NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Depan Gerbang dan Rumah Kaca yang Pecah

​​Malam itu, Apartemen 402 tidak lagi terasa seperti rumah. Suasana di dalamnya mencekam, hanya suara gesekan koper dan barang-barang yang dimasukkan secara terburu-buru ke dalam tas. Ziva memasukkan beberapa buku jurnalisme dan kamera kesayangannya dengan tangan gemetar. Ia tidak menangis—ia terlalu syok untuk mengeluarkan air mata.

​Arkan berdiri di ambang pintu kamar Ziva, memegang ponsel yang terus bergetar. Notifikasi dari akun-akun gosip dan portal berita lokal masuk seperti berondongan peluru. Foto itu—foto mereka duduk bersanding mengenakan kebaya dan beskap putih—kini menjadi konsumsi publik.

​"Ziva, sudah?" suara Arkan rendah, mencoba menahan badai di dalam kepalanya sendiri.

​Ziva menoleh, menatap Arkan dengan tatapan kosong. "Ar... kalau besok kita ke sekolah, apa kita masih punya tempat di sana?"

​Arkan tidak menjawab. Ia melangkah maju, mengambil alih koper berat dari tangan Ziva. "Papa sudah mengirim dua mobil. Satu untuk mengecoh di depan apartemen, satu lagi akan menjemput kita lewat basement. Kita ke rumah utama sekarang."

​POV Revan: Sang Penjaga di Luar Garis

​Di kamarnya yang berantakan, Revan menatap layar televisi yang menyiarkan segmen berita lokal tentang "Skandal Pernikahan Dini Siswa Berprestasi". Wajah Arkan dan Ziva terpampang jelas, meski disensor tipis.

​"Sialan, Clarissa," Revan memaki, melempar remot TV ke kasur.

​Ia meraih kunci motornya. Ia tahu apartemen Arkan pasti sudah mulai diincar oleh oknum-oknum pencari berita atau sekadar siswa yang penasaran. Revan tidak menuju ke sana untuk mencibir. Ia melajukan motornya menuju SMA Garuda tengah malam itu juga.

​Sesampainya di depan gerbang sekolah, ia melihat beberapa orang dengan kamera sudah mulai berkumpul. Revan memarkir motornya melintang di depan gerbang.

​"Woi! Bubar nggak lo semua?!" teriak Revan, turun dari motor dengan wajah garang. "Ini sekolah, bukan tempat sirkus! Pergi sebelum gue panggil anak-anak basket buat beresin lo pada!"

​Salah satu pria pemegang kamera mendengus. "Dek, ini kepentingan publik. Ketua OSIS kalian itu contoh masyarakat, kalau dia melanggar aturan negara—"

​"Aturan negara apa yang dilanggar?!" potong Revan, langkahnya mendekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. "Dia nikah sah secara agama dan negara atas izin orang tua. Lo semua cuma haus konten, kan? Cabut sekarang!"

​Meskipun Revan benci mengakui Arkan adalah suami Ziva, ia lebih benci melihat martabat Ziva dikuliti oleh orang-orang asing. Malam itu, Revan berdiri sebagai satu-satunya tameng di gerbang sekolah yang mulai retak.

​Rumah Utama: Penjara Berlapis Emas

​Mobil hitam itu memasuki gerbang rumah mewah keluarga Wijaya. Begitu pintu terbuka, mereka disambut oleh barisan pelayan dan Pak Wijaya yang berdiri di lobi dengan wajah yang sekeras batu karang.

​"Masuk," perintah Pak Wijaya singkat.

​Ziva merasa kerdil di rumah yang luasnya berkali-kali lipat dari apartemen mereka. Di ruang tamu, Bu Shanti langsung memeluk Ziva erat. "Maafkan kami, Nak. Kami tidak menyangka Clarissa akan senekat ini."

​"Pa, apa rencana kita?" tanya Arkan, suaranya terdengar sangat lelah.

​Pak Wijaya meletakkan tabletnya di meja.

"Besok pagi, tim pengacara keluarga akan mengeluarkan pernyataan resmi. Pernikahan kalian sah secara hukum karena ada dispensasi dari pengadilan agama—sesuatu yang Papa urus diam-diam sejak awal. Secara hukum, kalian aman."

​"Tapi secara sosial?" sela Ziva lirih. "Besok semua orang di sekolah bakal liat kami sebagai tontonan."

​Pak Wijaya menatap Ziva. "Besok kalian tidak ke sekolah. Papa akan mengurus kepindahan kalian ke luar negeri. Kita percepat rencana kuliah kalian. Di sana, tidak akan ada yang peduli siapa kalian."

​"Nggak!"

​Suara itu bukan dari Ziva, melainkan Arkan. Ia berdiri tegak, menentang tatapan ayahnya.

​"Aku nggak mau lari, Pa. Kalau kami lari sekarang, itu artinya kami membenarkan kalau apa yang kami lakukan itu salah. Kami sudah sah. Kami nggak melanggar hukum. Besok, aku dan Ziva akan tetap ke sekolah. Aku akan selesaikan masa jabatanku, dan Ziva akan selesaikan ujiannya."

​"Arkan, kamu gila?! Wartawan ada di mana-mana!" bentak Pak Wijaya.

​"Biar mereka ada di sana," balas Arkan tenang. "Aku akan gandeng tangan Ziva di depan gerbang. Aku akan tunjukkan kalau aku bangga punya istri seperti dia, dan aku nggak butuh izin siapa pun untuk itu."

​Ziva menatap Arkan dengan mata membelalak. Keberanian Arkan malam itu meluruhkan segala ketakutan yang ia rasakan.

​Pagi yang Berdarah: Konfrontasi Terakhir

​Matahari menyengat di depan gerbang SMA Garuda. Wartawan, siswa, dan guru-guru berkumpul dalam kerumunan yang kacau. Revan masih di sana, duduk di atas motornya dengan mata merah karena kurang tidur, menjaga garis depan.

​Tiba-tiba, mobil mewah Pak Wijaya berhenti tepat di depan gerbang.

​Pintu terbuka. Arkan keluar lebih dulu. Ia mengenakan seragam OSIS lengkap dengan tanda jabatan yang masih tersemat di dadanya. Ia berputar ke pintu sebelah, membukakannya, dan mengulurkan tangannya.

​Ziva menyambut tangan itu. Dengan jemari yang bertautan erat, mereka berjalan menembus kerumunan.

​Kamera menyala, lampu kilat menyambar-nyambar seperti petir. Pertanyaan-pertanyaan tajam dilemparkan: "Arkan, apa benar Anda sudah menikah?" "Ziva, bagaimana perasaan Anda tinggal bersama Ketua OSIS?"

​Arkan berhenti tepat di depan mikrofon salah satu wartawan. Ia menarik Ziva lebih dekat ke sampingnya.

​"Ya," suara Arkan menggema, tenang dan tak tergoyahkan.

"Ziva adalah istri saya yang sah. Kami menikah atas keinginan keluarga besar kami. Tidak ada aturan sekolah yang melarang siswa untuk menikah selama mereka tetap menjalankan kewajiban akademiknya."

​Arkan menatap ke arah kerumunan siswa, di mana Gibran dan Sisil berdiri dengan air mata di mata mereka. Lalu ia menatap Revan, yang mengangguk kecil dari kejauhan.

​"Mulai hari ini, tidak ada lagi rahasia. Saya tetap Ketua OSIS kalian, dan Ziva tetap jurnalis sekolah kalian. Jika ada yang merasa keberatan, silakan ajukan secara resmi ke meja saya. Tapi jika ada yang berani menghina istri saya..." Arkan menjeda, matanya berkilat tajam. "...kalian akan berurusan langsung dengan saya, bukan sebagai Ketua OSIS, tapi sebagai suaminya."

​Ziva mengangkat wajahnya, menatap kerumunan itu dengan keberanian yang baru ia temukan. Di bawah sorotan ribuan pasang mata, rahasia itu bukan lagi beban. Itu adalah identitas mereka yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!