Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 Sakit
Akhirnya mereka sampai juga di Apartemen mereka. Letisha masih berada di gendongan Rakash dan Rakash mendudukkan di atas sofa dengan sangat lembut.
Rakash berjongkok di depan Letisha dengan menaikkan sedikit dress istrinya itu dan ternyata yang dia lakukan adalah melepaskan heels tersebut.
Pantas saja Letisha merasa begitu sakit, kakinya sampai memerah.
"Ini terlalu banyak berdiri dan berjalan, kakiku sampai lecet seperti ini!" keluh Letisha dengan suara manja membuat Rakash tersenyum tipis.
Kemudian Rakash berdiri dengan mengambil heels dari istrinya itu dan meletakkan pada tempatnya. Letisha melihat suaminya berjalan menuju dapur dan terlihat mengambil air dengan menggunakan handuk putih dan kemudian kembali menghampiri Letisha.
Rakash kembali berjongkok di hadapannya dengan satu lututnya sebagai penyangga yang bersentuhan dengan lantai.
Rakash mengangkat pelan kaki istrinya itu Dan meletakkan di atas pahanya dan kemudian memberikan pengepresan menggunakan air yang baru saja dia siapkan.
Letisha lagi-lagi hanya terdiam mendapatkan perlakuan baik dari Rakash.
"Ya Allah, dia benar-benar laki-laki yang bertanggung jawab, tidak banyak bicara dan langsung bertindak," batin Letisha.
"Astaga kenapa juga aku terus memperhatikannya, bisa-bisa aku yang menyukainya dan padahal aku hanya ingin menggodanya dan membuktikan apakah dia normal atau tidak," batin Letisha berusaha untuk menyadarkan diri sendiri agar tidak terjebak dalam lingkaran yang dia ciptakan sendiri.
"Saya sudah mengatakan kepada kamu tunggu sebentar dan kamu malah memilih pergi," ucap Rakash.
"Aku pikir kamu masih lama, setahuku orang-orang yang sibuk dengan bisnis pasti akan menyapa semua orang dan tidak mempedulikan siapa yang dia aja ke tempat itu. Aku sejak tadi sudah mengatakan bahwa kakiku sakit, aku tidak bohong bukan dan lihat lah sampai memerah seperti ini," ucap Letisha sudah pasti akan memiliki banyak alasan untuk menjawab perkataan suaminya.
"Aku hanya berpamitan sebentar saja dan tidak sampai 5 menit saya kembali ke tempat kamu di mana saya tinggalkan dan kamu sudah tidak ada di sana, kamu juga tidak bisa dihubungi," ucap Rakash.
"Bagaimana mungkin aku bisa dihubungi, ponselku saja mati," jawab Letisha.
"Kalau begitu jadikan semua ini pelajaran dan harus patuh jika disuruh menunggu, maka tetap menunggu dan bukan pergi," ucap Rakash.
"Kamu ingin menyimpulkan bahwa aku kualat? ini semua karma?" tanya Letisha.
"Tidak!" jawab Rakash.
Letisha terdiam dan kembali memperhatikan bagaimana Rakash terus mengobati kakinya agar mengurangi kemerahan dan rasa sakit.
"Benar-benar sangat dingin dalam berbicara, memperlakukan wanita, apa dia memperlakukan semua wanita seperti ini atau hanya aku saja?" batin Letisha.
"Jangan terlalu dipikirkan apa yang terjadi, itu bisa membuat mental kamu rusak," ucap Rakash.
"Siapa juga yang memikirkan hal itu dan justru aku saat ini sedang memikirkan kamu," ucap Letisha tampak begitu keceplosan sampai menutup mulutnya dan membuat Rakash mengangkat kepala melihat istrinya itu.
"Iya, aku memikirkan kamu dan seharusnya tadi kamu tidak mengajakku ke tempat itu," Letisha sudah pasti akan memiliki beribu jawaban agar suaminya tidak berpikiran terlalu jauh kepadanya.
Rakash sedikit memajukan wajahnya membuat Letisha kaget dan bahkan refleks mundur, Letisha berpikir apa yang akan dilakukan suaminya itu dan ternyata ingin mengobati luka di pipi tersebut yang sempat ditampar oleh ketiga orang itu.
Lagi-lagi Letisha tidak diizinkan untuk bernafas, jantungnya berdebar begitu kencang, nafas Rakash bahkan menerpa wajahnya dengan aroma tubuh yang begitu khas.
"Apa masih sakit?" tanya Rakash membuat Letisha menggelengkan kepala.
"Besok pagi rasa sakitnya pasti akan hilang," ucap Rakash.
Letisha menganggukkan kepala,
"Astaga, kenapa dari tadi aku banyak diam, ini bukan dia yang aku goda tetapi justru sebaliknya. Tidak, aku tidak boleh kalah dari dia," batin Letisha benar-benar sudah terhipnotis oleh suaminya itu.
Bukan Letisha namanya jika tidak berulah dan tiba-tiba saja dia menarik dasi Rakash membuat jarak diantara mereka semakin dekat.
"Kamu sengaja memberi perhatian seperti ini kepadaku agar aku tertarik padamu?" tanya Letisha.
"Tidak!" jawab Rakash singkat.
"Jangan bohong! Aku bisa melihat dari wajahmu sebenarnya kau sudah menyukaiku dan hanya saja kau berpura-pura dan masih menjadi image," ucap Letisha
"Terserah kamu berpikiran seperti apa, ini sudah malam dan sebaiknya kamu istirahat!" ucap Rakash tetap saja bisa menghindari istrinya dan tidak tergoda yang membuatnya langsung berdiri.
"Isss, aku sudah bisa menduga jika dia sebenarnya tidak normal dan lihatlah masa iya ekspresi wajahnya seperti itu saat aku memancingnya," ucap Letisha terlihat begitu sangat kesal.
"Auhhhh!" saat Letisha ingin berdiri dan ternyata kakinya masih begitu sakit membuatnya hampir saja kembali jatuh.
"Aku benar-benar trauma menggunakan heels seperti itu," ucapnya dengan begitu kesal dan berjalan menuju langkahnya harus menyeret telapak kakinya.
*****
Mentari pagi sudah kembali tiba dengan Rakash keluar dari kamarnya terlihat begitu rapi seperti biasa ingin berangkat ke kantor, mata Rakash melihat ke arah pintu kamar istrinya dan tidak ada tanda-tanda Letisha keluar dari kamar tersebut.
"Apa dia belum bangun?" tanya Rakash melihat jam yang menggantung di dinding sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi.
Rakash memang tidak seperti biasanya berangkat dari rumah jam 07.00 pagi, karena kebetulan hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan dan juga tidak ada janji dengan klien.
Rakash mencoba mengabaikan dan berjalan menuju dapur, memulai sarapan yang pasti sudah disiapkan bibit seperti biasa datang di subuh hari.
"Apa Letisha sudah bangun?" tanya Rakash pada wanita sekitar berusia 50 tahunan itu yang saat ini sedang memberikan buah yang sudah selesai dipotong.
"Sejak tadi Nona Letisha belum keluar kamar dan biasanya pagi-pagi sekali Nona Letisha akan ke dapur sekedar untuk minum air putih," jawab Bibi.
"Bibi sudah membangunkannya untuk sarapan?" tanya Rakash.
"Tadi saya sudah mengetuk pintu kamarnya dan tidak ada sahutan dari dalam, mungkin saja Nona Letisha masih terlalu lelah dan ingin beristirahat," jawab Bibi.
Rakash menganggukkan kepala dan melanjutkan sarapannya, tetapi tetap saja kamar istrinya itu menjadi perhatiannya yang juga tidak ada tanda-tanda orang keluar dari kamar tersebut.
Rakash menghela nafas dan terdiri dari tempat duduknya dan bukan keluar dari Apartemen tersebut dan ternyata berdiri di kamar Letisha dengan mengetuk pintu.
"Letisha!"
"Letisha!"
Rakash berkali-kali memanggil istrinya itu dan tidak ada sahutan dari dalam membuat Rakash akhirnya memilih memegang kanopi pintu dan mendorong pintu tersebut.
Letisha ternyata masih tidur berbaring di atas ranjang. Rakash menghela nafas, berjalan menghampiri istrinya itu.
"Letisha ini sudah pagi dan bukankah kamu ada janji bertemu dengan kedua orang tua kamu!" Rakash mencoba untuk mengingatkan istrinya itu karena pada saat di acara pameran.
Rakash memang mendengar Richard menyuruh Letisha untuk ke rumahnya dan jangan sampai telat karena ada hal penting yang ingin dibicarakan.
"Letisha!"
"Letisha!"
Rakash kembali mencoba membangunkan istrinya itu dan bahkan sampai memegang lengannya karena sejak tadi tidak mau terbangun.
Rakash mengerutkan dahi di saat merasa ada sesuatu dan punggung tangannya tiba-tiba saja menyentuh dahi Letisha.
"Ternyata dia kurang sehat," ucap Rakash merasa punggung tangannya begitu sangat panas.
"Hmmmm,"
Letisha terdengar begitu meraung, tubuhnya bergerak dan tampak begitu lemas, mungkin memang benar jika kondisi tubuhnya tidak baik-baik saja sehingga membuatnya tidak mampu bergerak.
Bersambung ...