Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Malam itu hujan turun semakin deras, angin menyusup dari celah jendela membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Nantikan kelanjutan cerita yaa🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twis G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 16
Pagi datang lebih cepat dari biasanya, langit desa Shanyin masih berwarna kebiruan ketika Yin Yin sudah membuka matanya, cahaya fajar yang lembut masuk melalui celah jendela kayu kamar kecilnya. Dia duduk perlahan, menarik napas panjang tubuhnya terasa berbeda lebih ringan dan kuat bahkan napasnya terasa lebih dalam dari sebelumnya.
Yin Yin mengerakkan tubuhnya pelan, "Aku benar-benar tidak menyangka teknik itu sudah menyatu dengan tubuh ini."
Di sudut ruangan, harimau kecil masih meringkuk tidur, namun telinganya bergerak sedikit seolah menyadari perubahan aura Yin Yin.
Yin Yin bangkit dari tempat tidurnya, hari ini masih ada yang harus dilakukan, Dia keluar dengan langkah ringan, lalu berjalan menuju dapur kecil mereka, rumah itu masih sunyi, semua orang masih tidur, Yin Yin membuka panci tanah liat masih ada sedikit daging kelinci.
"Cukuplah untuk di buat sup pagi ini."
Yin Yin mulai menyalakan tungku dengan kayu kecil, lalu memasak sup daging kelinci, aroma kaldu hangat segera memenuhi dapur, Dia juga menanak nasi putih. Tak lama kemudian aroma nasi hangat dan sup daging kelinci menyebar ke dalam rumah.
"Mm... wangi sekali."
Suara kecil terdengar dari pintu dapur, Yin Chen berdiri sambil menggosok matanya yang masih mengantuk. "Kakak, kamu masak apa?"
Yin Yin tersenyum, "iya sup kelinci hangat dan nasi, cepat cuci muka kita sarapan."
Tak lama kemudian seluruh keluarga sudah duduk di meja kayu sederhana. Nasi putih hangat, sup daging kelinci, dan sedikit sayuran liar menjadi sarapan mereka pagi itu.
Namun bagi keluarga Yin, makanan sederhana seperti ini sudah terasa sangat mewah.
Yin Guo Shan tersenyum puas, "Sudah lama kita tidak sarapan senikmat ini."
Lin Mei Hua mengangguk pelan, "Benar, apalagi masakan Yin Yin sangat enak."
"Ah, ibu bisa aja." kata Yin Yin malu.
Yin Chen bahkan makan dengan sangat semangat sampai hampir menumpahkan supnya.
"Pelan-pelan, makanannya masih banyak di panci," kata Yin Yin sambil tertawa kecil.
"Enak, enak." kata Lin Meli
"Um, masakan kakak tak ada duanya." ucap Xiao Lan sambil mengusap perutnya.
Setelah sarapan selesai, keluarga itu tidak langsung beristirahat, karena hari ini mereka masih memiliki pekerjaan penting. Di ruang depan rumah, beberapa keranjang besar sudah tersusun rapi di dalamnya ada roti gandum madu. Roti-roti itu dibuat oleh Lin Mei Hua bersama Lin Meli, Xiao Lan, dan Yin Chen sejak kemarin, lalu di panggang lagi untuk jual di pasar. Roti gandum madu ini, di bungkus di kertas minyak dan ditempatkan di kas dapur, jadi biar pun sudah satu hari masih terasa empuk dan lembut, aroma manis madu dari roti itu memenuhi ruangan.
Yin Yin memeriksa satu per satu, "Masih empuk ya, walaupun sudah satu hari di simpan."
Lin Mei tersenyum lembut, "Iya, dan kali ini kita membuat lebih banyak."
Yin Guo Shan mengangguk, "Kalau laku seperti kemarin, kita bisa mendapatkan penghasilan lebih cepat."
Yin Yin kemudian duduk di lantai bersama ayahnya, di depan mereka ada kantong kain kecil. Yin Guo Shan membuka kantong itu, koin-koin tembaga langsung jatuh ke atas meja, 'cling...cling'.
Mereka mulai menghitung satu per satu Yin Chen duduk di dekat mereka sambil memperhatikan dengan mata serius,
"Seratus dua puluh tiga... seratus dua puluh empat..."
Yin Yin menghitung dengan teliti, setelah semua dihitung, Yin Guo Shan menarik napas panjang.
"Jumlahnya sudah lumayan banyak."
Yin Yin berpikir sebentar lalu berkata pelan,
"Ayah, kalau kita terus menabung seperti ini, mungkin beberapa bulan lagi kita bisa menyekolahkan Yin Chen dan Xiao Lan di akademi kota, apalagi umur Chen sudah tujuh tahun Xiao Lan juga sudah lima tahun."
Yin Chen dan Xiao Lan langsung terkejut,
"Aku? dan Xiao Lan sekolah?"
Mata mereka langsung berbinar, Yin Guo Shan menatap kedua putranya lalu tersenyum bangga, "Tentu saja, anak laki-laki harus belajar."
Lin Mei Hua juga menganggu, "Kita tidak ingin kalian hidup seperti ini selamanya."
Yin Yin lalu menoleh ke Lin Meli, "Dan nanti untukmu juga akan kita carikan guru untuk belajar."
Lin Meli langsung berbinar matanya, "Aku juga belajar?"
Yin Yin tersenyum, "Tentu, walaupun kita perempuan tidak belajar di akademik, tapi harus bisa membaca."
Namun Yin Yin belum selesai berpikir, Dia menatap koin-koin yang tersisa kemudian sebuah ide muncul di kepalanya,
"Ayah, Ibu, aku punya ide."
Mereka semua menatapnya, Yin Yin berkata pelan, "Di kota kan banyak restoran baru, aku pernah melihat beberapa jenis masakan yang berbeda dari yang biasa dimakan orang-orang desa."
Yin Guo Shan sedikit bingung, "Lalu? Apa rencananya?"
Yin Yin tersenyum kecil, "Aku bisa membuat resep masakan, kalian sudah merasakan masakan yang ku buat kan?, nah aku akan buat beberapa resep untuk jual di restoran."
Mereka semua terdiam, seolah tidak yakin dengan ide itu.
Lin Mei Hua terlihat sedikit kaget, "Apa resepnya bisa di jual di restoran itu?"
Yin Yin mengangguk, "Kalau misal restoran itu menjual makanan baru aku yakin mereka akan mendapatkan banyak pelanggan."
Yin Guo Shan mulai memikirkan ide itu, "Hmm,"
Yin Yin melanjutkan, "Kalau berhasil, kita juga bisa memperbaiki rumah kita lebih cepat, sebelum musim dingin tiba."
Dia menatap atap rumah kayu mereka yang sudah mulai lapuk, mereka semua ikut melihat ke atas, beberapa bagian memang sudah rusak.
Yin Guo Shan tertawa kecil, akhirnya paham arah bicara Yin Yin.
"Jadi, kamu ingin kita cepat menghasilkan uang untuk perbaikan rumah juga?, kepala kecilmu ini benar-benar penuh ide."
Lin Mei Hua juga tersenyum bangga, "Yin Yin kita pintar sekali memikirkan rencana ini."
Yin Yin hanya menggaruk pipinya sedikit malu mendengar pujian ayah dan ibunya.
Namun di dalam hatinya Dia tahu, ini hanyalah langkah awal, dengan bantuan sistem Dia bisa menciptakan banyak hal baru yang bahkan belum pernah ada di dunia ini.
Tiba-tiba bunyi sistem terdengar,
DING!
[Sistem mendeteksi perubahan nasib keluarga Yin]
[Harap terima misi baru]
Yin Yin sedikit terkejut, "Eh, sudah lama sekali misi baru muncul." Dia sedikit penasaran dengan misi ini.
DING!
[Misi membuka usaha pertama keluarga Yin]
[Hadiah, resep masakan tingkat restoran + teknik memasak tingkat tinggi]
Mata Yin Yin langsung berbinar, "Wow, teknik memasak tingkat tinggi?"
Dia menahan senyum kecil, "Sepertinya, rencana jual resep ini akan berjalan jauh lebih baik dari yang aku bayangkan."
Di sudut ruangan, harimau kecil yang baru bangun tiba-tiba menguap malas, namun mata emasnya menatap Yin Yin dengan tajam, seolah ia tahu petualangan keluarga kecil ini baru saja di mulai.
Bersambung....