Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabut di antara kita
Malam itu, Olivia mengirimkan pesan darurat kepada Arden mengenai dokumen kontrak krusial yang harus ditandatangani segera di hotel tempatnya menginap sebelum ia terbang kembali ke London. Arden, yang menjunjung tinggi profesionalisme lulusan London, datang tanpa curiga.
Namun, di dalam kamar suite yang remang, Olivia sengaja menumpahkan wine ke kemeja Arden, lalu saat Arden berusaha membersihkannya, Olivia merangkulnya tepat ketika seorang fotografer bayaran mengambil gambar dari sudut yang sangat "pas".
Keesokan paginya, ponsel Violet meledak dengan notifikasi. Foto Arden yang tampak sedang berpelukan mesra dengan Olivia di kamar hotel tersebar di akun gosip.
Retaknya Kepercayaan
Violet berdiri di tengah apartemen Arden, tangannya gemetar memegang ponsel. Saat Arden pulang dengan wajah lelah, Violet langsung menyodorkan layar ponselnya.
"Tuan Bos... ini apa?" suara Violet serak, menahan tangis yang siap tumpah.
Arden tertegun melihat foto itu. "Violet, itu tidak seperti yang terlihat. Olivia menjebakku. Dia menumpahkan minuman dan—"
"Di kamar hotel, Tuan? Larut malam?" potong Violet. "Tuan selalu bilang aku anak kecil, aku berisik, aku gangguan. Apa Kak Olivia adalah 'ketenangan' yang Tuan cari selama ini?"
"Violet, dengerin dulu!" Arden mencoba meraih tangan Violet, tapi Violet menghindar.
"Aku mungkin cegil, Tuan. Aku mungkin gila ngejar Tuan. Tapi aku punya harga diri. Kalau Tuan memang belum selesai dengan masa lalu di London, harusnya jangan ikat aku dengan cincin ini!" Violet melepas cincin amethyst pelacak itu dan meletakkannya dengan denting keras di meja marmer, lalu berlari keluar apartemen sambil terisak.
Amarah Sang Singa
Arden membeku sejenak, namun kemudian matanya berkilat dengan amarah yang sangat dingin. Ia tidak mengejar Violet saat itu juga; ia tahu ia harus menghancurkan sumber masalahnya terlebih dahulu agar tidak ada lagi fitnah yang tersisa.
Arden menyambar ponselnya dan menelepon Danantya. "Danan, panggil seluruh tim hukum Bayu Group. Aku ingin rekaman CCTV hotel itu sekarang juga. Dan pastikan Olivia Vaughn tidak bisa meninggalkan negara ini sebelum dia melakukan konferensi pers."
Arden mendatangi kantor Olivia dengan langkah yang menghancurkan suasana. Ia tidak mengetuk pintu, ia mendobraknya.
"Arden? Ada apa dengan wajah menyeram—"
"Diam!" bentak Arden, suaranya menggelegar hingga staf di luar ruangan gemetar. "Kamu pikir aku pria bodoh yang bisa kamu mainkan dengan skandal murah? Aku punya rekaman tersembunyi dari jam tangan pintarku yang merekam seluruh pembicaraan kita semalam, termasuk saat kamu sengaja menumpahkan minuman itu."
Olivia memucat. "Arden, aku hanya ingin kau sadar kalau kita—"
"Yang harus sadar itu kamu!" Arden mendekat, auranya sangat mengintimidasi. "Kamu baru saja menyentuh satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupku. Jangan harap keluargamu bisa melanjutkan ekspansi bisnis di Asia jika kamu tidak membersihkan nama Violet dalam satu jam ke depan. Aku akan menghancurkan karirmu tanpa sisa, Olivia. Itu janji seorang Arden Elio Bayu."
Pembuktian di Bawah Hujan
Sore itu, hujan turun deras di Jakarta. Violet duduk di taman kampus, tempat favoritnya saat sedang sedih. Tiba-tiba, sebuah payung hitam menaungi kepalanya.
Violet menoleh dan menemukan Arden berdiri di sana, basah kuyup karena bagian bahunya tidak tertutup payung demi melindungi Violet.
"Pergi, Tuan Bos," gumam Violet.
Arden berlutut di depan Violet, mengabaikan celana mahalnya yang kotor terkena lumpur. Ia menyodorkan tabletnya yang memutar video CCTV asli dan rekaman suaranya yang menolak Olivia dengan tegas malam itu.
"Lihat aku, Violet," ucap Arden dengan nada yang sangat lembut namun penuh penekanan. "Aku mungkin kaku, aku mungkin sulit bicara cinta. Tapi aku tidak akan pernah mengkhianati rumahku sendiri. Dan rumahku... itu kamu."
Violet menonton video itu, mendengar bagaimana Arden berkata pada Olivia di rekaman: "Jangan pernah bandingkan dirimu dengan Violet. Bagiku, dia adalah segalanya."
Tangis Violet pecah lagi, tapi kali ini karena lega. Ia langsung menerjang Arden dengan pelukan. "Tuan Bos jahat! Bikin aku takut!"
Arden mendekap Violet erat di bawah guyuran hujan. "Maafkan aku. Aku terlalu meremehkan kelicikannya. Tapi sekarang, semuanya sudah berakhir. Olivia sudah mengakui semuanya di media, dan dia akan pulang ke London malam ini juga."
Arden merogoh sakunya, mengeluarkan kembali cincin amethyst yang tadi ditinggalkan Violet. Ia menyematkannya kembali dengan sangat hati-hati. "Jangan pernah lepas ini lagi. Tanpa sinyal dari cincin ini, aku merasa kehilangan arah, Violet."
Violet tersenyum di balik isak tangisnya. "Ternyata Tuan Bos kalau lagi marah demi aku... keren juga ya?"
"Jangan mulai lagi, Gadis Berisik," sahut Arden, namun kali ini ia mencium pucuk kepala Violet dengan sangat lama.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...