NovelToon NovelToon
Tergoda Paman Tunanganku

Tergoda Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Cinta Terlarang
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.

------------- 💫

‎Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.

‎Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.

‎"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.

‎Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 : Sikap yang berubah-ubah.

Arsen mengangkat satu alis dengan santai, matanya tetap fokus pada ekspresi wajah Viona yang penuh ketakutan bercampur dengan harapan. Dia menggerakkan wajahnya lebih dekat ke telinga gadis itu, menyampaikan suara bisikan yang hanya bisa didengar olehnya saja.

‎‎"Kenapa tidak menyahut gadis kecil? Biar dia tahu kamu sedang ada disini bersamaku,"

‎‎Viona menoleh dengan cepat, hidungnya nyaris bersentuhan dengan hidung Arsen. Saat suara langkah kaki Farel semakin dekat, Viona mendorong dada Arsen dengan kuat dan bergegas bangun dari pangkuan pria itu.

‎‎Farel yang sudah masuk ke ruang tengah sedikit terkejut saat melihat Viona ada disana bersama dengan pamannya.

‎‎"Viona, apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanyanya sambil melangkahkan kakinya mendekat. "Kamu baik-baik saja kan?"

‎‎Arsen hanya menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa saat mendengar seolah-olah Farel begitu peduli pada Viona, kemudian dia membuka bukunya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

‎‎"Sepertinya gadis ini terlalu tergesa-gesa, hingga dia tersandung kakiku," ucapnya dengan nada acuh tak acuh, tanpa mengangkat pandangannya dari halaman buku yang terbuka.

‎‎"Viona, kamu butuh sesuatu?" tanya Farel dengan penuh perhatian.

‎‎"Aku hanya ingin ke dapur untuk mengambil minum, tapi..." Viona menoleh ke arah Arsen yang masih duduk dengan tenang, kemudian menoleh pada Farel yang sudah berdiri di sampingnya.

‎‎Farel tersenyum, mengusap lengan Viona dengan lembut. "Viona, dapurnya bukan disitu, tapi disebelah sana."

‎‎Mata Viona mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Farel, lalu menoleh kembali pada Arsen yang masih duduk di sofa dan sibuk dengan bukunya. Mungkin saja tadi Arsen berniat untuk menunjukkan arah dapur yang sebenarnya, tapi caranya itu membuat Viona merasa terjebak.

‎‎Arsen menutup bukunya dengan suara yang cukup keras, dia segera berdiri. "Ini sudah hampir tengah malam, sebaiknya kalian jangan terlalu lama disini dan cepatlah naik untuk tidur."

‎‎Setelah mengatakan itu, Arsen segera pergi dengan membawa bukunya. Viona masih berdiri di tempatnya, matanya terus mengikuti sosok Arsen yang semakin jauh hingga menghilang di balik tembok ruangan.

‎‎Dia menutup matanya sebentar, mengingat saat dia jatuh ke pangkuan pria itu. Bagaimana tangan Arsen dengan cepat menyangga pinggangnya, dan bagaimana wajahnya yang begitu dekat hingga dia bisa mencium aroma parfum yang khas dari tubuh Arsen.

‎‎Jari-jarinya menggenggam telapak tangannya dengan erat, seolah masih bisa merasakan hangatnya tubuh Arsen saat tangannya tidak sengaja menyentuh dada bidang pria itu.

‎‎Wajah Viona tiba-tiba memerah, dia menggelengkan kepalanya cepat, "Astaga Viona... apa yang sedang kamu pikirkan?!"

‎‎Farel yang masih berdiri di sebelahnya segera menoleh begitu bayangan pamannya sudah menghilang dari pandangan mata. "Viona, kamu baik-baik saja kan? Ayo biar aku temani kamu ke dapur untuk ambil minum."

‎‎"Ah, tidak usah Rel, aku sudah tidak haus lagi." ucapnya dengan sedikit gugup, "Aku akan kembali ke kamarku sekarang untuk tidur. Selamat malam."

‎‎Tanpa menunggu jawaban dari Farel, Viona berbalik dan berjalan cepat menuju arah tangga. Setelah memasuki kamarnya, dia langsung menutup pintunya dengan rapat dan menyandarkan punggungnya pada pintu. Kedua tangannya kembali menggenggam telapak tangannya, merasakan lagi sensasi hangat yang masih tersisa.

‎‎"Otakku pasti sudah bermasalah gara-gara si paman mesum itu. Setelah mengatai aku gadis bodoh, berani sekali dia menggodaku seperti tadi."

-

-

-

‎Keesokan paginya, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan dan tengah menikmati hidangan yang disajikan di atas meja. ‎Viona duduk di sebelah Farel, sesekali matanya melirik ke arah Arsen yang duduk di kursi seberangnya. Pria itu tampak sibuk memotong roti di piringnya, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi dan tidak pernah melihat ke arah Viona atau siapapun, seolah fokus sepenuhnya pada hidangan di depannya.

‎‎"Untuk acara pertunangan malam ini sudah siap semua kan?"

‎‎Suara Tuan Danu memecah keheningan, menarik perhatian semua orang untuk menoleh ke arahnya kecuali Arsen yang tetap sibuk dengan sarapannya.

‎‎Saskia segera menanggapi dengan senyum hangat. "Sudah, Yah. Aku sudah menyelesaikan daftar menu makanan dan dekorasi ruangan juga sudah siap. Hanya tinggal menyelesaikan beberapa hal kecil saja."

‎‎Tuan Danu mengangguk sambil melihat ke arah Farel dan Viona. "Kalian berdua sudah siap bukan? Malam ini akan menjadi momen penting bagi keluarga kita."

‎‎"Viona, nanti akan ada sopir yang menjemput ibu dan bibi kamu. Jadi kamu tidak perlu khawatir," beritahu Bima.

‎‎Viona terkejut mendengarnya, kemudian dia tersenyum senang. "Terimakasih, Paman."

‎‎Bima mengangguk dengan senyum ramah. "Sama-sama, Nak. Mereka adalah keluarga terdekatmu, sudah pasti harus ada di acara penting seperti ini. Sopir akan menjemput mereka nanti siang, jadi mereka akan sampai disini sore dan bisa beristirahat dulu sebelum acara dimulai."

‎‎Saskia menyambung, "Kami juga sudah menyiapkan kamar hotel untuk mereka menginap malam ini. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun Viona."

‎‎Viona mengangguk dengan haru, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Tante Saskia."

‎‎Sementara itu, Arsen yang sejak tadi hanya diam dan fokus pada sarapannya, akhirnya mengakhiri makannya dengan menggeser piring ke samping. Dia mengambil serbet untuk menyeka bibirnya, lalu mengangkat pandangannya untuk pertama kalinya, namun hanya melihat ke arah Tuan Danu.

‎‎"Aku akan pergi ke kantor sekarang," ucapnya dengan nada dingin.

‎‎Tuan Danu menatap Arsen. "Arsen, kamu juga harus datang malam ini. Ini adalah acara penting bagi keluarga kita. Farel adalah keponakanmu, dan Viona akan menjadi bagian dari keluarga kita. Jadi kamu harus ada di sana,"

‎‎Arsen berdiri. "Aku punya pekerjaan penting yang harus diselesaikan di kantor. Lagipula pertunangan mereka tidak membutuhkan kehadiranku."

‎‎Saskia segera membuka mulut untuk menyela. "Tapi Arsen..."

‎‎"Selamat untuk pertunangan kalian berdua," Arsen memotong ucapan kakak iparnya dan menatap pada Viona dan Farel bergantian. "Aku sudah memberikan ucapan selamat kepada mereka. Itu sudah cukup kan,"

‎‎Viona terkejut saat pandangan Arsen jatuh padanya. Mata pria itu tampak dalam dan tidak menunjukkan emosi apapun. Dia hanya bisa mengangguk pelan sebagai tanggapan, tidak mampu mengeluarkan suara apapun.

‎‎"Terima kasih atas ucapan selamatnya, Paman Arsen. Semoga pekerjaan Paman berjalan lancar," ucap Farel tanpa menunjukkan rasa kecewa sedikitpun.

‎‎Tuan Danu menghela napas pelan, tampaknya sudah tidak berdaya untuk membujuk lagi. "Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Tapi ingat, jika pekerjaan kamu sudah selesai sebaiknya kamu langsung datang untuk menyaksikan,"

‎‎Arsen hanya mengangguk sebentar sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu. Saat bayangan Arsen menghilang di balik tembok, Viona masih tetap menatap ke arah sana dengan rasa kebingungan yang semakin menguasai pikirannya. Semalam Arsen bisa begitu dekat dan mengucapkan kata-kata yang membuatnya terjebak, namun sekarang pria itu kembali menjadi sosok yang dingin dan menjauh. Bahkan pria itu enggan menghadiri acara penting keluarga.

‎"Orang itu, apa dia memiliki kepribadian ganda?"

-

-

-

Bersambung...

1
Zuri
drama perpisahan di depan mata noh paman Bima🤧🤧
Zuri
mna bisa begitu... cobranya udah dapet sarang yg enak mana mau dilepas.. ehh/Silent//Silent/
Zuri
jujur lebih baik ya Vio
Zuri
mana bisa bgituu... yg jebol gawang Arsen loh/Slight//Slight/
Zuri
Farel itu ngamuknya gegara gagal unboxing🤣🤣
Zuri
disidang🤧🤧
zee
wah tambah seru nih
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak masih setia menyimak 🙏😁
total 1 replies
Zuri
salah sendiri punya pikiran kotor🤧🤧
🔥Violetta🔥: Nggak kotor nggak anuuun🤣🤣
total 1 replies
Zuri
sadar kali kak, bukan dasar/Silent/
🔥Violetta🔥: Efek mabok tulisan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zuri
tenang saja vio.. pamanmu akan melindungimu🤭🤭
🔥Violetta🔥: Melindungi sampai kedalam-dalam 😅😅
total 1 replies
Mita Paramita
Arsen dan viona udh ga bisa dipisahkan ini🤣 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Sudah menyatu seakar-akarnya, Kak🤭🤣🤣
total 1 replies
Zuri
mereka lagi main bareng🤣
🔥Violetta🔥: Main bola /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
sedia payung sebelum hujan🤣🤣
🔥Violetta🔥: Udah nahan dia dari lama 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
jebol juga akhirnya kalo godaannya gini
🔥Violetta🔥: Mana tahan /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
mau nerkam apa gimana dirimu Arsen😏😏
🔥Violetta🔥: Sudah tidak tahan dia 🤭🤭🤭
total 1 replies
Zuri
dirimu kn emang gak bisa jaga Vio. mau ngrusak iya/Smug/
Zuri
udah di bawa kabur🤣🤣
Zuri
rencanamu mau unboxing gagal total rell🤣
Zuri
mendadak jadi maling/Facepalm//Facepalm/
🔥Violetta🔥: Maling cinta 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
bukannya eemang itu ya yang kamu harapkan? hayoo ngakuu😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!