Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Malam itu hujan turun semakin deras, angin menyusup dari celah jendela membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Nantikan kelanjutan cerita yaa🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twis G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 30
Yin Yin berdiri tenang di depan rumah barunya, seolah semuanya baik-baik saja. Namun, di balik sorot matanya yang lembut, pikirannya bekerja tanpa henti. Aura itu terasa gelap, dingin, dan samar tidak menunjukkan niat menyerang, seolah hanya mengintai dalam diam.
"Untung saja dia belum bergerak. Aku tidak tahu seberapa kuat orang itu," batin Yin Yin.
Yin Yin menundukkan pandangannya, menutupi kilatan tajam di matanya, lalu kembali berperan sebagai anak biasa di hadapan warga desa.
"Paman Luo, semuanya sudah selesai. Kalian pasti lelah, sebaiknya beristirahat dulu. Sembakonya juga sudah dibagikan, jadi tidak perlu sungkan untuk pulang."
Warga desa yang sudah tampak lelah itu saling berpandangan, lalu mengangguk pelan.
"Iya, iya. Kami juga tidak enak berlama-lama."
Terimakasih ya, Yin Yin!"
"Dengan uang sebanyak ini, besok aku akan membelikan baju untuk istriku," katanya, wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan.
"Aku juga! Bagaimana kalau besok kita ke pasar bersama?" sahut pria lainnya dengan semangat.
Satu per satu mereka berpamitan dan meninggalkan tempat itu. Keramaian yang tadi memenuhi suasana perlahan mereda, berganti dengan kesunyian yang lengang.
Yin Yin lalu menoleh ke arah keluarganya.
"Ayah, Ibu, bagaimana kalau kita masuk dan melihat bagian dalam rumah? Aku ingin memastikan semuanya sesuai rencana."
Yin Guo Shan mengangguk penuh semangat.
"Benar juga! Ayo kita lihat!"
Lin Mei Hua tersenyum lembut sambil menggandeng Xiao Lan. "Ayo, kita masuk."
Yin Chen dan Lin Meli langsung berlari kecil lebih dulu. "Aku mau ke lantai dua! Aku ingin melihat kamarku!" seru Lin Meli.
"Aku juga! Kamarku di sebelah sana, dekat dengan kamar Ayah, Ibu dan Xiao Lan!" timpal Yin Chen dengan semangat.
Tanpa menyisakan sedikit pun kecurigaan, seluruh keluarga masuk ke dalam rumah baru mereka, dipenuhi rasa penasaran dan kebahagiaan. Saat pintu tertutup, halaman depan seketika berubah sunyi.
Hanya Yin Yin yang tertinggal di luar. Dia berdiri diam sejenak, memastikan tak ada satu pun yang mengawasinya. Lalu, dengan langkah pelan, Dia mulai berdiri dan menatap ke arah hutan.
Yin Guo Shan memperhatikan istrinya dan anak-anaknya yang tengah diliputi kebahagiaan. Namun, ketika ia tak menemukan Yin Yin di dalam, ia segera keluar. Di luar, ia melihat Yin Yin berdiri diam, menatap ke arah hutan dengan tatapan dalam.
"Nak, kenapa berdiri di luar? Ayo masuk." panggilnya.
"Ayah, aku mau keluar sebentar," ujar Yin Yin pelan.
"Mau ke mana?"
"Mm... hanya ke depan, Yah. Aku ingin mengembalikan gergaji Paman Luo yang tertinggal," jawab Yin Yin, menyunggingkan senyum tipis.
"Jangan sampai Ayah curiga." batinnya.
"Baiklah, cepat pulang!" ujar Yin Guo Shan tersenyum, sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam rumah baru mereka.
"Iya, Yah," sahut Yin Yin pelan sambil mengangguk.
Begitu sosok ayahnya menghilang di balik pintu, Yin Yin segera berbalik dan melangkah menuju hutan. Saat kakinya melewati batas pepohonan, suasana di sekitarnya berubah lebih dingin, sunyi, dan menekan. Seketika langkah kaki Yin Yin berhenti.
DING!
[Target berada dalam radius 10 meter]
[Tingkat ancaman belum diketahui]
[Peringatan, aura gelap terdeteksi semakin jelas]
Yin Yin perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang semula tenang kini berubah tajam, setajam pisau yang siap membunuh.
"Aku tahu kamu di sana... keluar!" ucapnya dengan suara rendah yang menusuk, jauh dari kesan seorang anak kecil.
Tak ada jawaban, hutan itu terasa sunyi, seakan hanya Yin Yin yang berdiri di sana. Namun tiba-tiba dari balik bayangan pepohonan, terdengar suara ranting patah.
KRSSHH...
KRSSHH...
Suasana yang semula sunyi kini berubah menjadi menekan, seolah sesuatu sedang mendekat dalam bayangan kegelapan.
Dari balik kegelapan, sosok itu akhirnya menampakkan diri. Seorang pria berjubah hitam melangkah keluar perlahan, sebagian wajahnya tertutup kain. Aura di sekitarnya berputar seperti kabut gelap yang menyesakkan, seolah menggerogoti udara di sekelilingnya. Sepasang matanya memancarkan niat jahat yang dingin.
"Oh? Seorang anak kecil... bisa menyadari keberadaan ku?" ucapnya pelan, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang penuh arti.
Yin Yin tetap diam, tidak menanggapi ucapan pria itu. Namun, tatapannya berubah semakin tajam. Aura yang dirasakannya bukan sekedar kegelapan biasa itu adalah aura yang pernah Dia kenal di kehidupan sebelumnya aura seorang pembunuh.
"Siapa kamu? Siapa yang mengirimmu ke desa Shanyin?" suara Yin Yin terdengar dingin dan datar.
Pria itu terkekeh pelan, suaranya serak dan merendahkan. "Hahaha... anak kecil, kau tidak perlu tahu siapa yang mengutus ku."
Dalam sekejap tubuhnya menghilang dari tempatnya berdiri.
WHUUSS!
Yin Yin masih berdiri diam tak bergerak sedikitpun, tapi instingnya masih merasakan aura pria itu.
DING!
[Pergerakan terdeteksi]
[Lintasan serangan dianalisis sistem.. 10%, 20%, 30%, ..... 80%, 90%, 100%.. Selesai! Harap waspada Yin Yin, pria itu berada disekitarmu]
"Baik sistem, terimakasih kerja samanya." ucap Yin Yin mengangguk.
Tiba-tiba sebuah belati meleset halus dari leher pria itu.
SWIIING!
SWIIING!
Yin Yin sedikit memiringkan tubuhnya. Angin dari serangan itu bahkan hanya menggerakkan sedikit rambutnya.
Pria berjubah itu tersentak dan mundur beberapa langkah, matanya membelalak penuh ketidakpercayaan.
"Mustahil, serangan ku tidak melukainya. Dia bahkan tidak memiliki aura spiritual."
Yin Yin menoleh perlahan. Tatapannya dingin dan tajam, menembus langsung ke arah pria itu.
"Gerakanmu... terlalu lambat."
Dalam sekejap, suasana hutan berubah mencekam. Untuk pertama kalinya, pria berjubah itu merasakan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan, rasa bahaya dari seorang anak kecil.
Pria berjubah itu mengatupkan giginya, sorot matanya berubah buas. Keraguan yang sempat muncul kini tergantikan oleh niat membunuh yang semakin kuat.
"Anak kecil sialan!" geramnya marah.
WHUUSSS!
Tubuhnya kembali menghilang, bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Bayangannya berkelebat di antara pepohonan, nyaris tak terlihat.
DING!
[Pergerakan musuh meningkat]
[Harap waspada Yin Yin, dari sisi belakang dan kiri]
Yin Yin berdiri tenang dengan wajah serius penuh kewaspadaan.
SWIIING! SWIIING!
Serangan belati tajam kembali mengarah ke lehernya, namun Yin Yin hanya memiringkan tubuhnya hingga serangan itu gagal mengenainya.
Belum sempat pria itu membalas serangan lagi. Yin Yin sudah berada di hadapannya, sebuah pukulan ringan mendarat di perutnya, tapi kekuatannya membuat tubuh pria itu terpental jauh.
BRAKK!
BRAKK!
DHUAK!
Tubuh pria itu menghantam pohon dengan keras, napasnya tersengal-sengal.
"Apa... Bagaimana bisa??" gumamnya tak percaya.
Yin Yin melangkah pelan mendekat, tatapannya dingin, tak menunjukkan emosi sedikit pun.
"Aku sudah cukup sabar. Jadi cepat katakan, siapa yang mengirimmu?" ucapnya dengan nada dingin.
Pria itu menyeringai, meski tubuhnya gemetar. "Hahaha... Kau pikir aku akan_"
Belum sempat pria itu melanjutkan, tiba-tiba beberapa bayangan meleset dari arah pepohonan.
SHUUUT!
SHUUUT!
Mata Yin Yin sedikit membelalak, pura-pura terkejut.
"Si-siapa?!" ucapnya, mundur setengah langkah, kembali memasang ekspresi seperti anak kecil biasa.
Beberapa sosok bayangan gelap muncul dan langsung mengepung pria berjubah itu. "Kami kebetulan lewat dan melihat ada keributan disini." ujar salah satu dari mereka cepat, seolah memberi penjelasan.
Yin Yin menatap mereka sekilas, lalu mengangguk kecil, berpura-pura percaya. "I-iya, pria itu pembunuh bayaran. Aku tidak tahu kenapa dia datang ke desa Shanyin." jawabnya pelan.
Namun di dalam hatinya, Yin Yin sudah tahu siapa mereka. "Pengawal bayangan Mo Xuan, akhirnya mereka bergerak juga. Aku tidak perlu repot-repot mengotori tanganku."
Tanpa banyak bicara, dua pengawal langsung menyerang. Bunyi pedang memecahkan keheningan hutan.
CLANG! CLANG!
Dalam kondisi terluka, pria berjubah itu tak mampu bertahan lama.
DHUAK!
BRAK!
Pria itu kembali jatuh, kali ini dengan pedang yang sudah menempel di lehernya. "Jangan bergerak," ucap salah satu pengawal dingin.
Napas pria itu memburu, matanya liar menatap ke arah Yin Yin. Yin Yin berdiri di belakang para pengawal, wajahnya kembali tenang. Dia menatap pria itu dengan dingin tanpa ada lagi kepura-puraan di matanya, meski tak ada yang menyadarinya.
"Sekarang, jawab! siapa yang mengirimmu ke Desa Shanyin?" ucap salah satu pengawal.
Pria itu terdiam, rahangnya mengeras, seolah menahan sesuatu. Beberapa saat kemudian, angin hutan berhembus pelan, membawa ketegangan yang menggantung.
"Aku... diperintahkan oleh_"
Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat, matanya membelalak, urat-urat dilehernya menegang.
"Ghk_!! Aaaaaah!"
Salah satu pengawal terkejut, "Gawat! Dia mengigit racun yang tersimpan di mulutnya."
Yin Yin menyipitkan mata, menatap pria yang sudah tergeletak tak berdaya.
"Seperti yang kuduga, dia meminum racunnya."
Pria itu jatuh terkulai, napasnya terputus dan sudah tak bernyawa. Salah satu pengawal menghela napas pelan. "Sepertinya dia memiliki semacam racun untuk membungkam pelaku."
Yin Yin menunduk sedikit, kembali memasang ekspresi polos.
"A-apa dia mati?" tanyanya pelan.
"Ya, kau tidak perlu khawatir, kami akan merahasiakan kejadian ini." jawab pengawal itu singkat.
Yin Yin mengangguk pelan. "Iya, terimakasih.."
Namun di balik tatapan Yin Yin yang tampak tenang, pikirannya bergerak cepat. "Orang yang mengirimnya jelas bukan orang biasa."
"Sistem, cari tahu siapa yang mengirim pembunuh bayaran itu. Hiks, aku bahkan belum menikmati suasana rumah baru."
DING!
[Baik Yin Yin, mencarian di proses.........⏳
Bersambung....