NovelToon NovelToon
Duda Menikahi Gadis Polos

Duda Menikahi Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Duda
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.

***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cya pergi - Rajendra khawatir

Sekitar pukul setengah lima pagi, Cya akhirnya membuka matanya.

Tangannya meraba ke samping, mencari sosok Rajendra.

Namun… kosong.

“Om!” Cya langsung bangun dengan panik.

Matanya celingukan ke seluruh ruangan, hingga akhirnya ia menemukan Rajendra yang tertidur di sofa.

Cya mengerutkan kening. “Perasaan semalam dia tidur di samping gue…” gumamnya. “Atau jangan-jangan… tuyul itu mindahin Om Jendra juga?”

Tanpa pikir panjang, Cya menghampiri sofa. “Om, bangun…” Tangannya menarik lengan Rajendra pelan.

“Engh…” Rajendra mengerjapkan mata, masih setengah sadar. “Sudah jam berapa?”

Cya melirik jam di dinding. “Setengah lima.”

Rajendra langsung mengubah posisi menjadi duduk, mengusap wajahnya. “Kenapa kamu bangun cepat sekali?” tanyanya. “Kan kamu lagi halangan, gak mungkin salat Subuh.”

“Gak tau… tiba-tiba aja kebangun,” jawab Cya.

Lalu ia menatap Rajendra curiga. “Om kenapa tidur di sini? Om kok ninggalin saya? Om dipindahin tuyul juga ya? Soalnya semalam kayaknya Om tidur di kasur…”

Rajendra menghela napas pelan. “Saya gak dipindahin tuyul,” ujarnya sabar. “Dan saya juga gak ninggalin kamu.”

“Tapi Om di sofa…”

“Saya masih di ruangan ini, Cya,” jawab Rajendra lembut. “Itu artinya saya tetap di dekat kamu.”

Cya masih terlihat ragu. “Kalau Om gak di samping saya… nanti saya diangkat tuyul lagi.”

Rajendra tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya, mengusap punggung Cya dengan lembut. “Gak akan ada apa-apa,” ucapnya menenangkan. “Saya akan tetap menjaga kamu.”

“Beneran?”

“Iya, saya serius.”

Cya akhirnya mengangguk pelan. “Hm… oke deh.”

Wajahnya mulai terlihat lebih tenang.

“Kamu tidur lagi saja,” lanjut Rajendra. “Saya mau salat Subuh dulu.”

“Salat di sini aja, Om… jangan di bawah,” pinta Cya pelan.

“Iya.”

Cya tersenyum kecil, lalu kembali ke tempat tidur.

Sementara itu, Rajendra bergegas mengambil wudhu.

Beberapa menit kemudian, ia sudah berdiri di atas sajadahnya.

Takbir pertama ia ucapkan dengan khusyuk.

Di belakangnya, Cya sudah kembali tertidur, napasnya terdengar pelan dan teratur.

Setelah menyelesaikan salatnya, Rajendra menengadahkan kedua tangannya.

Matanya terpejam.

Hatinya terasa penuh oleh sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.

Dalam diam, ia berdoa— “Ya Allah…”

"Jika semua ini adalah jalan yang Engkau pilihkan untukku… tolong luruskan niatku. Jauhkan aku dari keinginan yang hanya didasari nafsu, dan dekatkan aku pada rasa yang benar-benar tulus karena-Mu.

Jika Cya… memang takdirku, lembutkan hatiku untuk bisa menerimanya dengan cara yang benar.

Ajarkan aku menjadi imam yang baik untuknya, bukan hanya dalam ucapan… tapi juga dalam sikap dan tanggung jawab.

Jaga dia, Ya Allah… bahkan saat aku lalai menjaganya.

Dan jika suatu hari nanti… aku mulai menyayanginya,

biarkan itu menjadi rasa yang Engkau ridhoi, bukan sekadar keinginan sesaat yang akan kusesali.

Ya Allah, perasaan ini masih tertuju pada Aurel, aku hanya tak ingin mengkhianatinya. Tapi entah kenapa perasaan hamba mulai berbeda pada Cya. Apakah benar rasa itu mulai tumbuh atau hanya sekedar nafsu semata. Berikan petunjukMu ya Allah."

Rajendra mengusap wajahnya pelan setelah berdoa.

Lalu tanpa sadar, pandangannya beralih ke arah tempat tidur.

Ke arah Cya… yang tertidur dengan damai.

Dan entah kenapa—hati Rajendra terasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya.

***

Hari ini Rajendra kembali bekerja. Kemarin, ia sengaja tidak masuk kantor karena mamanya datang ke rumah.

Kini, rumah terasa jauh lebih sepi.

“Ih… bosen banget,” gerutu Cya sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa. “Sejak menikah, gue gak pernah keluar lagi sama teman-teman.”

Ia menghela napas panjang.

Beberapa menit setelah mobil Rajendra keluar dari pekarangan, Cya bangkit berdiri.

“Nggak bisa gini terus,” gumamnya. “Gue harus keluar.”

Tanpa pikir panjang, ia mengambil tas kecilnya, lalu melangkah keluar rumah.

Namun—baru saja ia melewati pagar, langkahnya langsung terhenti.

“Bela… kamu mau ke mana?” Ternyata orang yang menghadangnya adalah Bela.

“Aku mau ke rumah kamu,” jawab Bela santai.

Cya meringis. “Yah, sayang banget. Aku baru aja mau keluar.”

“Kamu mau ke mana?”

“Mau ketemu teman.”

“Aku ikut, ya…” Bela langsung menyatukan kedua telapak tangannya, memohon.

Cya ragu. “Tapi…”

Tatapan Bela yang memelas membuatnya tidak tega.

“Aku mohon! Aku bete banget sendirian di rumah.”

Cya menghela napas. “Hem… oke deh. Tapi jangan kaget ya kalau sudah sampai nanti.”

“Siap!” Bela mengacungkan dua jempol. “By the way, kita ke sana naik apa?”

“Taksi online. Tunggu aja, sebentar lagi datang.”

“Memangnya kita mau ke mana sih?” tanya Bela penasaran.

“Cari hiburan.”

“Iya, tapi di mana?”

“Nanti juga kamu tau.”

Tak lama kemudian, taksi online yang dipesan Cya tiba.

“Mbak Cya?” tanya sopir.

“Iya, Pak.”

“Jalan Mawar?”

“Iya.”

“Silakan masuk.”

“Ayo, Bel.” Cya menarik tangan Bela masuk ke dalam mobil.

Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit.

Tempat tujuan ini memang cukup jauh dari rumah Cya sekarang.

“Di sini saja, Pak,” ucap Cya saat mobil berhenti di depan sebuah gedung tua dengan puluhan kendaraan terparkir di depannya.

Setelah membayar, mereka pun turun.

Bela langsung menatap sekeliling dengan heran. “Cya… ini tempat apa?”

“Nanti juga tau. Ayo masuk.” Cya menarik tangan Bela.

Dari luar, gedung itu tampak sepi.

Namun begitu mereka masuk—suasana langsung berubah.

Riuh.

Penuh.

Dipadati ratusan orang.

“Cya, ini tempat apa sih?” tanya Bela lagi, mulai merasa aneh.

“Cya!” Seseorang tiba-tiba memanggil.

“Serena!” Cya langsung tersenyum lebar dan memeluk gadis itu.

Bela hanya bisa berdiri kaku, memperhatikan.

“Lo bareng siapa?” tanya Serena setelah melepas pelukan.

“Teman baru gue. Kenalin, ini Bela.”

Bela tersenyum canggung.

Serena mengulurkan tangan. “Gue Serena.”

“Gue Bela.”

“Kalian kenal di mana?” tanya Serena.

“Di rumah su—”

“Di rumah gue,” potong Cya cepat.

Serena memicingkan mata. “Tadi kayaknya bukan itu deh yang mau dia bilang.”

Cya langsung mengedip ke arah Bela. “Tadi Bela mau ngomong itu kok. Iya kan, Bel?”

“I-iya…” jawab Bela gugup.

Serena mengangguk pelan, meski masih curiga.

“Ya sudah. Ayo, kita ke arena,” ajak Cya.

“Ayo!” Seru Serena.

“Ini tempat apa sih sebenarnya?” Bela bertanya lagi.

“Lo gak tau?” Serena balik bertanya.

Bela menggeleng.

Serena melirik Cya, lalu berbisik, “Kenapa lo ajak dia ke sini kalau dia gak tau?”

“Dia maksa ikut. Gue kasihan,” bisik Cya balik.

“Kalian kenapa bisik-bisik?” tanya Bela curiga.

“Gak apa-apa,” jawab Serena cepat. “Lo mau tau tempat ini apa?”

Bela langsung mengangguk.

“Ini tempat… tinju ilegal.”

Mata Bela langsung membesar.

Pantas saja dari tadi ia melihat banyak pria berbadan kekar.

“Kalian ngapain ke tempat kayak gini?”

“Cari hiburan,” jawab Serena santai.

“Ya buat tinjulah,” tambah Cya.

“Hah? Kalian bisa tinju?”

“Bukan gue,” kata Cya sambil menunjuk Serena. “Dia.”

Serena langsung menutup wajahnya, sedikit malu.

Bela menatap Serena dari atas sampai bawah.

Rok mini.

Blouse cantik.

Jauh dari kesan petinju.

“Serius dia petinju?” bisik Bela ke Cya.

“Serius. Gue sering nemenin dia tanding.”

Bela masih setengah tidak percaya.

Mereka pun masuk lebih dalam hingga sampai di arena utama.

Sebuah ring tinju besar berdiri di tengah, dikelilingi penonton yang bersorak.

Suasananya jauh lebih liar.

“Guys, gue ganti baju dulu,” pamit Serena.

“Oke,” jawab Cya.

Bela hanya diam, masih berusaha mencerna semuanya. “Cya…”

Ia mendekat, berbicara agak keras karena bising. “Kamu ngapain sih ke tempat kayak gini?”

“Memangnya kenapa?” Cya terlihat santai.

“Ini tempat orang-orang berandalan. Cewek kayak kamu gak pantas di sini,” ujar Bela khawatir.

“Bela,” Cya menatapnya serius, “orang-orang di sini gak seburuk yang kamu pikir.”

Belum sempat Bela membalas—seorang perempuan mendekat.

“Kalau teman lo gak nyaman, suruh pulang aja,” katanya tegas.

Cya langsung menunduk sedikit. “Maaf, Kak. Teman gue gak bermaksud jelek-jelekin tempat ini.”

“Lain kali jangan bawa orang sembarangan kalau gak mau akses lo ke sini ditutup.”

“Iya, Kak. Maaf.”

Bela langsung angkat bicara. “Maaf, Kak. Jangan salahin Cya. Saya yang maksa ikut.”

“Bela, udah…” bisik Cya.

Perempuan itu menatap Bela tajam, lalu kembali ke Cya. “Pastikan dia gak bocorin tempat ini.”

Cya langsung mengangkat tangan seperti hormat. “Siap, Kak.”

Setelah perempuan itu pergi— “Dia siapa sih?” tanya Bela.

“Salah satu orang penting di sini.”

Bela menggeleng pelan. “Aku kira kamu gak bakal ke tempat kayak gini, Cya.”

“Kenapa?”

“Kamu kelihatan polos banget.”

Cya tersenyum tipis. “Gak ada yang gak mungkin, Bel. Lagipula aku gak se polos itu kok." Sanggah cya.

Cya memang polos tapi kepolosan gadis itu hanya pada rana hubungan sepasang kekasih soalnya ia belum pernah pacaran, jadi wajar saja ia polos. Cya juga tidak pernah menonton video tak senonoh atau semacamnya seperti kebanyakn orang sekarang yang suka menonton video dewasa.

"Oke deh." Bela tidak protes lagi.

Tak lama, sorakan penonton makin keras.

Dua petinju sudah mulai bertarung di ring.

Bela melipat tangan di dada, menonton dengan perasaan campur aduk.

Sementara itu, Cya terlihat sangat antusias.

Tak lama—Serena kembali.

Kali ini dengan pakaian bertarung.

Aura-nya berubah total.

“Lo beneran mau tanding?” tanya Bela.

“Kalau gak, ngapain gue ganti baju?” jawab Serena santai sambil meregangkan ototnya.

Bela menghela napas pelan. “Gue bener-bener gak habis pikir sama anak muda zaman sekarang…” gumamnya.

Sorakan semakin riuh.

Dan di tengah itu semua—Cya justru tersenyum lebar, seolah tempat ini… memang dunianya.

***

Kaki Bela mulai terasa pegal.

Sudah lama berdiri, tapi Cya dan Serena masih terlihat sangat antusias menonton pertandingan di depan mereka.

Bela melirik jam di pergelangan tangannya. “Ya ampun… udah hampir jam dua belas,” gumamnya kaget.

Pantas saja perutnya mulai keroncongan.

Ia menepuk pundak Cya. “Cya…”

Cya menoleh. “Kenapa?”

“Udah hampir jam dua belas. Lo gak mau keluar dari sini?” tanya Bela.

“No.” Cya malah menggeleng santai sambil menggoyangkan telunjuknya.

“Kenapa? Emangnya lo gak lapar?”

“Belum waktunya,” jawab Cya tenang. “Sabar, bentar lagi makanan datang. Ini tinggal satu pertandingan lagi sebelum istirahat.”

Bela mendengus pelan.

Penyesalan mulai muncul di wajahnya.

“Terus kita pulang jam berapa?” tanyanya lagi.

“Setelah semua orang di sini bubar.”

“Jam berapa itu?”

“Biasanya… sekitar jam tujuh atau delapan malam.”

“Hah?!” Mata Bela langsung membelalak. “Kamu serius?”

“Iya, gue serius.”

Bela langsung memijat pelipisnya. “Cya, suami kamu bisa—”

Refleks.

Cya langsung membekap mulut Bela.

Matanya celingukan ke sekitar.

Untungnya suasana terlalu bising, jadi tak ada yang memperhatikan.

“Jangan pernah ngomong kayak gitu di sini,” bisik Cya tegas.

Bela mengernyit. “Kenapa emangnya?”

Cya mendekat, berbisik pelan di telinga Bela. “Jangan pernah bilang ke siapa pun di sini kalau aku sudah menikah.”

“Ken—” Belum sempat Bela menyelesaikan pertanyaannya—

Cya langsung menempelkan telunjuknya ke bibir Bela.

“Sst…”

“Pemenang di ronde ketiga adalah—Alifa!”

Suara wasit menggema.

Sorakan langsung pecah.

“Yeaaay!” Semua orang bersorak, termasuk Serena yang sejak tadi fokus menonton.

Ia bahkan belum sadar Cya dan Bela sedang berbicara serius.

Beberapa menit kemudian, suasana mulai sedikit tenang.

Orang-orang mulai duduk lesehan di berbagai sudut ruangan.

Cya dan Serena mengajak Bela ke pojok.

“Nah, itu dia makanannya datang,” ujar Cya sambil menunjuk ke arah beberapa orang yang membawa tumpukan nasi kotak.

Bela mengikuti arah pandang Cya.

Benar saja, makanan mulai dibagikan.

“Kalian… udah biasa ke sini?” tanya Bela.

Cya dan Serena mengangguk bersamaan. “Yang kayak gini udah jadi bagian hidup kita,” jawab Serena santai.

Bela menatap Cya. “Jadi… Cya juga sering tanding?”

Serena langsung tertawa kecil. “Enggak,” jawabnya. “Kalau Cya mah anak kesayangan di sini.”

Cya nyengir.

“Dia satu-satunya orang di sini yang gak bisa berantem,” lanjut Serena. “Tapi perannya penting banget.”

Bela semakin penasaran. “Peran penting apa?”

Namun belum sempat dijawab—seseorang sudah menyodorkan nasi kotak ke arah mereka.

“Ini, Kak.”

“Thanks,” ujar Serena sambil menerima.

Cya dan Bela juga mendapatkan bagian masing-masing.

“Ayo makan!” seru Cya penuh semangat, seolah makanan sederhana itu sangat istimewa.

“Ayo!” sahut Serena tak kalah semangat.

Bela hanya menatap mereka berdua sebentar… lalu menghela napas kecil.

“Kayaknya… gue emang salah ikut ke sini,” gumamnya pelan.

Pelan-pelan, Bela membuka nasi kotak di hadapannya.

Namun begitu melihat isinya—raut wajahnya langsung berubah lesu.

“Kenapa cuma diliatin?” tanya Cya, yang sejak tadi sudah makan bersama Serena.

Bela menatap isi kotaknya lagi. “Ini… lauknya cuma tempe, tahu, sama sayur?” tanyanya ragu.

“Iya,” jawab Cya santai. “Kamu gak terbiasa ya?”

Bela menggeleng pelan.

Serena menatapnya, lalu menebak, “Lo anak orang kaya, ya?”

Bela tersenyum canggung. “Hmm… bisa dibilang begitu.”

Serena mengangguk paham. “Pantes,” ujarnya. “Kalau kita di sini… udah biasa hidup susah. Jadi makanan kayak gini bukan hal aneh.”

Cya ikut mengangguk kecil, menyetujui.

Bela lalu menoleh ke arah Cya. “Tapi lo bukan dari keluarga yang kekurangan, kan?”

Cya sempat menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. “Orang tua aku memang mampu,” jawabnya pelan, “tapi itu bukan berarti aku gak pernah ngerasain susah.”

Bela mengernyit.

“Maksudnya? Emang uang jajan lo kurang waktu sekolah?”

Cya langsung menggeleng. “Enggak. Malah lebih dari cukup.”

Ia tersenyum tipis.

Bahkan, uang bulanan dari orang tuanya sering tidak habis.

Bela semakin tidak yakin. “Gue gak percaya lo pernah hidup susah.”

Cya dan Serena malah tertawa bersamaan.

Bela makin bingung. “Kenapa malah ketawa sih?”

Cya hanya mengedikkan bahu, tidak menjawab.

Serena pun memilih diam.

Keduanya kembali fokus pada makanan mereka.

Bela mendengus pelan.

Dengan ragu, ia akhirnya mengambil sendok.

Mau tidak mau… ia harus makan.

Tidak ada pilihan lain.

***

“Ya ampun…” Rajendra menepuk keningnya begitu pelayan restoran mengantarkan pesanan mereka.

“Kenapa, Pak?” tanya pelayan yang masih berdiri di samping meja.

“Gapapa,” jawab Rajendra singkat.

“Kalau ada yang kurang, Bapak bisa pesan lagi, ya.”

Rajendra hanya mengangguk pelan.

Begitu pelayan pergi, Danish langsung menatapnya heran. “Kenapa lo?”

Rajendra menghela napas. “Gue lupa kasih uang jajan ke Cya.”

Danish mengernyit. “Tinggal transfer.”

Rajendra menggeleng. “Masalahnya… gue belum tau nomor rekening dia.”

Danish langsung menatapnya tidak percaya. “Bro, ini bukan zaman batu. Lo tinggal chat atau telepon.”

Rajendra terdiam sejenak… lalu mengangguk. “Iya juga.”

Ia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Cya.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Sampai lima kali—tidak ada jawaban.

“Gak diangkat,” gumam Rajendra, mulai gelisah.

“Ya udah, chat aja,” ujar Danish santai.

Rajendra menuruti.

Namun beberapa menit berlalu—tetap tidak ada balasan.

“Gak dibalas juga,” ucapnya pelan, nadanya mulai penuh kekhawatiran.

Danish menghela napas. “Di rumah lo ada bahan makanan, kan?”

“Banyak.”

“Ya udah. Dia gak bakal kelaparan cuma gara-gara lo lupa kasih uang jajan hari ini.”

Rajendra menggeleng pelan. “Gue gak tenang kalau belum ngasih hak dia.”

Danish menatapnya lama. “Namanya juga lupa. Nanti juga bisa lo kasih pas pulang kerja.”

Rajendra langsung berdiri. “Gak bisa. Gue harus pulang sekarang.”

Danish menaikkan satu alis. “Serius? Cuma gara-gara itu?”

“Iya.”

Danish memicingkan mata. “Bukan karena hal lain?”

Rajendra menatapnya lurus. “Bukan.”

Danish mengingatkan dengan nada tegas. “Ingat, hari ini kita masih ada dua meeting penting sama klien.”

“Gue tau. Gue gak lama. Cuma nganter uang jajan, habis itu gue balik lagi.”

Tanpa menunggu jawaban—Rajendra langsung mengambil kunci mobil dan ponselnya, lalu pergi begitu saja.

Danish hanya bisa menatap punggungnya.

Alisnya menukik tajam. “Perasaan… dulu sama Aurel, dia gak pernah segitunya,” gumamnya pelan.

Beberapa saat kemudian—Rajendra tiba di rumah.

Namun begitu masuk ke halaman—ia langsung merasa ada yang aneh.

Pintu rumahnya… tidak terkunci.

Keningnya berkerut. “Cya!” teriaknya sambil masuk.

Tidak ada jawaban.

“Cya!”

Kali ini lebih keras.

Tetap sunyi.

Perasaan tidak enak mulai merayapi dadanya.

Rajendra langsung mencari ke setiap ruangan.

Ruang tamu tidak ada.

Dapur—kosong.

Kamar—tetap tidak ada.

Bahkan kamar yang dulu ia tempati bersama Aurel pun kosong.

“Ya ampun, Cya… kamu di mana sih?” gumamnya panik.

Tangannya kembali meraih ponsel.

Ia mencoba menghubungi Cya lagi.

Masih sama tidak diangkat.

Napasnya mulai memburu. Kepanikan kini benar-benar menguasainya.

Berbagai kemungkinan buruk mulai bermunculan di kepalanya.

“Cya… kamu gak kenapa-kenapa kan…” bisiknya lirih.

1
Aidil Kenzie Zie
ibunya Jendra mana sih kok nggak nongol-nongol🤔🤔
Fegajon: sabar. bentar lagi😛
total 1 replies
aku
plot twist cya udh nyiapin bukti cctv dr awal ortu aurel pindah buat jd pisah sm jendra. mampusss 🙏🙏
Nifatul Masruro Hikari Masaru
cya kok gak mau sih diajak pindah
Aidil Kenzie Zie
ngapain pulang sih Cya biar Jendra pusing nyari kamu
Aidil Kenzie Zie
Cya minggat aja kerumah ortumu dari pada nggak dianggap
Nifatul Masruro Hikari Masaru
di rekam aja cya biar ada bukti
Adinda
pergi cya buat apa juga bertahan kalau gak dihargai
Fegajon
tenang... masih ada bu kiran, mertuanya cya. tunggu aja 😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh. pulang aja kerumah sendiri cya daripada sakit hati
Aidil Kenzie Zie
jangan dikasih dulu Cya sampai bisa terima pernikahan ini tanpa bayangan masa lalunya lagi
Aidil Kenzie Zie
betul nggak sih kalo Bela itu Aurel
Fegajon: bener gak yaaa😛
total 1 replies
anakkeren
jujur,lebih suka kalo authornya buat cerita bertema pesantren.tapi cerita ini bagus juga kok
Aidil Kenzie Zie
kok kamar yang ditempati sama Aurel tor bukannya mereka belum pernah tinggal disana
Fegajon: iya. itu rencana saat masih proses pengerjaan rumah Rajendra.
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si mama egois
apa Bela itu sebenarnya Aurel
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak delivery aja Cya
Aidil Kenzie Zie
Rajendra udah tua masak nggak bisa hargai perasaan Cya dikit-dikit Aurel
Buddy Aprilianto
kedepannya bisa lebih menarik alur cerita nya 🙏
Fegajon: iya kak terimakasih masukannya🙂
total 1 replies
just a grandma
aku ska karakter cya
cutegirl
semangat berkarya
Anak manis
lucu ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!