Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Pagi yang Tenang dan Secangkir Harapan
Kehidupan setelah "badai" itu ternyata nggak selalu berisi pelangi yang heboh. Kadang, dia cuma berupa pagi yang tenang, di mana kamu bisa bangun tanpa rasa sesak di dada. Bagi Sheilla, kebahagiaan itu nggak lagi muluk-muluk. Kebahagiaan itu sesederhana bisa milih mau pakai daster warna apa tanpa takut dikomentari "kumal" atau "nggak pantes jadi istri pengusaha".
Pagi ini, Sheilla lagi sibuk di halaman rumah barunya rumah kecil yang kuncinya dia pamerin ke Adrian kemarin. Tanah di halaman itu masih basah karena embun. Dia pakai sarung tangan berkebun yang udah agak dekil, sibuk gali lubang buat bibit melati yang dibawa Adrian tadi subuh (iya, cowok itu beneran dateng subuh-subuh cuma buat gantungin bibit di pagar terus pergi lagi karena ada jadwal rapat guru).
"Oke, Melati. Selamat datang di rumah baru," gumam Sheilla sambil nepuk-nepuk tanah di sekitar batang bibit itu.
Dia duduk selonjoran di rumput, natap tangannya yang kotor. Dulu, dia takut banget kotor. Ardhito suka kebersihan yang perfeksionis, yang bikin Sheilla ngerasa rumah mereka lebih mirip museum daripada tempat tinggal. Sekarang? Dia malah senyum ngelihat noda tanah di kuku jempolnya. Ini tanahnya. Ini rumahnya. Dan ini hidupnya.
--
Lagi asyik ngelamun, ada suara mobil berhenti di depan pagar. Sheilla otomatis waspada trauma emang nggak bisa ilang seratus persen, ya. Tapi pas dia lihat siapa yang turun, bahunya langsung rileks. Tante Mira, mantan mertuanya, dateng lagi. Tapi kali ini dia nggak sendiri. Ada seorang perempuan muda, sekitar umur 20-an, yang kelihatan malu-malu di belakangnya.
"Tante? Masuk, Tante. Maaf ya, aku lagi kotor-kotoran begini," sapa Sheilla sambil ngebuka pagar.
Tante Mira senyum tulus, matanya ngerayain pemandangan di depannya. "Nggak apa-apa, Sheil. Justru tante seneng lihat kamu begini. Kamu kelihatan... seger."
Mereka duduk di teras samping. Sheilla bawain teh melati dingin. Tante Mira ngenalin perempuan di sampingnya. "Ini Laras, Sheil. Anak sahabat tante. Dia... dia baru aja ngebatalin pernikahannya sebulan lalu karena calon suaminya ketahuan main tangan."
Sheilla langsung paham kenapa Tante Mira bawa Laras ke sini.
Laras nunduk, jarinya mainin ujung bajunya. "Tante Mira banyak cerita soal Mbak Sheilla. Katanya Mbak itu orang paling kuat yang pernah Tante kenal. Aku... aku dateng ke sini karena aku ngerasa dunia aku udah kiamat, Mbak. Semua orang nyalahin aku karena malu-maluin keluarga."
Sheilla naruh gelas tehnya. Dia ngelihat Laras, dan dia kayak ngelihat dirinya sendiri versi delapan tahun lalu. Bedanya, Laras lebih berani karena dia milih buat berhenti sebelum masuk ke lubang yang lebih dalem.
"Laras," suara Sheilla lembut tapi mantap. "Dunia nggak kiamat. Dunia kamu baru aja dapet kesempatan kedua. Kamu tahu nggak kenapa orang-orang nyalahin kamu? Karena mereka nggak berani ngelakuin apa yang kamu lakuin. Mereka lebih milih hidup dalam kebohongan asal kelihatan 'baik-baik saja' di mata orang, daripada jujur tapi sakit."
Sheilla megang tangan Laras. "Sakitnya sekarang nggak apa-apa. Lebih baik nangis karena batal nikah, daripada nanti kamu nangis setiap malam di dalem kamar yang kuncinya dipegang orang yang nyakitin kamu. Percaya sama Mbak, kamu itu pahlawan buat diri kamu sendiri."
Laras mulai nangis, tapi kali ini bukan tangis sedih, lebih ke tangis lega karena ada yang akhirnya ngertiin perasaannya. Tante Mira cuma bisa mengelus punggung Laras sambil natap Sheilla dengan rasa bangga yang nggak terbendung.
--
Sore harinya, setelah Tante Mira dan Laras pulang, Adrian dateng lagi. Kali ini dia bawa penggaris tukang dan meteran.
"Buat apa itu, Yan?" tanya Sheilla heran.
"Katanya mau bikin rak khusus buat tanaman succulent di pojok sana? Aku udah gambarin desainnya. Minimalis, biar nggak makan tempat tapi tetep estetik buat difoto penonton Instagram kamu," jawab Adrian sambil mulai ngukur tembok luar rumah.
Sheilla ketawa. "Kamu itu ya, niat banget sih."
"Ya niat dong. Ini kan calon markas besar kita maksud aku, markas besar hobi kamu," Adrian meralat omongannya sambil nyengir, bikin pipi Sheilla mendadak panas.
Sambil Adrian sibuk ngukur, Sheilla bantuin pegangin meterannya. Di sela-sela kerjaan itu, mereka ngobrolin banyak hal. Nggak ada lagi obrolan berat soal Ardhito. Obrolan mereka udah pindah ke: Nanti kalau libur semester, kita ke pantai yuk? atau Kayaknya bagus kalau dinding ini dicat warna sage green.
"Yan," panggil Sheilla.
"Yup?"
"Makasih ya udah nggak pernah anggep aku 'proyek perbaikan'. Makasih udah anggep aku manusia yang utuh, yang punya hak buat seneng-seneng hal sepele."
Adrian berhenti ngukur. Dia natap Sheilla, meterannya masih di tangan. "Sheil, dari awal aku lihat kamu di toko bunga itu, aku nggak lihat 'korban'. Aku lihat 'pejuang'. Dan pejuang itu nggak butuh dikasihani, mereka cuma butuh temen buat ngerayain kemenangannya. Dan aku mau jadi orang itu."
Sheilla ngerasa matanya anget. Dia sadar, cinta itu emang bukan soal siapa yang paling lama nunggu (kayak penantian dia yang sia-sia dulu), tapi soal siapa yang paling bisa bikin kita ngerasa kalau kita "cukup" apa adanya.
--
Malam harinya, Sheilla dapet email. Dari Ardhito.
Dulu, dapet notifikasi nama itu aja bisa bikin dia gemeteran sampai sesak napas. Sekarang? Dia cuma narik napas santai dan bukanya sambil maskeran.
Isinya singkat. Ardhito kirim foto sebuah sekolah kecil di pedalaman Afrika tempat dia sekarang bertugas jadi relawan konstruksi. Dia kelihatan iteman, kurus, tapi mukanya jauh lebih "tenang". Dia nggak minta balikan. Dia cuma tulis:
"Terima kasih sudah pergi, Sheilla. Kalau kamu nggak pergi, aku mungkin nggak akan pernah sadar kalau aku ini monster. Di sini, aku belajar kalau membangun sesuatu itu jauh lebih susah daripada merusak. Semoga taman kamu mekar terus. Aku nggak akan kirim email lagi setelah ini. Kita sudah selesai dengan cara yang paling benar. Selamat menempuh hidup baru."
Sheilla nutup laptopnya. Dia nggak bales. Dia cuma senyum.
Logika narasinya sekarang udah lengkap. Ardhito harus pergi jauh buat nemuin hatinya, dan Sheilla harus menetap buat nemuin dirinya. Mereka dua garis yang sempet tabrakan dengan cara yang mengerikan, tapi sekarang udah nemuin arah masing-masing yang nggak akan pernah ketemu lagi. Dan itu nggak apa-apa. Itu justru sangat baik.
--
Sheilla jalan ke arah jendela kamarnya yang terbuka. Bau tanah basah dan melati yang baru ditanam tadi pagi masuk ke dalem ruangan. Dia denger suara Adrian di luar lagi beresin alat-alat tukangnya sebelum pulang.
"Sheil! Aku balik ya! Besok pagi aku bawain cat warna sage-nya!" teriak Adrian dari bawah.
"Hati-hati, Yan! Jangan lupa makan!" bales Sheilla sambil melambai dari jendela.
Sheilla ngelihat punggung Adrian yang makin jauh, terus dia ngelihat ke arah cermin besarnya. Dia ngelihat seorang perempuan yang matanya udah nggak ada lagi sisa-sisa ketakutan. Dia ngelihat perempuan yang punya rumah, punya usaha, punya temen-temen yang sayang sama dia, dan punya masa depan yang dia desain sendiri.
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --