bisa punya momen puitis tanpa gangguan bau bumbu dapur."

​"Puitis itu kalau perut sudah terisi, Tuan Besar," balas Cassie tak mau kalah.

​Tiba-tiba, dari balik semak-semak besar di luar rumah kaca, terdengar suara bisikan.

​"Sudah kubilang, Marco! Harusnya kita pesan layanan antar makanan ke sini! Bos kita memang payah kalau soal logistik perut wanita!" itu suara Jino.

​"Diam, Jino. Mereka sedang berpelukan," sahut suara Marco yang datar namun terdengar jelas di keheningan sore itu.

​Liam langsung menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan maut.

"JINO! MARCO! KELUAR KALIAN SEKARANG!"

​Jino dan Marco muncul dari balik tanaman dengan wajah tanpa dosa. Jino membawa sebuah kamera saku, sepertinya dia baru saja mendokumentasikan momen bersejarah itu. Sementara Marco hanya berdiri dengan tangan di saku celana.

​"Maaf, Bos. Kami hanya memastikan tidak ada yang datang merusak suasana," ujar Jino sambil menyengir lebar ke arah Cassie.

"Selamat ya, Cassie! Akhirnya hubungan kalian sudah resmi. Jadi, kapan kita makan? Aku juga lapar!"

​Liam menghela napas panjang, ia merangkul bahu Cassie erat-erat.

"Ayo. Kita pergi ke restoran manapun yang kau mau. Aku akan memesankan seluruh menu agar mahasiswi ini berhenti mengeluh soal masa pertumbuhannya."

​Cassie tertawa riang, ia menggandeng lengan Liam dengan bangga.

***

Makan malam "perayaan" itu akhirnya berlangsung di sebuah restoran steak kelas atas di pusat Verovska. Namun, jangan bayangkan suasana makan malam romantis yang tenang dengan denting harpa. Meja mereka justru menjadi yang paling berisik karena kehadiran Jino dan Marco.

​Begitu pelayan meletakkan buku menu, Cassie tidak membuang waktu. Matanya berbinar menatap deretan menu Wagyu dan truffle pasta.

​"Aku mau T-Bone steak yang paling besar, pasta, sup jagung, dan oh... molten lava cake untuk penutup," ucap Cassie tanpa ragu, membuat pelayan itu sempat terdiam sejenak sambil mencatat.

​Liam hanya bisa menggelengkan kepala, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap Cassie dengan senyum miring.

"Kau benar-benar tidak malu ya, memesan makanan sebanyak itu di kencan resmi pertama kita?"

​"Buat apa malu? Kau yang bilang aku sudah jadi kekasihmu, kan? Berarti kau sudah harus siap dengan tagihan makan siang dan malamku," sahut Cassie santai sambil menyesap air putihnya.

​Jino tertawa terbahak-bahak sambil menepuk bahu Liam. "Rasakan itu, Bos! Makanya, lain kali kalau mau menembak gadis, tanya dulu dia sudah makan atau belum."

​"Diam kau, Jino. Pesan saja makananmu," ketus Liam, meskipun ia tetap memberikan kartu kreditnya pada pelayan.

​Saat makanan datang, meja mereka benar-benar penuh. Cassie makan dengan sangat lahap, seolah-olah dia baru saja tidak makan selama tiga hari. Liam memperhatikannya dalam diam, sesekali memotongkan bagian steak yang sulit dijangkau Cassie atau mengusap sudut bibir gadis itu dengan serbet saat ada saus yang tertinggal.

​Gestur Liam yang sangat perhatian itu tidak luput dari pandangan Jino.

​"Wah, Marco, lihat. Es kutub utara kita benar-benar sudah mencair," goda Jino sambil menunjuk Liam dengan garpunya.

"Dulu saat bersama Amanda, mana pernah dia mau mengusap bibir orang. Biasanya dia cuma sibuk mengecek jam tangan karena ingin cepat-cepat kembali ke kantor."

​Mendengar nama Amanda, gerakan tangan Liam sempat terhenti sedetik, tapi kali ini sorot matanya tidak lagi berubah dingin. Ia justru melirik Cassie, memastikan apakah gadis itu terganggu.

​Cassie, dengan mulut yang masih penuh pasta, menatap Jino dengan berani.

"Itu karena seleranya sekarang sudah naik, Jino. Dia lebih suka mahasiswi yang makannya banyak daripada model yang cuma minum air mineral."

​Marco yang sedari tadi hanya menyimak, tiba-tiba bersuara singkat, "Setuju."

​Liam tertawa pendek. "Dengar itu? Bahkan Marco saja memihakmu."

​Di tengah tawa dan obrolan mereka, suasana terasa sangat hangat. Liam merasa beban yang selama ini menghimpit pundaknya soal masa lalu, soal kegagalan romansa, dan soal kesepiannya, sedikit terangkat. Melihat Cassie yang tertawa lepas di sampingnya, dikelilingi oleh kedua sahabat setianya, Liam menyadari bahwa inilah "keluarga" yang sebenarnya dia inginkan.

​Namun, di tengah suasana manis itu, Jino tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya menatap ke arah pintu masuk restoran.

​"Bos... sepertinya kencan resmimu kedatangan tamu tak diundang," bisik Jino, nada suaranya berubah waspada.

***

Suasana hangat di meja makan itu mendadak membeku. Ethan berjalan mendekat dengan langkah santai, tangan kirinya dimasukkan ke saku jaket kulitnya, sementara tangan kanannya memegang selembar kertas yang dilipat rapi.

Ethan berjalan mendekat dengan langkah santai, jaket kulitnya bergesekan pelan dengan kursi pelanggan lain.

​"Wah, kebetulan sekali bertemu di sini," ucap Ethan sambil tersenyum ramah, namun matanya sedingin es.

"Maaf ya, Liam, aku harus mengganggu waktu makan malam kalian yang terlihat sangat... spesial ini."

​Liam meletakkan pisaunya dengan tenang, gerakan tangannya sangat terkontrol. Ia mendongak dan membalas senyuman Ethan dengan tarikan bibir yang sama ramahnya, meski ada ketegangan yang tersembunyi di balik rahangnya.

​"Sama sekali tidak masalah, Ethan. Verovska memang sempit," jawab Liam dengan suara yang stabil dan sopan.

"Mau bergabung? Aku bisa pesankan kursi tambahan kalau kau sedang tidak bertugas."

​"Terima kasih tawarannya, tapi aku sedang ada urusan sedikit," Ethan mengeluarkan selembar kertas dari saku dalam jaketnya dan meletakkannya di meja dengan gestur yang sangat santun, seolah hanya memberikan brosur menu.

"Ini, ada titipan dari kantor. Terkait kejadian di pelabuhan. Hanya prosedur rutin, tapi mereka ingin kau mampir sebentar untuk memberikan keterangan resmi."

​Cassie menatap kertas itu, lalu menatap Ethan. Suasana di meja itu terasa sangat aneh, mereka bicara seperti teman, tapi udara di sekitar mereka terasa begitu berat.

​"Pelabuhan?" Liam mengambil kertas itu, membacanya dengan seksama tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun.

"Padahal aku sudah mengirimkan laporannya pagi tadi. Ternyata timmu sangat teliti ya, Ethan."

​"Kami hanya ingin memastikan semuanya sesuai jalur, Liam." Ethan melirik Cassie, senyumnya melebar. "Maaf ya, Cassie. Sepertinya aku harus meminjam kekasihmu sebentar."

Liam terkekeh pelan, ia berdiri dan merapikan kemejanya.

​"Tentu saja. Sebagai warga negara yang baik, aku akan kooperatif," Liam menoleh ke arah Cassie, mengusap pipinya lembut untuk menenangkannya.

"Makanlah pelan-pelan. Jino dan Marco akan mengantarmu pulang. Aku hanya pergi sebentar untuk membantu Ethan membereskan tumpukan kertasnya."

​"Hati-hati, Liam," bisik Cassie.

​Liam mengangguk, lalu menepuk bahu Ethan dengan akrab seperti kawan lama.

"Ayo, Ethan. Jangan biarkan rekan-rekanmu menunggu terlalu lama hanya karena kau ingin menyapa kami di sini."

​Mereka berdua berjalan keluar dari restoran berdampingan. Dari kejauhan, mereka terlihat seperti dua sahabat yang sedang mengobrol santai, namun Jino dan Marco tahu betul bahwa di balik langkah santai itu, ada peperangan mental yang baru saja dimulai.

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!